NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan di Mulut Tangga

Suara derap langkah kaki panik memecah keheningan dungeon dari arah tangga bawah, menggema keras menembus lorong batu yang tadi hanya diisi suara napas lega ketiga anggota Laskar Cakra yang sedang beristirahat.

Mereka sedang beristirahat sejenak di lantai sembilan, duduk melingkar dekat dinding batu sambil menikmati bekal air minum yang mereka bawa dari desa. Sekar meneguk air dari kantung kulitnya, Larasati memeriksa ulang persediaan mana yang masih tersisa, dan Galih mengusap keringat di dahinya, menikmati momen tenang setelah pertarungan panjang melewati sembilan lantai kawanan Gandaru. Cahaya obor di dinding memantul lembut di wajah mereka yang masih diliputi kelegaan atas pencapaian yang baru saja diraih.

Suara itu semakin keras, semakin dekat, disertai napas tersengal-sengal yang jelas menandakan seseorang berlari dengan kecepatan penuh, seolah nyawa mereka bergantung pada seberapa cepat kaki mereka bergerak menjauh dari sesuatu yang mereka tinggalkan di belakang.

Ketiganya bangkit serentak, tangan reflek meraih senjata masing-masing, bersiap menghadapi kemungkinan ancaman baru yang mungkin sudah mengintai di kegelapan sekitar mereka.

Dari arah tangga menuju lantai sepuluh, tiga sosok pria dewasa berlumuran darah muncul, berlari kencang ke arah atas dengan wajah pucat pasi dipenuhi ketakutan yang tidak bisa mereka sembunyikan sama sekali. Pakaian pemburu mereka robek di beberapa bagian, luka gores dalam terlihat jelas di lengan dan wajah salah satu dari mereka. Salah satu dari ketiganya bahkan kehilangan sebagian lengan baju kanannya, memperlihatkan luka bakar yang masih basah dan menghitam di kulitnya.

"LARI!" teriak salah satu pria itu begitu melihat Laskar Cakra berdiri di jalur mereka, suaranya serak dan putus asa. "Jangan turun ke bawah! Kalian akan mati sia-sia di sana!"

Galih tersentak mundur, matanya membelalak melihat kondisi mengerikan ketiga pemburu senior itu. Salah satu dari mereka bahkan terpincang-pincang, kakinya meninggalkan jejak darah tipis di lantai batu setiap kali melangkah menjauh.

"Ada apa di bawah?" tanya Sekar cepat sekali, mencoba menghalangi jalur mereka sejenak untuk mendapat informasi lebih jelas sebelum ketiganya benar-benar menghilang menuju permukaan.

"Boss," jawab salah satu pemburu, napasnya masih memburu tidak beraturan, matanya liar menoleh ke belakang seolah takut sesuatu masih mengejar mereka. "Boss lantai sepuluh. Terlalu kuat, terlalu cepat, terlalu ganas. Kami sudah level tinggi, sudah berpengalaman bertahun-tahun, dan tetap saja kami hampir mati di sana." Tangannya sendiri gemetar hebat saat mengucapkan kalimat itu, seolah ingatan tentang pertarungan barusan masih terlalu segar untuk dikendalikan.

"Kami kehilangan dua rekan," tambah pria kedua, suaranya bergetar menahan trauma yang jelas masih segar. "Mereka tidak sempat lari. Tolong, jangan turun ke sana. Kalian masih muda, masih punya banyak waktu untuk hidup panjang di luar sana." Air mata mulai menggenang di sudut matanya, campuran duka dan syok yang belum sempat ia proses sepenuhnya.

Larasati menatap ketiga pemburu itu dengan iba, namun juga dengan kewaspadaan yang semakin meningkat mendengar cerita mengerikan itu. "Seberapa kuat boss itu sebenarnya? Apa kalian sempat melihat bentuknya dengan jelas?"

"Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata," jawab pria ketiga, satu-satunya yang belum bersuara sejak tadi, matanya menatap kosong seolah masih terjebak dalam bayangan kejadian yang baru saja mereka alami. "Kalian harus melihatnya sendiri untuk mengerti, tapi percayalah, kalian tidak akan sanggup. Bahkan kelompok kami yang sudah lima tahun bekerja sama saja hampir habis di sana."

