NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Jangan Buat Aku Berubah Pikiran

Usai makan malam, Aynara beranjak dari duduknya. Ia hendak kembali ke kamar ketika suara Cepi menghentikan langkahnya.

"Mau ke mana? Bereskan meja makan dan cuci dulu piring kotornya."

Aynara menarik napas pelan, kemudian menoleh. "Ibu bisa minta tolong Caca. Aku mau cari kerja."

Caca yang masih duduk di kursinya langsung protes. "Biasanya 'kan Kakak. Kenapa sekarang malah nyuruh aku?"

"Ca, sesekali gak apa-apa bantu beresin rumah," jawab Aynara tenang.

"Aku sedang libur kuliah," balas Caca. "Jadi di rumah memang mau benar-benar libur."

Cepi langsung membela putrinya. "Betul kata Caca. Sebentar lagi dia kembali kuliah. Biarkan adikmu istirahat sebelum masuk kuliah lagi."

Aynara menatap ibu tirinya.

"Bu, dulu setiap aku libur kuliah, aku juga tetep ngerjain kerjaan rumah. Kenapa Caca enggak?"

"Ya karena kamu sekarang gak punya kerjaan," sahut Cepi enteng. "Pengangguran. Bahkan sudah nikah malah diusir suami. Ngak mau beres-beres rumah, kamu mau ongkang-ongkang kaki? Mau jadi ratu?"

Kalimat itu membuat dada Aynara sesak. "Aku dari pagi juga sudah beresin rumah, Bu. Cuma malam ini aku mau istirahat sambil cari kerja. Tolong suruh Caca."

"Kalau harus ngerjain kerjaan rumah, namanya bukan libur," gerutu Caca. "Lagian, beres-beres rumah 'kan tugas pembantu."

Seketika darah Aynara terasa naik ke kepala. Kata-kata Aksa di rumah sakit tadi kembali terngiang jelas di kepalanya.

"Aku cuma mau menikah sama perempuan yang cantik dan setara denganku. Perempuan yang pantas berdiri di sampingku saat menghadiri perjamuan bisnis. Dia? Boro-boro. Dia lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istriku."

Aynara mengepalkan tangan di sisi tubuh. Entah kenapa, ucapan itu terasa semakin menyakitkan setelah mendengar Caca mengatakan hal yang hampir sama.

Ia menatap adiknya dengan sorot mata tajam. "Beres-beres rumah itu tugas pembantu?"

"Hah?" Caca menoleh, tampak tidak mengerti kenapa pertanyaan sederhana itu membuat suasana mendadak berubah.

Aynara menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya. "Jadi selama ini kamu menganggap Kakak ini pembantu?"

"Aku gak bilang begitu," balas Caca sambil memalingkan wajahnya.

Aynara tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan sedikit pun di wajahnya. "Tapi maknanya sama." Nada suaranya rendah, tetapi terdengar tegas.

Caca mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak menyangka kakaknya akan membalas seperti itu. Biasanya Aynara hanya diam, mengalah, mengerjakan semuanya tanpa banyak bicara.

Namun malam ini berbeda. Aynara sudah terlalu lelah untuk kembali menelan semuanya sendirian.

Cepi yang melihat perubahan sikap Aynara langsung mengernyitkan dahi. Ia justru menghela napas kesal. "Ibu heran. Kok sejak nikah kamu malah makin sulit diatur?" sindirnya. "Apa karena kamu menikah sama orang kaya, terus kamu jadi sombong, angkuh?"

Aynara mengepalkan tangan makin erat.

Jayadi menghela napas panjang. Sejak tadi ia memilih diam karena malas ikut terseret dalam perdebatan mereka. Ia sudah bisa menebak, kalau dirinya ikut campur, pertengkaran ini justru akan semakin panjang.

Namun, mendengar ucapan Cepi, Jayadi tetap merasa tidak nyaman. Menikah dengan orang kaya bukan berarti Aynara tiba-tiba berubah menjadi sombong.

Ia bahkan tahu putrinya sejak tadi pagi masih mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Tidak ada sedikit pun perubahan sikap yang menunjukkan bahwa Aynara merasa lebih tinggi dari keluarganya.

Jayadi melirik putrinya sekilas. Wajah Aynara terlihat berbeda dari biasanya. Tidak lagi sekadar lelah atau sedih, tetapi seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.

Dalam hati, Jayadi mulai merasa khawatir. "Jangan-jangan kali ini Nara benar-benar sudah tidak mau mengalah lagi."

Namun, alih-alih mengatakan apa pun, Jayadi kembali diam. Ia masih berharap pertengkaran itu berhenti dengan sendirinya.

Sayangnya, ia salah.

Aynara mengalihkan tatapannya kepada Cepi. "Bu—"

"Jangan lupa, Nara." Cepi langsung memotong kata-kata Aynara, memperingatkan dengan nada suara yang terdengar sinis. "Kamu bahkan diusir suamimu."

Aynara terdiam. Kalimat itu kembali menghantam luka yang belum sempat mengering. Namun kali ini, ia tidak menundukkan kepala. Ia justru mengangkat wajah.

"Nikah belum nyampek sehari sudah diusir," cibir Caca. "Kakak bener-bener mecahin rekor pengantin paling sial--"

"Sudah cukup." Suara Jayadi yang sejak tadi diam terdengar berat.

Cepi langsung menoleh. "Yah—"

Jayadi mengangkat tangan, meminta istrinya berhenti. Namun setelah itu, ia justru menatap Aynara. "Nara, bereskan dan cuci dulu sebentar."

Aynara menatap ayahnya dengan sorot mata tidak percaya.

