NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Malam Pertama

Tarikan Laras menghapus jarak terakhir.

Bram membalas ciumannya dengan napas yang sudah tidak teratur. Satu tangan menahan pinggang Laras, satu lagi tetap di dinding agar berat tubuhnya tidak menekan. Ketika Laras menarik kerahnya sekali lagi, Bram mengangkat wajah.

"Yakin?"

"Kalau kamu bertanya lagi, aku bisa berubah pikiran hanya karena kesal."

"Itu bukan jawaban."

Laras menatapnya lurus. "Aku yakin. Aku mau malam ini. Aku mau kamu."

Kata-kata itu membuat mata Bram menjadi gelap sepenuhnya.

Ia mengangkat Laras ke dalam pelukannya. Laras sempat terkejut, lalu lengannya otomatis melingkari leher Bram. Lelaki itu membawanya ke ranjang dan menurunkannya perlahan, seolah apa pun yang berada dalam pelukannya terlalu berharga untuk dijatuhkan.

Bram berdiri di tepi ranjang, menunggu satu kali lagi.

Laras mengulurkan tangan.

"Kemari, Mas."

Baru setelah itu Bram menunduk.

Ciumannya bergerak dari bibir ke rahang, lalu turun ke leher. Laras menggigil saat napas hangat menyapu kulitnya. Jemari Bram menyusuri sisi tubuh di atas kain, mengenali bentuknya tanpa tergesa. Setiap kali tangan itu mendekati batas baru, gerakannya melambat, memberi Laras waktu untuk menolak.

Laras tidak menolak. Ia justru mengangkat tubuh sedikit, membantu Bram melepaskan pakaian tidur yang menjadi penghalang.

Udara kamar menyentuh kulitnya.

Refleks pertama Laras adalah menutup diri. Bram langsung berhenti dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

"Lampu tetap menyala," katanya. "Tapi saya tidak akan melihat kalau kamu belum siap."

Ia benar-benar memalingkan wajah.

Laras menatap profil suaminya. Bahu lebar, rahang tegang, dan tangan yang mengepal di samping tubuh karena menahan keinginan. Tidak ada keluhan. Tidak ada kalimat bahwa ia sudah menjadi istri dan seharusnya patuh.

Rasa malu Laras belum hilang. Namun rasa takutnya surut.

Ia meraih tangan Bram dan meletakkannya di atas selimut, tepat di pinggangnya.

"Lihat aku."

Bram menoleh perlahan.

Tatapannya bergerak ke wajah Laras lebih dulu. Baru setelah Laras mengangguk, ia membiarkan mata turun. Kekaguman terbuka di sana, begitu dalam hingga Laras kembali ingin bersembunyi.

"Jangan menatap seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seolah aku..."

"Indah?"

Pipi Laras memanas.

Bram menunduk dan mencium dahinya. "Kamu indah. Tapi kalau itu membuatmu tidak nyaman, saya akan mengatakannya sambil memejamkan mata."

Laras tertawa di tengah gugup. "Kamu merusak suasana."

"Saya sedang menyelamatkannya."

"Kalau begitu lanjutkan tugasmu."

***

Sentuhan berikutnya lebih berani, tetapi tetap sabar.

Bram membuka selimut sedikit demi sedikit, mengikuti napas Laras. Bibirnya menyusuri bahu dan tulang selangka. Telapak tangannya menghangatkan kulit yang sempat dingin. Ketika Laras menegang karena rasa asing, ia mengusap pinggangnya sampai tubuh itu kembali lunak.

"Begini tidak apa-apa?"

"Ya."

"Dan ini?"

Jawaban Laras berubah menjadi helaan napas ketika jari Bram menemukan bagian yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.

"Laras?"

"Jangan berhenti."

Bram mematuhi.

Panas tumbuh perlahan, bukan kabut kasar seperti obat pada malam pertama mereka bertemu. Kali ini Laras merasakan setiap perubahan. Ia tahu siapa yang menyentuh, kapan tangan bergerak, dan bagaimana tubuhnya sendiri memilih membuka diri.

Bram memperhatikan reaksinya lebih teliti daripada kata-kata. Napas yang tertahan membuatnya melambat. Pinggul yang mendekat membuatnya mengulang. Saat Laras menyebut namanya, kendali di wajah Bram hampir runtuh.

"Mas Bram."

"Saya di sini."

