NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Tidak ada seorang pun yang bersuara. Semua mata tertuju pada kursi plastik kecil berwarna biru itu.

Bip...

Gelang di tangan left Zain kembali berbunyi, kali ini dengan nada yang lebih pelan. Grafik di tablet Ardi perlahan merambat naik, lalu kembali melandai.

Profesor Surya berlutut di depan kursi tua itu. Tangannya mengusap permukaannya yang mulai kusam dan berdebu. "Sudah lebih dari dua puluh tahun..." gumamnya lirik, "...kenapa baru sekarang?"

Ardi segera bertindak dengan memasang sensor portabel di lantai, lalu berpindah ke dinding, hingga ke rak besi di sekitarnya. Ia membandingkan setiap pembacaan angka satu per satu.

"Lantai dan ruangan ini bersih. Rak juga normal, dinding juga tidak menunjukkan interaksi apa pun."

Profesor mengangkat wajahnya. "Bagaimana dengan kursinya?"

Ardi menggeser alat pemindai tepat di atas sandaran kursi. Monitor instrumen itu langsung berbunyi nyaring.

Bip... Bip...

"Sinyalnya naik lagi!"

Zain ikut melangkah mendekat, namun Profesor menahannya. "Jangan disentuh dulu. Kita amati dari jarak aman."

...

Selama hampir setengah jam, mereka memindai setiap senti dari kursi plastik tersebut. Tidak ditemukan lempengan logam aneh, baterai rahasia, maupun pemancar sinyal ghaib. Hanya ada struktur plastik murah yang mungkin dibeli di toko bangunan puluhan tahun silam.

"Kalau begitu..." gumam Zain heran, "...apa yang membuat alat pemindai ini terus berbunyi?"

Tak seorang pun sanggup menjawabnya.

Profesor tiba-tiba bangkit berdiri. "Ardi, buka semua arsip foto dokumentasi ruangan ini dari tahun sembilan puluhan."

Ardi segera membuka dokumen digital di laptopnya. Ratusan foto lama bermunculan di layar. Ruangan penyimpanan itu tampak persis sama—rak besi yang sama, dinding yang sama, hingga kursi biru yang sama.

Namun pada salah satu foto dokumentasi, Profesor mendadak menghentikan tayangan. "Perbesar bagian belakang itu."

Gambar diperbesar beberapa kali lipat. Di balik kursi biru tersebut, terlihat samar sebuah pintu besi kecil yang nyaris tertutup rapat oleh badan rak besi.

Zain menoleh memandangi dinding di belakang mereka. "Lho... sekarang kok tidak ada pintunya?"

Profesor mengangguk pelan. "Karena rak besi besar ini sudah dipindahkan menutupi posisinya."

...

Empat orang dalam ruangan itu bekerja sama menggeser rak besi tua yang sangat berat tersebut.

Greeeek...

Debu tebal seketika beterbangan memenuhi udara. Di balik rak yang berhasil digeser, benar saja—terdapat sebuah pintu baja berukuran sedang berwarna abu-abu. Catnya sudah mengelupas parah, dengan gagang pintu yang dipenuhi lapisan karat tebal. Pintu itu tampak jelas sudah puluhan tahun tidak pernah disentuh.

Zain menelan ludah. "Di balik pintu itu ada ruangan apa, Prof?"

Profesor memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat denah masa lalu. "Jika ingatanku tidak keliru... itu adalah ruang observasi lama."

"Isinya apa?"

"Seharusnya sudah kosong total."

Jawaban itu justru semakin menyulut rasa penasaran semua orang.

...

Profesor mencoba memutar gagang pintunya, namun besi berkarat itu tidak bergerak sedikit pun. Ardi bergegas mengambil kotak peralatan dan menggunakan perkakas pemotong. Beberapa menit kemudian, gembok tua yang mengunci pintu itu akhirnya berhasil dilepaskan.

Meski gemboknya sudah lepas, pintunya tetap terasa sangat berat saat didorong, seolah ada tekanan udara kuat yang menahannya dari dalam.

Mereka berdua mendorong daun pintu itu bersama-sama.

Kreeeek...

Pintu bergeser perlahan. Udara pengap yang pekat seketika menyeruak keluar, membawa aroma debu dan kertas lapuk yang menyengat hidung.

Lampu senter dinyalakan, membelah kegelapan ruangan kecil berukuran sekitar tiga kali empat meter tersebut. Di dalamnya hanya terdapat sebuah meja kayu, lemari arsip tua, dan sebuah papan tulis yang masih dipenuhi coretan rumus fisik. Kondisinya tampak seperti baru saja ditinggalkan pemiliknya kemarin sore—padahal ruangan itu telah terkunci rapat selama lebih dari dua puluh tahun.

...

Profesor melangkah masuk lebih dulu. Sorot lampu senternya terhenti pada sebuah buku catatan tebal bermaterial kulit yang tergeletak di atas meja kayu.

Ia mengambil buku itu secara perlahan. Kepulan debu beterbangan saat sampul tebalnya dibuka. Di halaman pertama, tertulis sebuah judul dengan goresan tinta tangan yang sangat ia kenali:

[Catatan Eksperimen – Proyek Kronos]

Profesor Surya seketika membeku di tempatnya.

Ardi yang ikut mengintip dari belakang terbelalak. "Prof... bukankah seluruh dokumen riset Proyek Kronos sudah dipindahkan ke arsip utama markas pusat?"

Profesor menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah tidak percaya. "Tidak... seharusnya buku catatan ini sudah dimusnahkan dan hilang puluhan tahun lalu."

Ruangan kecil itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.

