NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masakan pertama

“Haaah...”

Naresa mengembuskan napas panjang begitu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam, membiarkan keheningan rumah menyambut kepulangannya. Sudah lama sekali rasanya ia merindukan suasana seperti ini. Tak ada suara orang berbincang, tak ada langkah kaki yang berlalu-lalang, tak ada tamu yang datang silih berganti. Hanya sunyi.

Selama tujuh hari terakhir, sejak kepergian ayah mertuanya, Naresa dan Ardan menetap di kediaman orang tua Ardan untuk menemani sang ibu yang baru saja kehilangan pendamping hidupnya. Rumah itu tak pernah sepi. Wajar saja. Mendiang merupakan CEO generasi kedua Dhaneswara Architects, sosok yang dikenal luas dan dihormati banyak orang. Setiap hari selalu ada kerabat, sahabat, kolega, rekan bisnis, hingga tamu penting yang datang untuk menyampaikan belasungkawa.

Hari-hari itu menguras seluruh tenaganya. Tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak. Kasur yang bukan miliknya, suasana kamar yang belum benar-benar akrab baginya, serta suara percakapan yang masih terdengar hingga larut malam membuat tubuhnya seolah tak pernah benar-benar beristirahat. Pagi baru saja tiba, ia sudah kembali berdiri menemani keluarga menerima tamu dengan senyum yang dipaksakan.

Lelah itu menumpuk sedikit demi sedikit. Fisiknya lelah. Pikirannya lebih lelah lagi. Namun Naresa tak pernah memperlihatkannya di hadapan siapa pun. Kalau sampai terlihat, habislah sudah. Lagi pula, siapa juga yang ingin terlihat buruk di hadapan keluarga suami? Karena itulah ia selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ia tetap menyapa setiap tamu dengan sopan, mengangguk saat menerima ucapan belasungkawa, lalu kembali berdiri di sisi Ardan seolah semuanya baik-baik saja.

Baru setiap malam, ketika pintu kamar telah tertutup dan hanya ada dirinya bersama sang suami, pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak siang ia tahan akhirnya mengalir tanpa henti.

Mungkin Ardan mengira dirinya menangis karena kepergian ayahnya. Atau mungkin, laki-laki itu berpikir bahwa kehilangan itu kembali mengingatkan Naresa pada mendiang ibunya yang telah lebih dulu pergi. Dugaan-dugaan itu rasanya memang tidak sepenuhnya keliru. Hanya saja, terlalu banyak perasaan yang saling bertumpuk di dalam dirinya. Duka, rindu, kelelahan, dan segala hal bercampur menjadi satu hingga bahkan Naresa sendiri tak lagi mampu membedakan, apa sebenarnya yang sedang ia tangisi.

Tanpa banyak bicara, Ardan hanya memeluknya hingga tangis itu perlahan mereda, sebelum akhirnya berganti dengan napas yang teratur dalam tidur yang, sebenarnya, tak pernah benar-benar nyenyak.

Baru hari ini, di hari kedelapan, Naresa akhirnya bisa kembali ke rumah mereka, Rumah yang hanya berisi dirinya dan Ardan. Rumah yang akhirnya memberinya kesempatan untuk bernapas lagi.

Bermenit-menit pun berlalu, tetapi Naresa masih bertahan dalam posisi yang sama. Sementara pandangannya kosong mengarah ke satu titik di depan sembari terus menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, berulang kali. Seolah baru kali ini paru-parunya benar-benar diberi kesempatan untuk bekerja tanpa terburu-buru.

Rumah yang sejak tadi terasa begitu sunyi justru memberi ruang bagi pikirannya untuk kembali bekerja.

Ia kembali teringat pada notifikasi yang sempat muncul di ponsel pribadi Ardan. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak, mengajak Ardan untuk bertemu saat makan siang nanti.

“Kira-kira siapa, ya?”

Pertanyaan itu meluncur pelan, lebih terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri daripada benar-benar mencari jawaban.

Pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan. Selama ini, urusan pekerjaan hampir selalu masuk ke ponsel Ardan yang memang dikhususkan untuk bisnis. Sangat jarang ada rekan kerja yang menghubunginya melalui nomor pribadi. Kalau memang ini urusan pekerjaan, mengapa pesannya dikirim ke sana? Lalu kalau bukan, siapa? Teman lama? Kenalan baru? Atau memang nomor baru seseorang yang belum sempat disimpan?

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, tetapi Naresa menahan dirinya untuk tidak terlalu terburu-buru menarik kesimpulan. Selama 3 bulan menjalani pernikahan, Ardan tak pernah memberinya alasan untuk merasa curiga. Laki-laki itu selalu terbuka dalam banyak hal dan memperlakukannya dengan baik. Meski begitu, 3 bulan bukanlah waktu yang cukup panjang untuk benar-benar mengenal seluruh sisi seseorang.

Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir. Atau mungkin memang tidak ada sesuatu yang perlu dipikirkan.

Naresa mengembuskan napas pelan seraya berganti posisi. Ia memilih untuk tidak membiarkan prasangka memenuhi kepalanya. Jika memang ada sesuatu yang perlu ia ketahui, cepat atau lambat semuanya akan menemukan jalannya sendiri untuk terungkap.

