Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Jika ada penghargaan untuk orang dengan tingkat kecemasan tertinggi malam ini, Cia yakin pialanya akan langsung diantar ke kamarnya.
Gadis itu berdiri di depan cermin seluruh badan, menatap pantulan dirinya dengan raut wajah permusuhan. Ia mengenakan dress selutut berwarna biru pastel yang dipilihkan paksa oleh mamanya. Rambut sebahunya yang biasa dicepol asal kini digerai rapi dengan jepitan kecil di salah satu sisi. Wajahnya dipoles riasan tipis.
Cia mendengus. Ia sudah merencanakan untuk memakai kaus kebesaran bergambar spons kuning dan celana training lusuh, demi memberikan kesan 'calon istri paling tidak menjanjikan se-Asia Tenggara'. Sayangnya, radar sang mama terlalu kuat. Pakaian gembelnya disita tiga jam sebelum acara.
"Oke, Cia. Tarik napas," gumamnya pada diri sendiri. Ia meremas jemarinya yang terasa dingin. "Rencana B. Bikin dia ilfeel dari ucapan. Tunjukkan kalau kamu itu koas yang sibuk, egois, cerewet, dan nggak peduli sama urusan rumah tangga. Dia tentara, kan? Pasti maunya istri yang penurut, kalem, dan bisa masak."
Ia mengangguk mantap, membusungkan dada. Bisa. Pasti batal.
Suara bel pintu apartemen yang berbunyi memecah kesunyian. Tubuh Cia refleks menegang. Dari luar kamarnya, terdengar suara langkah terburu-buru mamanya, disusul suara pintu terbuka dan sapaan ramah yang sedikit berlebihan.
Lalu, sebuah suara bariton yang rendah dan berat menjawab sapaan itu.
"Selamat malam, Tante. Maaf mengganggu waktunya."
Bulu kuduk Cia seketika meremang. Suara itu terdengar sangat tenang, datar, tanpa nada basa-basi yang dibuat-buat, namun memiliki otoritas yang anehnya membuat ruang tamu yang luas terasa penuh.
Cia menelan ludah. Ia memutar knop pintu perlahan, melangkah keluar bak pencuri yang takut ketahuan.
Di ruang tamu, ayahnya sedang bersalaman dengan seorang pria tinggi tegap yang mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna gelap. Kemeja itu tidak ketat, namun postur tubuhnya yang teramat tegap—punggung lurus, dada membusung alami—membuat bahan pakaian itu tercetak pas di tubuhnya.
"Silakan duduk, Nak Ren. Tidak perlu repot-repot bawa buah segala," sapa Ayah, tersenyum lebar.
Pria itu mengangguk kaku. "Hanya formalitas kecil, Om."
Saat itulah, mama Cia menoleh dan menangkap sosok putrinya yang mematung di lorong. "Nah, itu Cia. Sini, Sayang. Duduk di sebelah Mama."
Dua pasang mata pria di ruangan itu serentak menoleh.
Cia merasa napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Di foto semalam, pria itu terlihat menakutkan dengan seragam lorengnya. Namun melihatnya secara langsung... jauh lebih mengintimidasi.
Wajah Ren Adhyaksa terpahat tegas. Rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan sesuatu, dan matanya—astaga, sepasang mata elang itu mengunci tatapan Cia dengan intensitas yang membuat lutut Cia nyaris lemas. Tidak ada senyum ramah. Tidak ada raut terpesona. Pria itu menatap Cia layaknya sedang mengobservasi target operasi.
Cia memaksakan kakinya melangkah maju, duduk di kursi single yang berhadapan langsung dengan Ren.
"Malam," sapa Cia singkat, suaranya sedikit bergetar meski ia sudah berusaha keras menutupinya. Ia sengaja tidak tersenyum.
Ren hanya mengangguk pelan sebagai balasan. Matanya memindai Cia dari ujung rambut hingga ujung kaki, hanya dalam waktu dua detik, sebelum kembali menatap lurus ke mata Cia.
