Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Will You Merry Me
Malam itu setelah keluarga besar bubar, Jingga masuk ke kamarnya dengan hati yang masih berdebar. Minggu depan… dia benar-benar akan resmi bertunangan dengan Levin. Rasanya terlalu cepat, tapi anehnya tidak ada rasa penolakan sekuat dulu.
Keesokan harinya, Rika mengajaknya ke butik untuk mencoba beberapa gaun. Jingga berdiri di depan cermin dengan gaun putih lembut yang jatuh anggun di tubuhnya.
“Aduh, cantik sekali anak Mami,” ujar sang mama sambil menatapnya penuh haru.
Jingga hanya tersenyum tipis, tapi matanya jelas berkaca-kaca. Ia membayangkan, bagaimana nanti saat semua orang melihatnya berdampingan dengan Levin.
Tiba-tiba, pintu butik terbuka. Seorang pria dengan kemeja hitam elegan masuk, langkahnya penuh percaya diri.
“Permisi… calon pengantinnya sudah siap?” suara bariton itu terdengar jelas.
Jingga spontan terlonjak.
“Levin?! Ngapain kamu ke sini?!” serunya panik, wajahnya langsung memerah.
Levin tersenyum licik, matanya menatap Jingga dari atas ke bawah tanpa sungkan.
“Kenapa? Nggak boleh lihat calon tunanganku pakai gaun? Justru aku harus jadi orang pertama yang menilainya, kan?”
Rika hanya terkekeh kecil, sengaja meninggalkan mereka berdua agar lebih leluasa.
Jingga berusaha menutupi wajahnya dengan tangan, tapi Levin maju mendekat, menyingkirkan tangan itu dengan lembut.
“Kamu cantik banget, Ji. Serius. Aku nggak pernah lihat kamu secantik ini sebelumnya,” ucapnya tulus, membuat hati Jingga bergetar.
Jingga salah tingkah, ingin marah tapi bibirnya malah tersenyum tipis.
“Ah… kamu bisa aja. Udah, jangan gombal di tempat umum.”
Levin menunduk sedikit, berbisik di telinganya.
“Besok aku jemput kamu, ada sesuatu yang mau aku kasih. Anggap aja hadiah kecil sebelum pertunangan kita.”
Deg.
Jingga menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Ia tahu, kejutan dari Levin entah kenapa selalu membuat hidupnya berwarna, meski kadang bikin emosi juga.
----
Keesokan harinya
Sore itu, Jingga baru saja selesai merapikan dokumen terakhir di kantornya. Ia berniat pulang lebih awal, namun langkahnya terhenti ketika sebuah pesan masuk di ponselnya.
“Turun ke lobi. Aku tunggu.” – Levin.
Jingga menghela napas panjang. Ada-ada saja pria itu… pikirnya. Dengan sedikit rasa malas, ia mengambil tas dan turun ke lobi.
Begitu keluar, ia mendapati Levin sudah menunggunya di samping mobil sport hitamnya. Pria itu tampak santai dengan setelan kemeja gelap yang digulung hingga siku, membuatnya terlihat semakin karismatik.
“Naik,” ucap Levin singkat sambil membukakan pintu.
“Emangnya kita mau ke mana?” tanya Jingga sambil menatapnya penuh curiga.
“Rahasia.” Levin tersenyum samar. “Pokoknya malam ini kamu ikut aja. Aku jamin, kamu nggak bakal nyesel.”
Dengan enggan namun penasaran, Jingga akhirnya masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, ia sesekali melirik Levin yang tampak begitu tenang menyetir, seolah menyembunyikan sesuatu.
“Kenapa sih kamu tiba-tiba jemput? Biasanya kita cuma ketemu kalau ada acara keluarga,” tanya Jingga.
Levin meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Aku lagi pengen habisin waktu sama calon istriku. Apa itu salah?”
Jingga langsung salah tingkah, wajahnya memanas. “Ih, kamu tuh… jangan asal ngomong gitu deh!”
Levin terkekeh pelan. “Aku serius, Ji. Kamu nanti juga bakal terbiasa dengar itu dari mulutku.”
Jingga mendengus, mencoba menutupi degup jantungnya yang tiba-tiba tak terkendali. Ia memilih menatap keluar jendela, padahal diam-diam hatinya mulai berdebar dengan rasa yang tak bisa ia definisikan.
Dalam perjalanan menuju hotel, tiba-tiba Levin membelokkan mobilnya ke arah sebuah mall premium.
Jingga langsung menoleh, bingung.
