Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Matahari siang ini amat menyengat panas ke bumi, dengan memancarkan sinarnya yang panasnya terasa sampai ke dalam kulit.
Hari ini memang terasa panas, jadi Mang Marsudi setelah mendapatkan perintah dari Dion langsung menjemput Raisa yang berada di rumah sakit.
Namun, baik Dion maupun Mang Marsudi tak tahu alasan sebenarnya Raisa di rumah sakit.
Raisa mengatakan jika ada barang mertuanya yang tertinggal di ruang rawat inap, jadi wajar jika Dokter Hassan yang menelepon ke kediaman keluarga Raharja.
Raisa baru saja pulang dari rumah sakit dengan menaiki supir pribadi---Dokter Hassan menghubungi kediaman keluarga Raharja.
Dion hanya mengirimkan supir untuk menjemput Raisa di rumah sakit.
Baru saja Raisa melangkahkan kakinya di depan pintu teras----berdiri dari balik pintu kayu jati terbuka lebar, wanita itu tengah berdiri disana.
Tangannya memegang erat tas kecil yang berisi kertas hasil tes kehamilannya, namun hal yang di duga selama ini jadi kenyataan.
Matanya melihat pemandangan di ruang tamu yang seolah menusuk hatinya, selain matahari yang panas---hatinya juga terasa panas terbakar.
Raisa berdiri di ambang pintu kayu jati yang megah, tengah melihat dua orang bercumbu mesra di atas sofa beludru berwarna ungu tua.
Pemandangan yang menghancurkan harga dirinya sebagai seorang istri, dengan sangat sempurna.
Tangannya secara refleks memegang perutnya, yang masih rata---di dalam perutnya kini terdapat janin yang menjadi bagian dari dirinya Raisa sendiri dan Dion.
Di ruang tamu.
Dion duduk santai dengan mengenakan kemeja hijau lumut dan celana hitam formal, namun terlihat pria ini sama sekali tak menunjukkan rasa duka sedikit pun atas kematian ibundanya.
Padahal ibunya baru saja di makamkan, dan makamnya masih basah dengan kembang.
Dion tengah memangku Chelsea, terlihat wanita LC itu mengenakan atasan kemben warna merah menyala dan rok pendek warna paster yang hanya setengah paha.
Keduanya tengah menunjukkan pose yang tak pantas, tangan Chelsea mengalung mesra di leher Dion---tak segan tangan Dion terus meraba dadanya Chelsea.
"Astagfirullah...apalagi cobaan yang engkau beri pada hambamu," ucap Raisa dengan lirih, tangisnya tertahan oleh isak tangis.
Tampak Dion dan Chelsea melakukan tindakan yang tak pantas, karena suasana rumah seharusnya masih berkabung.
Namun, keduanya malah melakukan tindakan tak senonoh di ruang tamu.
Raisa yang melihat itu menutup mulut dengan tangan kanannya, berusaha menenangkan diri karena kehamilannya.
Dirinya merasa jijik melihat sang suami bercumbu di ruang tamu, yang seharusnya menjadi tempat berkumpul keluarga kecil mereka nanti.
Hati Raisa seketika hancur berkeping-keping, selama ini dirinya mencoba bertahan dari kekerasan fisik dan verbal yang Dion beri untuknya.
Raisa berusaha mencoba memahami luka masa lalu sang suami, namun kenyataannya malah---melihat wanita lain di perlakukan lembut dan mesra.
Raisa melangkahkan kakinya dengan sisa keberanian, ke ruang tamu.
"Mas...," panggil Raisa dengan lirih, matanya sembab.
Mendengar panggilan dan langkah kaki Raisa, Dion tanpa rasa bersalah bangkit dari sofa dengan gerakan kasar.
Dion menatap istrinya berjalan ke arah dimana Raisa berdiri, lalu jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal.
"Bagus kamu sudah pulang," geram Dion dengan suara penuh intimidasi.
