Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Obrolan di Meja Makan
Mellisa meninggalkan restoran itu dan kembali ke kantor dengan perasaan yang campur aduk.
Pertemuan dengan Kania dan Raka tadi benar-benar di luar dugaannya. Seandainya saat itu ia masih berduaan dengan Handoko, semuanya pasti akan jauh lebih runyam. Ia bahkan tidak bisa membayangkan pertanyaan seperti apa yang akan dilontarkan Kania jika putrinya melihat mereka bersama.
Namun, ada hal lain yang juga mengganggu pikirannya. Kesalahpahaman Kania tentang dirinya dan Randy. Mellisa tahu betul putrinya. Sekali Kania sudah memiliki dugaan, gadis itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Ya ampun, Kania..." gumamnya sambil menggeleng.
Ia kemudian mencoba menyingkirkan pikirannya dan kembali berkonsentrasi pada pekerjaan. Belum lama Mellisa duduk di belakang meja kerjanya, pintu ruangannya diketuk.
Tok... tok... tok...
"Masuk!"
Pintu terbuka, dan Alya muncul sambil membawa beberapa berkas. "Mel..."
Mellisa mendongak. "Ada apa, Al?"
Alya tidak langsung menjawab. Ia justru menutup pintu, lalu berjalan mendekati meja Mellisa dengan tatapan penuh selidik.
Mellisa mengernyit. "Kenapa?"
Alya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku."
Mellisa spontan tertawa kecil. "Menyembunyikan apa?"
"Jangan berbohong."
"Aku nggak bohong."
"Aku sudah mengenalmu lama, Mel."
Mellisa menghela napas, lalu kembali melihat layar komputernya. "Maksudmu apa, Al?"
"Kamu mengerti apa yang aku maksud, tapi kamu sengaja menyembunyikannya."
Mellisa mengangkat wajahnya. "Ah, kamu cuma menduga-duga aku menyembunyikan sesuatu."
Alya menarik kursi di depan meja Mellisa, lalu duduk. "Mel, kamu sudah lama nggak makan siang bareng aku."
Mellisa terdiam.
"Kamu malah sekarang sering makan siang di luar bersama seseorang."
Mellisa mulai merasa tidak nyaman. "Terus?"
Alya menyipitkan mata. "Terus kamu juga akhir-akhir ini selalu ceria."
Mellisa tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. "Memangnya salah kalau aku ceria?"
"Nggak salah." Alya menunjuk wajah Mellisa. "Tapi ini bukan ceria biasa."
Mellisa mengernyit. "Apanya?"
"Matamu."
"Mataku kenapa?"
"Hidup."
Mellisa spontan menyentuh sudut matanya. "Apaan, sih?"
Alya terkekeh. "Serius. Matamu kelihatan beda. Kamu lebih sumringah. Kalau aku cerita sesuatu yang lucu, kamu ketawa. Kalau dapat pesan di ponsel, kamu senyum-senyum sendiri. Bahkan tadi waktu aku masuk, wajahmu kelihatan seperti orang habis dapat kabar baik."
Mellisa segera mengambil ponselnya dan meletakkannya dalam posisi terbalik di atas meja.
"Perasaanmu aja."
"Nah!"
Alya langsung menunjuk gerakan itu. "Tuh, kan."
Mellisa terdiam.
"Kamu makin mencurigakan kalau panik begitu."
"Aku nggak panik."
"Terus kenapa ponselnya langsung dibalik?"
"Ya... supaya nggak mengganggu."
Alya tertawa. "Mel, aku bukan orang lain. Kamu bisa cerita sama aku!"
Mellisa bersandar di kursinya. "Ya karena sebentar lagi aku mau nikahin Kania, Al. Kamu lupa?"
Alya menggeleng pelan. "Aku nggak lupa. Aku tahu kamu bahagia karena putrimu akan menikah."
"Nah, terus masalahnya apa?"
"Aku yakin bukan cuma karena itu."
Mellisa terdiam, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Emang menurutmu karena apa?"
Pertanyaan itu membuat Alya tidak langsung menjawab. "kamu sedang jatuh cinta, Mel.
"Ah kamu sok tahu."
"Nggak. Aku nggak sok tahu"
"Al..."Mellisa akhirnya menatap sahabatnya, "aku nggak ada apa-apa."
Alya tersenyum tipis. Bukan senyum percaya, melainkan senyum seseorang yang justru semakin yakin dengan kecurigaannya.
"Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa dari tadi kamu kelihatan gugup?"
Mellisa membuka mulut, tetapi tidak jadi menjawab. Alya kembali bersandar.
"Sudahlah. Aku nggak akan memaksa kamu cerita!"
Mellisa menghela napas lega.
"Tapi..." Mellisa langsung menatapnya curiga.
Alya tersenyum jahil. "Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang nggak tahan menyimpan rahasianya."
Mellisa menggeleng sambil tertawa kecil. "Kamu memang paling menyebalkan kalau sudah mulai sok tahu."
"Karena biasanya aku benar."
Mellisa tidak menjawab. Namun senyum kecil yang muncul di wajahnya justru membuat Alya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan sahabatnya.
Dan kini Mellisa mulai menyadari satu hal yang cukup mengkhawatirkan. Bukan hanya Kania yang mulai memperhatikan perubahan dirinya. Alya pun sudah melihatnya.
***
Malam itu, Handoko, Pratiwi, dan Raka makan malam bersama di rumah. Suasananya hangat seperti biasa. Sesekali mereka membicarakan persiapan pernikahan Raka dan Kania yang semakin dekat.
