NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 DARAH YANG TERBANGKIT DAN KEKUATAN YANG TERSEMBUNYI

 

Lin Mo berdiri di tengah hutan lebat yang sunyi senyap. Angin malam berhembus pelan menerbangkan dedaunan kering yang berputar perlahan jatuh ke tanah yang lembap dan gelap. Cahaya bulan purnama yang lembut menembus celah dedaunan rimbun menciptakan bercak-bercak cahaya pucat di tanah yang tertutup lumut tebal. Lin Mo mendongak menatap bulan yang bersinar terang di langit yang bersih tanpa awan. Cahaya perak lembut menyentuh wajahnya yang pucat namun tampak tenang dan teguh. Di dalam dadanya, energi qi yang selama ini mengalir pelan dan lemah tiba-tiba bergejolak hebat seakan ada sesuatu yang lama tertidur kini perlahan mulai terbangun.

Lin Mo meremas dadanya erat-erat. Rasa panas yang samar namun semakin kuat menjalar perlahan dari kedalaman dadanya menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Darah yang mengalir di dalam pembuluh darahnya seakan mulai mendidih perlahan memancarkan hawa hangat yang tak berasal dari energi qi yang biasa ia kenal. Lin Mo mengerutkan keningnya perlahan. Ia merasakan bahwa perubahan yang terjadi di dalam dirinya bukanlah hal yang biasa. Sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam darahnya, sesuatu yang diwarisi dari leluhurnya yang tak pernah ia ketahui, kini perlahan mulai terbangun.

"Apa yang terjadi... Apa kekuatan ini yang mengalir di dalam tubuhku..."

Lin Mo berbicara perlahan dengan suara yang rendah dan penuh tanya. Ia menutup matanya perlahan dan menyatukan kesadarannya masuk ke dalam kedalaman tubuhnya untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saat kesadarannya menyusuri aliran darah dan energi qi yang berputar semakin cepat di dalam dirinya, tiba-tiba sebuah bayangan samar muncul di hadapan kesadarannya. Bayangan itu tampak berdiri tegak di atas puncak gunung yang tinggi menatap ke arah lautan awan yang tak bertepi. Cahaya ungu keemasan yang agung dan perkasa memancar dari tubuh bayangan itu menyapu seluruh langit dan bumi.

Suara yang berat dan luhur tiba-tiba bergema di dalam kesadaran Lin Mo seakan datang dari masa lalu yang ribuan tahun silam.

"Darah keturunanku akhirnya terbangun... Kau telah melewati penderitaan yang cukup lama... Kau telah menanggung hinaan dan kehinaan yang tak pantas kau terima... Dan kini saatnya... kekuatan yang tersegel di dalam darahmu akhirnya terbangun kembali... Bangkitlah... Anakku... Dan tunjukkanlah kepada dunia... bahwa darah yang mengalir di dalam nadimu adalah darah yang paling mulia dan paling agung..."

Lin Mo tersentak membuka matanya perlahan. Napasnya terasa berat dan dadanya naik turun tak beraturan. Cahaya ungu keemasan yang samar namun tajam dan berwibawa perlahan bersinar dari sepasang matanya yang sebelumnya tampak biasa saja. Energi qi di dalam tubuhnya seketika berputar berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Setiap kali sejumput energi qi melesat keluar dari tubuhnya, ia berubah wujud menjadi energi spiritual yang berwarna ungu keemasan yang memancarkan aura keagungan dan kekuatan yang tak terlukiskan.

Lin Mo mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di dalam setiap urat nadinya. Tubuhnya yang dulu lemah dan sering kesakitan kini terasa ringan dan penuh tenaga yang seakan tak akan pernah habis. Luka-luka lamanya yang masih tersisa perlahan sembuh dengan sendirinya di bawah aliran energi baru yang hangat dan kuat itu. Lin Mo mendongak menatap bulan yang bersinar terang di langit dan tersenyum samar. Senyum itu bukan lagi senyum anak yang lemah dan tertindas. Itu adalah senyum seorang raja yang akhirnya kembali mengenal kekuatannya sendiri.

"Aku mengerti sekarang... Selama ini aku bukanlah lemah... Kekuatannya hanya tertidur... Dan kini... akhirnya kau kembali... Mulai hari ini... Tak ada lagi yang berani menindas dan menghinaku... Dan tak ada lagi yang mampu mengambil apa pun dariku..."

Lin Mo berbicara perlahan dengan suara yang rendah namun penuh tekad yang tak tergoyahkan. Cahaya ungu keemasan yang lembut namun kokoh terus bersinar dari tubuhnya menyapu sekelilingnya. Namun di saat yang sama, jauh di dalam istana megah yang berdiri di atas puncak gunung tertinggi di wilayah kekuasaan kekaisaran, seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa dan memancarkan aura kekuatan yang mendalam tiba-tiba membuka matanya perlahan dari meditasi panjangnya. Sepasang matanya yang berwarna ungu keemasan yang sama persis dengan milik Lin Mo bersinar terang benderang seketika.

