NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Mimisan

Nara

Aku seharusnya menjaga jarak setelah percakapan di lorong.

Keesokan siang, aku justru pulang lebih awal.

Alasan resminya adalah rapat daring. Alasan sebenarnya berdiri di ruang keluarga, berjongkok di depan lemari rendah sambil mencari buku catatan Arka.

Pagi itu Bayu sudah mengingatkan aku tidur kurang dari empat jam. Kopi kedua kuminum di mobil, makan siang hanya dua suap. Ketika rapat dibatalkan, aku bisa saja kembali ke kantor. Aku memilih rumah dengan alasan koneksi internet lebih stabil.

Begitu masuk, suara ocehan Arka terdengar dari ruang keluarga. Sekar sedang menyusun balok warna di depan bayi itu. Arka memukul dua balok, tertawa, lalu melemparkannya. Sekar mengambil tanpa kesal dan mengulang nama warna meski Arka belum mampu menirukan.

Aku berdiri cukup lama sampai Bu Nah lewat membawa teh.

"Den Nara cari siapa?"

"Tidak ada."

Bu Nah melihat ke dalam ruangan, lalu kepadaku. "Oh. Tidak ada."

Nada suaranya membuatku langsung masuk ke ruang kerja. Lima menit kemudian aku keluar lagi hanya karena mendengar Sekar mengatakan buku catatan hilang.

Sekar tidak menyadari kedatanganku. Kerudungnya terpasang longgar di rumah, lengan bajunya digulung sampai siku. Dia mengeluarkan satu per satu kotak mainan, memeriksa bawahnya, lalu menggumam karena buku yang dicari tidak ada.

Aku berhenti di ambang.

"Di meja makan," kataku.

Dia terkejut dan berdiri terlalu cepat.

Kepalanya hampir membentur daguku. Aku mundur, tetapi tumitku tertahan karpet. Untuk sesaat, tubuh kami hanya berjarak beberapa sentimeter.

Aroma manis menyergap tanpa peringatan.

Sekar pasti baru selesai makan. Wajahnya lebih berwarna, tubuhnya tidak tampak lemas, dan matanya jernih. Inilah akibat ketika dia tidak kelaparan, pikirku. Bukan aib. Bukan bahaya. Hanya perempuan yang sehat berdiri terlalu dekat.

Lalu sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku.

Sekar membelalakkan mata. "Den... darah."

Aku menyentuh bawah hidung. Ujung jariku merah.

Harga diriku runtuh di tempat.

"Kau minggir," kataku terlalu keras.

Dia cepat mundur. "Saya panggil Bu Nah."

"Tidak perlu."

"Tapi Den mimisan."

"Saya tahu. Ini hidung saya."

Jawaban itu terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri.

Aku memalingkan wajah dan menjepit bagian lunak hidung. Udara pendingin kering, aku kurang tidur, dan sejak pagi hanya minum kopi. Ada banyak penjelasan masuk akal. Sayangnya, mimisan terjadi tepat saat aroma Sekar memenuhi napasku.

Dia menyodorkan sapu tangan dari sakunya. "Pakai ini. Jangan mendongak."

Aku menerimanya tanpa melihat. Kain putih kecil dengan bordir bunga sederhana menyentuh jari.

"Duduk, Den. Condong sedikit ke depan."

"Saya tahu pertolongan pertama."

"Kalau tahu, kenapa masih berdiri sambil marah?"

Aku menatapnya. Sekar menutup mulut, sadar baru saja menegur putra majikannya.

"Maaf."

"Tidak. Kau benar."

Aku duduk di tepi sofa dan menekan hidung. Dia mengambil botol air, meletakkannya dekatku, lalu menjaga jarak dua langkah. Jarak itu perlu. Aroma manis masih ada, tetapi tidak sekuat tadi.

Sekar mengambil kotak tisu dan meletakkannya di bawah tanganku agar darah tidak menetes ke kemeja. Dia tidak menyentuh wajahku. Setiap tindakannya mengikuti batas yang kami bangun, tetapi perhatian dalam matanya membuat jarak itu terasa semu.

