Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
Keheningan yang menyelimuti pantai selatan Desa Syrup terasa begitu pekat hingga nyaris mencekik paru-paru. Suara deburan ombak dan desir angin malam seolah membeku, ditekan oleh sebuah eksistensi yang melampaui nalar manusia biasa di lautan East Blue.
Di atas perahu kecil berbentuk peti mati yang diterangi lilin-lilin hijau redup, Dracule Mihawk berdiri dengan postur santai. Mantel panjangnya berkibar pelan. Salib hitam raksasa—Kokuto: Yoru, salah satu dari dua belas pedang terkuat di dunia (Saijo O Wazamono)—tersarung diam di punggungnya. Mata elangnya yang berwarna kuning keemasan memancarkan ketenangan absolut, namun sekaligus menyimpan hawa pedang yang bisa membelah samudera.
Di atas dahan pohon pinus yang rimbun, Muzan Kibutsi mencengkeram kulit kayu di bawahnya. Jantungnya berdetak dalam ritme yang cepat dan terkendali. Keringat dingin merembes dari pelipisnya.
Muzan adalah jiwa orang dewasa yang rasional, didukung oleh 636 Poin Kekuatan Mental yang membuatnya mampu memproses informasi layaknya superkomputer. Namun, ketika berhadapan langsung dengan manifestasi kekuatan puncak dari dunia One Piece, segala kalkulasi matematisnya seolah runtuh.
Tekanan Haki-nya... bahkan tanpa dia berniat melepaskannya secara aktif, udara di sekitarnya terasa seberat timah, batin Muzan. Sistem memprediksi peluang keselamatanku hanya dua belas persen jika kami bertarung sekarang. Aku tidak akan membiarkan boneka-bonekaku hancur konyol di sini.
Muzan mengirimkan perintah mental absolut kepada Gaara dan Giyu: "Jangan bergerak. Jangan tunjukkan niat permusuhan."
Lalu, ia berbicara secara telepati kepada Roy Mustang, yang kini memiliki kesadaran otonom berkat Batu Kebangkitan Jiwa. "Mustang. Tahan arogansimu. Pria di perahu itu bukan musuh yang bisa kau bakar dengan satu jentikan jari. Turunkan kewaspadaanmu, tapi bersiaplah untuk segala kemungkinan."
Di pantai, Mustang yang mendengar suara Muzan di kepalanya hanya menyipitkan mata sedikit, namun ia menurut. Ia melipat tangannya ke belakang punggung, postur istirahat di tempat ala militer, wajahnya sedatar pualam.
Namun, di saat Muzan memilih jalan mundur yang taktis, seorang pemuda berambut hijau di pantai justru melangkah maju.
Roronoa Zoro.
Langkah sepatu bot Zoro berderak di atas pasir. Tangan kirinya mencengkeram gagang Wado Ichimonji. Napasnya memburu, matanya membelalak dipenuhi campuran antara ketakutan yang mendalam dan euforia yang tak terbendung.
"Tidak salah lagi..." suara Zoro bergetar, bergema di keheningan malam. "Aku melaut hanya untuk mencari pria itu..."
Zoro mencabut pedangnya, mengikatkan bandana hitam ke kepalanya. Niat membunuh dan tekad bajanya meledak seketika, mengusir tekanan Mihawk di sekitarnya.
"Hei, kau!" teriak Zoro, menunjuk Mihawk dengan ujung pedangnya. "Dracule Mihawk! Aku tidak peduli kau sedang mencari siapa. Tapi karena kau ada di sini... bertarunglah denganku! Aku akan mengambil gelar Pendekar Pedang Terkuat di Dunia darimu!"
Di atas pohon, Muzan menghela napas lega. Syukurlah. Garis takdir Zoro masih berfungsi. Mihawk akan mengalihkan perhatiannya pada Zoro, memberikan waktu bagi kami untuk mundur secara perlahan.
Mihawk menolehkan pandangannya dari kelompok boneka Muzan, menatap Zoro dengan sebelah mata. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
"Pendekar Pedang Terkuat?" Mihawk mengulangi dengan suara bariton yang datar dan menggema. "Bukan gelar yang ringan, Nak. Tapi melihatmu gemetar saat menantangku... itu antara kau memiliki keberanian yang bodoh, atau kau tidak tahu betapa lebarnya jarak di antara kita."