Pria itu berdiri perlahan dari singgasananya yang terbuat dari batu giok murni. Ia melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah selatan tempat hutan lebat itu berada. Cahaya bulan purnama menyinari wajahnya yang tampak gagah namun penuh garis-garis penyesalan yang mendalam. Ia menatap ke arah selatan dengan pandangan yang bergetar hebat dan penuh harapan yang tak terlukiskan.

"Darah itu akhirnya terbangun... Ia akhirnya kembali... Setelah sekian lama... Anakku... Kau akhirnya mulai menyadari siapa dirimu..."

Pria itu berbicara perlahan dengan suara yang bergetar penuh emosi. Di belakangnya, seorang pelayan tua yang berdiri diam menundukkan kepala mendengar ucapan itu dengan mata yang berkaca-kaca samar. Pelayan tua itu melangkah maju perlahan dan berkata dengan suara yang penuh hormat namun juga penuh haru.

"Yang Mulia... Putra Mahkota akhirnya telah membangkitkan kekuatan darah leluhurnya... Waktu perpisahan yang panjang akhirnya berakhir... Haruskah hamba segera bersiap untuk menjemput Pangeran kembali ke istana..."

Pria itu mengangkat tangan kanannya perlahan memberi isyarat agar pelayan tua itu menahan diri sejenak. Ia menatap ke arah selatan sekali lagi dengan pandangan yang penuh kasih namun juga penuh kebijaksanaan yang mendalam.

"Belum... Belum saatnya... Kekuatannya baru saja terbangun... Hatinya belum cukup kuat untuk menanggung beban besar yang akan datang... Biarlah ia tumbuh dan berkembang dengan kekuatannya sendiri... Biarlah ia menempuh jalan yang harus ia tempuh... Hingga saat ia benar-benar siap... Saat itu tiba... Tak ada siapa pun yang mampu menahannya untuk kembali..."

Pelayan tua itu mengangguk pelan dan mundur perlahan kembali ke tempatnya berdiri diam. Pria itu tetap berdiri menatap ke arah selatan di bawah cahaya bulan yang lembut. Di dalam hatinya, ia berdoa agar putranya mampu bertahan dan tumbuh kuat di tengah segala bahaya yang pasti akan datang mengetahui keberadaannya yang telah kembali.

Sementara itu, di dalam hutan lebat itu, Lin Mo perlahan melangkah maju menembus kegelapan malam. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh menyelimuti tubuhnya menerangi jalan di hadapannya. Setiap kali ia melangkah, tanah di bawah kakinya sedikit bergetar seakan menghormati kedatangannya. Binatang-binatang buas yang biasanya mengamuk di hutan itu kini melarikan diri ketakutan menyembunyikan diri di dalam lubang-lubang tanah begitu mereka merasakan aura kekuatan yang memancar dari tubuh Lin Mo.

Lin Mo berjalan terus menembus hutan lebat itu. Ia tahu bahwa sejak kekuatan darahnya terbangun, hidupnya tak akan pernah lagi sama seperti sebelumnya. Ia tahu bahwa banyak hal yang kini mulai berubah. Banyak rahasia yang perlahan akan terungkap. Dan banyak bahaya yang pasti akan datang mencarinya karena kekuatan yang kini mengalir di dalam darahnya. Namun Lin Mo tidak takut. Karena ia kini memegang kekuatan yang agung dan perkasa. Dan yang lebih penting dari itu, ia kini mengetahui bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih mulia yang sedang menunggunya untuk ditemukan.

Lin Mo berhenti melangkah di tepi sungai yang airnya jernih memantulkan cahaya bulan purnama. Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan air yang tenang. Di sana, di pantulan air yang jernih itu, ia melihat sepasang mata berwarna ungu keemasan yang bersinar lembut namun penuh wibawa dan kekuatan yang tak tergoyahkan. Lin Mo tersenyum samar kepada pantulan dirinya sendiri di dalam air.

"Mulai hari ini... Aku bukan lagi Lin Mo yang lemah dan diinjak-injak... Aku adalah Lin Mo... Yang membawa darah yang paling mulia... Dan aku akan membuktikannya kepada seluruh dunia..."

Lin Mo berbicara perlahan kepada pantulan dirinya sendiri. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan dan menyentuh permukaan air yang tenang. Saat ujung jari-jemarinya menyentuh air, seketika itu juga riak air berkilauan memancarkan cahaya ungu keemasan yang indah dan lembut menyebar ke seluruh permukaan sungai itu. Cahaya itu bersinar terang benderang sejenak sebelum perlahan meredup kembali menyatu dengan pantulan cahaya bulan di atas air.

Lin Mo menarik tangannya kembali dan berdiri tegak. Ia menatap ke arah timur tempat matahari akan terbit sebentar lagi. Cahaya ungu keemasan di matanya perlahan meredup kembali menjadi warna hitam yang jernih namun tetap menyimpan kedalaman dan kekuatan yang tak terlihat siapa pun. Langkah kakinya kembali tenang dan mantap melangkah meninggalkan tepi sungai itu menembus hutan lebat menuju tempat yang belum ia ketahui. Namun ia tahu satu hal dengan pasti. Jalan yang akan ia tempuh ke depan akan semakin panjang dan semakin berbahaya. Namun ia tak akan pernah mundur selangkah pun. Karena kekuatan yang mengalir di dalam darahnya tak akan pernah membiarkannya menyerah.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!