NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: TERLAMBAT HARI PERTAMA

Malam itu Kirana tidur lebih awal dari biasanya. Alarm di ponselnya sudah diatur tiga kali, masing masing berjarak lima menit, sebagai jaminan supaya besok dia tidak mengulang kejadian memalukan yang sama.

Tapi rencana rapi itu buyar begitu saja ketika pukul lima pagi dia terbangun oleh suara berisik dari kamar sebelah kos.

"Woy, air mati!" teriak salah satu penghuni kos, suaranya menggema di sepanjang lorong.

Kirana bangkit dari kasur, mengucek mata, lalu mencoba keran kamar mandinya sendiri. Benar saja, tidak ada setetes air pun yang keluar. Dia menghela napas panjang, menyandarkan kening ke dinding kamar mandi yang dingin.

"Ya Allah, kenapa harus hari ini," gumamnya pelan, suara masih serak karena baru bangun.

Dia berlari ke lantai bawah, mendapati beberapa penghuni kos lain sudah berkumpul di dekat tangki air, wajah mereka sama sama kusut karena baru bangun tapi harus menghadapi masalah teknis pagi pagi buta. Ibu kos menjelaskan pompa air rusak dan tukang baru bisa datang siang nanti.

Kirana mengecek jam di ponselnya. Setengah enam. Kelas Pak Alden dimulai pukul tujuh, dan dia belum mandi, belum sarapan, belum menyiapkan buku catatan yang benar.

"Sial, sial, sial," gumamnya berulang kali sambil kembali ke kamar, mengambil botol air mineral cadangan yang untungnya masih tersisa cukup banyak. Dia menuangkan air ke ember kecil, mandi seadanya dengan gerakan tercepat yang pernah dia lakukan seumur hidup.

Rambutnya masih setengah basah ketika dia menyambar tas ranselnya dan berlari keluar kos. Jalanan pagi itu lebih padat dari biasanya, entah karena ada perbaikan jalan di ujung gang atau memang rezeki apes yang menumpuk jadi satu.

Dia mengecek aplikasi ojek online, mencoba memesan, tapi semua driver terdekat menunjukkan jarak yang terlalu jauh. Setelah menunggu tiga menit tanpa ada yang menerima orderan, Kirana memutuskan untuk berjalan kaki secepat mungkin sambil terus mencoba memesan ulang.

"Please, please dapet," bisiknya sambil menatap layar ponsel, jantungnya sudah mulai berdebar bukan karena alasan manis, melainkan karena kepanikan murni.

Akhirnya ada driver yang menerima orderan, tapi jaraknya delapan menit dari lokasi Kirana berdiri. Dia menunggu di pinggir jalan, kaki mengetuk ngetuk aspal tanpa sadar, matanya terus melirik jam yang angkanya terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen minimalis dengan interior serba monokrom, Alden sudah bangun sejak pukul lima. Dia bukan tipe orang yang butuh alarm berkali kali. Rutinitasnya selalu sama, bangun, olahraga ringan, mandi, sarapan secukupnya, lalu berangkat lebih awal supaya bisa menyiapkan materi sebelum kelas dimulai.

Dia menyeruput kopi hitamnya sambil membuka laptop, mengecek ulang slide presentasi yang akan dia gunakan hari itu. Matanya berhenti sejenak di daftar nama mahasiswa, tanpa sadar tertuju pada satu nama yang baru dia kenal kemarin.

Kirana Ayu.

Dia mengernyit sendiri menyadari kenapa nama itu yang muncul di kepalanya, lalu buru buru menutup laptop dan bersiap berangkat. Tidak ada alasan untuk memikirkan mahasiswa manapun secara khusus, apalagi yang baru saja dia tegur karena datang terlambat.

Ojek yang ditumpangi Kirana melaju kencang menembus jalanan pagi yang mulai padat. Dia terus melirik jam, menghitung mundur waktu yang tersisa. Ketika motor akhirnya berhenti di depan gerbang kampus, jam di ponselnya menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit.

Kirana melompat turun, buru buru membayar ongkos tanpa menghitung kembalian, lalu berlari secepat yang kakinya mampu menuju gedung Fakultas Ekonomi. Napasnya memburu, keringat mulai membasahi punggung meski udara pagi masih sejuk.

Dia sampai di depan ruang 301 tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Dari luar, dia bisa mendengar suara Alden yang sudah mulai membuka kelas dengan kalimat pembuka yang tegas seperti biasa.

Kirana menarik napas dalam dalam, mencoba menormalkan detak jantung dan napas yang masih tersengal, lalu mendorong pintu perlahan, berharap kali ini tidak ada yang menoleh.

Harapan itu sia sia. Pintu berderit sedikit, dan lagi lagi semua mata di kelas mengarah padanya, termasuk sepasang mata tajam yang berdiri di depan papan tulis.

