Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 2 — Sang Penyelamat
"Ughhh..."
Huo Li melenguh pelan. Kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan terbuka.
"Di mana ini?" ujarnya kebingungan.
Pada awalnya, hanya kegelapan pekat yang tertangkap oleh pandangannya. Namun, rasa dingin menusuk dari air sungai es yang sebelumnya mengoyak paru-parunya kini telah sirna.
Sebagai gantinya, kehangatan yang lembut dan menenangkan mengalir meresap ke setiap pori-pori kulitnya, menyembuhkan otot-ototnya yang robek dan 9 jalur meridian utamanya yang memar.
Huo Li memiringkan kepalanya dengan lemah. Di dekatnya, lidah api dari kayu bakar berderak memecah keheningan, menerangi dinding-dinding gua kecil yang lembap.
Di seberang api unggun, seorang pria misterius duduk bersila dengan santai. Siluetnya tampak biasa, namun jubah kebesarannya yang berwarna biru, merah, dan emas sama sekali tak tersentuh debu.
Menyadari napas Huo Li yang mulai teratur, pria itu menatapnya.
"Kau sudah sadar?" tanyanya, suaranya tenang namun memiliki gema yang aneh di telinga Huo Li.
Huo Li tersentak.
"Huh?!"
Jantungnya berdegup kencang saat menyadari kehadiran sosok asing ini. Mengingat kengerian saat ia tenggelam dengan tubuh terikat dan paru-paru dipenuhi air, pikirannya mulai melantur liar.
"Apakah..."
"Apakah Anda Dewa Kematian?" tanya Huo Li parau. Ia yakin dirinya telah mati, dan gua yang remang ini adalah gerbang menuju dunia bawah.
Pria itu terdiam sejenak sebelum sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman penuh wibawa. "Dewa Kematian?" Pria itu terkekeh pelan. "Haha... Kau lucu sekali. Dewa Kematian tidak setampan diriku."
Pria itu kemudian menatap Huo Li dengan pandangan menyelidik. Kedua mata biru jernihnya seolah mampu menelanjangi rahasia, membaca setiap memar di tubuh dan luka di jiwa remaja di depannya. "Lalu, siapa namamu?" tanyanya sekadar basa-basi.
Huo Li tidak langsung menjawab. Ingatan beberapa saat lalu, saat ia dipukuli, digantung terbalik, dikencingi, dan dihina oleh Tuo Gu serta antek-anteknya, berputar bagai pusaran berdarah di kepalanya.
Kret...
Kepalan tangannya perlahan mengerat di atas tanah berdebu.
'Aku... masih hidup?'
'Ini bukan dunia bawah? Ataupun neraka?''
Sentuhan kehangatan di tubuhnya menyadarkan Huo Li pada satu kenyataan mutlak: ia masih bernapas. Luka dalam yang menyiksanya dan bau pesing yang menjijikkan telah lenyap sepenuhnya tanpa bekas.
Orang asing ini tidak hanya menyelamatkannya dari ambang kematian, tetapi juga memulihkan tubuhnya hingga ke kondisi prima yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di dalam dadanya, rasa dendam yang seluas samudra kembali berkobar, membuat napasnya memburu.
"Hei, Bocah. Siapa namamu?" ulang pria misterius itu, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dalam, menarik Huo Li dari lamunan gelapnya.
Huo Li tersentak sadar. Ia buru-buru bangkit dan bersujud rendah, menyentuhkan dahinya ke tanah dengan tulus.
"Nama saya... Huo Li."
"Paman? Saya harus memanggil Sang Penyelamat dengan sebutan apa?"
Pria itu tersenyum tipis yang misterius, matanya memancarkan kilau misterius yang tak terbaca. "Panggil saja aku... Penguasa Agung Sembilan Semesta." ujar Pria Misterius dengan senyuman penuh arti.
Mata Huo Li membelalak lebar. Rasa kagum bercampur ngeri seketika merayap di tulang punggungnya.
"Anda... kultivator agung?!" tanya Huo Li serius. Dalam benaknya, wilayah semesta adalah sesuatu yang baru di telinga-nya. Entah apa yang dimaksud paman tersebut, Huo Li mengartikannya sepintas bahwasanya semesta adalah langit.
'Apakah paman ini kultivator agung yang menguasai sebuah daratan suci melayang yang sering kudengar dari rumor itu?!'
Melihat ekspresi tegang Huo Li, pria itu langsung menepisnya dengan lambaian tangan santai. "Hahaha, aku hanya bercanda! Panggil aku seperti sebelumnya saja."
Mendengar itu, bahu Huo Li sedikit rileks. Ia mengulangi rasa terima kasihnya dengan sikap yang sangat formal. "Terima kasih, Paman!"
Pria Misterius itu hanya mengangguk pelan.
"...."
Suasana di dalam gua mendadak berubah hening.
Api unggun di antara mereka bergoyang tertiup angin yang tak terlihat, memantulkan bayangan panjang yang menari di dinding batu.
