NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Brak.

Raka meletakkan kartu ATM platinumnya di atas meja kaca etalase tersebut.

"Saya beli sepuluh buah stun gun paling kuat, lima botol semprotan merica ukuran besar, dan dua bilah parang baja taktis penebas ranting."

Raka menatap lurus ke mata pria bertato itu dengan tatapan yang sangat tajam dan mendesak.

"Gesek kartu itu dan ambil kembaliannya sepuas Abang, saya tidak punya waktu."

Melihat kartu platinum eksklusif itu, sikap penjaga toko tersebut langsung berubah drastis menjadi sangat kooperatif.

"B-baik Mas! Tunggu sebentar saya ambilkan stok terbaik dari gudang belakang!"

Pria bertato itu berlari terbirit-birit ke belakang dan kembali dengan sebuah kardus tebal.

Ia mengeluarkan sepuluh alat kejut listrik hitam pekat berukuran senter besar.

"Ini stun gun seri polisi Mas, sekali sentuh ke leher bisa bikin orang dewasa pingsan kejang-kejang," promosi penjaga toko itu bangga.

"Bagus. Coba nyalakan satu biar saya lihat apinya," perintah Raka.

Pria itu menekan tombol di gagang stun gun tersebut.

Bzzzt! Bzzzt!

Suara sengatan listrik berwarna biru menyala terang dan berbunyi sangat nyaring hingga membuat telinga berdenging.

Raka menyeringai puas melihat kilatan petir buatan manusia tersebut.

Di dunia kuno, siapa pun yang bisa menembakkan petir dari tangannya pasti akan dianggap sebagai penguasa langit yang tak terbantahkan.

"Sempurna. Bungkus semua barang ini ke dalam tas ransel militer yang ada di rak itu," tunjuk Raka cepat.

Setelah membayar puluhan juta rupiah tanpa berkedip, Raka menenteng ransel militer berat itu keluar dari toko.

Ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan Range Rover putih itu menuju gudang industrinya di utara Jakarta.

Sepanjang perjalanan, Raka memantau notifikasi sistem yang masih melayang di sudut pandangannya.

[Status Desa: Sedang Terbakar. Korban Jiwa Warga: Tiga Orang.]

"Tahan sebentar lagi Karta, dewa apimu ini akan datang bawa petir dari langit buat mereka," gertak gigi Raka menahan emosi.

Raka menginjak pedal gas semakin dalam membelah kemacetan pinggiran kota dengan lincah.

Ia tiba di depan gerbang gudang industrinya dan langsung membuka gemboknya dengan cepat.

Mobil Range Rover putih itu ia masukkan ke dalam halaman gudang agar tidak memancing kecurigaan warga sekitar.

Raka berlari masuk ke bagian dalam gudang kosong tersebut sambil memanggul ransel militernya.

"Buka penyimpanan sistem."

Sring.

Layar biru transparan penyimpanannya muncul seketika.

"Simpan semua tas ransel militer ini."

Wush.

Ransel berat berisi senjata pertahanan diri modern itu langsung lenyap tersedot ke dalam dimensi ruang sistem.

Raka merogoh saku jaketnya, menggenggam erat gagang pintu naga yang terasa sedikit hangat dan bergetar itu.

Sepertinya Dewa Naga di dalam gagang ini juga ikut merespon bahaya yang sedang mengancam wilayah kekuasaan mereka.

"Waktunya berburu bandit gunung."

"Buka gerbang dunia!"

Sring.

Celah cahaya keemasan yang lebih besar dari biasanya robek di udara gudang tersebut dengan suara dengungan keras.

Raka melompat masuk ke dalam gerbang cahaya itu menembus batas ruang dan waktu.

Wush.

Aroma darah segar, asap kayu bakar, dan jeritan histeris langsung menyambut Raka begitu kakinya menyentuh tanah.

Ia mendarat tepat di pinggir alun-alun desa yang kondisinya kini seperti neraka dunia.

Puluhan rumah beratap jerami sedang terbakar hebat memancarkan cahaya merah yang mengerikan.

Warga desa berlarian panik menyelamatkan diri sementara puluhan pria berwajah beringas mengejar mereka sambil tertawa kejam.

Bandit-bandit gunung itu memakai topeng kulit beruang dan memegang golok besar yang sudah berlumuran darah.

