Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian dari Ibu Mertua
Sore itu, suasana di rumah Wijaya terasa berbeda dari biasanya. Sejak kedatangan Nyonya Wijaya, ibu Arga, udara di dalam rumah terasa lebih tegang dan kaku. Wanita itu dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin, dan sangat menjunjung tinggi nama baik keluarga. Selama ini ia selalu mengawasi setiap langkah putra satu-satunya, dan kehadiran Anya sebagai istri baru tentu saja menjadi hal yang sangat ingin ia teliti lebih dalam.
Setelah percakapan singkat dan dingin di teras tadi, Nyonya Wijaya masuk ke dalam rumah dan langsung memanggil Pak Haris. Ia ingin mengetahui segala hal tentang Anya, mulai dari latar belakang keluarga, kebiasaan sehari-hari, hingga bagaimana sikap gadis itu selama tinggal di rumah ini. Pak Haris yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Wijaya menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa menambah atau mengurangi apa pun.
“Nyonya, sejauh ini Nona Anya bersikap sangat sopan, rendah hati, dan tidak pernah meminta hal-hal yang berlebihan. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku, mengunjungi ibunya, atau berjalan-jalan di taman. Tidak ada tanda-tanda ia berperilaku sembarangan atau hanya ingin mencari keuntungan,” jelas Pak Haris dengan nada hormat.
Namun penjelasan itu belum cukup untuk menghilangkan keraguan di hati Nyonya Wijaya. “Hanya karena ia bersikap baik di depan pembantu, belum tentu tulus. Banyak orang yang pandai berpura-pura untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Saya harus melihat sendiri sikapnya dalam situasi yang lebih sulit untuk mengetahui sifat aslinya.”
Sementara itu, Anya kembali ke kamarnya setelah pertemuan singkat itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya. Ia sudah menduga bahwa tidak semua orang akan menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, apalagi ibu dari Arga yang pasti memiliki standar tinggi untuk menilai calon istri putranya. Ia sadar, ujian sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia harus menghadapinya dengan kepala dingin serta kesabaran penuh.
Beberapa jam kemudian, suara mobil memasuki halaman rumah menandakan Arga telah pulang dari kantor. Biasanya ia langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian, tapi hari ini ia langsung menuju ruang tamu setelah mendengar ibunya sudah pulang. Ia ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara ibunya dan Anya.
Begitu masuk ruang tamu, Arga melihat ibunya duduk di sofa sambil memegang secangkir teh. “Selamat sore, Bu. Sudah lama tidak bertemu, bagaimana perjalanan ke luar negeri tadi?” sapa Arga sambil duduk di hadapan ibunya.
“Perjalanannya lancar saja,” jawab Nyonya Wijaya singkat, lalu menatap putranya dengan pandangan tajam. “Yang ingin saya tanyakan bukan itu. Kenapa kamu menikah secara tiba-tiba dengan gadis yang tidak saya kenal sama sekali? Apakah kamu tidak memikirkan nama baik keluarga kita? Apa kata orang nanti ketika mengetahui menantu saya berasal dari keluarga sederhana?”
Arga tetap tenang mendengar pertanyaan itu. “Saya sudah memikirkan semuanya matang-matang, Bu. Anya adalah wanita yang baik, sopan, dan punya harga diri. Ia tidak memandang saya hanya dari kekayaan yang saya miliki. Untuk saat ini, kehadirannya sangat membantu saya dalam urusan sosial dan bisnis. Percayalah, ia tidak akan membawa aib bagi keluarga ini.”
“Membantu urusan? Atau dia yang memanfaatkanmu?” potong Nyonya Wijaya dengan nada tidak setuju. “Saya sudah melihatnya tadi. Ia terlihat tenang, tapi siapa tahu apa yang ada di pikirannya. Saya akan mengujinya sendiri, Arga. Saya ingin memastikan dia benar-benar layak menjadi bagian dari keluarga Wijaya.”
Arga menghela napas panjang. Ia tahu sifat ibunya, dan tidak bisa melarangnya untuk melakukan hal itu. “Baiklah, Bu. Silakan saja. Tapi satu hal yang saya minta: jangan sampai menyakiti hatinya atau membuatnya merasa dipermalukan. Ia memiliki harga diri yang tinggi, dan selama ia memegang perjanjiannya, dia berhak diperlakukan dengan hormat.”
Malam itu, saat jamuan makan malam tiba, suasana di ruang makan terasa sangat hening. Keempat orang itu — Arga, Nyonya Wijaya, Anya, dan Bu Lina yang diundang khusus — duduk mengelilingi meja panjang. Anya dan ibunya duduk di sisi yang berhadapan dengan Nyonya Wijaya, sementara Arga duduk di tengah untuk menengahi.
Selama beberapa menit hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Hingga akhirnya Nyonya Wijaya memecah keheningan dengan mengarahkan pertanyaan langsung kepada Anya.
“Anya, saya dengar kamu dulu tinggal di rumah yang sangat sederhana dan membantu ibumu berjualan makanan untuk menghidupi diri sendiri. Apakah itu benar?” tanya Nyonya Wijaya dengan nada datar, seolah sedang menilai benda di hadapannya.