Raisa sudah mengeluarkan air mata, air mata ini seakan mengering di pipinya.
Matanya menatap Dion---pria itu dengan wajah merah karena amarah mengangkat jari telunjuknya, menunjuk tepat ke hadapan wajah Raisa.
"Dengar baik-baik, Raisa Adiratna. Mulai siang ini, Chelsea akan tinggal di rumah ini. Saya tak perlu persetujuan kamu karena rumah ini sekarang saya yang berkuasa," tutur Dion dengan nada tegas.
Chelsea tersenyum penuh kemenangan, kini wanita itu merangkul lengan Dion dengan sangat mesra.
Terlihat wanita murah ini menyandarkan kepalanya di bahu Dion, matanya yang tajam seolah mengejek kerapuhan Raisa yang berdiri di hadapan suaminya.
"Mas! Mama baru aja meninggal! Bagaimana bisa kamu nggak menghormatinya membawa wanita itu ke sini?" tanya Raisa dengan suara marah, namun air mata tak kunjung berhenti mengalir.
Dion dengan wajah marah, menunjuk wajah Raisa.
"Jangan bawa-bawa nama mama!" bentak Dion membuat Raisa tersentak.
"Kenapa? Mama---"
Kalimat Raisa di potong cepat oleh Dion, tentu dengan marah Dion menjawab dengan nada tegas.
"Rumah ini milik saya, dan saya yang berkuasa. Jadi kamu hanya perlu melakukan tugasmu dan jangan pernah mencampuri urusanku dengan Chelsea. Jika kamu tidak suka, pintu keluar selalu terbuka lebar, tapi ingat... kamu tidak akan membawa sepeser pun dari harta Raharja," ancam Dion.
Raisa menatap jari Dion yang menunjuk ke arahnya, ada dorongan kuat di hatinya untuk pergi.
"Aku mau cerai Mas," jawabnya.
Dion tertawa hambar, lalu tersenyum.
"Baik besok surat cerai sudah jadi, dengan senang jati akan saya kabulkan," ucap Dion memegang mesra pinggang Chelsea.
Sebenarnya hati Raisa ingin sekali memberitahu pria tanpa hati ini, jika dirinya tengah mengandung darah dagingnya.
Namun, Raisa takut jika Dion dan selingkuhannya membunuh anaknya---dirinya tak punya siapapun lagi selain anak ini.
Toh jika bercerai dirinya akan bisa bebas dari Dion dan memulai hidup baru.
"Ayo sayang kita ke kamar," ajak Dion ke kamar pribadi mereka.
Setelah kepergian Dion menaiki anak tangga bersama Chelsea, tubuh Raisa terjatuh di lantai yang dingin---air mata berlomba-lomba mengalir membasahi pipinya.
"Kalo dia tahu aku hamil, pasti akan menyuruhku menggugurkannya." Raisa bicara dalam batinnya, tubuhnya luruh di lantai marmer yang dingin ini.
"Ya allah, hamba tahu perceraian paling dibenci di agama. Tapi hamba tak sanggup lagi untuk menanggung ini, hamba harus selamatkan titipanmu di rahim hamba. Hamba janji akan menjadi ibu yang baik bagi anak ini kelak," doa Raisa dalam hatinya.
Raisa dengan refleks menyilangkan tangannya di depan perutnya yang masih rata, sementara Dion puas melihat kepasrahan istrinya.
"Sepertinya aku menyerah...menyerah dengan pernikahan ini. Perceraian lebih bagus daripada harus terus menyiksa batin. Aku akan mulai hidup baru," ucap Raisa bertekad dalam hatinya.
Raisa memejamkan matanya, dirinya mungkin akan membangun karirnya dari nol sebagai designer.
Raisa berusaha untuk berjualan online baju, dan berusaha membangun karirnya lagi yang sempat di larang oleh Dion.
*
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.