Di tengah alun-alun, Karta sedang berlutut memeluk Lin untuk melindungi putrinya dari tendangan seorang bandit bertubuh raksasa.

"Berikan semua ginseng yang kalian sembunyikan atau kutebas leher anak gadismu ini tua bangka!" teriak bandit raksasa itu mengangkat goloknya.

Karta memuntahkan darah dari mulutnya dan menatap bandit itu dengan sisa keberaniannya.

"Dewa kami akan segera datang menghukum kalian semua bajingan gunung!" ludah Karta penuh kebencian.

Bandit raksasa itu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang.

"Dewa? Mana dewamu itu? Biar aku potong kepalanya untuk kujadikan hiasan di markasku!"

Srek.

Langkah sepatu kets putih Raka menginjak debu dengan sangat keras membuat bandit raksasa itu menoleh.

"Kalau kau mau memotong kepalaku, kau harus antri dari neraka dulu kawan."

Suara Raka bergema dingin menembus suara api yang berkobar di sekeliling mereka.

Raka berdiri tegap dengan kedua tangan memegang dua buah alat kejut listrik hitam yang terlihat aneh di mata para bandit.

"T-Tuan Dewa Raka!" jerit Lin menangis bahagia melihat pahlawannya akhirnya datang.

Karta ikut tersenyum lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kehilangan banyak darah.

Bandit raksasa itu menatap Raka dari atas ke bawah lalu tertawa meremehkan.

"Oh jadi ini dewa yang kalian sembah? Cuma pemuda kurus pakai baju aneh dari kulit hitam licin?"

Bandit itu meludah ke tanah lalu menunjuk Raka dengan golok besarnya.

"Hei anak-anak! Tinggalkan harta rongsokan mereka dan bunuh pemuda sombong ini lebih dulu!" perintah sang pemimpin bandit.

Belasan bandit gunung yang sedang sibuk menjarah gubuk warga langsung berbalik arah dan berlari mengeroyok Raka.

Mereka mengayunkan parang, tombak, dan golok karatan mereka dengan niat membunuh yang sangat pekat.

Raka tidak membuang pisau lipat atau melakukan trik sulap lagi kali ini.

Ia memposisikan dirinya kuda-kuda kokoh dan menatap belasan bandit yang berlari ke arahnya dengan pandangan pemburu.

"Ayo maju kalian semua, kita lihat apa daging kalian kebal terhadap sambaran petir."

Bzzzt! Bzzzt!

Raka menekan tombol di kedua stun gun miliknya secara bersamaan.

Dua kilatan cahaya listrik biru yang sangat terang menyala dari tangan Raka diiringi suara sengatan yang memekakkan telinga.

Para bandit yang sedang berlari itu mendadak menghentikan langkah mereka dengan mata terbelalak syok.

Mereka melihat kilatan petir murni memancar dari tangan kosong pemuda berbaju hitam tersebut.

"D-dia memegang petir dari langit? Ilmu sihir hitam macam apa ini!" teriak salah satu bandit mulai ketakutan.

Tapi momentum lari mereka sudah terlalu dekat dan Raka tidak berniat memberi ampun sedikit pun.

Raka melesat maju menyambut bandit terdepan dan menempelkan ujung stun gun kanannya tepat ke leher pria bertopeng beruang itu.

Bzzzt!

"Aaaaargh!"

Jeritan rasa sakit yang luar biasa melengking keluar dari mulut bandit itu.

Tubuhnya langsung kejang-kejang hebat, matanya berbalik putih, dan ia ambruk ke tanah dengan mulut berbusa dalam waktu kurang dari satu detik.

Bandit-bandit lain langsung membeku di tempat melihat teman terkuat mereka tumbang tanpa perlawanan sama sekali.

Tidak ada tebasan pedang, tidak ada darah yang mengucur, hanya satu sentuhan petir dan pria sebesar beruang itu mati kutu.

"Satu sudah tumbang, siapa lagi yang mau tiket gratis ke neraka hari ini?" tantang Raka menyeringai iblis.

Cahaya biru dari alat kejut listrik itu memantul di wajah Raka membuatnya benar-benar terlihat seperti dewa petir yang turun untuk menghukum umat manusia.

Malam ini, legenda baru tentang kebrutalan Dewa Raka akan tertanam abadi di hati semua orang di dunia kuno ini.

1
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!