"Jangan hanya mengurusku."

"Maksudmu?"

Laras menyentuh dada Bram dan merasakan jantung yang berpacu. "Aku juga ingin mengenalmu."

Bram membiarkannya menarik kaus dari tubuhnya. Di bawah cahaya samping, Laras melihat bekas luka tipis di tenggorokan, garis lama di rusuk, dan beberapa tanda yang tidak pernah terlihat di balik seragam.

Ia menyentuh satu bekas luka di bahu.

"Ini dari apa?"

"Latihan. Ceritanya tidak menarik."

"Tubuhmu penuh cerita yang katanya tidak menarik."

"Malam ini saya lebih tertarik pada ceritamu."

Bram mencium telapak tangannya, lalu membimbingnya menyentuh tanpa terburu. Ketika gerakan Laras membuat napasnya pecah, ia menutup mata dan menggumamkan namanya.

Laras merasakan keberanian baru. Lelaki yang begitu kuat di luar kamar ternyata bisa kehilangan ketenangan hanya karena tangannya. Ia bukan benda rapuh yang sedang dikasihani. Ia juga punya kuasa untuk memberi rasa, memilih ritme, dan membuat Bram menunggu.

"Kamu sengaja," kata Bram serak.

"Aku sedang belajar."

"Belajarnya terlalu cepat."

"Gurunya bagus."

Bram tertawa rendah, lalu menangkap kedua pergelangan Laras dan menahannya lembut di atas bantal.

"Boleh?"

Laras menguji pegangannya. Ia bisa melepaskan diri jika mau.

"Boleh."

Ciuman Bram turun lagi, membuat tawa Laras berubah menjadi desah. Ia tidak lagi sempat merasa malu. Panas berkumpul, naik, lalu pecah dalam gelombang yang membuat punggungnya melengkung dari ranjang.

Bram memeluknya selama tubuhnya bergetar.

"Lihat saya," bisiknya.

Laras membuka mata. Wajah Bram berada tepat di atasnya, penuh keinginan dan kelembutan yang terasa hampir menyakitkan.

"Masih mau lanjut?"

Laras mengangguk.

"Katakan."

"Aku mau lanjut."

***

Bram mengambil perlindungan yang sudah disiapkan, lalu kembali tanpa terburu. Ia memastikan Laras nyaman, menambahkan bantal, dan kembali memeriksa jawabannya.

Saat tubuh mereka akhirnya menyatu, rasa asing membuat Laras mencengkeram bahunya.

Bram berhenti sepenuhnya.

"Sakit?"

"Sedikit. Tunggu."

Ia menunggu. Tidak bergerak satu inci pun meski otot di lengannya menegang keras.

Laras menarik napas beberapa kali. Bram mencium pelipisnya, berbicara tentang hal-hal kecil agar tubuhnya tidak hanya fokus pada ketidaknyamanan. Tentang pensil warna biru. Tentang utang ongkos parkir. Tentang wajah Kinan ketika cincin Bram hampir tidak muat.

Laras tertawa pelan. Ketegangan di tubuhnya melepas sedikit demi sedikit.

"Sekarang," katanya.

Bram bergerak sangat perlahan.

Setiap dorongan mengikuti napas Laras. Ketika rasa sakit berubah menjadi tekanan hangat, Laras menggerakkan pinggulnya tanpa sadar. Bram mengerang dan menundukkan kepala ke bahunya.

"Kalau kamu melakukan itu lagi, saya tidak akan bertahan lama."

"Bukankah kamu prajurit terlatih?"

"Ini bukan bagian latihan."

Laras tersenyum, lalu mengulang gerakan itu dengan sengaja.

Kendali Bram akhirnya pecah. Ritmenya menjadi lebih dalam, masih terukur tetapi tak lagi terlalu hati-hati. Laras memeluknya, menyebut namanya, dan membiarkan gelombang kedua datang lebih kuat daripada sebelumnya.

Bram menahan tubuhnya rapat ketika mencapai puncak bersama. Napas mereka bercampur. Untuk beberapa saat, tidak ada kata yang mampu keluar.

Laras hanya mendengar detak jantung Bram di dekat telinganya.

Sadar.

Hangat.

Dipilih.

Inilah malam pertama mereka yang sebenarnya.

***

Setelah napas mereka tenang, Bram tidak langsung tidur.