Selama beberapa detik, tidak ada suara.

Caca mengulum senyum sedangkan Cepi mengangkat dagunya.

Tetapi Aynara menggeleng keras. "Aku gak mau."

"Nara—"

"Cukup, Yah." Aynara memotong kalimat ayahnya. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar tegas. "Aku bukan pembantu di rumah ini."

Jayadi terdiam.

"Selama ini aku selalu diam dan mengalah karena aku malas berdebat." Aynara berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak. "Tapi bukan berarti kalian bisa memperlakukan aku sesuka hati."

Cepi mendengus. "Cuma disuruh beres-beres saja ngomongnya kayak gitu. Lebay."

"Kalau begitu suruh saja anak kandung Ibu." Aynara menatap Cepi lurus-lurus. "Biar urusannya beres."

Mata Cepi langsung membesar. "Dasar anak gak tahu diri! Kamu itu—"

"Apa?" Aynara langsung memotong. "Ibu memperlakukan aku sesuka hati. Menjadikan aku tukang beres-beres rumah, sementara Caca sejak kecil Ibu manjakan."

Caca langsung mengerutkan dahi.

"Uang jajannya Ibu kasih banyak, sementara aku selalu diberi secukupnya. Bahkan ketika kuliah, aku juga gak banyak meminta kepada kalian."

"Nara..." Jayadi mencoba menyela.

Namun kali ini Aynara tidak mau berhenti. Tatapannya beralih kepada Jayadi. "Gak, Yah. Kali ini aku mau bicara. Selama ini Ayah diam. Ibu memperlakukanku seperti apa pun, Ayah memilih mengalah. Aku juga diam karena gak mau membuat masalah."

Napas Aynara mulai bergetar, tetapi ia tetap melanjutkan. "Padahal rumah ini bukan milik Ibu."

Cepi langsung terdiam.

"Toko yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga juga bukan milik Ibu." Nada suara Aynara naik satu oktaf.

Jayadi menatap putrinya dengan wajah berubah warna.

"Semua itu adalah warisan dari keluarga mendiang Ibu." Aynara menahan air matanya. "Dan selama ini kalian yang menikmati semuanya. Kalian tinggal di rumah ini, menjalankan toko itu, menggunakan hasilnya untuk kebutuhan keluarga."

Ia tersenyum getir. "Tapi aku malah diperlakukan seperti orang yang numpang hidup."

"Nara, Ayah gak pernah—"

"Aku tahu, Yah." Aynara memotong dengan suara lebih pelan. "Tapi diamnya Ayah membuat semuanya terus terjadi."

Jayadi langsung bungkam.

Aynara kemudian menatap Cepi dan Caca. "Aku sudah dewasa. Aku juga sudah menikah. Aku gak pernah berniat mengambil apa yang menjadi hak kalian."

Ia menarik napas dalam-dalam. "Tapi jangan sampai kalian membuatku berubah pikiran."

Wajah Cepi langsung berubah. "Maksudmu apa?"

"Maksudku sederhana."

Aynara menatap mereka satu per satu.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kebaikan tidak seharusnya dibalas dengan penghinaan. Sebab orang yang terbiasa mengalah bukan berarti tidak memiliki hak untuk melawan.”...

...“Kadang, seseorang tidak berubah menjadi keras karena kehilangan kebaikannya. Ia hanya akhirnya sadar bahwa terlalu lama mengalah membuat orang lain lupa bahwa dirinya juga punya batas.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
yang semangat kerjanya ya Aynara, walaupun ketemu Aksa melulu
Hanima
Lanjutt
Cicih Sophiana
Riva emang sahabat setia... setia ngabisin makanan... setia numpang tidur dan setia numpang ke kantor tdk bayar...🫢😂😂😂😂
abimasta
berani melangkah untuk merubah hidup
Hanima
👍👍👍
Hanima
👍👍
Anitha
Aksa kah...?
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Sugiharti Rusli
apa laki" itu si Aksa yah, dia mau cari tahu tentang identitas Nara, yang padahal bini nya sendiri😅😅😅
Sugiharti Rusli
kalo dia ga boros,nuang buat bayar kontrakan dan transport bisa dia tabung kan, apalagi dia makan juga gratis pas malam,,,
Siti Jumiati
lanjuuuut
Sugiharti Rusli
dan Riva juga tipikal teman yang tahu diri lha, sudah dikasih tumpangan gratis, dia juga ikutan sedikit beberes lha di sana yekan🤪🤪🤪
Sugiharti Rusli
tapi paling tidak kamu juga ga kesepian di apartemen mewah milik ibu mertua kamu itu sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
teman modelan Riva terkadang bisa menghibur, tapi terkadang juga bikin pusing sama ocehanya yah Ra🤣🤣🤣
Puji Hastuti
ya ampun ketemu lagi 🤭
evievoy
Aksa
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak... 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Kenapa kau memikirkan itu Aksa? ha? 😂😂😂 Apa karena Aynara itu cantik ya? ha? 😂😂😂 Kalau Aynara nggk cantik, pasti kau tidak akan memilirlannya kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Sekarang, Aksa telah resmi menjadi CEO. Dan Aynara, juga sudah menjadi Istri CEO. 😂😂😂 Istri CEO memesona. 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nah loh... Terpaku kau kan? 😂😂😂 Makanya... Jangan asal menolak dulu kau! 😂😂😂 Sekarang? Malah menjilat dudah sendiri dah! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah loh... Ketemu juga kalian ahirnya ya... 😂😂😂 Pasti kau akan terpesona melihat istrimu sendiri Aksa... 😂😂😂 Kau jilat dah tuh, ludah kau sendiri! 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!