Alden menghentikan kalimatnya di tengah jalan, menatap Kirana yang berdiri kaku di ambang pintu, napas masih tersengal dan rambut sedikit berantakan karena tergesa gesa.

"Kamu lagi," katanya, nadanya datar tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini, tidak setajam kemarin.

"Maaf, Pak. Air di kos saya mati, terus susah dapat ojek," jelas Kirana buru buru, suaranya masih terengah. Dia meremas tali tas ranselnya, berusaha menahan rasa malu yang mulai menjalar sampai ke telinga.

Beberapa mahasiswa mulai berbisik bisik, ada yang menahan tawa kecil melihat Kirana yang datang persis di detik terakhir dengan penampilan seadanya.

Alden melirik jam tangannya, lalu menatap Kirana lagi. "Tepat pukul tujuh. Masih dalam batas toleransi."

Jawaban itu membuat Kirana mendongak kaget. Dia sudah siap mental menerima teguran, bahkan mungkin disuruh keluar kelas seperti cerita cerita yang dia dengar dari Tesa kemarin. Tapi Alden hanya menunjuk kursi kosong terdekat, isyarat supaya Kirana segera duduk tanpa perlu berdiri lebih lama di depan kelas.

"Duduk," katanya singkat, lalu kembali melanjutkan penjelasan seolah tidak terjadi apa apa.

Kirana buru buru duduk di kursi terdekat, jantungnya masih berdebar kencang, kali ini bercampur antara lega dan bingung. Dia melirik ke arah Tesa yang duduk beberapa bangku di depannya, memberi tatapan heran seolah bertanya kenapa Pak Alden bisa sebaik itu hari ini.

Tesa hanya mengangkat bahu, sama bingungnya.

Sepanjang kelas berlangsung, Kirana berusaha fokus mencatat, meski sesekali pikirannya melayang memikirkan kejadian tadi. Kenapa Pak Alden tidak menegurnya seperti kemarin? Apa karena dia datang tepat pukul tujuh, bukan lewat beberapa menit? Atau ada alasan lain yang tidak dia mengerti?

Di depan kelas, Alden melanjutkan materinya dengan suara tegas seperti biasa, tapi sesekali matanya secara tidak sadar melirik ke arah barisan belakang, tempat Kirana duduk sambil mencatat dengan rambut yang masih sedikit berantakan.

Dia menepis pikiran itu cepat cepat, kembali fokus pada slide presentasi di layar. Tidak ada alasan untuk memperhatikan satu mahasiswa secara khusus, apalagi hanya karena penampilannya yang berantakan pagi ini.

Menjelang akhir kelas, Alden memberikan tugas kelompok kecil untuk dikumpulkan minggu depan. Dia membagi kelas menjadi beberapa kelompok berdasarkan nomor urut absen, tanpa memberi kesempatan mahasiswa memilih sendiri.

"Kelompok akan saya umumkan lewat portal akademik sore ini," katanya sambil mengumpulkan berkas di meja. "Pastikan cek nama masing masing."

Kelas mulai bubar satu per satu, suara kursi bergeser dan obrolan riuh memenuhi ruangan. Kirana merapikan buku catatannya, masih memikirkan kejadian pagi tadi.

"Eh, tumben Pak Alden nggak galak sama kamu," bisik Tesa begitu mereka berjalan keluar kelas bersama.

"Iya, aku juga heran," jawab Kirana jujur, mengernyitkan dahi. "Padahal kemarin disindir abis abisan cuma gara gara telat semenit."

"Mungkin kamu beruntung aja," Tesa terkekeh, menyenggol lengan Kirana pelan.

"Atau jangan jangan dia mulai lunak sama kamu."

"Ih, ngasal ah," Kirana mendorong bahu Tesa main main, meski diam diam ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bukan sesuatu yang buruk, tapi juga bukan sesuatu yang bisa dia jelaskan dengan mudah.

Sepanjang perjalanan menuju kelas berikutnya, Kirana beberapa kali menoleh ke belakang tanpa sadar, seolah berharap melihat sosok Alden lewat di koridor yang sama. Ketika dia menyadari kebiasaan aneh itu, dia buru buru menggeleng, mencoba fokus pada jadwal kuliah berikutnya.

Sore harinya, ketika Kirana membuka portal akademik untuk mengecek pembagian kelompok tugas, matanya membelalak melihat satu nama yang tercantum sebagai dosen pembimbing kelompok nomor tiga, kelompok yang kebetulan berisi namanya.

Alden Rafael Wicaksono.

Kirana menatap layar ponselnya lama, jantungnya kembali berdebar dengan ritme yang sama anehnya seperti kemarin sore di depan ruang dosen. Dia tidak tahu harus merasa senang, panik, atau keduanya sekaligus.

Yang dia tahu pasti, minggu minggu ke depan sepertinya tidak akan sesederhana yang dia bayangkan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!