Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Wushhh! Wushhh! Wushhh!
Helikopter militer bercat hijau gelap itu mendarat perlahan di atas helipad luas yang terletak di atap sebuah mansion mewah bergaya arsitektur Eropa klasik.
Kawasan ini adalah distrik elit nomor satu di ibukota, tempat berkumpulnya para jenderal, menteri, dan pejabat tinggi negara yang memiliki kekebalan hukum tak tertulis.
Pintu helikopter terbuka lebar, dan Bayu melangkah turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Angin kencang dari baling-baling menerpa kemeja kasualnya, namun postur tubuhnya tetap tegak dan tak tergoyahkan layaknya sebuah gunung batu.
Di ujung helipad, dua barisan pelayan berseragam hitam putih berdiri menunduk hormat dengan sangat disiplin.
Di barisan paling depan, Jenderal Aditama yang mengenakan pakaian santai tersenyum lebar menyambut kedatangan tamu kehormatannya.
Namun, sebelum jenderal tua itu sempat melangkah maju dan menyapa, sesosok tubuh mungil melesat melewati para penjaga bersenjata.
Grep.
"Bayu! Akhirnya kau tiba juga!" seru Aurel dengan suara manja yang melengking bahagia.
Gadis itu langsung menerjang dan menabrak dada bidang Bayu, memeluk pinggang pemuda itu dengan sangat erat tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menonton.
Seluruh pelayan dan pengawal pribadi di atap itu membelalakkan mata tidak percaya, rahang mereka nyaris jatuh menyentuh lantai.
Pewaris keluarga Aditama yang terkenal sedingin es, kejam, dan sangat membenci pria, kini memeluk seorang pemuda asing layaknya anak anjing yang merindukan majikannya.
Bayu tersenyum miring, membalas pelukan itu dengan merangkul santai pinggang ramping Aurel menggunakan satu tangannya.
"Kau terlihat jauh lebih sehat dan bertenaga sekarang, Tuan Putri," goda Bayu sambil menepuk pelan punggung gadis itu.
Jenderal Aditama hanya bisa tertawa canggung melihat tingkah cucu kesayangannya yang kehilangan seluruh rasa malunya.
Pria tua itu tahu betul, tabib dewa ini tidak hanya menyembuhkan penyakit cucunya, tapi juga merampas seluruh hati dan akal sehat gadis tersebut dalam prosesnya.
"Selamat datang di ibukota, Tuan Bayu."
"Rumah ini, dan semua fasilitas yang ada di dalamnya, bebas Anda gunakan layaknya rumah sendiri," ucap Jenderal Aditama dengan nada yang sangat sopan dan penuh rasa hormat.
Bayu mengangguk pelan, melepaskan kacamata hitamnya dan menatap pemandangan cakrawala metropolitan yang dipenuhi gedung pencakar langit.
"Terima kasih, Jenderal. Pemandangan dari atas sini memang tidak pernah mengecewakan," balas Bayu datar.
"Mari, Bayu, aku sudah menyiapkan kamar utama di sayap timur khusus untukmu," potong Aurel dengan antusias, menarik tangan Bayu menuruni tangga helipad.
Mereka menyusuri lorong mansion yang dipenuhi oleh lukisan langka dan barang antik bernilai miliaran rupiah di setiap sudutnya.
Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer marun yang mengkilap.
Cklek.
Aurel membuka sebuah pintu kayu jati berukir naga, menampilkan kamar raksasa yang ukurannya bahkan lebih besar dari seluruh rumah kontrakan lama Bayu.
Fasilitas di dalamnya lebih mirip suite presiden di hotel bintang enam, lengkap dengan ranjang king size dan jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat kota.
Begitu mereka berdua masuk, Aurel langsung menutup pintu tebal itu.
Klik.
Gadis itu memutar kunci pintu dari dalam, lalu menekan tombol panel untuk menutup semua tirai jendela otomatis.
Suasana kamar yang tadinya terang kini berubah menjadi temaram dan sangat intim, hanya diterangi oleh lampu hias di dinding.