Anya berhenti makan sejenak, lalu mengangkat wajah dengan pandangan tenang dan percaya diri. “Benar, Nyonya. Saya dan ibu memang hidup sederhana selama ini. Kami bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya tidak malu dengan latar belakang saya, justru itu yang mengajari saya arti kesabaran, kejujuran, dan menghargai apa yang dimiliki.”
Jawaban itu membuat Nyonya Wijaya sedikit terkejut. Ia mengira Anya akan merasa malu atau menghindari topik itu, tapi gadis itu justru menjawab dengan kepala terangkat tinggi. “Kalau begitu, apakah kamu tidak merasa canggung atau tidak nyaman hidup di lingkungan yang jauh berbeda dari kebiasaanmu ini? Banyak hal yang harus dipelajari, sopan santun, tata krama, dan cara bergaul dengan orang-orang terpandang.”
“Saya mengakui semuanya terasa baru dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” jawab Anya dengan jujur. “Tapi saya orang yang cepat belajar, Nyonya. Saya akan berusaha mempelajari semua hal yang diperlukan agar tidak mempermalukan keluarga. Saya tahu posisi saya, dan saya akan berusaha menjaga sikap serta tutur kata saya dengan baik.”
Belum sempat Nyonya Wijaya melontarkan pertanyaan lain, tiba-tiba sebuah piring berisi sup panas yang dibawa oleh pembantu tergelincir sedikit karena lantai yang licin. Sup itu tumpah dan sebagian jatuh membasahi gaun mahal milik Nyonya Wijaya yang berwarna krem.
“Ya Tuhan!” seru Nyonya Wijaya sambil berdiri terkejut, wajahnya memerah karena marah. “Lihat apa yang terjadi! Gaun ini harganya jutaan rupiah, dan sekarang kotor terkena sup!”
Pembantu yang membawa piring itu langsung pucat pasi, berlutut di lantai sambil gemetar ketakutan. “Maafkan saya, Nyonya! Saya tidak sengaja, lantainya licin… saya minta maaf sebesar-besarnya!”
Suasana menjadi kacau. Arga segera berdiri untuk menenangkan ibunya, sementara Bu Lina hanya bisa diam cemas melihat kejadian itu. Namun sebelum ada yang bertindak lebih jauh, Anya sudah lebih dulu berdiri. Ia mengambil kain lap bersih yang tersedia di meja, lalu mendekat dengan sikap tenang.
“Nyonya, silakan duduk sebentar, biar saya bersihkan,” ucap Anya lembut namun tegas. Ia mulai mengelap bagian yang terkena sup dengan hati-hati dan terampil, seolah sudah terbiasa menangani hal seperti ini. Sambil bekerja, ia juga menenangkan Nyonya Wijaya. “Tenang saja, Nyonya. Selama segera dibersihkan, noda ini masih bisa hilang. Pembantu itu tidak bermaksud, kadang kecelakaan memang tidak bisa dihindari.”
Setelah selesai mengelap sebaik mungkin, Anya menoleh ke arah pembantu yang masih berlutut ketakutan. “Bangunlah, tidak apa-apa. Pergilah cuci piringnya, dan lain kali lebih berhati-hati. Tidak ada yang perlu ditakuti selama tidak sengaja.”
Perlakuan Anya yang tenang, tidak panik, dan tetap bersikap adil membuat semua orang tertegun. Bahkan Nyonya Wijaya yang awalnya sangat marah pun perlahan menenangkan dirinya. Ia melihat bagaimana Anya tidak menyalahkan siapa pun, tidak memandang rendah pembantu, dan tetap bertindak bijaksana di tengah situasi kacau.
Arga yang melihat semua itu diam-diam merasa bangga. Ia tahu Anya memiliki hati yang lembut namun tegas, dan kejadian ini membuktikan sifat aslinya tanpa perlu banyak kata.
Setelah suasana kembali tenang, Nyonya Wijaya duduk kembali di kursinya. Ia menatap Anya dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya — tidak lagi penuh keraguan dan kecurigaan, melainkan mulai ada rasa hormat yang perlahan tumbuh.
“Terima kasih,” ucap Nyonya Wijaya singkat, kalimat yang jarang sekali ia ucapkan kepada orang yang baru dikenalnya. “Kamu menangani situasi ini dengan sangat baik dan tenang. Saya kira kamu hanya gadis yang lemah dan tidak tahu apa-apa, tapi ternyata kamu memiliki ketenangan dan kebijaksanaan yang tidak saya duga.”
Anya tersenyum tipis dan sopan. “Tidak perlu berterima kasih, Nyonya. Itu hal yang wajar. Saya percaya setiap orang bisa membuat kesalahan, selama tidak disengaja dan mau berusaha lebih baik lagi.”
Malam itu berakhir dengan suasana yang jauh lebih baik daripada yang dibayangkan Anya. Setelah makan malam selesai, Nyonya Wijaya memanggil Arga ke ruang kerjanya untuk berbicara empat mata.