Pria itu memperbaiki posisi duduknya. Wajah nakalnya kini menguap, digantikan oleh keseriusan mutlak yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
"Bocah," panggil pria itu. "Apakah kau ingin merubah nasibmu?"
DEG!
Pertanyaan itu bergaung keras, seolah diucapkan langsung ke dalam jantung Huo Li.
'Merubah nasib?'
Kata-kata itu adalah impian terbesarnya sejak Nenek Hai tiada. Berhenti menjadi samsak hidup, menciptakan dantian, dan berhenti menjadi kasta terendah.
Huo Li memaksakan senyum getir, mencoba menutupi badai di dadanya. "Ahaha... Paman, mengapa Anda bertanya seperti itu? Seolah-olah Anda mengetahui segalanya tentang diriku..." Ia menjeda kalimatnya, lalu menatap api unggun dengan tekad yang mulai menyala.
Huo Li tidak bodoh. Pria di depannya ini pastinya bukan kultivator sembarangan. 'Paman ini bilang dia adalah Penguasa Agung Sembilan Semesta. Dia adalah kultivator agung.' batinnya mempertegas.
Huo Li terdiam agak lama. Dalam akhir pemikirannya yang dalam. Ini adalah tali keselamatan satu-satunya dalam hidupnya yang membusuk.
Pria misterius itu tidak mengganggu ketika Huo Li hanyut dalam lamunan panjangnya, ia hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Aku... aku mau merubah nasibku, Paman!" tegas Huo Li.
Pria itu mengangguk pelan. Tatapan matanya menembus kedalaman jiwa Huo Li, melihat jalinan takdir dan garis waktu masa depan pemuda itu.
Dengan suara berat yang menggetarkan fondasi gua, pria itu kembali melontarkan pertanyaan: "Jika kau memang mau merubah nasibmu... Apakah kau memiliki keberanian untuk meruntuhkan langit di atasmu?"
Napas Huo Li tercekat. Ia menatap wajah Paman misterius ini dengan tidak percaya. "P-Paman... Paman pasti... bercanda, kan? Meruntuhkan langit... itu mustahil!" ujar Huo Li terbata-bata.
Bagi seorang pemuda yang bahkan belum memiliki dantian di Ranah Pembentukan Fondasi, langit adalah simbol kekuasaan absolut.
Mengapa langit harus diruntuhkan?
Dan siapa seseorang yang dapat melakukannya?
"Hmm... Kau benar," pria itu tersenyum tipis. Hal ini mengingatkannya pada memori masa lalu.
Melihat respons santai itu, ketakutan Huo Li sedikit mereda. "Tapi, Paman... sepertinya Paman adalah seorang kultivator yang sangat kuat..."
"Tentu saja," balas pria itu lugas. "Kau juga sangat kuat."
Mendengarnya, Huo Li mendengus jujur, menyadari kepolosannya.
"Paman, wajahmu tampak biasa saja ketika mengatakannya. Aku hanyalah seorang praktisi lemah... tapi, terima kasih atas pujiannya." Huo Li tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri.
"...." Pria itu tidak membalas.
Keheningan kembali merayap, hanya ditemani suara retakan kayu bakar.
Huo Li mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mengumpulkan seluruh sisa keberanian dalam hidupnya, ia langsung berlutut tegak dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Paman..." suara Huo Li bergetar menahan harap. "Bisakah aku menjadi... Murid Paman?"
Pria itu terdiam. Bukan karena terkejut, melainkan karena pria itu menyadari efek kupu-kupu: Jika ia mengiyakan permintaan itu sekarang, maka garis waktu dunia ini akan berbeda atau malah membuat garis waktu baru. Hal ini tentunya tidak ia inginkan.
"Tidak. Aku tidak bisa menjadi gurumu," ucap pria itu datar namun mutlak.
Jawaban itu menghujam ulu hati Huo Li. Kepalanya tetap tertunduk, namun matanya memejam erat.
'Benar saja...' batinnya getir. 'Paman ini hanyalah dewa penolong yang kebetulan lewat. Mengangkat seorang pelayan sampah menjadi murid? Itu hanya mimpiku.'
Huo Li mengambil keputusan pahit di dalam hatinya. Ia harus pergi meninggalkan Sekte Pedang Mendalam secepatnya. Ia harus mencari cara sendiri untuk menjadi kuat... setidaknya, cukup kuat agar wajahnya tidak lagi dikencingi oleh orang seperti Tuo Gu!
Sebelum kekecewaan Huo Li berubah menjadi keputusasaan, suara pria itu kembali terdengar.
"Tapi... Jika kau berjanji suatu saat nanti kau mampu meruntuhkan langit, kau akan kuangkat menjadi muridku."
Huo Li tertegun. Ia mendongak, otaknya bekerja keras mencerna teka-teki absurd itu. Apakah Paman ini serius? Ataukah ini sekadar cara halus untuk menolaknya selamanya?
"Kau tampaknya cukup bingung, ya," ujar pria itu melihat kerutan dalam di dahi Huo Li. "Terimalah ini."
SRET!