Aurel berbalik, menatap Bayu dengan mata sayu yang dipenuhi hasrat, cinta, dan kepatuhan mutlak.
"Suhu tubuhku sangat stabil sejak kau menyembuhkannya malam itu, Bayu."
"Tapi entah kenapa, di dalam sini rasanya sangat kosong dan dingin kalau kau tidak ada di dekatku," racau Aurel tanpa rasa malu, menunjuk ke arah perut bagian bawahnya.
Gadis ibukota yang mengenakan gaun pendek berwarna hitam elegan itu melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka berdua.
Jemari lentik Aurel menyentuh dada Bayu, mulai membuka kancing kemeja pemuda itu satu per satu dengan gerakan yang sedikit gemetar.
Bayu hanya diam membiarkan, menikmati pemandangan seorang pewaris konglomerat yang rela merendahkan harga dirinya demi memohon sentuhannya.
Chup. Slurp.
Aurel berjinjit, mendaratkan ciuman basah di rahang tegas Bayu, lalu turun menghisap pelan perpotongan leher pemuda tersebut.
Hawa panas dari giok hijau di tangan Bayu merespons secara otomatis, mengalirkan energi hangat yang membuat napas Aurel seketika tersengal.
Aroma maskulin Bayu yang memabukkan langsung meruntuhkan sisa-sisa kewarasan gadis itu.
"Tolong, Bayu... aku menginginkan hawa panasmu lagi sekarang," isak Aurel memelas, tangannya mulai meraba nakas pinggang Bayu mencari sabuk celananya.
Namun, sebelum tangan nakal itu berhasil turun lebih jauh, Bayu menangkap pergelangan tangan Aurel dengan genggaman yang kuat namun lembut.
Bayu mengangkat dagu gadis itu, menatap langsung ke dalam matanya yang sudah berkabut oleh kabut gairah.
"Tahan dirimu, Tuan Putri."
"Aku baru saja mendarat, dan aku masih harus mengurus pendaftaran ulang di kampus siang ini juga," tolak Bayu dengan senyum menyeringai yang menyiksa.
Aurel mengerang kecewa, kakinya refleks menggesek pelan paha Bayu untuk meredakan rasa gatal yang mulai menyiksa kewanitaannya.
"Tapi aku sudah menunggu berhari-hari sejak kau pergi dari klinismu di kota asalmu itu," rengek Aurel dengan bibir mengerucut lucu.
Bayu menundukkan wajahnya, mengecup bibir gadis itu sekilas, lalu menggigit pelan bibir bawah Aurel hingga gadis itu mendesah pelan.
"Jadilah gadis yang sabar, dan aku berjanji akan menghancurkan ranjang ini bersamamu malam nanti setelah urusanku selesai," bisik Bayu dengan nada mematikan.
Mendengar janji yang sangat vulgar dan mendominasi itu, wajah Aurel langsung meledak semerah tomat matang.
Tubuh gadis itu lemas seketika, dia hanya bisa mengangguk patuh sambil menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Bayu.
Siang harinya, matahari bersinar sangat terik memanggang aspal ibukota.
Bayu tiba di gerbang utama Universitas Kedokteran Nasional, kampus paling elit dan bergengsi di seluruh penjuru negeri.
Gedung-gedungnya menjulang tinggi dengan arsitektur modern berlapis kaca biru yang sangat megah dan memanjakan mata.
Ribuan mahasiswa baru dan senior berlalu lalang di area taman kampus, memancarkan aura kebanggaan sebagai orang-orang jenius dari keluarga berada.
Mobil-mobil sport mewah terparkir berjejer di halaman depan, menunjukkan betapa tingginya kesenjangan sosial di tempat ini.
Bayu berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju gedung rektorat untuk menyerahkan berkas pendaftaran ulangnya.
Dia tidak meminta pengawalan dari keluarga Aditama, lebih memilih untuk membaca situasi kampus ini dengan mata kepalanya sendiri.