“Eh, kok ke sini? Katanya mau ke hotel, kenapa malah mampir mall?”
Levin hanya tersenyum kecil. “Tenang aja, kita cuma sebentar. Aku nggak mau calon istriku datang dengan penampilan biasa aja untuk malam ini.”
“Maksud kamu?” Jingga mengerutkan dahi.
“Aku mau kamu tampil cantik, sesuai dengan moment yang sudah aku siapkan.”
Tanpa memberi kesempatan Jingga menolak, Levin langsung turun, membukakan pintu untuknya, dan menarik tangannya masuk ke dalam mall.
Mereka berhenti di sebuah butik mewah. Pegawai butik itu langsung menyambut dengan ramah.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”
Levin menatap ke arah Jingga, lalu berkata dengan tegas, “Carikan gaun terbaik untuknya. Sesuatu yang elegan tapi tetap sederhana.”
“Levin! Aku bisa pilih sendiri kok, nggak usah repot” protes Jingga, wajahnya sudah memerah.
Namun Levin hanya melipat tangan di dada. “Kali ini biar aku yang pilih. Aku pengen lihat kamu terlihat paling cantik malam ini.”
Setelah beberapa pilihan diberikan, akhirnya Jingga memilih sebuah gaun sederhana berwarna pastel dengan potongan anggun yang jatuh lembut di tubuhnya. Begitu keluar dari ruang ganti, Levin sampai terdiam sejenak. Tatapannya tak bisa lepas dari sosok Jingga.
“Cantik…” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Jingga salah tingkah, memainkan ujung rambutnya. “Udah ah, jangan lihat gitu. Malu aku.”
Levin tersenyum puas. Ia lalu menyerahkan kartu kreditnya pada kasir tanpa banyak bicara. Setelah semuanya beres, ia menuntun Jingga kembali ke mobil.
“Levin, kamu beneran niat banget ya…” ujar Jingga pelan saat mereka melanjutkan perjalanan.
Levin menoleh sejenak, senyum tipis di wajahnya. “Aku udah bilang kan, Ji. Malam ini spesial. Dan aku nggak mau momen penting dalam hidup kita terasa biasa aja.”
Hati Jingga mendadak bergetar hebat. Ia hanya bisa terdiam, menatap ke luar jendela untuk menyembunyikan senyumnya.
Malam itu, Jingga mengikuti langkah Levin menuju sebuah restoran mewah di lantai atas hotel bintang lima miliknya. Pintu kaca terbuka, memperlihatkan ruangan yang hanya dihiasi beberapa meja elegan dengan cahaya lampu redup bernuansa emas. Di sisi kanan, kaca besar menjulang, memperlihatkan pemandangan kota malam yang berkilauan.
Pelayan menyambut mereka dengan penuh hormat, lalu menuntun ke sebuah meja VIP di sisi jendela. Meja itu sudah tertata sempurna: lilin-lilin kecil, bunga mawar putih, dan alunan musik jazz lembut yang memenuhi ruangan.
“Levin…” Jingga menatap sekeliling dengan mata berbinar, nyaris tak percaya. “Ini semua… buat aku?”
Levin hanya tersenyum tenang, menarik kursi untuk Jingga. “Untuk siapa lagi kalau bukan calon istriku?” katanya ringan, tapi sorot matanya penuh kesungguhan.
Sepanjang makan malam, suasana terasa begitu intim. Mereka berbincang santai tentang pekerjaan, tentang keluarga, bahkan tentang hal-hal kecil yang membuat Jingga tertawa. Perlahan, Jingga mulai lupa dengan segala keraguan yang pernah menghantuinya. Ada rasa nyaman yang sulit ia ingkari ketika bersama pria ini.
Hingga tiba-tiba, Levin memberi isyarat halus. Lampu restoran meredup, hanya menyisakan cahaya lilin di meja mereka. Jingga mengerutkan dahi, kebingungan.
“Eh, ada apa ini?”
Dari luar jendela besar, tampak beberapa titik cahaya perlahan mendekat. Drone-drone kecil beterbangan, membentuk formasi di langit malam. Perlahan, cahaya itu menyusun kata-kata besar yang berpendar terang:
WILL YOU MARRY ME, JINGGA?
Jingga terdiam. Tangannya refleks menutup mulut, matanya berkaca-kaca. Hatinya bergetar hebat antara kaget, terharu, dan bahagia bercampur jadi satu.
Ketika ia menoleh ke depan, Levin sudah berlutut di hadapannya. Di tangannya, sebuah kotak cincin beludru terbuka, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau indah.
