NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Saka membuka penutup kotak kayu itu perlahan dan melihat sebuah kuas kaligrafi kuno tergeletak manis di dalamnya. Gagang kuas itu terbuat dari bambu hitam yang sudah mengkilap sementara bulu putihnya terlihat masih sangat utuh terawat.

Sebuah pendaran cahaya putih keemasan yang sangat murni langsung memancar menyilaukan mata batin Saka.

[Kuas Kaligrafi Tinta Jiwa: Pusaka berharga milik cendekiawan besar dari era pertengahan Dinasti Tang.]

[Status: Mengandung tiga ratus poin energi Qi murni yang tersimpan rapi di dalam rongga gagang bambu hitamnya.]

[Fitur Kilas Balik Sejarah otomatis diaktifkan untuk Master.]

Pandangan Saka seketika mengabur dan kesadarannya ditarik masuk ke dalam sebuah ilusi bayangan masa lalu yang sangat nyata. Dia melihat gambaran seorang sarjana tua berpakaian lusuh sedang menulis puisi di sebuah gubuk reyot di bawah sinar bulan purnama.

Sarjana miskin itu menuangkan seluruh emosi kesedihan dan energi kehidupannya ke dalam setiap goresan tinta menggunakan kuas tersebut. "Tiga ratus poin sekaligus, ini adalah tangkapan besar yang sangat luar biasa untuk hari ini." Sorak Saka di dalam hatinya kegirangan.

Saka menutup kotak kayu itu kembali dan menatap kakek penjual koran itu dengan wajah tenang yang tidak menunjukkan emosi apapun. "Kek, kuas kaligrafi butut di dalam kotak ini harganya berapa ya kalau saya mau beli buat pajangan kamar." Tanya Saka sambil memegang kotak tersebut.

Kakek itu melirik sekilas dari balik korannya lalu menjawab dengan nada datar seolah barang itu tidak berharga. "Itu kuas peninggalan bapak saya di gudang, ambil saja lima ratus ribu kalau kamu memang mau membelinya."

Saka tersenyum tipis dan baru saja akan merogoh saku celananya untuk mengambil uang pas yang diminta. Namun tiba-tiba sebuah tangan putih bersih yang memakai jam tangan Rolex mahal memegang lengannya dengan kasar dari arah belakang.

"Tunggu dulu Kek, saya berani bayar kuas kaligrafi itu lima juta rupiah tunai sekarang juga tanpa menawar." Suara seorang pria muda yang sangat arogan dan keras tiba-tiba memotong transaksi damai mereka berdua.

Saka menoleh ke samping dan melihat seorang pemuda berkacamata tipis dengan gaya rambut kelimis sedang menatapnya dengan tatapan sangat remeh. Pria itu mengenakan kemeja sutra mahal yang berkilau dan memegang sebuah kaca pembesar kecil berukir emas di tangan kirinya.

"Maaf Mas, tapi saya duluan yang menemukan barang ini dan kami baru saja menyepakati harganya." Tegur Saka sambil melepaskan cengkeraman tangan pria itu dari lengannya dengan nada suara yang masih dijaga kesopanannya.

Pemuda berkacamata itu mendengus pelan dan tertawa dengan nada mengejek yang sangat kentara merendahkan Saka. "Di pasar barang antik pinggiran seperti ini tidak ada istilah siapa cepat dia dapat, aturan utamanya adalah siapa yang punya uang paling banyak." Balas pemuda itu dengan gaya luar biasa sombong.

Dia lalu merogoh saku kemejanya mengeluarkan sebuah kartu nama mewah dan melemparkannya dengan kasar ke atas terpal tepat di depan lutut Saka. "Perkenalkan namaku Rendi, kurator ahli sekaligus kepala divisi penilai dari Museum Sejarah Nasional Ibukota." Ucap Rendi membusungkan dadanya dengan sangat bangga memamerkan jabatannya.

"Mataku sudah dilatih bertahun-tahun untuk melihat barang asli, dan kuas itu jelas merupakan artefak berharga yang sama sekali tidak pantas dimiliki oleh orang awam sepertimu." Lanjut Rendi merendahkan Saka secara terang-terangan di depan umum.

Kakek penjual itu langsung melotot kaget hingga kacamata tebalnya nyaris merosot jatuh mendengar angka lima juta rupiah yang ditawarkan Rendi barusan. "Wah lima juta tunai ya Tuan Rendi yang terhormat, ya sudah kuas bambu itu buat Tuan saja tidak apa-apa." Ucap kakek itu dengan wajah girang karena matanya langsung hijau melihat kesempatan meraup uang besar.

Saka menghela napas panjang perlahan mencoba menahan rasa kesal yang mulai mendidih di ubun-ubunnya. Dia tentu saja sama sekali tidak kekurangan uang jika hanya untuk sekadar melawan tawaran receh lima juta dari kurator sombong ini.

Tapi mengobarkan perang harga di pasar loak terbuka seperti ini hanya akan memancing keributan dan menarik perhatian kawanan pencopet serta preman pasar. Saka harus menggunakan otak cerdasnya untuk menghancurkan kesombongan Rendi hingga berkeping-keping tanpa perlu membuang uang sepeserpun dari dompetnya.

"Kurator ahli museum ya, pantas saja gayamu sangat arogan seperti orang yang merasa paling tahu segalanya di dunia ini." Sindir Saka sambil berdiri dan tersenyum miring menatap tepat ke manik mata Rendi.

"Tentu saja aku tahu segalanya tentang sejarah, kuas bambu hitam itu memiliki pola serat melingkar yang sangat khas dari era pertengahan kerajaan kuno." Bual Rendi mulai mencoba memamerkan wawasan akademisnya di depan orang banyak.

Beberapa pengunjung pasar yang berlalu lalang mulai berhenti dan berkerumun di sekitar lapak itu karena penasaran melihat perselisihan kecil yang sedang terjadi. "Kalian semua dengar, ini adalah jenis kuas kaligrafi yang biasa dipakai secara eksklusif oleh keluarga kerajaan untuk menulis dekrit penting kenegaraan." Tambah Rendi dengan suara keras agar semua orang di pasar itu mendengarnya.

Orang-orang di kerumunan itu langsung berdecak kagum dan mengangguk-angguk percaya mendengar penjelasan ilmiah yang meyakinkan dari kurator muda tersebut. Namun bukannya merasa terpojok Saka justru tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya mendengar analisis ngawur dari Rendi barusan.

"Keluarga kerajaan menulis dekrit pakai kuas ini, lelucon basi macam apa yang sedang kau bualkan siang bolong begini Tuan Kurator." Ucap Saka yang masih berusaha meredakan sisa tawanya.

Wajah Rendi langsung berubah menjadi merah padam karena merasa gelar dan kepintarannya dilecehkan secara sadis di depan umum. "Apa maksudmu menertawakanku awam bodoh, kau berani meragukan analisis akurat dari seorang ahli sepertiku hah." Bentak Rendi sambil menunjuk wajah Saka dengan jari telunjuknya yang gemetar.

Saka menepis jari Rendi dari depan wajahnya dengan sangat kasar hingga pria berkacamata itu sedikit terhuyung ke belakang. "Kau bilang matamu terlatih dengan baik, tapi kenyataannya kau sama butanya dengan keledai dungu yang membaca buku terbalik." Jawab Saka dengan suara dingin yang langsung membungkam keributan penonton.

1
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!