Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Botol Kecil
Seseorang bergerak cepat.
Satu tangan menangkap pegangan kereta Arka sebelum meluncur ke rumput. Tangan lain menahan lenganku, menarikku tegak. Ketika pandanganku berhenti berputar, Den Nara sudah berdiri di antara aku dan Roy.
"Mundur."
Hanya satu kata. Suaranya tidak keras, tetapi wajah Roy langsung berubah.
"Santai, Mas. Saya cuma bercanda sama pembantunya."
"Kau masuk ke halaman rumah saya tanpa izin, mengganggu pengasuh yang sedang menjaga bayi, lalu merampas ponselnya." Den Nara melirik ponselku di rumput. "Bagian mana yang lucu?"
Roy mengangkat kedua tangan. "Ya sudah, saya pergi."
"Lewat gerbang. Jangan memanjat tembok lagi."
"Rumah paman saya di sebelah. Saya cuma lewat."
Den Nara mengambil ponselnya sendiri. "Saya bisa meminta satpam memutar rekaman CCTV, lalu kita bicara dengan polisi tentang apa arti 'cuma lewat'. Mau?"
Senyum Roy lenyap. Dia menatapku dengan mata menyala, seolah semua ini salahku.
"Nggak usah bawa-bawa polisi."
"Kalau begitu, pergi."
Roy berjalan ke arah gerbang samping. Saat melewatiku, dia berbisik, "Belum selesai."
Den Nara mendengarnya.
Dia mencengkeram bahu Roy dan memutarnya. "Apa katamu?"
Roy meringis. "Nggak bilang apa-apa."
"Bayu akan menyimpan wajahmu dan nomor kendaraanmu. Kalau kau mendekati Sekar lagi, saya tidak akan bertanya dua kali."
Untuk pertama kalinya, Den Nara menyebut namaku di depan Roy. Bukan pembantu. Bukan pengasuh. Sekar.
Roy menepis tangannya, tetapi tidak berani membalas. Dia pergi lewat gerbang dengan langkah cepat.
Arka masih menangis. Aku memeriksa kepala, tangan, dan kakinya, memastikan tidak ada yang terbentur. Ketika tidak menemukan luka, barulah napasku sedikit longgar.
Den Nara mengambil ponselku dari rumput. Layarnya retak di satu sudut.
"Kau terluka?"
"Tidak, Den. Arka juga tidak apa-apa. Terima kasih."
"Saya bertanya tentang kau."
Aku terdiam.
Telapak tanganku lecet karena menahan pegangan kereta. Aku menyembunyikannya di balik rok. "Saya baik-baik saja."
Tatapannya turun ke tangan yang kusembunyikan, tetapi dia tidak memaksaku menunjukkannya. Dia hanya mendorong kereta Arka mendekat.
"Jaga diri. Jangan keluar sendirian ke sisi taman ini dulu."
Kalimatnya terdengar seperti teguran. Namun sebelum pergi, dia membungkuk memeriksa pengunci roda kereta dan menyentuh dahi Arka dengan punggung jari. Setelah memastikan bayi itu aman, dia memanggil satpam dan menyuruh mereka menutup akses samping.
Aku berdiri memeluk Arka, menatap punggungnya yang menjauh. Rasa takut belum benar-benar hilang, tetapi di bawahnya tumbuh kehangatan yang berbahaya.
Ada orang yang datang ketika aku berteriak.
Seumur hidup, itu baru pertama kali terjadi.
Di Desa Sukorejo, berteriak sering kali hanya mengundang penonton. Ketika Bapak menyeretku dari warung karena aku menolak bertemu calon suami pilihannya, orang-orang membuka pintu, melihat, lalu menutupnya lagi. Mereka bilang urusan ayah dan anak bukan urusan tetangga.
Den Nara tidak bertanya apakah Roy masih keluarga tetangga, apakah aku mungkin terlalu sensitif, atau apakah tindakannya hanya bercanda. Dia melihat ponsel yang dilempar dan bayi yang menangis, lalu berdiri di depanku.
Ingatan itu membuat mataku panas. Aku menunduk pada Arka supaya tak ada yang melihat.