Pratiwi tampak antusias menanyakan perkembangan persiapan acara, sementara Raka menjawab satu per satu pertanyaan ibunya.
"Foto prewedding-nya sudah selesai, Ka?" tanya Pratiwi.
"Sudah, Mi. Tadi siang selesai."
"Bagaimana hasilnya?"
"Bagus. Kania juga suka."
Handoko yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan hanya tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Tinggal menunggu hari H."
"Iya, Pi."
Raka menyendok makanannya, kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, tadi setelah foto prewedding, aku sama Kania sempat makan siang di Restoran Alam Pasundan."
Tangan Handoko yang sedang mengambil lauk berhenti sebentar. "Alam Pasundan?"
"Iya, Pi."
Raka sama sekali tidak menyadari perubahan kecil pada wajah ayahnya. "Kebetulan di sana kami bertemu Tante Mellisa."
Handoko langsung mengangkat wajah. "Mellisa?"
"Iya, ibunya Kania."
Pratiwi ikut tersenyum. "Oh, ketemu Jeng Mellisa?"
"Iya, Mi. Tante Mellisa baru selesai makan siang."
Handoko berusaha kembali terlihat santai. "Sama siapa?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat. Raka menatap ayahnya sebentar, kemudian menjawab. "Sama seorang laki-laki."
Gerakan tangan Handoko kembali terhenti.
"Laki-laki?"
"Iya, Pi. Namanya Om Randy."
Handoko terdiam. Nama itu langsung membuat wajah Randy kembali muncul dalam ingatannya.
Laki-laki yang tadi menunggu Mellisa. Laki-laki yang berdiri di hadapan mereka. Dan laki-laki yang membuatnya tanpa sadar ingin menunjukkan kepada siapa pun bahwa Mellisa sangat dekat dengannya.
"Oh..." Handoko berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Teman kantornya kali ya?"
"Kata Tante Mellisa bukan, mereka teman sejak zaman sekolah."
Pratiwi tersenyum. "Wah, kebetulan sekali."
Raka mengangguk. "Yang menarik, Kania langsung akrab sama Om Randy."
Handoko menatap anaknya. "Kania?"
"Iya, Pi. Dia malah kelihatannya senang banget ketemu Om Randy."
Handoko hanya mengangguk kecil. "Terus?"
Raka tersenyum geli. "Kania bahkan bilang dia senang kalau Bunda berjodoh sama Om Randy."
Sendok di tangan Handoko berhenti di udara. Pratiwi yang sedang minum hampir tertawa. "Astaga, Kania memang suka sekali menjodoh-jodohkan orang."
"Iya, Mi." Raka ikut tertawa. "Katanya, sebentar lagi dia menikah sama aku. Jadi dia kepikiran siapa yang bakal menemani Bundanya nanti."
Handoko perlahan menurunkan sendoknya. "Terus Kania bilang apa?"
Raka menirukan ucapan Kania. "Katanya, 'Kalau Bunda sama Om Randy, kan aku jadi tenang. Nanti kalau aku sudah menikah, Bunda nggak kesepian.'"
Handoko terdiam. Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar sangat wajar dari seorang anak yang mengkhawatirkan ibunya.
Namun entah mengapa, kalimat itu terasa menusuk bagi Handoko. Ia menundukkan wajahnya, pura-pura sibuk dengan makanannya. "Baguslah kalau Kania perhatian sama ibunya," ucapnya akhirnya.
Pratiwi menatap suaminya sekilas. "Kenapa?"
Handoko mengangkat wajah. "Kenapa apanya?"
"Sejak tadi Papa kelihatannya serius sekali."
"Nggak."
Handoko tersenyum tipis. "Cuma kaget saja mendengar Kania sudah sampai memikirkan pasangan untuk ibunya."
Raka terkekeh. "Dia memang begitu, Pi. Tadi malah bilang kalau Om Randy boleh datang ke rumah kapan saja."
Handoko kembali diam. Rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia tahan semakin terasa. Ia tahu Kania hanya ingin ibunya bahagia. Ia tahu Randy adalah cinta pertama Mellisa. Dan ia juga tahu dirinya tidak punya hak untuk merasa cemburu.
Tetapi tetap saja...
Membayangkan Mellisa duduk berdua dengan Randy sudah membuat hatinya tidak nyaman.
Mendengar Kania berharap laki-laki itu menjadi pasangan ibunya bahkan membuatnya semakin sulit berpura-pura biasa.
"Papi?"
Suara Raka membuat Handoko tersadar.
"Hm?"
"Papi kenapa bengong?"
Handoko segera mengambil gelasnya.
"Nggak apa-apa."
Ia meneguk air, kemudian tersenyum tipis.
"Kalian lanjut makan saja."
Raka kembali menyendok makanan tanpa curiga. Pratiwi pun kembali melanjutkan makan, meski sesekali matanya masih memperhatikan Handoko.
Sementara itu, Handoko hanya diam.
Nama Randy masih berputar-putar di kepalanya.
Dan kini, ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia bantah.
Ia tidak sekadar ingin kembali dekat dengan Mellisa.
Ia tidak ingin perempuan itu jatuh ke tangan laki-laki lain.
Bahkan ketika laki-laki itu baru sebatas teman lama.
Handoko menarik napas panjang.
Diam-diam ia merasa kesal pada dirinya sendiri.
Sebab semakin ia berusaha menahan perasaannya, semakin jelas pula rasa cemburu itu menunjukkan keberadaannya.
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...