"Kalau dua puluh menit belum berhenti, kita ke klinik," katanya.

"Tidak perlu."

"Den mengatakan hal yang sama waktu tangan saya kena bubur."

"Itu luka bakar."

"Darah Den lebih banyak."

"Kau sedang membalas?"

"Saya sedang mengikuti standar Den sendiri."

Aku tidak punya bantahan yang tidak terdengar munafik.

"Sudah berhenti?"

"Belum lima menit."

"Saya hitung."

Dia melihat jam dinding dengan sangat serius. Situasi menjadi semakin memalukan. Aku, Narendra Adiwijaya, yang pernah memimpin negosiasi proyek miliaran tanpa perubahan wajah, kini duduk dijaga seorang pengasuh karena hidung berdarah setelah dia berdiri terlalu dekat.

Sekar menggigit bibir bawah. Bahunya bergerak kecil.

"Kau tertawa?"

"Tidak."

"Wajahmu mengatakan sebaliknya."

"Saya hanya... lega Den tidak marah pada saya."

"Kenapa saya harus marah?"

"Karena aroma itu."

Aku melepaskan tekanan sebentar untuk memeriksa. Darah mulai berhenti.

"Tubuh saya kurang istirahat. Jangan menjadikan dirimu penyebab semua hal."

"Tapi tadi persis setelah..."

"Sekar."

"Iya."

"Berhenti menyalahkan diri."

Dia menunduk, tetapi senyumnya masih terlihat. Senyum itu lebih berbahaya bagi ketenanganku daripada aromanya.

***

Bu Retno masuk ke ruang keluarga sepuluh menit kemudian. Sekar sudah mengambil buku catatan Arka dari meja makan, sedangkan aku berpura-pura membaca email.

Ibu melihat sapu tangan di tanganku. "Kau mimisan?"

"Udara kering."

"Sejak kapan udara Surabaya kering?"

"Pendingin ruangan."

Ibu menyentuh dahiku, lalu memeriksa mataku seperti ketika aku masih sekolah. "Tekanan darahmu diperiksa bulan ini?"

"Normal."

"Makan siang?"

Aku diam.

Sekar berbalik. "Den belum makan?"

"Jangan ikut campur."

Ibu mengangkat alis. "Kau menyuruh semua orang makan, tetapi dirimu sendiri lupa. Sekar, minta Bu Nah siapkan nasi."

"Iya, Bu."

Sekar melewatiku dengan senyum kemenangan kecil. Peran kami berbalik begitu cepat. Beberapa menit kemudian, piring penuh berada di hadapanku, dan dia berdiri di dekat pintu memastikan aku tidak mengabaikannya.

"Makan sampai habis, Den," katanya pelan, menirukan ucapanku.

Aku menatapnya tajam. "Kau semakin berani."

"Belajar dari Den."

Ibu mendengar bagian terakhir. Pandangannya berpindah di antara kami, lebih tajam daripada sebelumnya.

Sekar membelakangi Ibu dan pura-pura merapikan mainan. Bahunya kembali bergerak menahan tawa.

Ibu menyuruhku minum lebih banyak, lalu bertanya kepada Sekar tentang jadwal makan Arka. Mereka berbicara beberapa menit. Aku tidak membaca satu kata pun di layar.

Ketika Sekar hendak pergi, sapu tangan lain jatuh dari saku bajunya. Mungkin dia membawa dua untuk kebutuhan Arka. Benda itu mendarat di samping kakiku.

Aku membungkuk lebih dulu dan mengambilnya.

"Punya saya," katanya.

"Yang ini bersih?"

"Iya. Yang Den pegang juga punya saya."

Aku melihat kain bernoda darah di tangan kiri, lalu kain bersih di tangan kanan.

"Yang kotor saya cuci dulu."

"Biar saya."

"Tidak perlu."

Aku memasukkan keduanya ke saku sebelum dia sempat mengambil. Sekar menatap tindakanku dengan bingung.

"Den mau menyimpan dua-duanya?"

"Sementara."

"Untuk apa?"

"Bukti bahwa kau menertawakan majikan yang sedang sakit."

