Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi di Atas Meja Marmer
Ruangan rapat utama di lantai 45 Wijaya Tower terasa dingin, bukan karena AC yang terlalu kencang, melainkan karena aura pria yang duduk di seberangku. Arya Wijaya menatapku dengan mata elang yang tajam, seolah sedang membedah setiap pori-pori wajahku untuk mencari celah kebohongan. Di antara kami terbentang meja marmer hitam mengkilap yang memantulkan bayangan dua orang yang sama-sama berbahaya.
"Jadi," ucap Arya akhirnya, suaranya rendah dan berat, memecah keheningan yang mencekam. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, ritme yang teratur namun penuh tekanan.
"Kamu bilang kamu punya proposal bisnis yang akan mengubah hidup saya. Tapi sampai saat ini, yang saya dengar hanya klaim kosong seorang istri manajer yang baru saja mengalami... 'kebangkitan'."
Aku tidak gentar. Aku justru menyandarkan punggung ke kursi kulit empuk itu, aku menatapnya balik dengan senyum tipis yang sudah kulatih selama lima tahun terakhir—senyum palsu yang kini kugunakan sebagai senjata.
"Tuan Arya tidak perlu percaya pada kata-kata saya," jawabku tenang, suaraku datar tanpa emosi.
"Percayalah pada data. Dan percayalah pada ketakutan suami saya tadi pagi."
Arya mengangkat satu alisnya, tertarik meski tetap skeptis.
"Ketakutan? Siren, meski dia panik Tapi panik belum tentu berarti Anda memegang kendali. Bisa jadi dia hanya kaget karena istrinya tiba-tiba memakai gaun merah dan berbicara seperti orang asing."
"Dia bukan sekadar panik, Tuan Arya," sanggahku, condong sedikit ke depan.
"Dia takut. Karena tadi pagi, tepat sebelum turun ke ruang makan, saya menyebutkan kata 'email bocor'. Dan reaksinya? Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat mengambil roti, dan dia hampir tersedak air minumnya. Itu bukan reaksi seseorang yang merasa aman. Itu reaksi seseorang yang tahu ada bom waktu yang siap meledak di hadapannya."
Arya terdiam sejenak, matanya masih menelusuri ekspresiku. Lalu ia bersandar kembali, silang kakinya terlihat elegan namun dominan.
"Anggap saja saya menerima argumen itu. Tapi apa hubungannya dengan saya? kenapa kamu datang ke sini, ke kantor saya, alih-alih langsung menghadapi Fadli atau melaporkan perselingkuhannya ke polisi?"
"Karena polisi butuh bukti konkret, Tuan Arya. Bukti yang tidak bisa dibantah oleh pengacara mahal seperti tim hukum Fadli," jelasku perlahan, memastikan setiap kata terdengar logis dan terukur.
"Dan karena menghadapi Fadli secara frontal sekarang hanya akan membuatnya waspada. Dia akan menutup semua celah, memindahkan aset, dan menghapus jejak digitalnya. Saya butuh Waktu untuk mengumpulkan amunisi tanpa dia curiga."
"Lalu peran saya?" tanya Arya, nada suaranya mulai berubah. Bukan lagi skeptis, tapi kalkulatif. Seperti pedagang yang sedang menilai nilai barang dagangan.
"Anda adalah perisai sekaligus pedang, Tuan Arya," jawabku tegas.
"Sebagai pemilik Wijaya Group, Anda memiliki akses ke jaringan intelijen korporat yang tidak dimiliki siapa pun. Saya membutuhkan informasi tentang aliran dana Fadli, struktur kepemilikan saham perusahaan tempat Nia bekerja, dan pola pertemuan mereka selama enam bulan terakhir. Sebagai gantinya..."
Aku berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung di udara. Arya tidak memotong. Ia menunggu, matanya terkunci padaku.
"sebagai gantinya," lanjutku,
"saya akan memberikan Anda akses penuh ke buku catatan pribadi Fadli yang saya simpan. Di dalamnya terdapat daftar klien gelap, transaksi suap, dan kode rekening offshore yang bahkan istrinya sendiri tidak pernah tahu. Informasi itu bernilai miliaran rupiah bagi kompetitor Anda. Atau lebih berharga lagi, sebagai leverage untuk mengakuisisi perusahaan Fadli dengan harga murah ketika dia jatuh."