Ketiga pemburu itu tidak menunggu tanggapan lebih lanjut. Mereka kembali berlari melewati Laskar Cakra, terus menuju tangga naik ke permukaan, meninggalkan jejak darah dan ketakutan yang masih menggantung di udara lorong dungeon yang mulai terasa dingin.

Galih berdiri diam, jantungnya berdegup kencang mencerna semua yang baru saja ia dengar dan saksikan. Ketakutan di mata ketiga pemburu itu bukan ketakutan biasa, bukan sekadar dramatisasi berlebihan. Itu adalah ketakutan nyata dari orang-orang berpengalaman yang baru saja menyaksikan sesuatu yang benar-benar mengerikan, sesuatu yang membuat pemburu setangguh mereka memilih lari daripada bertarung. Ia teringat lagi bagaimana dirinya sendiri pernah merasakan ketakutan serupa saat dikejar kawanan Tuyakra, namun apa yang baru saja ia lihat di mata ketiga pria itu terasa jauh lebih dalam, lebih mengakar.

"Sekar," Galih memanggil pelan, suaranya penuh keraguan, "mungkin kita harus mempertimbangkan ulang. Kalau pemburu berpengalaman saja sampai seperti itu, bagaimana dengan kita yang baru memulai?"

Namun Sekar sama sekali tidak bergeming. Ia berdiri tegak menatap lurus ke arah mulut tangga gelap yang mengarah turun ke lantai sepuluh, matanya menyala dengan tekad yang tidak tergoyahkan sedikit pun oleh peringatan yang baru saja mereka dengar. Bahunya tegap, kakinya kokoh menapak, seolah setiap kata mengerikan yang baru diucapkan justru menambah bara semangat di dadanya, bukan mengurangi.

"Mereka pemburu senior yang sudah biasa mengandalkan kekuatan mentah," kata Sekar akhirnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan yang sulit dibantah. "Kita punya sesuatu yang mereka tidak punya."

"Maksudmu?" tanya Larasati, mengerutkan kening penasaran, matanya bergantian menatap Sekar dan Galih mencoba memahami arah pembicaraan itu.

Sekar menoleh sekilas ke arah Galih, sebuah pandangan yang penuh makna, mengingatkan pada malam ketika kekuatan Galih membantai seluruh kawanan Bayangkara tanpa perlawanan sedikit pun, malam yang mengubah cara Sekar memandang pemuda yang dulu ia anggap lemah itu.

"Kita punya Galih," lanjutnya, kembali menatap tangga di depan mereka. "Dan aku percaya, apa pun yang menunggu di bawah sana, kita bisa menghadapinya bersama-sama, selama kita tetap berpegang pada formasi dan saling percaya satu sama lain seperti yang sudah kita buktikan sembilan lantai terakhir ini."

Galih menelan ludah, campuran ketakutan dan sesuatu yang mirip tanggung jawab besar menggantung berat di dadanya. Ia tidak sepenuhnya yakin kekuatan misterius itu bisa muncul kapan saja ia butuhkan, namun melihat kepercayaan penuh di mata Sekar, ia berusaha menekan keraguannya sendiri. Ia menggenggam erat gagang kerisnya, mencoba meyakinkan diri bahwa apa pun yang menanti di bawah, mereka akan menghadapinya bersama-sama seperti yang selalu mereka lakukan sejak formasi ini terbentuk.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, tanpa menghiraukan gema peringatan yang masih terngiang dari ketiga pemburu yang sudah menghilang ke arah permukaan, Sekar melangkah maju, memimpin timnya menuruni anak tangga batu yang curam dan gelap, menuju ruang arena tempat boss lantai sepuluh menanti dalam kegelapan yang semakin pekat seiring setiap langkah yang mereka ambil ke bawah. Suara langkah kaki mereka yang tadi berlari kencang perlahan memudar ditelan lorong panjang menuju permukaan, meninggalkan Laskar Cakra sendirian dengan gema peringatan yang masih terasa berat menggantung di udara dungeon.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!