bersatu demi keinginan orang tua yang ingin menjodohkan anaknya,demi keperntingan bisnis dan pertemanan,yang dimana sepasang kekasih tersebut menerima keinginan orang tua mereka,tapi dengan awal yang berat akhirnya benih cinta akhirnya tumbuh di hati mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Witan Alfariski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Hari ini, adalah hari pertama Lisa masuk kesekolah dengan setatus yang sama, namun dengan kelas yang berbeda.
Lisa pergi kesekolah diantar oleh supir pribadi keluarganya, setelah menempuh jarak lumayan jauh, akhirnya lisa sampai disekolahnya, seperti biasa gadis itu pasti akan terlambat lagi, sama seperti sewaktu dia masih kelas X dulu
Lisa turun dari mobilnya dan berjalan menuju gerbang sekolah yang telah dijaga oleh satpam sekolah, setelah gadis itu bernegosiasi akhirnya diberi izin masuk oleh satpam, berhubung hari ini dia hanya telat beberapa menit saja, dari waktu yang telah di tetapkan.
Gadis itu berjalan dengan gaya santainya, meskipun dia tau datang dalam keadaan terlambat lagi kali ini,dia berjalan ditengah-tengah lorong sekolah yang sepi, karena sekarang adalah jam appel pagi di lapangan.
Prokk... prokk...
Suara tepukkan tangan dari seseorang, tepat dibelakangnya.
"Lisa Wijaya," ujar orang tersebut menyebut namanya, dengan nada mengejek.
"Gadis pembuat onar di SMA NEGERI HARAPAN," sambung orang tersebut.
Gadis hanya diam tak menanggapi perkataan orang tersebut, lalu dia bergegas untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya tanpa memperdulikan orang tersebut, namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh orang dibelakangnya tersebut.
"Mau kemana loe, tau kan loe masuk terlambat lagi," ucap orang tersebut dengan sinis.
"Bukan urusan loe, lepasin tangan gue," sahut gadis itu dengan acuh, sambil menarik tangannya dari genggaman orang tersebut.
Ya, lelaki tersebut adalah Rendy, seorang wakil ketua OSIS yang juga cukup populer disekolah Harapan ini, dia hampir sama dengan sosok sang ketua OSIS Roy Atmaja, memiliki karakter dingin namun penuh pesona.
Hari itu Rendy yang sedang bertugas berkeliling koridor mencari siswa dan siswi yang terlambat, tidak sengaja melihat Lisa yang tengah berjalan dengan santainya di lorong-lorong kelas.
"Loe itu gak ada bosannya ya, datang terlambat, buat masalah hampir tiap hari kaya gini terus. Sebenarnya loe itu cewek beneran bukan sih," Ujar Rendy, yang mulai jengah dengan sikap Lisa yang tidak pernah berubah.
Gadis itu hanya berdiri santai, dengan arah pandangan kearah lain.
"Ikut gue," Perintah Rendy sambil kembali menarik tangan Lisa.
"Engga, gue gak mau," sahut Lisa ketus.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka, datanglah seorang lelaki berpostur tubuh sedang, berhidung mancung dan sangat manis, sambil mengucah gula-gula karetnya, dan membawa sebatang kayu kecil di tangannya.
"Ada apa sih Ren? masih pagi nih loe udah marah-marah aja, ini cewek siapa lagi," tanya Arya kepada Rendy.
Royadalah salah satu dari anggota osis di sekolah tersebut.
"Loe lihat aja sendiri, apa yang buat gue kesel sekarang," jawab Rendy, sambil melirik sinis kearah Lisa.
"Aduh dede Lisa,bisa gak sih sehari aja loe gak usah berurusan sama kita," ucap Arya malas.
"Buruan loe ikut gue, loe harus dapat hukuman hari ini. Awas loe kabur," ucap Rendy sambil menatap sinis Lisa.
"Engga, kalau gue bilang engga ya engga dong," jawab Lisa penuh penekanan.
Tap..Tap...
Suara langkah sepatu mendekat kearah mereka.
"Ada apa ini," terdengar suara bariton dari seseorang tersebut.
Roy Atmaja, sang ketua OSIS disekolah Harapan tersebut berjalan dengan gaya coold nya kearah mereka, tatapan matanya yang tajam, dan rahang yang kokoh disertai dengan wajah yang sangat tampan terkesan sempurna, dan berkarisma.
