Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Zafana akhirnya mendapat giliran mencetak skripsinya. Ia memperhatikan setiap lembar kertas yang keluar dari mesin printer, rasanya lambat sekali kertas itu bergerak keluar. Hingga sebelas menit terakhir, skripsinya siap dengan jilid berwarna merah maroon.
"Udah selesai nih Bang"ucap si tukang fotocopy.
Mendengar itu Zafana mengerjapkan matanya beberapa kali, "udah bang? Berapa?"
"Seratus Delapan Puluh"jawab si tukang fotocopy
Zafana segera mengeluarkan dompetnya lalu membayarnya dan langsung membawa skripsi itu pergi menuju kampusnya yang tidak jauh dari sana
ia berlari seperti sedang dikejar oleh anjing besar yang menakutkan.
Ya, anjing besar dibayangannya adalah Oliver, Hingga tidak memperhatikan jalan dan menabrak beberapa orang dikoridor kampus itu.
Sampailah Zafana didepan sebuah ruangan lalu mengetuknya perlahan kemudian menetralkan napasnya.
"Permisi, pak"ucap Rheyna sambil membuka pintu itu dan menimbulkan kepalanya.
"Ya"jawab pria yang sedang berhadapan dengan laptopnya.
"Saya mau ngumpulin skripsi, pak"ucap Zafana
dengan kegugupan yang sangat luar biasa.
Ia masuk kedalam ruangan yang terasa sangat dingin itu dan berdiri tepat didepan meja dosennya.
Oliver menatap arlojinya sebentar lalu berdecak.
"jam berapa sekarang? Harusnya tadi jam sembilan kamu kumpulin skripsi itu!"ucapnya tegas membuat Zafana terlonjat kaget.
"M-maaf pak, tapi dari kemarin tempat fotocopy penuh, saya baru dapat giliran tadi"jawab Zafana
sambil menunduk Ketakutan yang lainnya adalah dibentak dan berhadapan dengan orang marah.
"Saya tidak ingin menerima alasan apapun dan saya tidak akan meluluskan mahasiswi yang tidak bisa tepat waktu seperti kamu!" ucap Oliver dengan tegas dan lantang, dosen tampan nan dingin yang dikenal disetiap penjuru kampus ini.
"T-tapi pak, saya udah ngantre dari pagi"ucap Zafana sambil menahan tangisannya.
"Sekali saya bilang tidak ya tidak!" tegasnya lagi sambil menggebrak meja.
Zafana kembali terlonjat kaget, kali ini air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia meneteskan sebutir air mata lalu menyimpan skripsinya dimeja dan berbalik keluar dari ruangan itu.
Zafana tidak bisa kalau harus seperti ini, Ia bukan gadis yang mempunyai mental kuat jika harus dibentak seperti itu.
Secuek-cueknya Zafana pada kehidupan orang lain, ia tetaplah anak yang manja dimata keluarga dan sahabatnya.
Sedangkan didalam ruangan itu Oliver hanya diam dengan wajah datarnya.
Setiap mahasiswi, bahkan mahasiswa sekalipun yang berhadapan dengannya pasti berujung seperti Zafana barusan, tapi kenapa kali ini ia merasa bersalah, Bahkan melihat Zafana sudah berkaca-kaca saja ia merasa sangat tidak tega.
Tapi apa boleh buat, ia dituntut oleh kakeknya untuk bersikap tegas pada setiap mahasiswa disana. Kampus ini memang didirikan oleh kakeknya dan kini beliau sudah tiada.
Tangan Oliver terulur mengambil skripsi yang tergeletak diatas meja miliknya lalu melihat setiap lembarnya.
"Tidak buruk"gumamnya saat melihat bagan-bagan yang dibuat oleh Zafana.
Zafana terduduk disalah satu tempat duduk yang berada disekitaran kampus menunggu kedatangan Roos. Sejak tadi ia terus menangis karena mendapat ucapan tegas dari Oliver. Sebenarnya ia tidak masalah jika skripsinya kembali dikritik, tapi bisakah cara lelaki itu mengeritik sedikit lembut?
Roos yang melihat bahu Zafana bergetar dari kejauhan itu segera berlari dan duduk disampingnya.
"Lo gak papa?" tanya Roos.
Zafana menoleh, "huaaa..gue sakit hati sama dosen itu, Roos"ucapnya.
