Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah di Pelataran Luar
Suasana di dalam ruangan bawah tanah kuno itu perlahan kembali sunyi setelah Lin Ye menarik seluruh aura dominasinya yang menindas.
Jenderal Wu An yang masih berlutut di atas lantai batu perlahan mengubah wujud fisiknya menjadi kepulan kabut hitam yang sangat pekat.
Kabut hitam yang membawa bau anyir darah ribuan tahun itu melesat cepat dan menyusup masuk ke dalam bayangan Lin Ye.
Lin Ye menutup matanya sejenak dan bisa merasakan kehadiran eksistensi kuno yang mengerikan itu kini bersemayam dengan tenang di dalam bayangannya sendiri.
Setiap kali ia menggeser langkah kakinya, bayangan hitam di bawahnya seolah beriak pelan dan memancarkan hawa dingin yang siap mencabik-cabik siapa pun.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah langit-langit gua kristal yang sebelumnya telah hancur berantakan akibat ledakan peti mati.
Melalui lubang besar di langit-langit tersebut, ia bisa melihat tetesan air terjun darah yang terus mengalir deras menutupi mulut gua raksasa ini.
Lin Ye mengambil napas dalam-dalam untuk membiarkan udara beracun yang tersisa di ruangan itu memenuhi paru-parunya untuk terakhir kalinya.
Ia tidak lagi merasakan sesak napas atau rasa sakit yang menyiksa, melainkan sebuah kesegaran aneh yang hanya bisa dirasakan oleh seorang kultivator seni kematian.
Dengan satu tolakan kuat dari kedua kakinya, tubuh Lin Ye melesat ke udara bagaikan sebilah pedang terbang yang menembus kegelapan.
Kecepatan dan kekuatan loncatannya kini berada di tingkat yang sama sekali berbeda setelah ia mencapai tahap keempat Alam Pengumpulan Qi.
Tubuhnya menembus derasnya air terjun darah tanpa kesulitan sedikit pun seolah air itu secara otomatis menyingkir untuk memberikan jalan bagi sang kaisar.
Lin Ye mendarat dengan ringan di atas bongkahan batu karang hitam yang menonjol di dinding tebing Jurang Kematian.
Angin malam yang sedingin es segera menyambutnya dengan lolongan panjang yang terdengar seperti ribuan hantu yang sedang meratapi nasib mereka.
Ia mulai memanjat tebing jurang yang vertikal itu dengan gerakan yang sangat lincah bagaikan seekor laba-laba bayangan di tengah kegelapan malam.
Jari-jarinya yang kini sekeras baja dengan mudah menancap ke dalam dinding tebing batu padat untuk menciptakan pijakan yang kokoh.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, Lin Ye berhasil mencapai bibir tebing dan melompat naik ke atas tanah yang datar.
Ia berdiri tegak di tepi tebing sambil menatap hamparan hutan bambu hitam yang memisahkan Jurang Kematian dengan kompleks bangunan Sekte Pedang Surgawi.
Pakaian compang-campingnya yang dipenuhi noda darah kering berkibar tertiup angin malam, menambah kesan mengerikan pada sosoknya yang kurus.
Layar panel biru transparan dari Sistem Pengendali Hantu tiba-tiba berkedip di depan pandangannya untuk memberikan pemberitahuan baru.
"Sistem mendeteksi inang telah berhasil keluar dari area Jurang Kematian dengan selamat."
"Misi Pembalasan Dendam Tahap Pertama Diaktifkan: Lenyapkan seluruh murid pelataran luar yang pernah menyiksa pemilik tubuh asli."
"Hadiah Misi: Buku Manual Seni Pergerakan Langkah Hantu Bayangan dan Sepuluh Pil Pengumpul Qi Tingkat Menengah."
Ujung bibir Lin Ye melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman kejam yang membuat suhu di sekitarnya anjlok seketika.
Mata hitamnya yang gelap gulita menyipit tajam saat ingatan menyakitkan dari pemilik tubuh asli kembali berputar di dalam kepalanya.
Ia mengingat wajah-wajah arogan yang selalu meludahinya, menendang perutnya saat ia kelaparan, dan menertawakan dantiannya yang hancur.
Rasa sakit dari ingatan itu tidak lagi membuatnya menderita, melainkan berubah menjadi bahan bakar kebencian yang sangat murni di dalam hatinya.