Mihawk perlahan melompat dari perahunya, mendarat di atas pasir dengan sangat ringan. Alih-alih mencabut pedang raksasa di punggungnya, Mihawk justru merogoh kalung salib kecil di dadanya dan menarik sebuah pisau kecil seukuran jari telunjuk.
"Apa yang kau lakukan?!" Zoro menggertakkan giginya karena merasa terhina.
"Aku bukan tipe monster bodoh yang berburu kelinci menggunakan meriam," jawab Mihawk tenang, memutar pisau kecil itu di tangannya. "Sayangnya, ini adalah pedang terkecil yang kumiliki. Menyeranglah."
Zoro menggeram marah. Ia berlari menerjang Mihawk, mencabut dua pedang lainnya, dan menyilangkan ketiganya dalam serangan andalannya.
"SANTORYU: ONI GIRI!"
Zoro melesat bagaikan iblis yang mengamuk. Namun, di mata Muzan yang memantau melalui Byakugan Neji dari kejauhan, pertarungan itu layaknya orang dewasa yang sedang menahan serangan balita.
Mihawk bahkan tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Dengan gerakan yang sangat minimal, ia menempelkan ujung pisau kecilnya tepat ke titik pertemuan ketiga bilah pedang Zoro.
TRANG!
Dunia seolah berhenti. Serangan terkuat Zoro, yang momentumnya bisa membelah batu karang, terhenti seketika hanya oleh dorongan satu lengan dari seorang pria yang menggunakan pisau makan. Zoro terbelalak, urat-urat di lengannya menonjol, namun ia tidak bisa mendorong maju satu milimeter pun.
"Kekuatan fisik yang tidak masuk akal," gumam Muzan dari atas pohon, menganalisis benturan itu. "Mihawk tidak menggunakan Haki Persenjataan yang terlihat. Dia hanya menggunakan kekuatan murni dan teknik parry yang absolut sempurna. Jarak antara East Blue dan Grand Line benar-benar seperti langit dan bumi."
Di pantai, pertarungan itu berlangsung singkat dan tragis. Zoro terus melancarkan tebasan demi tebasan dengan membabi buta, namun Mihawk menangkis semuanya dengan mudah. Pisau kecil itu akhirnya menembus pertahanan Zoro, menusuk dada kiri sang pendekar pedang berambut hijau itu, nyaris mengenai jantungnya.
Darah menetes ke atas pasir.
"Kenapa kau tidak mundur?" tanya Mihawk, matanya sedikit menyiratkan keterkejutan. "Satu langkah mundur, dan jantungmu akan selamat."
Zoro terengah-engah, senyum tipis terukir di bibirnya yang berdarah. "Aku tidak tahu... Tapi rasanya, jika aku mundur satu langkah saja sekarang... semua sumpah dan janji yang telah kubuat hingga saat ini akan hancur berantakan. Aku tidak akan pernah bisa kembali ke tempat ini lagi."
Mata elang Mihawk berbinar tipis. "Ya. Itu namanya kekalahan. Kematian."
"Kalau begitu... mati rasanya lebih baik daripada kalah," jawab Zoro dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Mihawk menarik pisau kecilnya. Untuk pertama kalinya, ia menatap pemuda di depannya bukan sebagai serangga, melainkan sebagai seorang pejuang.
"Sebutkan namamu, Pendekar."
"Roronoa Zoro!" teriak Zoro, melempar kedua pedang standarnya ke udara, menyatukannya dengan Wado Ichimonji dalam satu putaran teknik pamungkas: Sanzen Sekai (Tiga Ribu Dunia).
Mihawk tersenyum tipis. Ia akhirnya mencabut salib hitam raksasa dari punggungnya. "Akan kuingat namamu. Sudah lama sejak aku melihat pria sekuat dirimu. Sebagai tanda penghormatan bagi seorang pendekar pedang, aku akan menenggelamkanmu dengan pedang hitam terkuat ini!"
Kedua pendekar itu saling menerjang.
Sebuah kilatan tebasan terjadi.
Dua pedang katana standar milik Zoro hancur berkeping-keping. Darah menyembur dari bahunya. Zoro memutar tubuhnya, menghadap Mihawk dengan tangan terentang lebar, membiarkan dadanya terbuka tanpa pertahanan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mihawk.
"Luka di punggung... adalah aib yang tak termaafkan bagi seorang pendekar pedang," ucap Zoro dengan senyum bangga.
