NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

..

Bab 2: Harga Diri yang (Kembali) Ternoda

​Suasana kantin SMA Nusa Bakti saat jam istirahat pertama tidak pernah gagal membuat telinga berdenging. Aroma kuah bakso, riuh tawa, dan denting sendok beradu dengan mangkuk mendominasi area luas tersebut.

​Di salah satu meja sudut, Nadiva tengah khusyuk mengaduk semangkuk batagor bumbu kacang, sementara Karin sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tulis—kepanasan.

​"Lo beneran nggak takut ketemu Dereen lagi, Div?" tanya Karin untuk yang kesepuluh kalinya.

​Nadiva menyuap sepotong batagor, mengunyahnya dengan pipi menggembung. "Nggak, tuh. Kan utangnya udah lunas. Lagian, ngapain takut sama sesama manusia? Mending takut sama Allah yang bisa cabut nyawa kita kapan aja."

​Karin memutar bola matanya. "Bukan gitu konsepnya, Ukhti—"

​Ucapan Karin terpotong oleh suara decitan kursi yang ditarik kasar.

​Sreeek!

​Kantin yang semula bising, perlahan kehilangan volumenya. Tatapan para siswa beralih ke meja sudut. Di sana, Dereen Hilton baru saja mendaratkan tubuh jangkungnya tepat di kursi depan Nadiva, disusul Andrew dan Mex yang berdiri mengapit di belakangnya.

​Aura di sekitar meja itu mendadak turun beberapa derajat. Dereen menatap lurus ke arah Nadiva dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada senyum. Hanya rahang kaku dan sepasang mata elang yang siap menerkam.

​Karin di sebelah Nadiva sudah pucat pasi, nyaris menelan sendoknya saking paniknya.

​Namun, Nadiva? Gadis mungil itu malah balas menatap Dereen, lalu melirik ke batagor di piringnya, dan kembali menatap Dereen.

​"Maaf, Kak," ucap Nadiva polos. "Kalau mau batagor, pesen sendiri di Mang Ujang. Ini porsiku pas, nggak bisa bagi dua."

​Andrew di belakang refleks memalingkan wajah, menahan tawa sampai bahunya bergetar. Mex menepuk jidatnya pelan.

​Dereen menggebrak meja dengan satu tangan. Brak!

​"Lo pikir gue ke sini mau ngemis makanan lo?!" desis Dereen tajam, mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Nadiva. "Lo pikir urusan kita udah kelar gara-gara lima juta sialan lo itu, hah?"

​Nadiva mengerjapkan matanya yang bulat. "Loh? Kurang, Kak? Ya ampun, kenapa nggak bilang dari tadi? Kakak bengkelnya di mana sih, kok mahal banget? Sini aku transfer lagi kalau kurang. Tapi jangan mahal-mahal, ya. Uang jajanku bulan ini sisa dikit, habis buat beli seblak sama ciput."

​Dereen memejamkan mata sejenak, menghela napas kasar. Urat di pelipisnya berkedut. Menghadapi cewek ini ternyata butuh stok kesabaran yang tidak ia miliki.

​"Gue. Nggak. Butuh. Duit. Lo." Dereen menekan setiap kata dengan suara rendah yang mengancam. "Lo udah nginjek-nginjek harga diri gue di depan anak-anak. Dan di sekolah ini, nggak ada yang berani bikin gue kelihatan bodoh."

​Bukannya terintimidasi, kening Nadiva malah berkerut dalam, memikirkan ucapan cowok di depannya dengan sangat logis. "Sebentar, Kak. Harga diri Kakak harganya berapa emangnya? Bisa di-QRIS nggak?"

​"Nadiva, astaga...," bisik Karin ngeri, menarik-narik ujung jilbab Nadiva dari bawah meja.

​"Gue serius, cewek aneh!" potong Dereen, suaranya mulai naik satu oktaf. Cowok arogan itu menatap Nadiva dengan amarah yang meletup-letup. "Mulai hari ini, lo tetep harus jadi babu gue. Lo harus bawain tas gue, beliin gue makan, dan laksanain semua perintah gue. Titik."

​Mendengar itu, jiwa barbar Nadiva yang sejak tadi tertidur lelap akhirnya meronta. Ia meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar, lalu menegakkan punggung mungilnya.

​"Enak aja! Nggak bisa gitu dong, Kak!" tolak Nadiva lantang. "Di dalam Islam, perbudakan itu udah dihapuskan sejak zaman Nabi! Lagian, masa cowok segede tiang jemuran gini minta diladenin cewek sekecil aku? Nggak malu sama otot lengan yang dipamerin itu?" Nadiva menunjuk lengan seragam Dereen yang digulung sebatas siku.

​Kantin menjadi hening seketika. Beberapa siswa menahan napas. Tiang jemuran?!

​Dereen terpaku. Harga dirinya yang baru saja ia coba pungut, kini rasanya diinjak-injak lagi—kali ini bahkan dilindas pakai stoomwalls. Wajah cowok itu memerah, antara menahan emosi dan gengsi yang terluka.

​"Lo—" Dereen menunjuk wajah Nadiva, kehabisan kata-kata.

​"Lagian, Kak," lanjut Nadiva santai, mengabaikan telunjuk Dereen yang mengambang di udara. Ia menyedot es teh manisnya dengan bunyi sluurp yang lumayan keras, "Daripada sibuk nyuruh-nyuruh orang jadi babu, mending Kakak perbaiki niat. Mendzalimi orang itu dosanya gede, lho. Nanti hisabnya berat di akhirat."

​Tanpa rasa berdosa, Nadiva berdiri, menepuk roknya yang tidak kotor, lalu menoleh ke Karin yang sudah seperti patung bernapas. "Ayo, Rin, balik ke kelas. Udah kenyang aku lihat orang marah-marah. Bikin asam lambung naik."

​Meninggalkan batagornya yang tinggal separuh, Nadiva melenggang pergi dengan santai.

​Dereen masih duduk di kursinya, mematung dengan rahang mengeras dan tangan terkepal di atas meja. Andrew dan Mex saling pandang, tidak tahu harus berbuat apa.

​"Ren..." panggil Mex hati-hati.

​Dereen berdiri tiba-tiba, menendang kursi kantin hingga terjungkal ke belakang. Matanya menatap tajam ke arah pintu keluar kantin, tepat di mana jilbab putih itu menghilang.

​"Gue sumpahin," desis Dereen, suaranya sarat akan dendam, "Cewek aneh itu bakal bertekuk lutut mohon ampun sama gue sebelum semester ini kelar."

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!