***
Bu Retno tidak menyalahkanku. Dia memeriksa rekaman CCTV, lalu meminta satpam berjaga lebih ketat. Bu Nah mengoleskan antiseptik pada telapak tanganku sambil mengomel tentang Roy.
Di layar ruang keamanan, tampak jelas Roy melompati tembok, menghalangi kereta, dan merebut ponselku. Bu Retno menonton tanpa berkata-kata sampai rekaman berhenti.
"Mulai sekarang, sisi taman itu dikunci," katanya kepada kepala satpam. "Hubungi pemilik rumah sebelah. Beri tahu bahwa keponakannya tidak boleh masuk ke properti kami. Simpan rekamannya."
Lalu dia menoleh kepadaku. "Kenapa kau membawa Arka ke jalur samping?"
"Saya kira aman, Bu. Saya salah."
"Kau tidak salah karena diganggu," ucapnya, tegas. "Tapi sebagai pengasuh, kau harus menilai risiko. Besok pilih taman tengah yang terlihat dari rumah."
Aku mengangguk. Tegurannya tidak terasa seperti tuduhan. Untuk pertama kalinya, seseorang memisahkan kesalahanku dari kesalahan lelaki yang menggangguku.
"Dari dulu anak itu bikin masalah. Untung Den Nara pulang mengambil berkas."
"Dia seharusnya sudah di kantor?"
"Sudah. Katanya ada dokumen tertinggal." Bu Nah menatapku dengan senyum yang sulit kuartikan. "Pas sekali, ya."
Aku pura-pura sibuk menutup botol antiseptik.
Sepanjang sore, kejadian di taman berulang di kepalaku. Tangan Roy, tangis Arka, lalu suara Den Nara yang dingin. Setiap kali mengingat bagaimana dia berdiri di depanku, tubuhku terasa lebih ringan. Perasaan aman itu membuat aroma di kulitku mulai muncul lagi.
Aku segera mandi dengan air dingin.
Menjelang malam, persediaan air ramuan untuk Arka hampir habis. Aku tidak berani meraciknya di kamar karena pekerja lain sering melewati jendela. Setelah semua orang sibuk menyiapkan makan malam, aku menyelinap ke gudang kecil di belakang dapur.
Rak-rak di sana dipenuhi kain meja cadangan, perlengkapan kebersihan, dan kotak peralatan. Aku menutup pintu tanpa mengunci, menyalakan lampu, lalu mengeluarkan benda yang kusimpan di balik ikat pinggang kain.
Botol kaca kecil itu hanya sepanjang jari telunjuk. Tutupnya dari kayu, sisinya penuh goresan. Mbah Sari memberikannya pada malam aku melarikan diri.
Botol itu pernah terlepas dari tanganku ketika Bapak menggedor pintu kamar. Ada retak halus dekat dasar yang kututup dengan lilin lebah. Bila pecah, aku bukan hanya kehilangan ramuan. Aku kehilangan satu-satunya benda dari orang di desa yang pernah mengatakan hidupku berharga.
"Jangan diminum sembarangan," pesannya. "Larutkan sedikit. Tubuhmu sudah sehat. Ramuan ini hanya untuk membantu saat kau terlalu lemah."
Aku menjatuhkan serpihan sekecil kuku ke cangkir, menambahkan air hangat, lalu menunggu warnanya berubah menjadi keemasan pucat. Sebagian kutuang ke botol minum untuk kebutuhan kain gendong Arka. Sisanya kukembalikan ke botol kecil.
Tanganku berhenti ketika mendengar langkah di luar.
"Siapa di dalam?" suara Bu Nah terdengar.
"Saya, Bu. Mengambil kain lap."
"Cepat, ya. Ratih minta teh."
"Iya."
Aku menyelipkan botol ke balik baju, mengambil dua kain lap sebagai bukti, lalu keluar. Bu Nah sudah berjalan ke dapur. Aku mengembuskan napas lega dan bergegas menuju kamar.
Di tikungan lorong, seseorang muncul dari arah berlawanan.
Aku tidak sempat berhenti.