"Bagus sekali," puji Mihawk pelan.
SRAAATTT!
Tebasan diagonal yang sangat masif membelah dada Zoro. Darah menyembur deras. Tubuh Zoro terlempar ke belakang, jatuh menabrak ombak perairan dangkal.
"ZOROOOOOOO!!!" jeritan pilu Luffy meledak, suaranya dipenuhi kemarahan dan kesedihan yang merobek malam. Pemuda karet itu melesat maju, memanjangkan lengannya untuk menangkap tubuh Zoro sebelum tenggelam, sementara Usopp dan Sanji berlari panik mendekati mereka.
Mihawk menyarungkan kembali pedang hitamnya. Ia menatap kelompok Luffy dengan tenang. "Tenanglah, dia belum mati. Untuk saat ini. Biarkan dia menemukan jalannya."
Luffy memeluk tubuh Zoro yang bersimbah darah. Zoro mengangkat Wado Ichimonji ke udara dengan tangannya yang bergetar hebat, air mata mengalir dari pelipisnya.
"L-Luffy... kau bisa mendengarku?" rintih Zoro. "Maafkan aku... membuatmu cemas... Jika aku... jika aku tidak menjadi pendekar pedang terkuat... kau pasti akan malu, kan?! Aku... AKU TIDAK AKAN KALAH LAGI! SAMPAI AKU MENGALAHKANNYA DAN MENJADI YANG TERKUAT, AKU TIDAK AKAN PERNAH KALAH LAGI! KAU MENDENGARKU, RAJA BAJAK LAUT?!"
Luffy tersenyum lebar menahan tangisnya. "Ya!"
Di atas dahan pohon, Muzan Kibutsi menghela napas. Adegan yang sangat emosional. Ia selalu menyukai adegan ini saat membaca manganya. Namun, ini bukanlah saatnya untuk menjadi penonton pasif.
Drama utama sudah selesai. Mihawk seharusnya pergi sekarang, batin Muzan.
Ia memberikan instruksi diam-diam kepada Gaara. Pasir merayap di bawah tanah, membungkus tubuh Don Krieg yang masih pingsan dan menariknya perlahan masuk ke dalam stasis Inventory tanpa menarik perhatian siapapun di tengah kepanikan tersebut. Saldo 17 Juta Belly telah diamankan sepenuhnya.
Namun, prediksi Muzan meleset.
Alih-alih kembali ke perahu peti matinya, Dracule Mihawk perlahan memutar tubuhnya yang tinggi. Mantelnya berkibar. Mata kuningnya yang tajam kini kembali menatap lurus ke arah tiga boneka Muzan yang berdiri berjejer di pinggir hutan: Roy Mustang, Giyu Tomioka, dan Gaara.
"Sekarang," suara Mihawk memotong keheningan haru di pantai, membuat bulu kuduk Sanji dan Usopp seketika berdiri. "Hiburan pertama sudah selesai. Tapi rasa penasaranku pada kalian bertiga belum terbayarkan."
Mihawk mencabut kembali Kokuto: Yoru dari punggungnya. Pedang hitam itu memancarkan kilau kehijauan yang mengerikan di bawah cahaya bulan.
"Kemampuan mengendalikan api dan pasir dari udara kosong... serta ilmu pedang yang tidak biasa. Sungguh disayangkan jika aku pulang tanpa menguji batas kekuatan kalian. Tunjukkan padaku... apakah kekuatan aneh kalian mampu menahan tebasan dari dunia yang sesungguhnya."
Mata Muzan Kibutsi melebar di dalam kegelapan tudungnya.
Sial! Dia ingin menguji kekuatan kami!
Keringat dingin membasahi punggung Muzan. Ia tidak punya pilihan. Jika ia tidak memerintahkan bonekanya untuk bertahan, serangan Mihawk akan menghancurkan mereka dan membelah hutan ini—beserta tubuh aslinya—menjadi dua.
"Sistem! Alokasikan 100% komputasi mental ke mode pertahanan absolut!" perintah Muzan dengan panik dan determinasi tinggi.
Di pantai, Mihawk mengayunkan pedang hitam raksasanya dengan gerakan yang terlihat sangat kasual, nyaris tanpa tenaga. Tidak ada teriakan nama jurus.
Namun, efek dari ayunan itu adalah bencana.