Roos panik dan langsung menoleh kesekitarnya, "ssshhhh, dilihatin Na, malu..nangisnya pelan-pelan aja"
Zafana memelankan tangisannya, "gue gak mau ketemu sama dosen itu lagi"
Roos menghela, "pak Oliver Zafana, namanya Pak Oliver"
"Gue gak peduli! Mau siapa kek nama dia, yang penting gue gak mau ketemu sama dia lagi!"jawab Zafana.
"Iya-iya..udah ya nangisnya"
Zafana mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk membuat Alea terkekeh melihatnya.
"Cari makan yuk, gue laper nih" ucap Roos.
"Gue juga" jawab Zafana.
"Tapi tadi lo udah makan batagor kan, Na"ucap Ross.
"Gue kan barusan nangis, jadi batagor gue udah ilang"jawab Zafana.
Roos menepuk keningnya, ia bingung dengan tingkah sahabatnya ini yang selalu makan banyak tapi badannya tidak berisi.
"Yaudah lah ayok" ucap Roos sembari bangkit dan menarik lengan Zafana untuk pergi ke kantin.
Malam hari disaat semua orang sudah tertidur, Zafana malah dibangunkan oleh rasa dingin yang menusuk tulang-tulangnya. Tangannya terangkat menyentuh kepalanya yang terasa sangat pusing. Tunggu, sudah berapa jam ia tertidur?
Sepulang dari kampus, Zafana terus saja menangis sampai dirinya tertidur pun ia baru menyadarinya. Ia mengaktifkan ponselnya dan terlihat beberapa pesan bermunculan dari sahabatnya, Roos. Ia memilih tidak menghiraukannya dan turun dari tempat tidur untuk mengambil minum didapur.
"Belum tidur Dek ?"suara berat itu terdengar dari arah ruang tamu.
"Baru bangun"jawab Zafana sembari berjalan kearah Alaska dengan segelas air putih ditangannya.
Alaska menoleh kearah Zafana dan menilik penampilan adiknya yang sangat kacau. Rambut yang acak-acakan, baju yang lusuh dan mata yang sembab.
"Kayak OGB lo"Dek ledek Alaska
"Enak aja!" jawab Rheyna sambil menoyor kepala Alaska.
"Lo nangis Dek?"tanya Alaska Azherkan.
"Iya, karena ulah dosen sok kegantengan itu"jawab Zafana lalu berjalan menuju dapur.
Alaska terkekeh, "makanya kalau ngerjain skripsi tuh tepat waktu"
"Gue udah tepat waktu ya! Emang dasarnya aja tuh dosen rese"jawab Zafana
Alaska tertawa renyah."hati-hati suka"
"Dih? Ogah banget" cibir Zafana sambil bergidik.
"tidur Dek, ps mulu, besok kerja sekalian cari jodoh" lanjutnya sambil duduk disamping kanan Alaska.
"Besok sabtu" Lagian jodoh gue udah ada" jawab Alaska sambil menatap layar televisi didepannya.
"Oh ya? Masa sih Kakak Alaska yang dekil ini punya cewekk?" ledek Zafana.
"Dasar Adik Kurangajar"
Zafana tertawa kemudian menepuk pundak Alaska membuat lelaki itu terlonjat kaget.
"Kalau udah ada ya bawa dong ke rumah, gue sama mama juga kan mau kenal sama cewek Kakak itu" ucap Zafana.
"Nanti gue bawa, gue jamin ada gue pasti insecure sama dia" jawab Alaska
Zafana kembali tergelak, membuat Alaska emosi adalah salah satu hal yang paling ia suka. Karena dengan begitu ia dapat terbebas dari segala macam gangguan yang sering dilakukan oleh Alaska terhadap dirinya.
"Besok anterin Ade ke mall dong, kak"ucap Zafana
Alaska mengangguk dengan mata tetap fokus pada televisi didepannya, "Jam berapa?"
"Gimana besok deh ya, gue juga mau jogging dulu"
"Oke, Dek lari sama siapa?"tanya Alaska.
"Ya biasa lah, Roos"jawab Zafana
Alaska sedikit menghentikan kegiatannya lalu kembali menetralkan detak jantungnya dan hanya mengangguk membuat Zafana kembali diam.
"Yaudah deh, gue balik ke kamar ya"
Alaska lagi-lagi mengangguk membuat Zafana segera kembali ke kamarnya membuat Alaska bisa dengan tenang melanjutkan permainannya.