Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Ibu mengusap dadanya, beristighfar dalam hati menghadapi anak perempuannya yang terlalu pintar berargumen untuk menutupi kemalasannya. "Kamu itu ya, kalau ngomong selalu diputar-putar pakai teori! Hidup itu bukan cuma soal rebahan dan nonton drakor, Kinan...?! Manusia itu makhluk sosial, butuh pasangan. Nanti kalau Ibu sama Ayah sudah gak ada, siapa yang mau ngurusin kamu yang manja dan malesnya minta ampun kayak gini?
"Kinan bisa urus diri sendiri Bu, pakai uang hasil kerja sampingan yang bisa Kinan hasilkan hanya dari kamar," jawab Kinan jujur, menunjuk tablet grafisnya. Tapi tentu saja, bagi ibunya yang merupakan generasi konvensional, bekerja di dalam kamar dengan pakaian tidur tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan nyata.
Sebab di pandangan ibunya seorang pekerja itu adalah ia yang memakai sepatu pantofel, pergi jam tujuh pagi, dan pulang jam lima sore.
"Sudah, Ibu gak mau dengar alasan kamu lagi. Pokoknya, debat kita selama tiga minggu ini selesai hari ini." Ibu menurunkan spatulanya, senyum kemenangan tiba-tiba terbit di wajahnya.
"Maksud Ibu?" Kinan menyipitkan mata, menghentikan goresan penanya di atas layar tablet.
Ibu melipat tangannya di dada, memandang Kinan dengan tatapan tajam tanpa bantahan. "Ibu sama Ayah sudah sepakat. Dan Ibu juga sudah bicara sama Tante Mira, sahabat Ibu waktu SMA dulu yang sekarang tinggal di Jakarta. Minggu depan, anaknya Tante Mira mau datang ke sini sama keluarganya. Kita mau mengadakan pertemuan keluarga."
Jantung Kinan berdegup lebih cepat. "Pertemuan... dalam rangka apa, Bu?"
"Perjodohan. Kamu akan Ibu nikahkan sama anaknya Tante Mira," ucap Ibu dengan nada santai.
Kinan langsung terduduk tegak. "Ibu! Kinan kan sudah bilang, Kinan gak mau nikah dulu! Lagian ini zaman apa sih, Bu? Kok masih pakai jodoh-jodohan kayak Siti Nurbaya aja? Kinan bahkan gak kenal sama anaknya Tante Mira!"
"Kamu gak perlu kenal dulu, nanti juga kenal setelah nikah," balas Ibu, sama sekali tidak goyah oleh protes Kinan. "Namanya Arga. Dia itu anak pertama Tante Mira. Setahu Ibu, dia itu lulusan luar negeri, pintar, dan sekarang jadi CEO di perusahaan startup teknologi miliknya sendiri di Jakarta. Hidupnya sukses, mapan, dan yang paling penting..." Ibu sengaja menggantung kalimatnya, menatap Kinan dengan senyum penuh arti.
"Apa?" tanya Kinan curiga.
"Dia itu orangnya super sibuk. Gila kerja. Istilah anak sekarang itu... workaholic akut. Tante Mira sampai pusing karena Arga itu gak pernah punya waktu buat pacaran, bahkan hidupnya diatur sama Google Calendar, jam kerja, dan target-target bisnis. Dari pagi ketemu pagi, isinya cuma kerja, kerja, dan kerja."
Kinan terdiam sejenak. Otaknya langsung menganalisis informasi tersebut. mencoba mencari-cari celah dari situasi buruk ini.
CEO? Workaholic? Hidupnya cuma buat kerja dari pagi sampai malam?
Sebuah kilatan ide jenius atau mungkin ide gila muncul di kepalanya.
Jika pria bernama Arga itu adalah seorang penggila kerja yang waktunya habis di kantor atau perjalanan bisnis, bukankah itu artinya pria itu tidak akan punya waktu untuk mengurusi kehidupanku dan secara otomatis aku juga tidak perlu mengurusnya?
Kinan membayangkan skenarionya. Mereka menikah demi formalitas orang tua. Setelah menikah, Arga akan sibuk di kantornya selama 24 jam selama seminggu, sementara Kinan akan dipindahkan ke rumah baru yang mewah, karena Arga seorang CEO mapan dan di sana, Kinan bisa melanjutkan aktivitas rebahannya dengan fasilitas yang jauh lebih baik, tanpa perlu mendengarkan omelan Ibu setiap hari. Arga sibuk mengejar dunia, Kinan sibuk menguasai kasur. Sebuah kerja sama yang sangat indah dan saling menguntungkan.