Sebuah tebasan energi pedang (Flying Slash) yang sangat masif, setinggi sepuluh meter dan memancarkan cahaya hijau berpendar, melesat dari bilah Yoru. Udara di pantai terkoyak, pasir terbelah menciptakan parit dalam di sepanjang jalur lintasan tebasan tersebut. Suara gemuruhnya menyerupai kereta api baja yang melaju dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung untuk membelah Mustang, Giyu, dan Gaara menjadi ketiadaan.
Di dalam ruang mentalnya, 636 Poin Mental Muzan terbakar dalam kecepatan komputasi ekstrem. Ia mengambil kendali mikro penuh atas Giyu dan Gaara, sementara membiarkan Mustang bereaksi secara sinkron berkat kebangkitan jiwanya.
"Gaara! Pertahanan Penuh!" teriak Muzan melalui telepati.
Mata Gaara yang hampa menyala tajam. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke depan. Tidak hanya pasir dari dalam labunya yang meluncur keluar, namun jutaan ton pasir dari pantai dan mineral tanah di sekitarnya tersedot naik dengan paksa, membentuk dinding setebal lima meter yang dilapis enam kali lipat di hadapan mereka.
"Suna no Tate: Ryuusa Bakuryu (Perisai Pasir: Air Terjun Pasir Beriak)!"
"Giyu!"
Sang Hashira Air melesat ke depan, melompat ke belakang perisai pasir Gaara. Giyu menghunus pedang Nichirin-nya, mengambil napas terpanjang yang pernah ia hirup, mengubah paru-parunya menjadi kompresor energi absolut.
"Pernapasan Air, Bentuk Kesebelas: Ketenangan Mati (Lull)... Dikombinasikan dengan Bentuk Kedua: Roda Air (Water Wheel)!"
Giyu memutar pedangnya dengan kecepatan yang sulit dipahami mata, menciptakan kubah air yang kental dan berat di belakang perisai pasir Gaara. Ia berniat menetralkan sisa-sisa momentum kinetik tebasan yang berhasil menembus pasir.
Dan di saat yang sama, Roy Mustang (secara mandiri namun memahami kalkulasi taktis Muzan) melangkah maju, berada di garis terdepan tepat di depan perisai Gaara.
"Serangan yang brutal," desis Mustang, senyum arogannya hilang, digantikan oleh keseriusan militer. "Jika kau bermain dengan tekanan, maka aku akan merusaknya dengan kehampaan!"
Mustang menjentikkan jarinya ke arah udara kosong yang dilewati oleh tebasan hijau raksasa Mihawk. Ia tidak menyulut api. Ia menggunakan Alkimia untuk menyedot keluar semua molekul oksigen di sepanjang jalur tebasan tersebut secara instan, menciptakan sebuah ruang hampa udara sesaat yang sangat tidak stabil.
SNAP!
BHOOOOOOMMMMM!!!!!
Tebasan terbang hijau raksasa milik Mihawk menghantam kombinasi pertahanan tiga boneka kuat tersebut.
Benturan yang terjadi tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sebuah ledakan cahaya dan gelombang kejut yang sangat luar biasa menyapu seluruh pantai Desa Syrup.
Ledakan hampa udara Mustang meledak lebih dulu, mendistorsi aliran tekanan udara dari tebasan Mihawk, membuatnya bergetar dan sedikit kehilangan kestabilannya.
Lalu, tebasan yang telah sedikit melemah itu menghantam enam lapis perisai pasir Gaara. Pasir-pasir padat itu terbelah, menguap menjadi kristal kaca akibat panas gesekan energi yang luar biasa. Lapis demi lapis dinding pasir hancur, namun setiap lapis berhasil menguras momentum tebasan sang Mata Elang.
Tebasan itu menembus lapisan terakhir pasir Gaara. Sisa energi hijaunya terus melaju, mengarah ke dada mereka.
Di titik itulah, Giyu Tomioka yang berada dalam posisi Lull memutar Roda Air-nya.
TRANGGGGG!!!!
Bilah Nichirin Giyu membentur sisa tebasan Yoru. Lengan Giyu bergetar hebat hingga urat-urat nadinya nyaris pecah. Ilusi air raksasa mengamuk, mencoba mendinginkan energi tebasan tersebut.
Hantaman itu berlangsung selama dua detik penuh yang terasa seperti keabadian.
Lalu, tebasan itu terpecah menjadi dua aliran udara tajam yang melesat melewati sisi kanan dan kiri kelompok boneka Muzan.
