NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Dua puluh empat jam sejak tragedi di Vila Puncak, dunia di luar sana telah menghakimi Andira tanpa ampun.

Berita kematian Roy Samudra, putra bungsu dari keluarga konglomerat Pemilik Samudra Group, menjadi tontonan utama di seluruh stasiun televisi dan media sosial.

Foto wajah Andira yang pucat, layu, serta linglung saat digiring masuk ke dalam mobil polisi menjadi tajuk utama yang disebarkan berulang-ulang.

"Wanita Pendendam Tegah Menghabisi Nyawa Pewaris Samudra Group."

Di dalam ruang tahanan yang sempit dan berbau lembap, Andira meringkuk di sudut bangku kayu yang dingin. Seragam tahanan berwarna oranye longgar membungkus tubuhnya yang kian lemah.

Matanya bengkak, sembap oleh air mata yang tak kunjung berhenti menetes sejak semalam. Ia tidak tidur, tidak makan, dan setiap kali memejamkan mata, bayangan senyum tipis Elena di bawah hujan kembali menari-nari, menyiksa pikirannya.

"Kenapa, Elena? Kenapa kamu tega menumbalkanku ?"

Belum sempat Andira menata pecahan jiwanya, pintu besi di ujung lorong berderit nyaring. Langkah kaki seorang petugas polisi terdengar mendekat dengan terburu-buru.

"Andira, keluar. Ada pengacara keluarga dan pihak pelapor yang ingin menemuimu di ruang pemeriksaan khusus," ujar petugas itu dingin.

Dengan tangan gemetar yang saling mengunci di depan dada, Andira bangkit. Langkah kakinya berat, menyeret sandal karet yang ia kenakan. Ia berharap ada titik terang, mungkin ayahnya berhasil menyewa pengacara, atau mungkin polisi telah menemukan rekaman telepon dari Elena.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping begitu ia melangkah melewati ambang pintu ruang pemeriksaan.

Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa sesak oleh aura ketegangan yang pekat. Di balik meja kayu tebal, seorang pria berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kecil berjeruji besi.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan berpotongan sempurna. Bahunya lebar, postur tubuhnya tegap dan dominan, memancarkan wibawa dingin yang menekan udara di sekitarnya. Ketika mendengar langkah kaki Andira, pria itu berbalik perlahan.

Jantung Andira mendadak berhenti berdetak.

Wajah pria itu tegas, dengan garis rahang tajam dan alis tebal yang menaungi sepasang mata sehitam malam. Tidak ada kehangatan di sana. Yang ada hanyalah amarah yang terdistilasi dengan sangat rapi, begitu dalam hingga terasa menusuk sampai ke tulang rawan.

Dialah Alvan Samudra. Kakak kandung Roy. Pria yang baru saja mendarat dari jet pribadinya beberapa jam lalu setelah penerbangan darurat dari luar negeri, hanya untuk mendapati adik satu-satunya sudah membeku di dalam kamar jenazah.

"Tinggalkan kami," suara Alvan terdengar berat, dalam, dan bergetar oleh kontrol emosi yang luar biasa tebal.

Dua orang penyidik yang berada di dalam ruangan sempat ragu sejenak, namun setelah mendapatkan anggukan tegas dari pengacara pribadi Alvan yang berdiri di sudut ruangan, mereka melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

Klak.

Keheningan di ruangan itu menjadi begitu mencekam. Hanya ada suara pendingin udara yang mendengung pelan, bertarung dengan deru napas Andira yang semakin tersengal.

Alvan melangkah maju. Setiap hentakan sepatu kulitnya di atas lantai semen terasa seperti vonis mati bagi Andira. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan Andira, dipisahkan hanya oleh lebar meja kayu. Ia menunduk, menatap Andira dari ketinggian dengan tatapan jijik dan kebencian yang tak tersembunyi.

"Jadi... ini wanita yang membunuh adikku?" bisik Alvan. Suaranya tidak keras, tetapi begitu pekat akan dendam hingga merindingkan bulu kuduk Andira.

Andira menggeleng kuat-kuat. Ia mendongak, mencoba menatap mata Alvan dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. "Bukan... Demi Allah, Pak! Saya tidak membunuh Roy! Saya bahkan tidak mengenal adik Anda!"

Brak!

Alvan menghempaskan telapak tangannya ke atas meja kayu. Suara benturan keras itu bergema di seluruh ruangan, membuat Andira meloncat kaget dan refleks mundur satu langkah.

"Jangan berani-berani kamu menyebut nama adikku dengan mulut manismu itu!" geram Alvan, matanya menyala-nyala oleh amarah yang meledak. Ia membungkuk ke depan, mempertegas jarak di antara mereka. "Semua bukti mengarah padamu. Syalmu, cincin bernisial namamu, sidik jarimu di lehernya! Dan kamu masih berani berbohong di depanku?!"

