Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keputusan Dan Takdir Baru
Kirana membeku. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah kata-kata yang baru saja diucapkan pria di hadapannya adalah sebuah ilusi dari rasa pusing yang masih menyisa di kepalanya. Matanya membelalak, memandang wajah tegas Devan yang tak menunjukkan sedikit pun keraguan atau gurauan.
"T-tapi... kita baru saja bertemu," bisik Kirana dengan napas tersengal, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan kamar yang mencekat. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa kita menikah?"
Bagaimana mungkin seorang pria asing yang baru menolongnya dari ambang kematian, pria yang bahkan baru ia ketahui namanya beberapa menit lalu, melontarkan ajakan pernikahan seolah-olah itu adalah hal yang paling biasa di dunia?
Devan tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Sorot mata elangnya makin mengunci pandangan Kirana, memancarkan aura dingin yang menekan dan tak terbantahkan. Pria itu menepis seluruh argumentasi dan kebingungan Kirana hanya dengan satu tatapan yang tajam.
"Jawabanmu hanya... YA atau TIDAK," ucap Devan sekali lagi. Suaranya terdengar begitu dalam, tegas, dan sarat akan dominasi yang mutlak.
Tidak ada ruang untuk bernegosiasi. Tidak ada tempat untuk bertanya atau menawar.
Kirana menelan ludahnya yang terasa pahit. Hatinya bergemuruh hebat. Di satu sisi, ada kenyataan pahit bahwa di luar sana jalanan masih diselimuti badai salju yang siap membekukan tubuhnya, tanpa ada keluarga, uang, maupun tempat untuk berteduh. Di sisi lain, ada tawaran gila dari sosok pria misterius dan berbahaya ini yang siap mengikat takdirnya dalam sebuah pernikahan.
Pilihan yang ada di hadapannya bukan lagi tentang cinta atau kesiapan hati, melainkan tentang bertahan hidup.
Keheningan merajai ruangan luas itu selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Bayangan kejamnya malam di mana ayahnya sendiri melemparnya ke tengah badai salju berputar kembali di benak Kirana. Rasa sakit akibat penolakan darah dagingnya sendiri, keputusasaan saat meringkuk dingin di tepi jalan, dan kenyataan bahwa ia benar-benar sebatang kara tanpa uang sepeser pun di kota ini membakar habis sisa-sisa keraguannya.
Dunia yang ia kenal telah membuangnya. Tidak ada tempat kembali, tidak ada rumah yang menunggunya.
Kirana mendongak. Ia memberanikan diri menatap lurus ke dalam iris mata elang Devan yang dingin dan penuh dominasi. Dengan dada yang berdesir kencang dan napas yang tertahan, Kirana mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh.
"YA... aku bersedia," jawab Kirana dengan suara yang mantap, meski ada sedikit getaran di ujung kalimatnya.
Sebuah simpul senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di sudut bibir Devan. Tatapan matanya yang tajam seolah menilai keteguhan hati gadis di hadapannya. Pria itu menyandarkan punggungnya tegak, mengikis aura menekan yang tadi melingkupi mereka, namun tetap mempertahankan wibawanya yang mengintimidasi.
"Pilihan yang cerdas, Kirana," ucap Devan dengan suara bernada rendah yang bergetar penuh otoritas. "Mulai detik ini, kau adalah calon istriku. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang tempat tinggal, uang, atau ancaman siapa pun di luar sana. Namun ingat... di dunia milikku, kesetiaan adalah hal mutlak."
Devan memutar tubuhnya perlahan, melangkah menuju pintu jati yang tinggi. Sebelum tangannya memutar gagang pintu, ia menoleh sedikit ke arah Kirana yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Istirahatlah. Besok pagi, hidup barumu dimulai," ujar Devan singkat, lalu melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Kirana dengan detak jantung yang masih bergemuruh hebat di tengah takdir barunya.