SRAATT! KRAAAK!
Di belakang mereka, ratusan meter pepohonan hutan pinus terbelah menjadi dua. Bukit di belakang desa bahkan memiliki sayatan dangkal yang membentang jauh ke atas. Hembusan angin badai meledak, menerbangkan Sanji, Usopp, Nami, dan Luffy (yang memeluk Zoro) terpelanting beberapa meter ke udara.
Cahaya menyilaukan mereda. Debu dan pasir beterbangan di udara layaknya kabut tebal.
Pantai itu hancur berantakan. Parit-parit dalam menganga di mana-mana.
Mihawk berdiri dengan tenang, menurunkan Yoru-nya. Mata kuningnya menatap lekat-lekat ke arah kepulan debu.
Angin malam perlahan menyapu debu pasir tersebut.
Di sana, di antara pasir yang telah meleleh menjadi kaca bergerigi, ketiga boneka Muzan masih berdiri.
Gaara menundukkan kepalanya, napasnya terengah-engah, kendi labunya retak di bagian atas.
Giyu berdiri dengan satu lutut ditekuk, pedangnya menancap di tanah untuk menahan keseimbangan, lengannya berdarah karena tekanan balik.
Roy Mustang berdiri dengan dada naik-turun dengan cepat. Mantel militernya yang elegan telah robek dan hangus di bagian bahu, wajahnya tergores oleh serpihan pasir kaca.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang jatuh. Mereka berhasil menahan tebasan kasual dari Pendekar Pedang Terkuat di Dunia.
Di atas pohon, Muzan nyaris pingsan. Napasnya memburu, sakit kepala yang luar biasa berdenyut di belakang matanya. Menggunakan komputasi ganda maksimum untuk melawan kekuatan skala mitos benar-benar menyiksa sarafnya. Namun, ia selamat. Rencananya berhasil.
Mihawk melebarkan matanya sedikit, lalu sebuah senyuman tipis dan mematikan terukir di wajah aristokratnya.
"Luar biasa," puji Mihawk tulus. Suaranya bergema di tengah keheningan. "Kalian berhasil menahannya. Manipulasi kekosongan udara, pertahanan mineral, dan teknik mengalirkan energi tebasan... Kerja sama yang sempurna. Untuk kelas East Blue, ini adalah keajaiban."
Mihawk mengangkat pedang Yoru, lalu menyarungkannya kembali ke punggungnya dengan bunyi logam bergesekan yang berat. Ia sudah cukup bermain-main. Tujuannya untuk menghilangkan kebosanan telah tercapai dengan sangat memuaskan.
Mihawk melangkah kembali menuju perahu peti matinya, menaiki perahu tersebut tanpa melihat ke belakang.
"Kalian tidak mengibarkan bendera bajak laut," ucap Mihawk dari atas perahunya, membelakangi mereka. "Sebenarnya, siapa kalian? Di bawah nama apa kalian bergerak di lautan ini?"
Di tengah deru napasnya yang berat, Roy Mustang yang memiliki otonomi mandiri, perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Ia mengusap darah dari pelipisnya. Mustang tahu, ini adalah momen untuk mendeklarasikan eksistensi mereka ke dunia, mewakili ambisi Tuannya yang bersembunyi dalam kegelapan.
Mustang menyunggingkan senyum arogan militernya. Ia memandang punggung sang Mata Elang tanpa rasa takut.
"Kami tidak berlayar di bawah bendera. Kami bukanlah bajak laut yang mencari kebebasan fana, bukan pula Angkatan Laut yang terikat oleh aturan usang," suara Mustang bergema kuat, tegas, dan dipenuhi wibawa absolut yang dikirimkan melalui otorisasi jiwa yang dibangkitkan Muzan.
Mustang melebarkan kedua lengannya. "Kami adalah perwujudan dari bayangan yang membersihkan kotoran dunia ini. Kami berdiri di mana pun keadilan dan takdir gagal menyelesaikan tugasnya. Kau boleh memanggil kami..."
Muzan, di atas pohon, membisikkan satu nama yang akan menjadi legenda di telinga Mustang.
Mustang menyeringai lebar.
"...Kami adalah Erebus."
Mihawk duduk di kursinya, menyalakan lilin-lilin hijau perahunya. Ia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat. "Erebus... Dewa Kegelapan, ya. Nama yang cukup angkuh. Aku akan menantikan kedatangan kalian di lautan Grand Line yang sebenarnya. Jangan biarkan kekuatan kalian layu di lautan lemah ini."
