NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua

Aula Penatua adalah tempat paling sakral di Keluarga Lin. Biasanya hanya dipakai untuk rapat-rapat penting. Hari ini berubah menjadi arena pemberontakan.

Di kursi Kepala Keluarga, Lin Hai duduk santai sambil bersandar, senyum kemenangan terukir di wajahnya. Di sisi kirinya, Tetua Zhao Kuang dari Keluarga Zhao menyeruput teh dengan tatapan meremehkan.

Di sisi kanan, Penatua Pertama dan Kedua berdiri dengan wajah pucat, rahang nya mengeras menahan amarah. Di belakang mereka, belasan penjaga elit faksi Lin Hai telah menghunus pedang, mengepung keduanya.

"Penatua Pertama, Kedua, waktu kalian sudah habis," ujar Lin Hai sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas gulungan emas di meja. "Kepala Keluarga sudah setahun menutup diri tanpa kabar. Keluarga ini butuh pemimpin yang aktif. Apalagi setelah ulah si cacat Lin Xuan membuat Keluarga Zhao murka. Tanda tangani Dekrit ini, dan jatah bulanan serta jabatan kalian akan tetap aman."

Penatua Pertama yang berjenggot putih panjang menggebrak meja.

"Lin Hai. Kau kurang ajar. Kakek Lin Xuan belum meninggal, kau tidak berhak mengambil alih kepala keluarga, Apalagi dengan membawa orang luar!" Ia menunjuk Zhao Kuang.

Zhao Kuang hanya tersenyum tipis sambil memainkan kukunya. "Jaga bicaramu, Penatua Pertama. Aku di sini sekadar saksi, agar transisi ini berjalan damai. Tapi kalau kalian keras kepala... kebetulan aku membawa tiga puluh anggota Zhao yang sedang beristirahat di depan. Sayang sekali kalau sampai ada darah yang tertumpah."

Ini ancaman terang-terangan. Lin Hai telah menjual aset keluarga demi mendapatkan dukungan Keluarga Zhao.

Penatua Kedua menghela napas putus asa. "Kita kalah, Kakak Pertama. Kalau kita lawan sekarang, semua keluarga Lin akan dibantai habis."

Dengan tangan gemetar, Penatua Pertama mengambil kuas yang sudah dicelup tinta merah, hendak membubuhkan tanda tangan. Lin Hai condong ke depan, matanya berbinar penuh keserakahan. Tinggal sedikit lagi. Seluruh Keluarga Lin akan menjadi miliknya.

Sebelum kuas menyentuh kertas perjanjian itu...

BLLARRR!!!

Pintu kayu yang terkunci dari dalam meledak menjadi serpihan. Gelombang kejutnya menghantam beberapa penjaga di dekat pintu hingga membentur dinding dan memuntahkan darah.

Debu tebal menutupi cahaya matahari. Seketika semua yang ada di dalam aula berdiri dan mencabut senjata.

"Siapa yang berani menyerang Aula Penatua?!" raung Lin Hai, Qi Tingkat 8-nya meledak.

Dari balik debu, terdengar langkah kaki pelan. Setiap langkahnya seolah mengikuti detak jantung orang-orang di dalam ruangan, membuat dada mereka sesak.

Kemudian, sebuah benda berat dilemparkan dari balik debu. Melayang melintasi ruangan dan mendarat di atas meja, menghancurkan kertas emas serta memercikkan darah ke wajah Lin Hai.

Itu adalah tubuh seorang pemuda berbaju emas yang compang-camping. Wajahnya bengkak, mulutnya berbusa darah, tubuhnya kejang-kejang.

"H-Hao'er?!" Mata Lin Hai melotot hampir robek. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu anak tunggalnya, Lin Hao.

Debu perlahan memudar, memperlihatkan seorang pemuda berjubah abu-abu melangkah masuk, kedua tangan bersedekap di belakang punggungnya.

