Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sinar matahari pagi menyinari Istana Kekaisaran Long.
Di aula utama...
Para pejabat masih berdiri rapi dengan kepala tertunduk. Di atas singgasana naga emas, Kaisar Wanita Long Zhenyi memandang ke arah selatan.
Tatapannya tenang. Namun pikirannya masih tertuju pada pilar cahaya yang muncul pagi tadi.
"Sudah ada hasil penyelidikannya?"
Seorang menteri melangkah maju.
"Yang Mulia, sumber aura itu berasal dari Kota Qinghe."
"Pemiliknya?, Hamba belum mengetahuinya."
Long Zhenyi menutup dokumen di tangannya.
"Kalau begitu Wei Gong panggil dia ke istana."
Seorang kasim muda bernama Wei Gong yang merupakan Kasim kesayangan kaisar segera maju memberi hormat.
"Hamba menerima titah."
Ia sudah cukup lama melayani istana. Meski sangat setia kepada kaisar ia juga memanfaatkan posisinya yang menjadi kesayangan kaisar untuk bertingkah arogan. Sifatnya terkenal angkuh terhadap rakyat biasa.
Baginya...
Siapa pun yang bukan pejabat tinggi hanyalah semut. Wei Gong menerima gulungan perintah kekaisaran.
"Aku akan membawa orang itu ke hadapan Yang Mulia."
Selesai berbicara...
Tubuhnya melesat meninggalkan aula istana.
Sementara itu...
Di sebuah jalan pegunungan. Qin Feng masih berjalan dengan wajah pucat. Di sampingnya adalah ayahnya, Qin Hai.
Tak seorang pun berbicara. Bayangan kematian Guru Besar Liu terus terulang di kepala Qin Feng. Tiba-tiba...
Ia berhenti.
"Ayah."
Qin Hai menoleh.
"Aku tidak terima atas perlakuan Shen Yu, Bagaimana pun juga Kita harus membalas. Kita tidak boleh membiarkan Shen Yu hidup."
Qin Hai mengangguk pelan.
"Guru Besar Liu adalah tetua Perguruan Pedang Awan. Kematian beliau tidak mungkin dibiarkan begitu saja."
Qin Feng mengepalkan tangan.
"Aku tahu seseorang, Seseorang yang bahkan tidak ingin disebut namanya."
Tatapan Qin Hai berubah dan sedikit terkejut.
"Ha, maksud mu kau ingin mencari Penguasa Bayangan?"
Qin Feng mengangguk.
"Meskipun harus membayar harga berapa pun."
Beberapa jam kemudian. Di dalam sebuah gua bawah tanah. Api berwarna hijau menyala redup. Suasana begitu sunyi. Di tengah ruangan duduk seorang lelaki tua berjubah hitam.
Seluruh wajahnya tertutup bayangan. Hanya sepasang mata merah yang terlihat. Qin Feng dan Qin Hai langsung berlutut.
"Tuan...."
Lelaki tua itu membuka mata.
"Berani nya kalian mengganggu pertapaan ku!!, jelaskan alasan kalian datang."
Qin Feng menggertakkan gigi.
"Tuan...Guru kami dibunuh. Kami memohon tuan untuk membantu membunuh membunuh bocah sialan bernama Shen Yu."
Ruangan kembali sunyi.
"Untuk apa aku menuruti keinginan orang yg sudah mengganggu pertapaan ku?, pergi kalian dari sini!!"
Ujar sang lelaki berjubah hitam tersebut. Qin Hai dan Qin Feng pun ketakutan lalu memohon dan bersujud.
"Kami mohon tuann...kami akan memberikan sebanyak apapun harta yang tuan inginkan"
Beberapa saat kemudian...
Terdengar suara tawa pelan.
"Hahaha...Menarik. Sudah lama tidak ada anak muda yang mampu membunuh seorang Guru Besar."
Ia perlahan berdiri. Aura hitam memenuhi seluruh gua. Bahkan Qin Hai sampai berkeringat dingin.
"Baik. Aku akan pergi. Aku ingin melihat apakah anak itu memang sehebat yang kalian katakan."
Qin Feng menundukkan kepala dalam-dalam.
"Terima kasih, tuan."
Senyum tipis muncul di balik bayangan wajah lelaki tua itu.
"Kalau dia benar-benar kuat aku sendiri yang akan mengambil nyawanya."
Pada saat yang sama...
Di kediaman keluarga Shen.
Shen Yu duduk santai di paviliun taman. Di depannya terdapat meja kecil berisi teh hangat dan beberapa kue.
Mu Xueyi duduk di seberangnya. Tidak lagi sedingin beberapa hari lalu.
Mu Xueyi menuangkan secangkir teh.
"Silakan suamiku."
Shen Yu menerimanya pelan.
"Terima kasih."
Mu Xueyi tersenyum.
"Sudah mulai terbiasa tinggal di sini?"
Mu Xueyi mengangguk.
"Semua orang memperlakukanku dengan baik."
"Itu karena mereka tahu kau istriku."
Wajah Mu Xueyi langsung memerah.
Shen Yu hanya tertawa kecil. Suasana terasa damai.
Namun...
Tiba-tiba terdengar suara keras dari gerbang utama.
"Titah Kekaisaran telah tiba!!"
Seluruh pelayan keluarga Shen langsung berhenti bekerja. Pak Hong berjalan cepat menuju gerbang. Beberapa saat kemudian...
Seorang kasim muda berjubah ungu memasuki halaman dengan dagu terangkat tinggi. Di belakangnya mengikuti beberapa pengawal istana.
Tatapannya menyapu seluruh halaman seolah sedang memeriksa rakyat jelata.
"Siapa Shen Yu?"
Shen Yu tetap duduk santai.
"Aku."
Wei Gong memandangnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kau?"
"Berani tetap duduk saat utusan kekaisaran datang?"
Shen Yu mengambil cangkir tehnya. Lalu meminumnya perlahan.
"Kalau aku berdiri apa tehnya jadi lebih enak?"
Beberapa pelayan langsung menahan napas.
Kasim Wei Gong menyipitkan mata.
"Sungguh lancang."
Namun ia tetap mengeluarkan gulungan emas.
"Atas titah Yang Mulia Kaisar. Shen Yu diperintahkan menghadap ke Istana Kekaisaran."
Shen Yu mengambil gulungan itu dengan santai.
"Oh? Kaisar mencariku?"
Belum sempat Wei Gong menjawab...
BOOOM!!
Ledakan besar mengguncang gerbang utama keluarga Shen.
Debu beterbangan.
Jeritan para pelayan langsung terdengar.
Wei Gong dan seluruh pengawal istana serentak menoleh.
Di balik kepulan debu...
Tampak tiga sosok perlahan berjalan masuk.
Qin Feng.
Qin Hai.
Dan seorang lelaki berjubah hitam yang seluruh tubuhnya diselimuti aura gelap. Setiap langkahnya membuat batu-batu halaman retak.
Qin Feng menatap Shen Yu dengan mata merah dipenuhi kebencian.
"Shen Yu, Hari ini aku datang mengambil nyawamu."
Lelaki berjubah hitam mengangkat kepalanya perlahan. Tatapan matanya langsung tertuju kepada Shen Yu.
"Hmm jadi kau anak yang membunuh Guru Besar Liu."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Mudah-mudahan kau tidak mengecewakanku."