"Malam ini, pelataran luar Sekte Pedang Surgawi akan belajar arti dari sebuah keputusasaan yang sesungguhnya," gumam Lin Ye dengan suara serak yang mematikan.
Ia melangkah maju memasuki hutan bambu hitam yang lebat dengan hawa keberadaan yang sepenuhnya tersembunyi berkat energi Yin di tubuhnya.
Langkahnya meluncur tanpa suara di atas rerumputan kering seolah ia adalah iblis pencabut nyawa yang tidak memiliki berat tubuh fisik sama sekali.
Di kejauhan, sekitar satu mil dari posisinya saat ini, terlihat cahaya lentera temaram dari pos penjagaan malam pelataran luar.
Tiga orang murid pelataran luar yang bertugas jaga malam tampak sedang duduk melingkari sebuah api unggun kecil di tengah udara yang menggigit tulang.
Mereka bertiga mengenakan seragam abu-abu khas pelataran luar dengan pedang panjang yang tersarung rapi di pinggang masing-masing.
Murid berwajah kurus memajukan tangannya ke arah api unggun sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya mencari kehangatan.
"Sialan, cuaca malam ini benar-benar tidak normal, rasanya hawa dingin ini menusuk langsung ke dalam tulang sumsumku," keluh murid kurus itu dengan gigi gemertak.
Murid kedua yang memiliki bekas luka di pipinya mendengus pelan sambil melemparkan sepotong kayu kering ke dalam kobaran api.
"Ini semua pasti gara-gara aura dari Jurang Kematian yang terbawa angin malam hingga ke pelataran luar," ucapnya dengan nada kesal.
Murid ketiga yang berbadan tegap justru tertawa meremehkan sambil menenggak air dari kantong kulit di tangannya.
"Kalian berdua terlalu penakut, tidak mungkin ada hantu yang berani mendekati wilayah sekte pedang lurus seperti kita ini."
Namun, tawa murid tegap itu langsung terhenti secara tiba-tiba ketika kobaran api unggun di hadapan mereka seketika berubah warna menjadi biru kelam.
Suhu udara di sekitar mereka merosot tajam dalam hitungan detik hingga napas yang mereka hembuskan berubah menjadi kabut es yang tebal.
Ketiga murid itu langsung berdiri dengan panik dan segera menghunuskan pedang panjang mereka secara serentak.
Tangan mereka gemetar hebat saat merasakan tekanan energi spiritual yang sangat pekat dan membekukan darah menyelimuti seluruh area tersebut.
"S-siapa di sana?! Tunjukkan dirimu! Ini adalah wilayah Sekte Pedang Surgawi!" teriak murid berbekas luka dengan suara yang bergetar ketakutan.
Dari balik bayang-bayang pohon bambu yang gelap gulita, terdengar suara langkah kaki pelan yang sangat ritmis dan mematikan.
Sosok Lin Ye perlahan melangkah keluar menembus kabut malam dengan kedua tangan terlipat santai di belakang punggungnya.
Cahaya api unggun yang berwarna biru kelam menerangi separuh wajahnya yang pucat pasi dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Ketiga murid penjaga itu membelalakkan mata mereka lebar-lebar hingga bola mata mereka hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Mereka tentu saja mengenali wajah pemuda berantakan di hadapan mereka yang selama ini selalu menjadi samsak hidup bagi seluruh pelataran luar.
"L-Lin Ye?! B-bukankah kau sudah dibunuh dan dibuang ke Jurang Kematian oleh Kakak Wang tadi sore?!" jerit murid kurus itu dengan kaki yang terasa lemas.
Lin Ye tidak menjawab pertanyaan bodoh itu dan hanya terus melangkah maju mendekati mereka bertiga dengan tatapan mata yang sangat kosong.
Tatapan mata itu bukanlah tatapan seseorang yang memandang manusia lain, melainkan tatapan seseorang yang sedang melihat rumput liar yang harus dicabut.
"T-tidak mungkin, dia pasti sudah mati, ini pasti hantu penasarannya yang datang untuk membalas dendam!" teriak murid tegap yang kini keberaniannya telah hancur lebur.
Murid berbekas luka menggertakkan giginya dengan keras mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di tengah kepanikan absolut.
"Jangan takut! Dia hanyalah sampah cacat semasa hidupnya, hantu penasarannya juga pasti sama lemahnya!"