"Roy,Nih loe lihat cewek ini, loe taukan siapa dia? bosen gue," jawab Rendy tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Lisa.
Tanpa bertanya lagi,Roy cukup tau bahwa gadis di hadapannya ini, adalah siswi yang terlambat masuk hari ini, oh tidak bukan hanya hari ini, namun hampir setiap hari.
Roy memandang lekat wajah Lisa yang tampak terlihat santai itu, sama sekali tidak ada raut ketakutan diwajahnya.
"Ikut gue," ucap Roy datar, lalu membalikan badannya dan berjalan kearah menuju ruang OSIS.
Seketika lamunan Lisa buyar, ketika mendengan suara bariton yang dingin, dan menusuk dari sang ketua OSIS dihadapannya itu.
Lisa Masih mematung di tempatnya, Roy yang telah sedikit menjauh dari mereka, harus kembali berbalik arah dan menatap Lisa yang masih berdiri disana, dengan langkah gontai dan tatapan tajamnya,roy berjalan kembali mendekat kearah mereka.
Kini Roy tengah berdiri tepat di hadapan Lisa, masih dengan pembawaan yang tenang tanpa ada amarah terpancar di wajar sang ketua OSIS tersebut.
Jangan panggil Lisa kalau dia takut dengan lelaki yang tengah berdiri di hadapannya ini.
"Mau jalan sendiri atau perlu paksaan," tanya laki laki itu, dengan suara santai namun berkesan datar.
"Gue engga mau berurusan sama kalian," jawab Lisa dengan tatapan malas.
"Oke."
"Ren, Ya, bawa dia keruangan OSIS dan kasih dia hukuman yang setimpal." sambung Roy sambil berjalan pergi dari tempat itu.
"Oke siap" sahut kedua sahabatnya bersamaan.
"Ayo ikut gue, cepetan." ucap Rendy sambil kembali menarik tangan Lisa, diikuti Arya yang memukul-mukul kaki Lisa, menggunakan kayu yang dia pegang tadi.
"Lepasin, gue bisa jalan sendiri dan loe juga ngapain pake bawa kayu segala sih, gue ini manusia bukan hewan ternak," sahut Lisa sambil menarik tangannya, dan menatap tajam kepada kedua orang yang ada didepan dan belakang nya.
"Heran gue, dia yang salah ko jadi kita yang dimarahin sama dia," kata arya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Diruang OSIS, Lisa diberi hukuman oleh Rendy untuk membersihkan gudang sekolah semasa jam istirahat nanti.
Setelah dari ruang OSIS, lisa berbegas masuk kedalam kelasnya, beruntung guru yang akan mengajar pelajaran hari ini belum masuk kekelasnya.
"Huuuuh," dengus Lisa sambil menyimpan tasnya diatas meja.
"Loe kenapa Lis, jangan bilang loe cari masalah dan berurusan lagi sama pengurus OSIS,?" tanya Wanda sabahat Lisa.
Sedangkan Lisa yang di tanya hanya diam sembari memainkan phonselnya.
"Ayo jawab Lis," desak Sinta, yang juga merupakan sahabatnya.
"Biasalah," jawab Lisa santai, tak lama kemudian, guru pun masuk keruang kelas untuk mengajar.
Teng...teng..teng...
Saat jam istirahat tiba, Lisa langsung menuju kearah gudang, dimana dia harus menjalankan hukumannya dari Rendy.
Tak lama setelah Lisa selesai membersihkan gudang tersebut, terdengar suara langkah kaki yang lumayan terdengar banyak, lebih pantasnya langkah kaki untuk beberapa orang.
"Dasar cewek pembuat onar, emang enak dapat hukuman." ujar orang tersebut, dengan nada meremehkan.
Ya, mereka adalah Clara dan gengknya. Clara merupakan salah satu dari anggota OSIS di sekolah tersebut.
Dia memang tidak menyukai Lisa pasalnya gadis itu adalah gadis pembuat masalah, namun memiliki penggemar yang banyak, hampir semua murid laki-laki yang menurut Clara tampan,pasti menyukai Lisa.
"Iya, kasian deh loe," sambung lila salah satu teman Clara.