Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manajemen Krisis Bulu
Kinanti Amalia menatap nanar ke arah meja marmer di hadapannya. Di sana, seekor kucing oranye gembul sedang duduk dengan tegak, mengibaskan ujung ekornya yang tebal dengan ritme yang sangat tidak sabar.
"Bapak... benar-benar Pak Arkan?" Kinanti bertanya untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir. Suaranya terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan separuh kewarasannya.
Kucing itu mendengus—sebuah suara bersin kecil yang terdengar sangat meremehkan. Ia melangkah maju, melompati tumpukan kertas laporan yang tadi sempat dicakarnya, lalu berhenti tepat di depan papan ketik laptop Kinanti yang masih menyala. Dengan gerakan kaki depan yang lambat namun penuh penekanan, si kucing menekan satu tombol berulang kali menggunakan cakarnya.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
"Oke, oke! Stop, Pak! Laptop saya bisa eror!" Kinanti panik, buru-buru menarik laptopnya menjauh.
Si kucing mendongak, menatap Kinanti dengan mata hijau zamrudnya yang tajam. Ia kemudian melirik ke bawah meja, ke arah setelan jas seharga puluhan juta rupiah yang kini tergeletak mengenaskan seperti kulit ular yang habis berganti rupa. Kucing itu mengeong sekali, nada suaranya berat dan menuntut, lalu ia menoleh ke arah pintu keluar ruangan.
Kinanti, yang sudah bekerja sebagai sekretaris Arkan selama dua tahun, secara ajaib bisa menerjemahkan gestur itu. ‘Bawa saya keluar dari sini sekarang, dan jangan sampai ada yang tahu.’
"Tapi Pak, bagaimana caranya?" Kinanti berbisik histeris, meskipun tahu koridor luar sudah sepi. "Kalau saya menggendong Bapak keluar lewat lobi, satpam bawah akan mengira saya mencuri kucing liar! Lagipula, mobil Bapak bagaimana? Supir Bapak, Pak Bambang, pasti bingung menunggu di basement!"
Mendengar nama Pak Bambang, si kucing oranye tampak berpikir. Ia berjalan memutar di atas meja, lalu melompat turun ke atas kursi kerja marmernya. Dari kursi, ia melompat ke lantai, mendarat dengan mulus tanpa suara. Dengan langkah anggun yang sangat kontras dengan tubuh gembulnya, ia mendekati tumpukan bajunya, mengais-ngais celana kainnya dengan cakar, sampai sebuah benda persegi panjang hitam kecil bergemerincing keluar dari saku.
Itu ponsel Arkan.
Kucing itu menatap Kinanti, lalu menatap ponselnya, kemudian menatap Kinanti lagi.
"Bapak mau saya mengetik pesan untuk Pak Bambang?" tanya Kinanti ragu.
Si kucing mengeong pendek. Ya, bodoh, kira-kira begitu bunyinya.
Kinanti berlutut di karpet, mengambil ponsel mahal tersebut, dan menggunakan sidik jari Arkan (yang untungnya bisa dibuka dengan cara menempelkan jempol kiri Arkan dari balik lengan kemeja yang tergeletak) untuk membuka kuncinya.
"Saya ketik apa, Pak?"
Kucing itu melompat ke lutut Kinanti, membuat gadis itu hampir terjungkal karena berat tubuh si kucing yang ternyata cukup berbobot. Dengan cakar depannya, si kucing menunjuk-nunjuk layar ponsel. Proses ini memakan waktu tiga menit yang sangat membuat frustrasi, karena cakar kucing sering kali menekan tiga huruf sekaligus. Namun, berkat kemampuan intuisi sekretaris tingkat dewa yang dimiliki Kinanti, pesan itu akhirnya berhasil dirangkai:
“Bambang, saya ada urusan mendesak dan keluar lewat pintu belakang dengan Kinanti. Kamu pulang saja. Mobil biarkan di basement.”
"Sudah saya kirim, Pak," kata Kinanti setelah menekan tombol send.
Si kucing mendengur puas, lalu segera melompat turun dari pangkuan Kinanti, seolah-olah menyadari bahwa bermanja-manja di pangkuan sekretarisnya adalah hal yang menurunkan harga dirinya sebagai CEO.
Krisis pertama selesai. Sekarang masuk ke krisis kedua yang jauh lebih besar: Bagaimana membawa seekor kucing seberat hampir enam kilogram keluar dari gedung Mahardika Tower tanpa mengundang kecurigaan?
Kinanti memutar otaknya. Ia melirik tas kerjanya—sebuah tote bag bahan kanvas berukuran besar yang biasa ia gunakan untuk membawa dokumen dan laptop cadangan. Ia mengosongkan isi tasnya ke atas meja kerja, menyisakan ruang kosong yang cukup luas.
"Pak... maaf sebelumnya. Tapi tidak ada pilihan lain," kata Kinanti, menunjukkan tas kanvas tersebut kepada Arkan. "Bapak harus masuk ke dalam sini."
Mata hijau Arkan langsung melebar. Ia mundur tiga langkah, telinganya mendatar ke belakang—tanda penolakan mutlak. Seekor Arkananta Mahardika, lulusan Harvard, CEO dengan aset miliaran, disuruh masuk ke dalam tas kanvas belanjaan? Yang benar saja!