"Karena Ren sudah datang, dan kebetulan Mama belum selesai menyiapkan hidangan utama di dapur..." Ayah berdeham, menepuk lututnya sendiri. Ia bertukar pandang penuh isyarat dengan istrinya. "Papa dan Mama ke dapur dulu sebentar. Kalian ngobrol-ngobrol saja dulu. Biar saling kenal."
Basi banget alasannya, Pa! jerit Cia dalam hati. Ia menatap ayahnya dengan tatapan horor, memohon agar tidak ditinggalkan. Namun, kedua orang tuanya dengan mulus melarikan diri ke dapur, meninggalkan Cia berdua saja dengan manusia es dari angkatan darat di depannya.
Hening mengambil alih ruang tamu. Hanya terdengar lamat-lamat suara televisi yang sengaja dikecilkan volumenya.
Cia meremas ujung gaunnya. Atmosfer di sekitarnya mendadak terasa tipis. Pria di depannya tidak bergerak sama sekali. Ren duduk dengan punggung bersandar tegap, kedua tangannya bertumpu di atas paha. Matanya tak lepas menatap Cia, membuat gadis itu merasa seperti tersangka yang sedang diinterogasi.
Oke, Cia. Lakukan sekarang atau pernikahan bulan depan jadi kenyataan.
Cia menegakkan tubuhnya, berdeham agak keras untuk membersihkan tenggorokan, lalu menatap Ren dengan dagu sedikit terangkat.
"Jadi, Kapten Ren," mulai Cia, nada suaranya dibuat sedatar dan seangkuh mungkin. "Saya orangnya nggak suka basa-basi. Saya yakin Anda juga begitu, mengingat profesi Anda."
Mata Ren sedikit menyipit, namun ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Ia menunggu dalam diam. Telunjuk kanannya mulai mengetuk pelan permukaan sandaran tangan sofa. Tuk. Tuk.
Ritme ketukan itu entah kenapa membuat Cia semakin gugup, tapi ia terus melaju.
"Saya rasa perjodohan ini ide yang sangat buruk," Cia berbicara dengan tempo cepat, kebiasaannya saat sedang panik. "Saya dua puluh dua tahun, masih koas. Saya sibuk. Saya jarang pulang. Saya nggak bisa masak, apalagi dandan rapi buat ikut acara ibu-ibu militer yang bawa tas branded itu. Bangun pagi saja saya sering telat kalau habis jaga malam."
Cia menarik napas pendek, matanya melotot tajam menantang Ren. "Dan yang paling penting, saya benci diatur. Saya nggak suka hidup yang didikte. Kalau Kapten mencari istri yang penurut, yang bisa nungguin di rumah sambil masak sayur lodeh, dan ngomong 'Iya, Mas' setiap saat... Anda salah orang."
Cia mengakhiri monolognya dengan dada kembang kempis. Ia menatap Ren, berharap melihat raut kekecewaan, kemarahan, atau setidaknya pria itu berdiri dan membatalkan semuanya detik ini juga.
Ren terdiam selama beberapa saat. Ketukan jarinya di sofa berhenti.
Dengan gerakan lambat dan tenang, Ren mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Jarak di antara mereka menyempit, membawa aroma maskulin dari aftershave beraroma mint dan kayu pinus yang entah kenapa membuat perut Cia bergejolak aneh.
"Sudah bicaranya?" suara Ren terdengar begitu rendah, hampir seperti geraman pelan, bergetar di gendang telinga Cia.
Cia mengerjap, nyalinya mendadak menciut, namun ia memaksakan diri mengangguk kaku. "S-sudah."
"Bagus." Ren menatap lurus ke dalam pupil mata Cia yang melebar. "Karena saya tidak peduli."