“Jingga…” suara Levin terdengar dalam dan tulus. “Awalnya mungkin kita hanya dipertemukan karena perjodohan, tapi aku nggak mau hubungan kita berakhir hanya karena alasan itu. Aku sungguh jatuh hati sama kamu. Jadi, kali ini aku ingin kamu tahu… aku benar-benar serius. Will you marry me?”
Air mata Jingga akhirnya menetes. Ia menatap Levin dengan pandangan tak percaya, seperti sedang bermimpi. Selama ini ia selalu berpikir semua yang dilakukan Levin hanya formalitas karena keluarga. Tapi malam itu… ia merasakan sendiri kesungguhan lelaki itu.
Dengan suara bergetar, Jingga mengangguk pelan.
“Iya, Levin… aku mau.”
Seketika tepuk tangan dari para staf restoran terdengar samar, meski yang paling jelas di telinga Jingga hanyalah suara detak jantungnya sendiri. Levin berdiri, menyematkan cincin ke jari manisnya, lalu menarik Jingga ke dalam pelukannya.
“Terima kasih… calon istriku,” bisik Levin, mengecup keningnya dengan lembut.
Dan malam itu, Jingga tahu keputusannya untuk perlahan membuka hati adalah langkah yang tidak salah.
Setelah suasana haru di VIP restoran itu, Jingga masih terdiam dengan cincin berlian yang kini melingkar indah di jari manisnya. Air mata belum juga berhenti jatuh, sementara Levin berdiri di depannya dengan tatapan penuh kesungguhan.
“Sekarang kamu tahu kan, Ji…” suara Levin bergetar namun mantap, “…aku nggak main-main soal kamu. Semua ini bukan karena perjodohan, tapi karena aku bener-bener mau kamu ada di sisiku. Selamanya.”
Jingga menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan rasa haru. “Levin… aku… aku nggak pernah nyangka kamu bakal melakukan sejauh ini. Aku pikir semua hanya karena orang tua kita.”
Levin tersenyum tipis, lalu mengusap pipi Jingga yang basah. “Awalnya mungkin iya. Tapi sekarang? Percayalah, semuanya karena aku jatuh cinta sama kamu. Sejak lama.”
Jingga tertegun. Tatapan Levin begitu dalam, membuat dadanya berdegup tak karuan. Ia akhirnya mengangguk kecil, lalu menjawab lirih, “Aku percaya…”
Tanpa sadar, Levin langsung menarik Jingga ke dalam pelukannya. Erat. Hangat. Seakan tak mau melepaskannya.
Para staf di restoran itu yang menyaksikan momen romantis tersebut bertepuk tangan, ada pula yang bersorak kecil menyemangati. Tapi bagi Jingga dan Levin, dunia seolah hanya milik mereka berdua.
Setelah suasana mulai mereda, Levin menggandeng tangan Jingga keluar restoran. Malam itu belum berakhir. Ia membawanya ke sky lounge hotel yang berada di rooftop, tepat menghadap pemandangan kota yang berkilau oleh cahaya lampu.
Hembusan angin malam menyapu wajah mereka. Jingga berdiri menatap ke bawah, lalu menoleh pada Levin. “Terima kasih… untuk semuanya. Aku bener-bener merasa kayak mimpi.”
Levin mendekat, berdiri di sampingnya. “Kalau ini mimpi, aku janji nggak akan biarin kamu bangun.”
Jingga tertawa kecil di sela isak tangis yang masih tersisa. “Kamu bisa aja.”
Mereka pun duduk di sofa terbuka dengan segelas wine non-alkohol yang sudah disiapkan. Percakapan mengalir lembut, tanpa beban. Jingga yang biasanya penuh gengsi perlahan mulai membuka diri, sementara Levin terlihat semakin yakin bahwa keputusannya memperjuangkan Jingga adalah benar.
Malam itu ditutup dengan satu pelukan panjang di balkon rooftop, disertai bisikan Levin di telinga Jingga:
“Mulai sekarang, kamu bukan cuma calon istriku. Kamu juga rumahku.”
Malam itu berakhir dengan kehangatan yang tak akan pernah Jingga lupakan.
Sebuah cincin di jarinya kini menjadi bukti, bahwa hubungan mereka bukan sekadar perjodohan, melainkan sebuah pilihan yang nyata.
Di bawah langit malam yang penuh cahaya kota, Jingga menyandarkan kepalanya di bahu Levin. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa begitu tenang.
Dan dalam diam, ia menyadari mungkin inilah awal dari sebuah kisah cinta yang sesungguhnya.