"Pak, tolong kerja samanya," bujuk Kinanti, menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sedang berdoa. "Hujan di luar masih deras. Kalau ada orang keuangan atau kebersihan yang melihat Bapak jalan kaki di koridor, besok pagi saham perusahaan kita bisa anjlok karena rumor Bapak berubah jadi hewan!"
Ancaman "saham anjlok" tampaknya bekerja pada otak korporat Arkan. Kucing itu mendengus gusar, menatap tas kanvas itu dengan pandangan jijik, lalu dengan sangat terpaksa melangkah mendekat. Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu, diikuti tubuh gembulnya, lalu menggulung dirinya di dasar tas.
Kinanti menarik napas lega. Ia mengangkat tas tersebut dengan hati-hati. Gila, berat banget! Ini bos atau karung beras? keluh Kinanti dalam hati, sambil berusaha menjaga wajahnya tetap lempeng saat berjalan keluar ruangan.
Sebelum keluar, Kinanti tidak lupa mematikan lampu ruangan, mengunci pintu, dan membawa serta ponsel Arkan serta dompetnya.
Perjalanan melewati lobi lantai satu adalah ujian mental terbesar dalam hidup Kinanti. Pak tedi, satpam yang bertugas di meja depan, menyapanya dengan ramah. "Lembur lagi, Mbak Kinanti? Pak Arkan masih di atas?"
"Eh, iya Pak Tedi. Pak Arkan sudah pulang duluan lewat lift khusus tadi," jawab Kinanti, tersenyum kaku sekaku manekin toko baju.
Tepat saat itu, tas kanvas di bahu Kinanti bergerak-gerak hebat. Rupanya Arkan di dalam sana merasa tidak nyaman karena posisi menggendong Kinanti yang agak terguncang.
"Meong!" sebuah suara tertahan terdengar dari dalam tas.
Pak Tedi menghentikan gerakan pulpennya, menoleh ke arah tas Kinanti. "Lho, Mbak? Suara kucing ya?"
Keringat dingin langsung bercucuran di tengkuk Kinanti. "Ah! Itu... itu suara ringtone ponsel baru saya, Pak! Lucu ya? Hehe. Kalau begitu saya duluan ya Pak, mari!"
Tanpa menunggu jawaban Pak Tedi, Kinanti langsung setengah berlari menuju pintu keluar, menerobos tirai hujan malam Jakarta, dan langsung melambaikan tangan dengan panik untuk menghentikan taksi yang lewat.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di apartemen Kinanti. Sebuah unit studio kecil di pinggiran Jakarta yang sewanya pas-pasan dengan gaji sekretaris (sebelum dipotong pajaknya yang mencekik).
Kinanti menutup pintu apartemennya rapat-rapat, menguncinya dengan tiga slot pengaman, lalu meletakkan tas kanvasnya di atas lantai dengan napas terengah-engah. Bahu kanannya rasanya mau copot.
Begitu tas diletakkan, wujud oranye gembul itu langsung melompat keluar dengan gusar. Arkan segera menjauh dari Kinanti, berdiri di tengah ruangan, dan mulai menjilati bulu-bulunya yang sedikit lembap karena cipratan air hujan di luar tadi. Ekspresi wajahnya tampak sangat tersinggung.
"Selamat datang di istana saya yang sempit, Pak CEO," kata Kinanti sarkas, menjatuhkan dirinya ke atas sofa lipatnya yang murah. "Maaf tidak ada karpet Persia atau kopi Arabika. Yang ada cuma tikar plastik dan kopi saset."
Kucing itu berhenti menjilati bulunya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berukuran 4x4 meter tersebut. Matanya menatap TV tabung kecil, tumpukan baju yang belum disetrika di pojok ruangan, dan rak dapur mini yang penuh dengan mi instan. Tatapan kucing itu seolah mengatakan: ‘Tempat apa ini? Mengapa ada manusia yang bisa hidup di kandang merpati seperti ini?’
Namun, sebelum Arkan sempat melayangkan protes lewat cakaran, sebuah suara bising terdengar dari dalam perut gembulnya.
Kriuuuk...
Suara perut keroncongan yang sangat keras memecah keheningan apartemen.
Kinanti menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangan. "Wah, tampaknya Yang Mulia CEO lapar ya? Tapi masalahnya Pak... di sini tidak ada makanan steak wagyu atau salmon premium. Yang ada cuma..." Kinanti berjalan ke dapur, membuka lemari, dan mendesah. "...cuma mi instan goreng."
Mendengar kata mi instan, kucing oranye itu langsung memalingkan wajahnya dengan angkuh. Ia melompat ke atas kasur busa Kinanti yang terletak di lantai, menggulung dirinya di atas bantal, dan memejamkan mata, mengabaikan eksistensi sekretarisnya.
Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah Bapak saja lah. Kita lihat seberapa lama jiwa aristokrat Bapak bisa bertahan menghadapi kelaparan."
Gadis itu kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak menyadari bahwa di atas kasur, sepasang mata hijau zamrud sedang menatap lurus ke arah jendela yang masih basah oleh hujan, merenungi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan sekretaris yang selama ini selalu ia omeli habis-habisan.