"Saya tidak tertawa."

"Bagus. Berarti bukti ini akan aman."

Aku berjalan ke ruang kerja sebelum alasan itu terdengar lebih buruk.

***

Di kamar, aku mencuci sapu tangan bernoda sendiri. Noda merah memudar di bawah air. Kain bersih yang satunya terletak di meja, mengeluarkan aroma sabun dan jejak sangat tipis dari pemiliknya.

Aku menggosok noda dengan sabun tangan, membilas sampai tidak ada warna tertinggal, lalu menggantungnya di kamar mandi pribadi. Pekerjaan sederhana itu memberiku ketenangan yang tidak masuk akal. Biasanya kemeja bernoda pun langsung kuserahkan ke laundry rumah.

Ketika kain kering, terlihat satu huruf S kecil disulam di sudut. Jemari Sekar mungkin membuat tusukannya satu per satu. Bayangan dia duduk di kamar sempit sambil menjahit benda ini membuatku enggan mengembalikan.

Aku seharusnya mengembalikannya setelah kering.

Sebaliknya, aku melipat keduanya dan memasukkannya ke laci yang sama dengan sapu tangan yang pernah dia jahit.

Tiga helai kain untuk satu orang yang katanya sedang menjaga jarak.

Aku menutup laci dengan perasaan konyol.

Dari halaman terdengar Sekar tertawa bersama Bu Nah. Aku mendekati jendela tanpa sadar. Dia sedang menceritakan sesuatu sambil menutup hidung dengan dua jari. Bu Nah tertawa lebih keras.

Dia jelas menceritakan kejadian tadi.

Aku mengetuk kaca. Sekar menoleh ke atas. Begitu melihatku, dia menutup mulut dan menarik Bu Nah pergi.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk dari Bayu: Pak, kabarnya mimisan?

Aku mengetik satu jawaban: Fokus kerja.

Balasannya hanya emoji tertawa.

Pesan kedua menyusul: Bu Nah cerita ke dapur. Satu rumah sudah tahu.

Aku memejamkan mata. Besok sopir, satpam, bahkan tukang kebun mungkin akan menghindari menatap hidungku. Seharusnya aku marah karena urusan pribadi menjadi bahan hiburan.

Namun tidak ada yang mengejek Sekar. Untuk sekali ini, keanehan di antara kami menempel padaku, bukan menjadi alasan orang menyalahkan tubuhnya. Kalau harga untuk itu hanya sedikit rasa malu, aku bisa membayarnya.

Aku meletakkan ponsel, membuka laci sekali lagi, dan menyentuh sudut sapu tangan bersih.

Ada tiga pilihan yang masuk akal. Mengembalikan semua kain besok, menyerahkannya kepada Bu Nah untuk dicuci, atau membuang yang bernoda demi kebersihan. Aku tidak memilih satu pun.

Sebaliknya, kuletakkan sapu tangan terbaru di bagian paling belakang laci, di bawah map pribadi yang tidak disentuh pekerja rumah. Tindakan itu terlalu mirip menyimpan barang milik seseorang tanpa izin. Aku berjanji akan mengaku bila dia mencarinya.

Masalahnya, sebagian diriku berharap Sekar tidak pernah mencari terlalu keras.

Wibawaku mungkin sudah hancur di depan seluruh rumah.

Aku menatap pantulan diri di kaca. Tidak ada lagi darah, hanya wajah lelaki yang terlalu lama menyangkal ketertarikan sederhana. Mimisan itu mungkin benar karena lelah dan udara kering. Senyumku sendiri saat mengingatnya tidak memiliki alasan medis.

Anehnya, aku tidak terlalu keberatan selama Sekar adalah alasan dia tersenyum seperti tadi, bebas dari ketakutan yang biasanya membayangi matanya setiap hari.

Besok aku akan kembali memasang wajah dingin di meja makan. Sekar mungkin akan menunduk sopan, lalu diam-diam menyentuh hidungnya untuk menggodaku. Dan aku sudah tahu, aku tidak akan mampu benar-benar marah kepadanya setelah melihat tawanya hari ini begitu dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!