"Paman Ketiga. Kudengar kau sedang mengejar pengakuan sebagai Kepala Keluarga," ujar Lin Xuan. "Sayangnya aku tak merestuinya. Jadi kubawakan hadiah kecil untuk merayakan kegagalanmu."

"Lin Xuan?!" seru Penatua Pertama dan Kedua bersamaan, tak percaya. Bukankah meridiannya sudah hancur?

Zhao Kuang menyipitkan matanya. Ia teringat trik racun Lin Xuan yang melumpuhkan Zhao Tian kemarin. "Trik licik apa lagi yang kau pakai kali ini, bocah cacat?"

Lin Hai tak peduli dengan segala trik. Ia panik memeriksa tubuh anaknya, jarinya menempel di pergelangan Lin Hao untuk memeriksa Qi-nya.

Wajahnya seketika sepucat kertas.

"Meridiannya... meridiannya hancur total! Dantian-nya jadi abu!" Lin Hai menjerit histeris, air mata bercampur darah mengalir di pipinya. Ia menatap Lin Xuan dengan kebencian. "Kau...kau hancurkan masa depan anakku!!"

"Anggap saja itu balas budi," sahut Lin Xuan dengan senyum tipis. "Bukankah kau yang mengirim mangkuk obat beracun untuk menghancurkan jantungku? Lalu mengirim tiga pembunuh ke Pegunungan Abu untuk memenggal kepalaku? Aku hanya mengembalikan sebagian kecil dari utangmu, Paman."

"Akan ku bunuh kau, dan ku cincang kau menjadi seribu bagian.!!"

Akal sehat Lin Hai lenyap seketika, ia melesat maju. Qi Tingkat 8-nya meledak maksimal. Sepuluh jarinya melengkung menjadi cakar dan diselimuti angin tajam.

"Cakar Elang Pengejar Jiwa!"

Angin melolong di dalam aula, sepuluh jarinya mengarah lurus ke tengkorak dan jantung Lin Xuan. Kecepatannya begitu mengerikan, sampai Penatua Pertama memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan cucu Kepala Keluarga tercabik-cabik.

Di bawah tekanan sedahsyat itu, Lin Xuan tak mengelak, tak mundur setengah langkah pun.

Tepat ketika cakar itu tinggal satu inci dari matanya, barulah Lin Xuan bergerak.

Qi Tingkat 7 miliknya meledak keluar. Aura biru kehijauan keluar indah sekaligus mematikan.

Ia mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinju sederhana, dan memukul lurus ke depan menyambut cakar Lin Hai.

Bam!!

Dua kekuatan bertabrakan, gelombang kejutnya menghancurkan kursi-kursi kayu berlapis besi di sekitarnya.

Keheningan terjadi sejenak. Lalu terdengar suara tulang patah yang mengerikan.

Kraak!!

Tulang lengan Lin Hai hancur dari pergelangan hingga bahu akibat pantulan tenaga dahsyat itu. Aura Cakar Elangnya hancur bagai kaca yang dipukul palu.

"Arghh!" Lin Hai menjerit, matanya nyaris melompat keluar.

Belum sempat Lin Hai terpental mundur, tangan kiri Lin Xuan bergerak secepat kilat. Mencengkeram leher pamannya yang masih melayang di udara, menahannya sejenak, lalu membantingnya keras ke lantai marmer hitam.

Duaaar!

Lantai hancur membentuk kawah kecil sedalam dua meter. Darah segar menyembur dari mulut Lin Hai, membasahi jubah abu-abu Lin Xuan.

Tubuh Lin Hai kejang-kejang sesaat sebelum akhirnya diam, pingsan dengan tulang rusuk dan lengan hancur total.

Aula Penatua sunyi senyap. Bahkan detak jantung para penjaga yang ketakutan pun terdengar jelas.

Rahang Penatua Pertama dan Kedua mengeras. Bocah yang seminggu lalu divonis cacat baru saja menumbangkan seorang Tingkat 8 hanya dengan satu pukulan.