"Barang-barang itu... barang-barang itu dipasangkan oleh orang lain!" jerit Andira dengan suara parau, air mata kembali merebak di pelupuk matanya. "Saya dijebak! Adik tiri saya, Elena... dia yang menyuruh saya datang ke vila malam itu! Tolong percaya pada saya, Pak Alvan!"

Alvan tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang mengiris hati. "Dijebak? Elena? Gadis yang menangis histeris di depan kantor polisi karena kehilangan adiknya sekaligus mengkhawatirkanmu? Kamu mau mengkambinghitamkan adikmu sendiri untuk menyelamatkan kulitmu yang busuk ini?!"

"Saya tidak berbohong!" Andira mencengkeram tepi meja, memohon dengan sangat. "Periksa riwayat telepon saya! Periksa sinyal seluler! Ada telepon dari Elena sore itu!"

"Sudah dilakukan," sela Alvan dingin, menatap Andira dengan tatapan kasihan yang melecehkan. "Tim IT-ku dan kepolisian sudah memeriksa ponselmu dan ponsel Elena. Ponsel Elena terbukti mati dan berada di rumah sejak siang karena hilang. Tidak ada riwayat panggilan dari nomornya ke nomormu. Yang ada hanyalah catatan panggilan keluar dari ponselmu ke ponsel Roy... berturut-turut selama tiga hari terakhir."

Andira terpaku. Wajahnya semakin pucat pasi hingga tak berdarah.

*Bagaimana mungkin?!* pikirnya histeris. Elena benar-benar telah menyiapkan jebakan ini dengan sangat rapi dan sempurna. Elena telah meretas atau memanipulasi ponselnya tanpa ia sadari.

Melihat kebingungan dan keterpukulan di wajah Andira, Alvan sama sekali tidak tersentuh. Bagi Alvan, ekspresi Andira tak lebih dari akting murah seorang pembunuh berdarah dingin.

Alvan menegakkan tubuhnya kembali, merapikan kancing jasnya dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh ancaman.

"Kamu pikir kehancuranmu hanya berhenti di dalam sel penjara mini ini, Andira?" tanya Alvan santai, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah racun yang mematikan.

Andira menatap Alvan dengan rasa takut yang kian membumbung. "Apa... apa maksud Anda?"

Alvan menarik sebuah kursi dan duduk bersandar di atasnya, menyilangkan kaki dengan gaya dominan seorang penguasa tak tersentuh.

"Ayahmu, Pak Hendrawan," ujar Alvan pelan. "Seorang pengusaha manufaktur kelas menengah yang menggantungkan hidup perusahaan keluarganya pada investasi dari Samudra Group. Tiga jam yang lalu, aku membatalkan seluruh kontrak kerja sama dengan perusahaannya. Aku juga memastikan tidak ada satu pun bank di negara ini yang mau memberikan pinjaman atau menyuntikkan dana pada perusahaannya."

Andira membelalak. "Pak Alvan! Jangan... saya mohon, jangan libatkan Ayah saya! Ayah saya tidak tahu apa-apa!"

"Oh, ini baru permulaan," lanjut Alvan tanpa memedulikan jeritan Andira. "Media sudah mengepung rumah keluargamu sejak pagi. Berita bahwa putri seorang Hendrawan adalah pembunuh berdarah dingin sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri. Saham perusahaannya anjlok total. Dan jika aku tidak salah ingat... ayahmu memiliki riwayat penyakit jantung yang parah, bukan?"

"Pak Alvan!" Andira berlutut di lantai, memotong jarak dan memegang tepi celana Alvan dengan tangan gemetar, tidak peduli lagi pada harga dirinya. "Saya mohon... siksa saya! Hukum saya kalau Anda pikir saya bersalah! Tapi tolong lepaskan Ayah saya! Ayah saya sakit... dia tidak akan kuat menanggung semua ini!"

Alvan menatap tangan Andira yang memegang celananya dengan tatapan jijik. Tanpa ragu, ia mengibaskan kakinya, membuat cengkeraman Andira terlepas dan wanita itu tersungkur di lantai semen yang dingin.

"Ayahmu baru saja dilarikan ke ICU sejam yang lalu karena serangan jantung hebat," bisik Alvan seraya menunduk menatap Andira yang terisak di lantai. "Dia dalam kondisi kritis. Dan kamu... adalah penyebab utamanya."

"Nggak... Nggak mungkin... Ayah..." Andira memeluk dirinya sendiri di atas lantai, terisak-isak sampai dadanya terasa mau pecah.

