"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Sisi lain sang Tirani)
Rapat pleno yang menegangkan di lantai teratas gedung Raharja Group akhirnya selesai. Seperti dugaan, Mike Raharja tidak memberikan celah sedikit pun bagi paman-pamannya untuk menjatuhkan posisinya. Dengan presentasi dokumen legalitas yang mutlak dari firma hukum Anita serta laporan audit independen yang bersih, tuduhan penyalahgunaan dana perusahaan berhasil dipatahkan dalam sekejap. Mike justru membalikkan keadaan dengan mengancam akan menuntut balik atas pencemaran nama baik. Keberanian dan ketegasan Alisha yang berdiri anggun di samping Mike sepanjang rapat juga sukses membungkam keraguan dewan komisaris.
Setelah badai di ruang rapat mereda, Mike harus segera menandatangani berkas kelanjutan proyek di ruangan direksi bersama Kevin dan Alvin. Sementara itu, Alisha memilih untuk berjalan menuju kafetaria privat di area *rooftop* gedung untuk mencari udara segar.
"Boleh aku duduk di sini?" sebuah suara feminin yang elegan menginterupsi lamunan Alisha.
Alisha mendongak dan mendapati Anita berdiri di sana, memegang dua cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap hangat. Alisha tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu, Kak Anita. Silakan."
Anita meletakkan satu cangkir di depan Alisha, lalu duduk di kursi seberangnya. Wanita itu menatap Alisha dengan pandangan yang teduh, jauh dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan saat berada di depan media massa.
"Kamu luar biasa tadi di ruang rapat, Alisha," puji Anita tulus, membuka percakapan empat mata mereka. "Aku sempat khawatir kamu akan gugup menghadapi intimidasi Pak Hardi, tapi kamu justru berdiri tegak seperti seorang Ratu Raharja yang sesungguhnya."
Alisha memegang cangkir tehnya untuk menyalurkan rasa hangat ke jemarinya yang masih sedikit gemetar. "Aku hanya tidak ingin melihat Mike disudutkan atas hal-hal baik yang dia lakukan untuk ibuku, Kak. Tapi tetap saja... semua dunia politik korporat ini terasa begitu asing dan menakutkan bagiku."
Anita tersenyum, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku tahu. Dan percayalah, Mike sangat tahu tentang hal itu. Itu sebabnya dia menyembunyikanmu begitu rapi selama empat tahun ini."
Alisha terdiam sejenak, menatap riak air teh di cangkirnya sebelum memberanikan diri menatap mata Anita. "Kak... boleh aku bertanya sesuatu? Bagaimana... bagaimana sosok Mike yang sebenarnya di matamu? Selama empat tahun pernikahan kontrak kalian, apa yang dia lakukan?"
Anita terkekeh rendah, matanya menerawang mengingat masa-masa fiktif pernikahan mereka. "Empat tahun yang hambar, Alisha. Di depan publik, kami adalah pasangan serasi. Namun di balik pintu rumah, kami seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi tagihan listrik. Mike adalah pria yang sangat dingin, kaku, dan gila kerja. Tapi, ada satu pengecualian yang membuatku sadar bahwa pria sekaku dia ternyata memiliki hati."
Anita memajukan tubuhnya, menatap Alisha lekat-lekat. "Apakah kamu tahu apa yang selalu Mike lakukan setiap malam minggu selama empat tahun itu?"
Alisha menggelengkan kepalanya polos.
"Dia selalu menyetir sendirian ke dekat kawasan kampusmu," ungkap Anita dengan senyuman lembut. "Dia akan memarkir mobilnya agak jauh, hanya untuk melihatmu keluar dari gerbang kampus dari kejauhan. Dia memantau dari jauh saat kamu memenangkan lomba karya ilmiah, dia tahu saat kamu menangis karena kehilangan dompet, dan dia tahu pria mana saja yang mencoba mendekatimu—yang tentu saja langsung dia singkirkan secara halus sebelum pria-pria itu sempat mengajakmu berkenalan."
Jantung Alisha berdegup kencang mendengar penuturan Anita. Ada rasa hangat sekaligus tak percaya yang merayap di dadanya.
"Dia... melakukan itu?" bisik Alisha parau.
"Ya. Berkali-kali aku bilang padanya, *'Mike, datangi saja dia. Kamu punya uang, kamu punya segalanya. Ambil dia.'* Tapi kamu tahu apa jawabannya?" Anita menirukan ekspresi serius Mike. "Dia bilang, *'Belum saatnya, Anita. Duniaku saat ini sedang penuh pecahan kaca. Jika aku menariknya sekarang, dia akan terluka. Biarkan dia tumbuh dewasa dengan dunianya yang bersih dulu. Aku akan menunggunya sampai posisiku aman.'*"
Anita mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Alisha dengan erat, menyalurkan keyakinan.
"Alisha, Mike menyebarkan rumor mandul itu bukan hanya untuk mengelabui Kakek Surya, tapi untuk menutup semua pintu perjodohan dari keluarga konglomerat lain. Dia sengaja merusak reputasi kejantanannya sendiri demi menjaga ruang kosong di hidupnya... hanya untukmu. Skenario gila ini dibuat karena dia terlalu takut kehilanganmu, namun terlalu tidak berdaya untuk mendekatimu dengan cara yang normal saat itu."
Air mata Alisha perlahan menetes. Kebenaran yang keluar dari mulut Anita terasa seperti kunci yang membuka sisa-sisa keraguan di hatinya. Pria tirani yang ia anggap kejam itu, ternyata telah menghabiskan ribuan malam dalam kesepian dan kecemasan hanya untuk memastikan keselamatan dirinya.
"Aku menceritakan ini semua bukan untuk membela manipulasinya," lanjut Anita dengan nada serius namun hangat. "Tapi aku ingin kamu tahu seberapa besar pengorbanan dan kesabaran yang dia miliki untukmu. Di dunia yang penuh kepalsuan ini, cinta sekorban itu sangat langka, Alisha."
Anita meremas pelan tangan Alisha sebelum melepaskannya. "Aku berharap, apa pun yang terjadi di masa depan, apa pun badai yang akan menyerang Raharja Group, kamu akan selalu berada di sisi Mike. Percayalah padanya, bahkan saat seluruh dunia meragukannya. Karena bagi Mike, kamu bukan sekadar istri. Kamu adalah satu-satunya alasan kenapa dia masih bertahan tegak di atas takhta yang dingin itu."
Alisha menyeka air matanya, menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan kemantapan hati yang baru. "Terima kasih, Kak Anita. Terima kasih telah menyadarkanku."
Dari balik dinding kaca *rooftop*, Alisha melihat sosok Mike berjalan keluar dari koridor kantor bersama Alvin. Begitu mata elang Mike menangkap keberadaan Alisha, tatapan dingin pria itu seketika melunak, digantikan oleh binar kehangatan yang kini Alisha tahu... hanya diciptakan khusus untuk dirinya seorang. Alisha tersenyum dan melambaikan tangannya, siap untuk melangkah bersama sang suami menghadapi takdir mereka selanjutnya.