Perahu peti mati itu perlahan berputar, melesat membelah ombak tanpa dayung, menghilang ke dalam kegelapan lautan malam, meninggalkan East Blue dengan legenda baru.
Di pantai, Sanji, Luffy, Nami, dan Usopp masih mematung. Otak mereka tidak mampu memproses rentetan peristiwa malam ini. Mulai dari invasi Kuro, diselamatkan oleh tiga pahlawan misterius, dikalahkan oleh kedatangan Mihawk, dan diakhiri dengan deklarasi berdirinya sebuah faksi baru yang sangat menakutkan: Erebus.
"Erebus..." bisik Sanji, menelan ludah.
Di atas dahan pohon, Muzan Kibutsi merosot duduk, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada batang pohon ek. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Jantungnya masih berdegup kencang, campuran antara adrenalin, teror, dan kebanggaan yang ekstrem.
"Kita selamat," bisik Muzan sambil tersenyum lebar. "Dan kita baru saja meletakkan nama kita di ingatan salah satu penguasa dunia ini."
Muzan bersiap untuk memanggil kembali ketiga bonekanya yang kelelahan dan pergi meninggalkan pulau. Misinya di Desa Syrup telah usai. Tubuh Kuro dan Don Krieg telah aman di dalam inventarisnya. Total 33 Juta Belly menantinya untuk diklaim.
Namun, sebelum Muzan bisa memerintahkan Mustang untuk menghilang, sebuah suara melengking memecah keheningan yang tersisa di pantai.
Puru puru puru puru... Puru puru puru puru...
Suara itu berasal dari sebuah kerang komunikasi—Den Den Mushi.
Semua orang di pantai mencari sumber suara tersebut. Arahnya berasal dari gundukan pasir yang ditinggalkan oleh Gaara, tepat di mana tubuh Don Krieg menghilang sebelumnya. Rupanya, saat Gaara menyedot Krieg ke dalam Inventory, sebuah Den Den Mushi mini terjatuh dari saku mantel Krieg dan tertinggal di pasir.
Sanji, yang berada paling dekat, berjalan ragu-ragu dan memungut kerang kecil itu. Wajah cangkang Den Den Mushi itu berwarna perak pudar, dengan antena yang terus bergetar.
Puru puru puru puru...
Sanji melirik ke arah kelompok Mustang yang masih terdiam, lalu dengan rasa penasaran, koki itu menekan tombol penerima di tempurung siput tersebut.
Clack.
Wajah siput itu seketika berubah. Matanya menyipit dengan kejam, bibirnya ditarik membentuk seringai bergigi hiu, dan hidungnya memanjang tajam.
"Oi, Krieg, kau bajingan lambat," sebuah suara berat, serak, dan penuh dengan arogansi yang berbeda terdengar dari siput tersebut. "Ini aku. Arlong."
Nami yang mendengarnya dari kejauhan, seketika membeku. Seluruh darah di wajahnya menguap, tubuhnya gemetar hebat hingga ia jatuh berlutut di pasir.
"A-Arlong..." bisik Nami dengan nada teror yang menghancurkan jiwanya.
Di atas pohon, mata Muzan menyipit tajam, sakit kepalanya menguap digantikan oleh intrik baru.
"Kau berutang padaku, Krieg," lanjut suara Arlong dari Den Den Mushi dengan nada mengancam. "Tawaran aliansi kita untuk membagi wilayah East Blue masih berlaku. Jika kau sudah mendapatkan armada baru yang kau bicarakan, datanglah ke Arlong Park dalam seminggu. Kalau tidak, aku akan menenggelamkanmu sendiri. Cih, manusia rendahan."
Clack.
Sambungan diputus.
Sanji memegang Den Den Mushi yang telah kembali ke bentuk aslinya, menatap teman-teman barunya dengan bingung. "Siapa Arlong?"
Muzan Kibutsi tersenyum dingin dalam kegelapan. Sang Dalang perlahan berdiri.
"Arlong the Saw. Nilai buronan dua puluh juta Belly. Bajak laut terkuat di East Blue." Muzan menatap ke arah lautan lepas menuju wilayah Conomi Islands. "Sepertinya, Erebus harus memungut satu keping emas terakhir sebelum meninggalkan lautan timur ini."