“Arga, saya akui saya salah menilainya di awal,” ucap Nyonya Wijaya jujur. “Anya bukan gadis yang sembarangan. Ia memiliki ketegasan, kesabaran, dan hati yang baik. Sikapnya tadi membuktikan bahwa ia bisa menjaga diri dan bersikap adil kepada siapa saja. Mungkin memang pilihanmu tidak salah.”
Arga tersenyum lega mendengarnya. “Saya sudah katakan, Bu. Ia lebih dari sekadar apa yang terlihat dari luar. Berikan dia waktu, dan kamu akan melihat kebaikannya yang lain.”
Sementara itu, di kamar Anya, ia sedang duduk bersebelahan dengan ibunya. Bu Lina memegang tangan putrinya dengan lembut. “Kamu hebat, Nak. Ibu bangga melihat caramu menghadapi semuanya tadi. Tetaplah seperti ini, jangan berubah. Kesabaran dan kebaikan hatimu pasti akan membawa hasil yang baik.”
Anya mengangguk sambil memeluk ibunya. “Saya hanya berusaha bersikap jujur dan apa adanya, Bu. Saya tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain selamanya. Kalau mereka menerima saya apa adanya, itu yang terbaik. Kalau tidak, saya tetap akan menjaga harga diri saya sampai masa perjanjian ini berakhir.”
Namun di balik rasa lega itu, Anya sadar bahwa tantangan belum selesai. Besok atau lusa, mungkin akan ada ujian lain yang datang. Apalagi Rina, wanita yang ditemuinya di acara makan malam tempo hari, pasti tidak akan diam saja melihat keberhasilannya mendapatkan tempat di keluarga Wijaya.
Benar saja, keesokan harinya, saat Anya sedang berjalan di taman, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang halaman. Dari dalamnya turun Rina dengan pakaian yang sangat modis dan penuh percaya diri. Ia datang dengan maksud yang jelas — ingin melihat sendiri siapa wanita yang berhasil merebut posisi yang selama ini ia dambakan.
Begitu melihat Anya, Rina tersenyum sinis dan melangkah mendekat. “Jadi inilah istri baru Arga yang dibanggakan itu? Rasanya tidak ada yang istimewa, hanya gadis biasa yang beruntung bisa masuk ke rumah megah ini.”
Anya tetap tenang, tidak terpancing nada bicara yang menyindir itu. “Selamat pagi, Nona Rina. Kalau ada keperluan, silakan sampaikan. Tapi ingat, ini adalah rumah saya dan keluarga saya sekarang.”
Jawaban yang tegas namun tetap sopan itu membuat Rina tertegun sejenak, lalu wajahnya memerah karena kesal. “Jangan merasa sudah menang dulu! Saya akan pastikan kamu tidak bisa bertahan lama di sini. Arga bukan milikmu, dan kamu tidak pantas mendampinginya!”
Mendengar suara yang meninggi itu, tiba-tiba sebuah suara berat dan tegas terdengar dari belakang. “Siapa yang bilang dia tidak pantas?”
Rina dan Anya menoleh bersamaan. Ternyata Arga sudah berdiri di sana sejak beberapa saat, mendengar semua percakapan itu. Wajahnya terlihat marah, dan tatapannya yang tajam membuat Rina langsung mundur ketakutan.
“Arga… saya hanya ingin mengingatkannya…” coba Rina beralasan dengan suara bergetar.
“Tidak perlu mengingatkan apa pun,” potong Arga dingin. “Anya adalah istri saya, dan siapa pun yang tidak menghormatinya sama saja tidak menghormati saya. Mulai hari ini, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi tanpa izin saya. Mengerti?”
Rina terkejut mendengar penolakan yang tegas itu. Dengan wajah memerah karena malu dan marah, ia segera berbalik dan masuk ke mobilnya, lalu pergi dengan kecepatan tinggi.
Begitu mobil itu menghilang, Arga menoleh ke arah Anya. “Kamu tidak apa-apa? Dia tidak menyakitimu?”
Anya menggeleng pelan, hatinya terasa sedikit terharu melihat Arga membela dirinya. “Saya baik-baik saja, Tuan. Saya sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti itu, tidak akan memengaruhi saya.”
Arga menatap matanya lekat-lekat, dan untuk pertama kalinya, nada bicaranya terdengar sangat lembut dan tulus. “Ingat satu hal, Anya. Selama perjanjian ini masih berlangsung, kamu adalah istri saya. Tidak ada yang berhak meremehkan atau menyakitimu. Kalau ada apa pun, sampaikan saja pada saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu.”
Mendengar kata-kata itu, jantung Anya berdegup kencang. Ia merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka, sesuatu yang perlahan mulai tumbuh di balik dinding dingin yang selama ini memisahkan keduanya. Namun ia segera mengingatkan dirinya sendiri: ini hanya sebatas kewajiban perjanjian, bukan perasaan yang sesungguhnya. Ia tidak boleh terbawa perasaan dan melupakan batas yang sudah ditetapkan.
Namun takdir seringkali berjalan di luar rencana. Siapa sangka, sandiwara yang dibangun di atas kertas perjanjian itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi kisah yang lebih nyata, yang akan membawa mereka ke jalan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Bersambung...