Arya menatapku lama. Detik-detik itu terasa seperti jam. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, tapi aku menolak menunjukkan kelemahan sekecil apa pun. Aku tahu dia sedang menguji ketahananku. Menguji apakah aku benar-benar wanita yang mengklaim telah bangkit dari kematian, atau hanya istri yang terluka yang mencari pelindung dari orang kaya raya.
Akhirnya, bibirnya membentuk senyum samar. Bukan senyum ramah, tapi senyum pengakuan. Senyum seorang predator yang menemukan mangsa yang setara.
"Kamu cerdas, Siren," ucapnya, dan kali ini nadanya berbeda. Ada penghormatan di sana.
"Tapi kecerdasan saja tidak cukup. Saya butuh loyalitas. Jika saya memberimu akses ke jaringan saya, bagaimana saya yakin kamu tidak akan menggunakan informasi itu untuk kepentingan pribadi semata, lalu menghilang begitu Fadli hancur?"
Pertanyaan itu menusuk. Tapi aku sudah menyiapkan jawabannya.
"Karena kehancuran Fadli bukan tujuan akhir saya, Tuan Arya. Itu hanyalah langkah pertama," jawabku, suaraku kini lebih lembut tapi tetap kokoh.
"Tujuan saya adalah membangun sesuatu yang tidak bisa direbut siapa pun. Imperium saya sendiri. Dan untuk itu, saya butuh sekutu yang kuat. Bukan pelindung. Sekutu. Dan saya memilih Anda karena Anda tidak akan memperlakukan saya seperti boneka. Anda menghargai kekuatan, bukan keindahan."
Arya mengangguk perlahan. Ia meraih ponselnya dari atas meja, menekan beberapa tombol, lalu meletakkannya kembali.
"Baik," katanya singkat.
"Saya akan memberi Anda apa yang Anda minta. Tapi dengan syarat."
"katakan Saya akan mendengarkan," sahutku.
"Syarat pertama," ucap Arya, matanya menatapku intens, "Anda harus bertemu dengan kepala divisi intelijen saya sore ini. Dia akan memverifikasi kebenaran informasi yang Anda miliki. Jika terbukti valid, barulah kita lanjutkan."
"Setuju," jawabku tanpa ragu.
"Syarat kedua," lanjutnya, "Anda tidak boleh menghubungi Fadli atau Nia secara langsung selama proses ini. Semua komunikasi harus melalui saya atau tim saya. Saya tidak ingin dia mencium bau strategi Anda sebelum waktunya."
"justru itu yang saya inginkan," balasku. "Semakin dia merasa aman, semakin ceroboh dia bertindak."
"Syarat ketiga," Arya berkata, dan kali ini suaranya lebih rendah, hampir berbisik. Tatapannya tidak lepas dari wajahku.
"Anda harus jujur kepada saya. Tentang segalanya. Termasuk tentang... masa lalu Anda. Tentang bagaimana Anda 'mengetahui' hal-hal yang seharusnya tidak mungkin diketahui."
Jantungku berdegup keras. Ini ujian terbesar. Apakah dia tahu? Atau hanya intuisi bisnisnya yang tajam?
Aku menatap matanya dalam-dalam. Mencari tanda-tanda keraguan atau tuduhan. Tidak ada. Hanya ketertarikan murni pada misteri yang kubawa.
"Tuan Arya," ucapku pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Saya tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Beberapa hal... terlalu mustahil untuk dipercaya tanpa bukti. Tapi saya berjanji, setiap informasi yang saya berikan akan diverifikasi kebenarannya. Dan jika suatu hari Anda meminta penjelasan lengkap, saya akan memberikannya. Saat Anda siap mendengarnya."
Arya menatapku lagi. Lama. Lalu ia mengangguk.
"Cukup," katanya.
"Untuk sekarang, itu cukup. Saya tidak butuh cerita dongeng. Saya butuh hasil."
Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di samping kursiku. Bayangannya jatuh menutupi sebagian tubuhku. Aku mendongak, menatapnya dari bawah. Dari sudut ini, ia terlihat sangat tinggi, sangat berkuasa. Tapi aku tidak merasa kecil. Aku merasa... dilihat. Benar-benar dilihat, bukan sebagai objek, tapi sebagai subjek.
"Satu hal lagi, Siren," ucapnya, suaranya kini lebih dekat, hampir menyentuh telingaku. "Gaun merah itu. Itu bukan sekadar simbol keberanian, kan?"
Aku tersenyum, kali ini senyum yang asli. "Tidak, Tuan Arya. Ini adalah deklarasi perang. Dan saya ingin dunia tahu bahwa Siren yang lama sudah mati. Yang tinggal hanyalah wanita yang tidak akan pernah lagi meminta maaf karena eksistensinya."
Arya menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan hanya kalkulasi bisnis. Ada api. Api yang sama yang terbakar di dadaku.
"Bagus," bisiknya.
"Karena saya juga tidak suka wanita yang meminta maaf tanpa alasan."
Ia mundur selangkah, mengembalikan jarak profesional di antara kami. Tapi atmosfer di ruangan itu telah berubah. Ketegangan yang tadinya bersifat adversarial kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kompleks. Lebih berbahaya. Dan jauh lebih menarik.
"Pertemuan pertama selesai," ucapnya, kembali ke kursinya.
"Kepala intelijen saya, Pak Hendra, akan menjemput Anda jam tiga sore di lobby. Jangan terlambat."
"Saya tidak pernah terlambat untuk kesempatan seperti ini, Tuan Arya," jawabku sambil berdiri.
Saat aku berbalik menuju pintu, suara Arya menghentikan langkahku.
"Siren."
Aku menoleh.
"Hati-hati di jalan," ucapnya, dan kali ini, nada suaranya hampir... lembut. Hampir.
"Fadli mungkin sudah mulai bergerak. Dan saya tidak ingin aset investasi saya rusak sebelum sempat menghasilkan keuntungan."
Aku tersenyum. "Jangan khawatir, Tuan Arya. Saya sudah terbiasa berjalan di atas ranjau. Lagipula..."
Aku menatapnya sekali lagi, mataku bertemu matanya.
"kali ini, saya punya peta."
Pintu tertutup di belakangku. Koridor mewah Wijaya Tower membentang di hadapan. Langkahku tegap, napasku stabil. Tapi di dalam dada, badai sedang berkobar. Bukan karena takut. Karena excited. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup—baik kehidupan pertama maupun kedua—aku merasa benar-benar hidup.
Di lift yang turun, ponselku bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal lagi.
"Nyonya Siren, saya Hendra. Mobil hitam plat B 1234 XY akan menunggu Anda di lobby jam 15.00. Harap bawa dokumen fisik. Verifikasi akan dilakukan hari ini juga."
Aku membalas: "Siap, Pak Hendra. Dokumen sudah saya siapkan sejak lima tahun lalu."
Lift berhenti di lobby. Pintu terbuka. Udara segar Jakarta menyambutku. Tapi kali ini, udaranya terasa berbeda. Terasa seperti oksigen bagi paru-paru yang telah lama tercekik.
Aku melangkah keluar, gaun merahku berkibar pelan diterpa angin. Orang-orang menoleh. Beberapa berbisik. Tapi aku tidak peduli. Biarkan mereka berbisik. Biarkan mereka penasaran.
Karena segera, mereka tidak akan lagi berbisik tentang istri manajer yang aneh. Mereka akan berbisik tentang Siren Wijaya—mitra bisnis Arya Wijaya, wanita yang menghancurkan imperium korupsi dari dalam, dan ratu yang membangun kerajaannya sendiri dari abu pengkhianatan.
Permainan baru saja dimulai. Dan aku tidak intend untuk kalah.
BANTU LIKE KOMEN DAN FOLLOW TEMAN2 UNTUK MENGEMBANGKAN NOVEL NYA MAKASI