Ternyata, misteri utama yang mereka buru selama ini tidak pernah tersembunyi di dalam mesin motor Zain, melainkan tertinggal rapat di dalam sebuah ruangan terasing yang telah dilupakan oleh waktu.

Profesor Surya membuka halaman pertama buku catatan tua itu dengan sangat hati-hati. Lembaran kertas di dalamnya sudah menguning dengan pinggiran yang lapuk dimakan usia. Kendati demikian, tulisan tangan di atasnya masih membayang jelas, rapi dan tegas.

Tanggal yang tertera di pojok kanan atas seketika membuat napas Profesor tertahan:

[12 Agustus 1998]

"Sudah sangat lama..." gumam Ardi.

Profesor mengangguk pelan. "Hampir tiga puluh tahun yang lalu."

...

Beberapa halaman pertama berisi laporan pengujian rutin yang porsi utamanya sama seperti berkas dalam arsip utama mereka—deretan grafik, kalkulasi fisik, serta deretan kegagalan eksperimen demi kegagalan.

Namun saat memasuki halaman ketujuh, Profesor mendadak menghentikan jemarinya. Matanya membelalak lebar.

"Ada apa, Prof?" tanya Zain.

Profesor tidak langsung menjawab, ia menyerahkan buku catatan itu kepada Ardi. Di bagian tengah halaman, terdapat satu baris kalimat yang digarisbawahi dengan tinta merah tebal:

[Fenomena resonansi meningkat signifikan saat Subjek Z hadir di area laboratorium.]

Ardi membaca ulang baris itu dengan kening berkerut. "Subjek... Z?" Ia menatap Profesor Surya penuh selidik. "Siapa Subjek Z ini, Prof?"

Profesor menggeleng pelan dengan raut wajah penuh keraguan. "Aku tidak pernah merasa menyusun kode nama itu."

...

Mereka membalik lembaran berikutnya. Di sana terdapat beberapa catatan rinci tambahan:

[Subjek datang bersama petugas jaga malam.]

[Tidak menyadari eksperimen yang berjalan.]

[Sama sekali tidak boleh dilibatkan secara langsung dalam pengujian.]

Zain mengeja tulisan itu dengan suara bergetar pelan. "Petugas jaga malam... itu Kakek."

Tak seorang pun di ruangan itu yang membantah. Semua petunjuk dalam berkas tua tersebut mengarah secara konsisten pada satu nama: Pak Hasan, dan cucu kecilnya.

"Tapi..." Zain mengusap tengkuknya bingung, "waktu itu saya kan cuma anak kecil. Kenapa nama saya bisa ditulis sebagai subjek riset?"

Profesor tampak sama bingungnya. "Itulah yang terasa sangat tidak masuk akal. Aku tidak pernah menjadikan seorang anak sebagai bagian dari objek penelitian ilmiah."

Ardi mengangguk mantap menyetujui. "Itu memang bukan prinsip Profesor."

Mereka semua tahu betapa ketatnya Profesor Surya memegang teguh etika riset. Mustahil bagi beliau untuk secara sengaja melibatkan anak kecil dalam pengujian berisiko tinggi.

...

Memasuki lembaran-lembaran berikutnya, sebagian besar kertas tampak kosong—atau lebih tepatnya telah sengaja disobek dari jilidnya. Bekas sobekannya masih membayang jelas di sepanjang lipatan buku.

Profesor mengusap lembut tepi bekas sobekan tersebut. "Ada orang yang dengan sengaja mengambil bagian halaman ini."

"Kapan itu terjadi?"

"Entahlah. Yang jelas bukan baru-baru ini. Warna kertas di bekas sobekan ini sudah sama memudarnya dengan lembaran lain."

Pada halaman terakhir yang masih utuh tersisa, hanya ada satu baris kalimat pendek yang ditulis dengan tinta hitam:

[Jika resonansi kembali muncul bertahun-tahun kemudian, berarti efeknya tidak pernah benar-benar menghilang dari subjek.]

Tepat di bawah tulisan tersebut, tertera sebuah tanda tangan yang sangat familier:

[Surya Pratama]

Profesor menatap lekat tanda tangannya sendiri selama beberapa saat. "Ini memang goresan tanganku. Tapi... aku sama sekali tidak memiliki ingatan pernah menuliskan kalimat ini."

...

Ruangan kecil yang pengap itu kembali tenggelam dalam kesunyian mendalam. Zain perlahan menduduki kursi plastik biru tua, kepalanya mulai dipenuhi tumpukan pertanyaan yang membingungkan.

Jika benar ia adalah Subjek Z yang dimaksud, hal ekstrem apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya puluhan tahun lalu? Mengapa memori itu sirna dari ingatannya? Dan mengapa Profesor sendiri seolah kehilangan separuh ingatan penting terkait bagian akhir Proyek Kronos?

Ardi menutup buku catatan tebal tersebut dengan hati-hati. "Prof... saya rasa kita harus menemui Pak Hasan secara langsung."

Zain menunduk dalam-dalam. "Kakek... kalau memang beliau tahu sesuatu dari masa lalu, kenapa selama ini beliau tidak pernah bercerita sedikit pun?"

Profesor memandang Zain dengan tatapan yang tenang dan penuh empati. "Kadang seseorang menyimpan rapat sebuah rahasia bukan karena berniat berbohong, tetapi karena ia pernah mengikat janji untuk tidak menyebarkannya kepada siapa pun."

Malam itu, sejak proyek pengembangan mesin waktu dimulai, arah dan tujuan utama penelitian mereka bergeser total. Bukan lagi tentang bagaimana menciptakan alat untuk menembus masa depan, tapi membongkar tabir jawaban dari masa lalu yang telah terkubur rapat selama hampir tiga dekade.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!