NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Topeng yang Retak

Setelah badai yang ia ciptakan di ruang rapat direksi mereda, Nadia memilih untuk tidak langsung pulang. Ia meminta Adrian untuk berkoordinasi dengan para pemegang saham independen di ruangan lain, sementara ia sendiri melangkah menuju koridor luar lantai paling atas, menatap pemandangan kota melalui dinding kaca besar yang menghadap langsung ke area taman atap (rooftop garden).

Tempat ini adalah tempat favoritnya dulu saat masih hidup sebagai Nadia Kirana. Tempat di mana ia sering melepas penat setelah berjam-jam bekerja. Dan di tempat ini pula, ia mendengarkan langkah kaki beritme cepat yang sangat ia kenal dari masa lalu.

Nadia tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. Bau parfum mawar yang terlalu menyengat sudah cukup menjadi penanda kehadiran Elena.

"Chelsea Latief!" panggil Elena, suaranya melengking tinggi penuh dengan amarah yang tidak bisa lagi ia bendung di depan publik.

Nadia berbalik perlahan, menaruh kedua tangannya di dalam saku celana kulot putihnya, lalu menatap Elena dengan pandangan sedingin es. "Nona Elena. Ada urusan apa seorang manajer humas mendatangi ruangan direktur tanpa janji?"

"Jangan berlagak sombong di depanku, Chelsea!" bentak Elena, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Wajahnya yang biasanya dipoles kosmetik mahal kini tampak tegang dan dipenuhi gumpalan urat kemarahan. "Apa maumu sebenarnya? Pertama, kamu mempermalukan kami di acara lelang. Sekarang, kamu masuk ke ruang rapat dan menghancurkan posisi Baskoro dengan mosi audit itu! Apa motifmu mengincar kami?!"

Nadia menaikkan sebelah alisnya, mengamati kegelisahan yang mendalam di mata mantan sahabatnya tersebut. "Mengincar kalian? Oh, Anda terlalu tinggi hati, Nona Elena. Saya tidak mengincar kalian. Saya hanya sedang melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemilik saham: membersihkan perusahaan ini dari tikus-tikus penggelap uang."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang perusahaan ini!" teriak Elena frustrasi. "Kamu hanyalah seorang sosialita manja yang kebetulan punya uang dari warisan ayahmu! Jangan sok tahu tentang proyek pelabuhan logistik atau tentang mendiang Nadia Kirana!"

Mendengar nama lamanya disebut oleh mulut sang pengkhianat, kilat kemarahan yang teramat pekat sempat melintas di mata Nadia selama sepersekian detik. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya. Ia justru maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya ke arah Elena hingga wajah mereka sangat dekat.

"Aku memang tidak tahu banyak tentang masa lalu perusahaan ini, Elena," bisik Nadia dengan nada suara yang teramat rendah, namun setiap katanya terdengar seperti hantaman palu yang berat. "Tapi aku tahu satu hal... aku tahu tentang bagaimana Nadia Kirana tewas di gedung ini. Aku tahu dia tidak bunuh diri karena depresi pekerjaan."

Elena seketika mematung. Matanya melebar, dan rona merah kemarahan di wajahnya mendadak lenyap, digantikan oleh pucat pasi yang mengerikan. "A-apa... apa maksudmu?" gagapnya, suaranya mendadak mengecil.

Nadia tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Elena meremang hebat. "Aku tahu bahwa malam itu hujan turun sangat deras. Aku tahu ada dua orang yang berdiri bersamanya di atas atap. Dan aku tahu... sebuah dorongan kuat telah mengakhiri hidupnya demi ambisi harta."

Nadia melangkah mundur kembali, menikmati setiap jengkal kepanikan dan ketakutan yang kini menguasai seluruh tubuh Elena. Tubuh wanita berbaju merah marun itu mulai gemetar, napasnya memburu, dan matanya bergerak liar menatap Chelsea seolah-olah dia sedang melihat hantu yang bangkit dari kubur.

"K-kamu... bagaimana bisa kamu tahu detail itu?! Siapa... siapa yang memberitahumu?!" teriak Elena histeris, suaranya bergetar hebat. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dari seorang tunangan CEO di dalam dirinya saat ini.

"Dinding di gedung ini bisa bicara, Elena," jawab Nadia dingin sembari mengambil kacamata hitamnya dari saku blazer. "Dan jiwa yang mati penasaran... selalu menemukan cara untuk membisikkan kebenaran kepada orang yang tepat."

"Chelsea! Kamu gila! Kamu sudah gila!" pekik Elena, melangkah mundur dengan tergesa-gesa karena tidak sanggup lagi menahan tekanan psikologis yang teramat berat dari tatapan mata Chelsea. Tanpa membuang waktu lagi, Elena berbalik dan berlari meninggalkan koridor tersebut dengan ketakutan yang mendalam.

Nadia menatap kepergian Elena dengan pandangan kosong. Rasa puas yang dingin menjalar di dadanya. Ini baru permulaan, Elena. Rasa takut yang kamu rasakan hari ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit saat tubuhku terhempas ke aspal malam itu, batin Nadia kejam.

Nadia memakai kembali kacamata hitamnya, bersiap untuk turun ke lobi utama. Namun, saat ia berbalik ke arah lift, ia mendapati sesosok tubuh tegap sedang bersandar di pilar koridor tidak jauh dari tempatnya berdiri sejak tadi.

Reynald.

Pria itu berdiri di sana dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, melipat tangannya di dada sembari menatap Nadia dengan senyuman miring yang penuh kekaguman sekaligus selidik.

"Membisikkan kebenaran tentang kematian Nadia Kirana?" ucap Reynald, suara baritonnya bergaung di koridor yang sepi. "Taktik intimidasi psikologismu benar-benar berada di level yang berbeda, Tunanganku."

Nadia tidak terkejut melihat kehadiran Reynald. Ia justru berjalan menghampiri pria itu dengan langkah santai. "Tuan Reynald, apakah Anda tidak punya pekerjaan di kantor Anda sendiri hingga terus mengikuti saya ke mana-mana?"

Reynald menegakkan tubuhnya, melangkah mendekati Nadia hingga jarak mereka mengikis. Ia menunduk, menatap langsung ke balik lensa kacamata hitam Chelsea. "Pekerjaanku malam ini adalah memastikan singa betina kecilku tidak kelelahan setelah mencakar korbannya. Ayo pulang, Chelsea. Aku sudah menyiapkan makan malam perayaan untuk kemenangan pertamamu di dewan direksi."

Nadia menatap wajah tampan Reynald yang kini memancarkan kehangatan yang tulus, sebuah sisi lain dari sang CEO berhati es yang hanya diperlihatkan kepadanya. Jantung Nadia kembali memberikan letupan debaran halus yang asing. Ia mengulas senyuman tipis, lalu menyelipkan jemarinya di sela lengan tegap Reynald.

"Baiklah, Tuan Reynald. Mari kita nikmati makan malamnya," ucap Nadia.

Mereka berdua berjalan beriringan memasuki lift, meninggalkan kegemparan dan kepanikan yang mulai menjalar seperti kanker di dalam tubuh Baskoro Corp.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!