Ia membersihkan Laras dengan air hangat, mengganti seprai bagian yang kusut, lalu memberinya minum. Ketika Laras meringis saat bergerak, wajahnya langsung penuh rasa bersalah.

"Saya terlalu keras?"

"Tidak. Tubuhku hanya sedang protes karena baru belajar."

"Besok kita tidak menerima tamu."

"Resepsi sudah selesai. Siapa yang mau datang?"

"Kinan. Dia tidak mengenal batas pintu."

Laras tertawa, lalu bersandar pada dada Bram. Lelaki itu menarik selimut sampai bahunya tertutup dan mengusap rambutnya perlahan.

"Menyesal?" tanya Bram.

Laras mendengarkan dirinya sendiri sebelum menjawab. Tidak ada kabut, tidak ada kehilangan waktu. Ia mengingat setiap ya, setiap jeda, dan setiap kali Bram berhenti saat diminta.

"Tidak."

Bram mengecup puncak kepalanya.

"Terima kasih sudah mempercayai saya."

"Jangan buat kepercayaan itu terasa seperti utang."

"Tidak akan."

Sunyi di antara mereka terasa nyaman, bukan kosong.

Laras menggambar lingkaran kecil di dada Bram dengan ujung jari. "Kamu ingat kesepakatan kita di penginapan?"

"Kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tidak cocok pergi?"

"Kamu mengingatnya terlalu baik."

"Kalimat itu melukai harga diri saya. Sulit dilupakan."

"Aku serius waktu itu."

"Saya tahu."

"Sekarang aku masih ingin punya pilihan. Tapi aku tidak lagi bangun setiap pagi sambil menghitung kapan harus pergi."

Bram diam. Tangan yang memeluknya mengencang sedikit.

"Itu kemajuan besar," lanjut Laras. "Jangan terlihat kecewa hanya karena aku belum berjanji selamanya."

"Saya tidak kecewa. Selamanya bukan kalimat yang saya paksa keluar malam ini. Saya lebih percaya keputusan yang kamu buat lagi besok."

"Kalau besok aku memilih tetap di sini?"

"Saya akan membuatmu sarapan."

"Kamu bisa memasak?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Saya akan meminta Bik Inah membuat sarapan dan mengaku itu keputusan strategis saya."

Laras terkekeh. "Komandan curang."

"Suami efisien."

Ia menyentuh cincin di jari Bram. Logam itu masih terasa asing di antara kulit mereka.

"Mas Bram."

"Hm?"

"Apa yang berubah bagimu setelah malam ini?"

Bram mempertimbangkan cukup lama hingga Laras yakin jawabannya bukan rayuan siap pakai.

"Sebelumnya saya ingin melindungimu," katanya. "Sekarang saya juga tahu kamu bisa mempercayakan bagian paling rentan dari dirimu kepada saya. Itu membuat saya lebih takut berbuat salah."

"Takut?"

"Ya. Kepercayaan bisa rusak jauh lebih cepat daripada tubuh."

Laras mengangkat wajah. "Kalau kamu berbuat salah, aku akan mengatakan."

"Jangan diam demi menjaga ego saya."

"Ego sebesar milikmu sulit dijaga sendirian."

Bram mencubit pinggangnya ringan. Laras memekik, lalu memukul dadanya.

"Aku masih sakit."

Tangan Bram langsung berhenti. "Maaf."

Kepanikan tulus di wajahnya membuat Laras melembut. "Tidak parah. Hanya jangan sok nakal dulu."

"Berapa lama?"

"Sampai aku memutuskan."

"Hukuman yang tidak punya batas waktu melanggar prinsip keadilan."

"Ajukan keberatan besok."

Mereka saling menatap, lalu tertawa pelan agar tidak terdengar keluarga di lorong. Malam itu tidak hanya mengubah tubuh mereka. Untuk pertama kalinya, Laras membayangkan keintiman sebagai tempat bermain, bicara, dan salah paham kecil yang bisa diperbaiki, bukan wilayah di mana salah satu pihak kehilangan kuasa.

Laras mengangkat wajah. "Mas."

"Ya?"

"Tadi kamu bilang tidak akan menerima tamu."

"Benar."

"Aku juga tidak punya rencana keluar kamar."

Mata Bram berubah nakal. Tangannya yang semula mengusap rambut turun ke pinggang Laras.

"Kita ulang lagi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!