Dengan lemas, Naresa bangkit dari posisi duduknya. Baru saja tubuhnya tegak berdiri, kepalanya seketika terasa ringan hingga dunia di sekelilingnya seolah berputar. Refleks, satu tangannya mencengkram sandaran sofa, sementara matanya terpejam rapat, menunggu sensasi itu perlahan mereda. Kejadian seperti ini sudah terlalu sering ia alami setiap kali berdiri terlalu cepat. Untungnya beberapa detik kemudian rasa itu menghilang dengan sendirinya.

Saat matanya beralih ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Tak lama lagi, waktu makan siang akan tiba di kantor Ardan. Naresa memutuskan untuk menemuinya. Ia tak suka membiarkan prasangka tumbuh tanpa kepastian. Lagi pula, bukankah lebih baik melihat sendiri siapa orang yang menghubungi suaminya?

Mungkin... ia bisa sekalian mengantarkan makan siang untuk Ardan.

Keputusan itu akhirnya membuat langkahnya bergerak menuju kamar. Setelah berganti pakaian rumahan yang lebih nyaman, ia berjalan ke dapur sambil mengikat rambutnya asal.

“Semangat, Resa,” gumamnya pelan, menyemangati diri sendiri.

Sudah lama sekali Naresa tidak memasak. Bukan karena ia tak mampu, melainkan karena belakangan ini tubuh dan pikirannya seolah tak pernah benar-benar memiliki tenaga. Bahkan untuk melakukan hal-hal sederhana pun terkadang terasa begitu menguras energi.

Rasanya ia tak akan pernah bisa melupakan hari pernikahannya dengan Ardan. Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berakhir dengan isak tangis, ketika ibunya mengembuskan napas terakhir pada malam setelah seluruh rangkaian acara pernikahan selesai.

Mengingat kejadian itu, tanpa sadar mata Naresa kembali berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, seolah luka itu masih terlalu baru untuk benar-benar diterima. Namun ia segera menarik napas panjang, berusaha mengusir air mata yang nyaris jatuh.

Ia tahu, terus-menerus larut dalam kesedihan bukanlah hal yang diinginkan mendiang ibunya. Lagi pula, hidup terus berjalan. Kini ada kehidupan lain yang harus ia jalani, ada Ardan, kehidupan rumah tangganya dan ada keluarga besar suaminya yang perlahan juga menjadi bagian dari hidupnya.

Naresa mengusap sudut matanya pelan sebelum mulai mengeluarkan satu per satu bahan makanan dari dalam kulkas. Tak butuh waktu lama, suara talenan yang beradu dengan pisau mulai memecah keheningan rumah. Dapur yang sejak tadi lengang perlahan dipenuhi aroma kaldu yang menguar dari panci di atas kompor. Sesekali ia berhenti untuk mencicipi kuah sup yang masih mengepul, lalu menambahkan sedikit garam sebelum kembali mengaduknya perlahan.

Baru mengupas dan mengaduk panci beberapa kali saja, bahu serta pinggangnya mulai terasa pegal. Meski begitu, sudut bibirnya perlahan terangkat. Ada kepuasan kecil yang muncul setiap kali melihat masakannya yang hampir selesai.

Beberapa saat kemudian, Naresa mematikan kompor. Ia mulai menata bekal makan siang itu satu per satu. Nasi putih memenuhi wadah pertama, disusul sayur sup daging yang masih mengepulkan uap hangat di wadah berikutnya. Irisan apel dan beberapa butir anggur merah ia letakkan di wadah buah. Setelah seluruh wadah tertutup rapat, satu per satu ia masukkan ke dalam lunch box bersama sebuah tumbler berisi air putih. 

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini akan menjadi masakan pertama yang dimakan Ardan sejak mereka resmi menikah tiga bulan lalu.

Entah rasanya akan sesuai dengan selera suaminya atau tidak. Namun setidaknya, hari ini Naresa akhirnya benar-benar mencoba.

Barulah setelah itu, pandangannya beralih ke sekeliling dapur yang begitu berantakan, bak kapal pecah.

Baru memasak satu menu saja sudah seberantakan ini.

Pantas saja Ardan berkali-kali menyarankan agar mereka mempekerjakan asisten rumah tangga. Namun setiap kali mendengar usulan itu, Naresa selalu menolaknya mentah-mentah. Baginya, mengurus rumah sendiri bukanlah sesuatu yang mustahil. Setidaknya... begitu yang selalu ia pikirkan.

Matanya beralih ke arah jam dinding. Pukul 12:40!

“Astaga!”

Tanpa berpikir panjang, Naresa membawa lunch box itu ke meja makan. Kekacauan di dapur bisa ia bereskan nanti. Sekarang yang lebih penting, ia harus bersiap menemui suaminya. Tak mungkin juga ia datang ke kantor Ardan dengan kondisi berantakan seperti ini.

Tak lama kemudian, setelah mandi, berganti pakaian, dan memoles riasan tipis di wajahnya, Naresa segera mengambil kunci mobil.

Saat mesin mobil menyala, jam sudah menunjukkan pukul 13.35. Naresa hanya bisa menghela napas panjang sebelum mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Telat memang. Namun setelah bersusah payah menghabiskan waktu di dapur, rasanya sayang jika bekal ini tidak sampai ke tangan Ardan.

Bagaimanapun juga, ia ingin Ardan mencicipi masakan pertamanya.

1
Yavarnie
ada yang sadar nggak nih? wkwk
Yavarnie
loh loh???
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!