Di sisi lain, wajah Zhao Kuang tak lagi menampakkan sikap meremehkan. Keringat mengucur di dahinya. Ia langsung berdiri dan menghunuskan pedang panjangnya. Aura Tingkat 9 Puncak-nya memancar, menekan seluruh udara ruangan.

"Bocah iblis! Rupanya kau menyembunyikan kultivasimu selama ini!" raung Zhao Kuang, menutupi rasa takutnya dengan amarah. "Penjaga Zhao. Masuk dan bunuh dia."

Tak ada satu pun pasukan anggota Zhao yang muncul dari pintu yang hancur itu.

Lin Xuan menoleh pelan menatap Zhao Kuang, sambil mengusap noda darah Lin Hai dari tangannya. "Pasukan di luar? Kau harus memanggil lebih keras. Mereka sedang tidur pulas di depan. Ya, orang yang jantungnya ditusuk memang tidurnya lama."

Wajah Zhao Kuang memucat. Tiga puluh anggota elit keluarganya... dibantai tanpa suara di luar sana, sebelum Lin Xuan mendobrak pintu?! Monster macam apa ini?!

"K-kau berani membantai anggota Keluarga Zhao?! Kepala Keluarga kami tak akan mengampunimu! Kami akan meratakan tempat ini malam ini juga!" ancam Zhao Kuang, meski langkah kakinya perlahan mundur menuju jendela.

"Meratakan tempat ini?" Lin Xuan tertawa pelan. "Bagus. Aku memang malas mencari tikus di selokan. Kembalilah ke Kepala Keluarga kalian."

Lin Xuan tiba-tiba melesat maju, kecepatannya tak tertangkap mata Zhao Kuang sekalipun ia berada di Tingkat 9. Sebelum Zhao Kuang sempat mengayunkan pedangnya, Lin Xuan sudah berdiri tepat di hadapannya. Satu jari dengan titik api biru kehijauan menempel ringan di dada Zhao Kuang.

"T-tunggu...!"

Wush.

Api kecil itu menyusup ke dalam tubuh Zhao Kuang. Zhao Kuang menjerit tertahan saat merasakan salah satu meridiannya di dekat jantung meleleh seketika. Qi Tingkat 9-nya langsung anjlok ke Tingkat 6.

"Kubiarkan kau hidup untuk membawa pesan," bisik Lin Xuan tepat di telinga Zhao Kuang. "Sampaikan pada Pemimpin Klan Zhao dan anak kesayangannya, Zhao Ningshuang. Tiga hari lagi, aku, Lin Xuan, akan datang ke Kediaman Zhao untuk membatalkan pertunangan itu secara resmi dengan caraku sendiri."

Lin Xuan menendang perut Zhao Kuang. Tetua Keluarga Zhao itu terpental menembus jendela kayu dan jatuh berguling-guling di halaman luar seperti anjing, terbatuk darah sebelum akhirnya merangkak kabur demi menyelamatkan nyawanya.

Setelah kekacauan mereda, Lin Xuan berbalik badan. Ia melangkah melewati mayat para penjaga menuju kursi utama, singgasana Kepala Keluarga.

Matanya yang tajam menyapu Penatua Pertama, Kedua, dan sisa penjaga yang masih hidup.

Buk!

Penatua Pertama adalah yang pertama bereaksi. Ia langsung berlutut satu kaki, menyilangkan tangan di depan dada. "Penatua Pertama memberikan hormat kepada Tuan Muda Xuan. Keluarga Lin selamat berkat Anda!"

Melihat itu, Penatua Kedua dan seluruh penjaga yang tersisa langsung berlutut serempak, menundukkan kepala hingga menyentuh lantai.

"Mulai hari ini, sampai kakekku keluar dari kultivasi tertutup nya, akulah yang memegang kendali Keluarga Lin," deklarasi Lin Xuan. "Seret Lin Hai dan anaknya ke penjara bawah tanah. Buang mayat-mayat ini ke luar. Mulai besok, kita bersiap untuk perang."

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!