Hening sejenak. Cia mematung. Otaknya yang cerdas sebagai calon dokter butuh beberapa detik untuk memproses kalimat itu. "Hah? Apa maksudnya—"
"Saya mencari istri, bukan koki, apalagi asisten rumah tangga," potong Ren, nadanya setajam silet namun tak meninggi. "Saya sudah terbiasa mengurus diri saya sendiri. Kamu tidak bisa masak? Saya bisa pesan makanan. Kamu sibuk di rumah sakit? Saya juga punya tugas negara yang menyita waktu. Kamu tidak suka diatur?"
Ren menghentikan kalimatnya. Tatapannya turun sejenak ke bibir Cia yang terbuka sedikit karena terkejut, lalu kembali ke matanya.
"Saya bukan komandanmu, dan rumah kita nanti bukan barak militer. Saya tidak akan mengatur hidupmu, selama kamu tahu batasanmu sebagai istri saya," lanjut Ren dengan nada final yang tidak menerima bantahan.
Mulut Cia tertutup. Skakmat. Semua pelurunya habis tak bersisa, dipantulkan begitu saja oleh perisai baja tak kasat mata milik pria ini.
"T-tapi..." Suara Cia mulai kehilangan arogansinya. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap Ren dengan raut frustrasi yang kali ini tidak dibuat-buat. "Kita nggak saling kenal, Kapten. Kita nggak saling cinta! Pernikahan macam apa yang dibangun tanpa rasa cinta?"
Sorot mata Ren berubah sepersekian detik. Bayangan gelap yang selalu disembunyikannya melintas sejenak, membuat wajah dinginnya terlihat sedikit lelah. Namun, dengan cepat ia kembali membangun temboknya.
"Cinta adalah konsep yang terlalu dilebih-lebihkan oleh orang-orang di usiamu," balas Ren dingin. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke sofa. "Komitmen, rasa hormat, dan tanggung jawab. Tiga hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah rumah tangga bertahan."
Cia meremas jari-jarinya hingga buku-bukunya memutih. Rasa sesak mendadak menjalar di dadanya. Pria ini sangat kaku. Sangat rasional. Sangat... mustahil untuk digoyahkan.
"Gimana kalau saya tetap nggak mau?" tantang Cia, suaranya kini bergetar karena emosi yang menumpuk. Matanya mulai berkaca-kaca, sebuah kelemahan yang sangat ia benci. "Gimana kalau saya nolak perjodohan ini?"
Ren menatap mata Cia yang mulai basah. Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu menghela napas panjang, nyaris tak terdengar.
"Ayahmu meminta padaku untuk menjagamu," ucap Ren pelan. Nada suaranya sedikit melunak, meski wajahnya tetap datar. "Dan sebagai seorang prajurit, aku diajarkan untuk tidak pernah mengingkari janji, apalagi kepada seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku."
Cia membeku. Matanya melebar sempurna. Kepalanya pusing mencerna informasi yang baru saja dilempar pria itu ke arahnya. "Menyelamatkan... apa?"
Sebelum Cia sempat menuntut penjelasan, langkah kaki orang tuanya terdengar dari arah dapur. Mama muncul dengan nampan berisi puding buah, diikuti Ayah yang tersenyum sumringah.
"Nah, sudah selesai ngobrolnya? Bagaimana, Nak Ren? Cia anaknya memang sedikit bawel, tapi dia baik kok," canda Ayah sambil duduk kembali ke tempatnya.
Ren berdiri dari duduknya, memberikan gestur hormat yang sopan ke arah ayah Cia. Namun, sebelum ia menjawab, mata elangnya menatap Cia sekali lagi. Tatapan yang mengunci segala bentuk pemberontakan gadis itu.
"Ya, Om," jawab Ren dengan suara lantang dan jelas. "Cia wanita yang baik."
Ren merapikan letak kerah kemejanya, lalu menjatuhkan bom yang membuat dunia Cia runtuh seketika.
"Saya siap melangsungkan pernikahan bulan depan. Sesuai rencana."