Dunia tempat ia berdiri telah runtuh sepenuhnya. Keluarganya hancur, ayahnya sekarat, dan ia terkunci di dalam lubang hitam tanpa ada seorang pun yang mempercayainya.

Alvan bangkit dari kursinya. Ia berdiri tepat di atas tubuh Andira yang terkapar lemah.

"Di dalam hukum negara ini, dengan pengacara terbaik yang aku sewa, kamu hanya akan dihukum lima belas sampai dua puluh tahun penjara," suara Alvan terdengar dingin bagai angin malam di kutub. "Tapi bagiku... itu terlalu mudah. Itu terlalu membahagiakan untuk seorang wanita yang sudah mencabut nyawa adikku dan menghancurkan masa depan keluargaku."

Alvan merogoh bagian dalam jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi. Tanpa rasa iba, ia melempar berkas itu ke atas meja kayu di dekat Andira.

Brak.

Suara hempasan berkas itu memaksa Andira mengangkat kepalanya yang dibasahi air mata.

"Buka dan baca," perintah Alvan tegas.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Andira merangkak naik dan meraih amplop tersebut. Ia membuka segelnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dokumen bertuliskan - 'SURAT PERJANJIAN DAN PERNYATAAN BERSAMA.'

Mata Andira yang kabur oleh air mata mencoba mengeja poin-poin yang tertera di sana.

1. Pihak Kedua - Andira menyetujui pernikahan hukum dan agama dengan Pihak Pertama - Alvan Samudra.

2. Pihak Pertama akan mencabut seluruh gugatan pidana dan membayar seluruh utang serta biaya pengobatan keluarga Pihak Kedua.

3. Pihak Kedua melepaskan seluruh hak asasi, hak finansial, dan kebebasan pribadinya di bawah pengawasan Pihak Pertama.

4. Pihak Kedua wajib mematuhi seluruh perintah Pihak Pertama tanpa syarat.

Napas Andira tertahan di tenggorokan. Ia mendongak, menatap Alvan dengan pandangan tak percaya. "Pernikahan...? Anda... Anda mau menikahi saya?"

"Jangan pernah berpikir pernikahan ini karena aku menginginkanmu, atau karena aku kasihan padamu," potong Alvan cepat, matanya memancarkan rasa benci yang begitu murni. "Pernikahan ini adalah penjara pribadiku untukmu. Di luar sana, kamu mungkin bisa mendapatkan remisi hukuman atau perlindungan hukum. Tapi di rumahku... kamu akan berada di bawah kendaliku sepenuhnya. Setiap detik, setiap napas yang kamu hirup, akan menjadi pengingat atas dosa-dosamu pada adikku."

Alvan membungkuk, menekan kedua telapak tangannya di meja, mengurung posisi Andira dalam dominasi intim yang menakutkan.

"Aku akan menyelamatkan ayahmu. Aku akan menanggung seluruh biaya rumah sakitnya dan menghentikan kebangkrutan perusahaannya," bisik Alvan dengan nada yang sangat memikat sekaligus mematikan. "Sebagai imbalannya... kamu menyerahkan hidupmu padaku. Kamu akan menjadi istriku, seorang tawanan yang terikat sah secara hukum, yang bisa kusiksa secara mental setiap hari tanpa ada orang yang bisa menolongmu."

Andira gemetar hebat. Pilihan di depannya bukanlah antara hidup dan mati, melainkan antara neraka di dalam penjara atau neraka di bawah naungan Alvan.

Jika ia menolak, ayahnya akan meninggal dalam kegagalan dan ia akan membusuk di penjara tanpa pernah bisa membuktikan bahwa Elena lah dalang sebenarnya. Tetapi jika ia menerima... ia akan masuk ke dalam mulut singa, menjadi mangsa dari pria yang menyimpan dendam membara padanya.

"Tapi di dalam rumah Alvan... aku punya kesempatan untuk mencari bukti," bisik suara kecil di dalam hati Andira. "Di rumah itu, aku bisa mendekati Alvan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Roy..."

Alvan mengetukkan jarinya di atas meja, menikmati kebingungan dan keputusasaan yang melilit jiwa wanita di depannya. Ia menarik sebuah pena mahal dari saku kemejanya dan meletakkannya tepat di samping dokumen tersebut.

"Waktumu tiga puluh detik, Andira," ujar Alvan dingin, menatap jam tangan mewahnya. "Pilih pembelaan yang sia-sia di penjara sambil menunggu kabar kematian ayahmu... atau bayar kesalahannya di bawah kendaliku."

Andira menatap pena di atas meja. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas lembar dokumen di kolom tanda tangan. Dengan tangan yang tergetar hebat, ia meraih pena itu.

Takdirnya baru saja dikunci oleh sang algojo.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!