"Gimana? Kok malah bengong?" tanya Ibu, membuyarkan lamunan Kinan. Ibu mengira Kinan akan syok dan akan menangis histeris.
Kinan berdeham pelan, mengontrol ekspresi wajahnya agar kembali terlihat datar dan malas. Dia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, menarik selimut hingga sebatas dada, lalu menatap Ibunya dengan pandangan tenang.
"Ya sudah," jawab Kinan singkat.
Ibu melongo. "Ya sudah? Maksud kamu, kamu setuju?!" Ibu memastikan, tidak percaya bahwa anak perempuannya yang biasanya keras kepala ini menyerah begitu cepat.
"Iya, Kinan setuju. Kalau memang itu maunya Ibu dan Ayah, Kinan ikut aja. Toh, malas juga kalau harus berdebat terus tiap hari, buang-buang energi," ujar Kinan santai sambil kembali meraih tablet grafisnya. "Tapi ada satu syarat."
"Apa syaratnya?" Ibu bertanya dengan nada waswas.
"Selama seminggu sebelum pertemuan itu, Ibu jangan pernah nyuruh Kinan bangun pagi atau ngomel soal kasur lagi. Kinan butuh mengumpulkan energi untuk menghadapi calon suami Kinan yang... katanya gila kerja itu." Kinan tersenyum tipis di balik layarnya.
Ibu menggeleng-gelengkan kepala, antara gemas dan lega karena misinya berhasil. "Dasar anak aneh! Ya sudah, yang penting kamu gak kabur minggu depan!" Dengan perasaan menang, Ibu akhirnya keluar dari kamar dan menutup pintu.
Kinan mengembuskan napas lega setelah pintu tertutup. Ruangan kembali senyap. Pusat gravitasinya telah kembali berfungsi. Namun, dalam hatinya, Kinan mulai bertanya-tanya tentang sosok Arga. Seorang pria yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target kerja? Membanyangkannya saja sudah membuat persendian Kinan mendadak terasa linu dan melelahkan.
Kinan memejamkan mata sejenak, membayangkan benturan yang akan terjadi ketika prinsip hidupnya jika berhadapan langsung dengan prinsip hidup milik sang CEO.
"Kita lihat saja nanti, Pak CEO," bisik Kinan pada keheningan kamarnya. sebelum akhirnya ia kembali mengerjakan lukisannya di atas kasur.
**
Satu minggu bebas omelan yang dihadiahkan Ibunya adalah masa-masa kenikmatan hidup yang ia manfaatkan dengan sangat maksimal. Tujuh hari penuh ia dedikasikan untuk mengumpulkan energi, bertelentang di kasur, menyelami dunia fiksi melalui drama, dan menyelesaikan beberapa tenggat lukisan digitalnya tanpa ada interupsi dari sang Ibu. Namun, hukum alam selalu adil, setelah ketenangan yang panjang, badai pasti akan datang.
Hari Sabtu yang keramat itu akhirnya tiba.
Sejak jam tujuh pagi, rumah Kinan sudah berubah menjadi layaknya medan pertempuran. Suara vacuum cleaner bersahut-sahutan dengan denting perabotan dapur. Ibu sibuk mondar-mandir memastikan tidak ada debu sedikit pun yang berani singgah di sofa ruang tamu. Sementara Kinan, sang objek utama dari kegemparan hari ini, masih meringkuk di balik selimutnya, mencoba menawar waktu dengan berpura-pura menjadi patung.
"Kinan! Bangun! Ya ampun, ini sudah jam dua siang! Keluarga Tante Mira mau datang jam empat! Kamu belum mandi, belum dandan, malah masih gulung-gulung kayak risol!" Ibu menarik selimut Kinan tanpa ampun, merusak kedamaian fana gadis usia dua puluh tiga tahun itu.
Kinan mengerang pelan, perlahan membuka matanya dengan gerakan sangat lambat. "Ibu... ini baru jam dua. Masih ada seratus dua puluh menit. Menurut kalkulasi Kinan, mandi cuma butuh waktu sepuluh menit, dandan lima menit, pakai baju lima menit. Total dua puluh menit. Masih ada sisa seratus menit buat Kinan memejamkan mata demi menjaga kestabilan emosi."
"Gak ada tawar-menawar! Buruan mandi, pakai baju gamis yang sudah Ibu setrikain di lemari, terus dandan yang cantik. Jangan buat Ibu malu di depan calon mertuamu!"