Tubuhku menabrak dada Den Nara. Kain lap jatuh. Cangkir di tanganku miring, dan botol kaca kecil terlepas dari balik ikat pinggang.
"Awas."
Lengannya mengitari pinggangku. Tubuhku tertahan, tetapi botol itu meluncur di antara kami. Aku menangkapnya dengan kedua tangan tepat sebelum menyentuh lantai.
Jarak kami terlalu dekat lagi.
Telapak tangannya menempel di sisi pinggangku. Napasnya menyentuh pelipis. Aroma ramuan yang baru dilarutkan naik dari cangkir, bercampur dengan aroma manis kulitku yang belum sepenuhnya hilang setelah kejadian di taman.
Den Nara menegang.
Aku juga.
Dia melepaskan pinggangku perlahan. Tidak seperti malam pertama, kali ini pandangannya tidak segera menjauh. Matanya tertuju pada botol yang kupeluk di dada.
"Itu apa?"
Pertanyaan itu membuat darah di wajahku surut.
"Ramuan biasa, Den."
"Untuk Arka?"
"Sedikit untuk kain gendongnya. Bu Retno sudah mengizinkan."
"Kenapa kau menyembunyikannya di balik baju?"
Aku mencari jawaban. Tidak ada satu pun yang terdengar masuk akal.
"Takut tumpah."
Tatapannya turun ke jari-jariku yang mencengkeram botol. "Berikan pada saya."
Aku mundur satu langkah. "Tidak perlu, Den. Ini milik saya."
"Kalau digunakan pada bayi keluarga kami, saya berhak tahu isinya."
Dia benar. Itulah bagian yang paling menakutkan.
Aku menggenggam botol semakin erat. "Tidak berbahaya. Saya tidak pernah meminumkannya kepada Arka."
"Saya tidak menuduhmu meracuni siapa pun."
Nada suaranya turun. Tangan yang tadi menopang pinggangku kini berada di sisinya, terbuka, tidak mencoba merebut. Itu justru membuat kebohonganku terasa lebih buruk.
"Kalau ada alasan kau tidak bisa menjelaskan sekarang, katakan itu," lanjutnya. "Jangan membuat cerita yang mudah patah."
Aku menatapnya. Selama ini orang memaksaku memilih antara mengaku dan dihukum, atau berbohong dan tetap dihukum. Dia memberiku pilihan ketiga, diam untuk sementara.
Namun rasa takut sudah terlalu lama tinggal di tubuhku.
"Tapi Den melihat saya seperti..."
Suaraku putus. Seperti orang-orang di desa, ingin kukatakan. Seperti Bapak setiap kali menuduhku membawa aib.
Den Nara tidak mendesak lagi. Dia menatap wajahku, lalu botol di tanganku. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, bukan jijik, melainkan kecurigaan yang lebih tenang dan justru lebih berbahaya.
"Baik," katanya akhirnya. "Simpan."
Aku tidak percaya dia akan melepaskanku semudah itu.
Dia membungkuk mengambil kain lap yang jatuh, menyerahkannya kepadaku, lalu berjalan pergi tanpa pertanyaan tambahan.
Aku tetap berdiri di lorong. Keringat dingin memenuhi telapak tanganku meski botol masih aman dalam genggaman.
Kutinggalkan cangkir dan kain lap di meja dapur, lalu memeriksa botol di bawah lampu. Retak lilinnya tidak bertambah. Cairan keemasan masih tersisa, tetapi pantulan mata Den Nara seolah menempel di kacanya. Dia telah melihat cara aku melindungi benda itu, jauh lebih kuat daripada orang melindungi ramuan biasa. Aku tak mungkin menarik kembali kecurigaannya.
Di ujung lorong, Den Nara berhenti sesaat.
Dia tidak berbalik. Namun dari sudut wajahnya, aku tahu pandangannya masih tertuju pada bayangan botol di dadaku.
Untuk malam ini, dia membiarkanku pergi.
Besok, setiap lorong rumah ini akan terasa seperti tempat pertanyaan itu menungguku muncul kembali.
Tetapi aku tahu dia belum percaya, dan kecurigaannya baru saja menemukan bentuk yang semakin tajam.