NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Selamat, Anda Gagal Miskin!

Budiman mengucek matanya berulang kali. Sinar biru yang memancar di depan wajahnya begitu terang, sampai-sampai mengalahkan cahaya lilin sasetan di atas meja. Di udara kosong yang tadinya gelap gulita, kini melayang sebuah layar transparan mirip komputer canggih di film-film fiksi ilmiah.

Di tengah layar itu, muncul ketikan teks otomatis berwarna emas, diikuti suara wanita mekanis yang terdengar sangat anggun bergema langsung di dalam kepalanya.

[ Ding! Menghubungkan ke Jiwa Pengguna … ]

[ 10% ... 30% ... 50% ... 75% ... 99% ]

[ 100 % Proses Berhasil. ]

[ Selamat! Keinginan tulus Anda telah didengar oleh Sang Pencipta Semesta. ]

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]

Budiman ternganga. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan yang gelap gulita, lalu kembali menatap layar itu dengan pandangan horor. Tangannya spontan meraba perutnya yang sedari tadi berbunyi nyaring.

"Ondeh ... fix, awak sudah gila," bisik Budiman pada diri sendiri.

"Ini pasti efek samping kelaparan ditambah stres gara-gara PLN. Otakku kekurangan glukosa sampai bisa melihat hantu komputer."

Budiman mencoba mengibaskan tangannya untuk mengusir layar itu, tapi telapak tangannya justru menembus cahaya biru tersebut tanpa merasakan apa-apa. Layar itu tetap melayang kokoh di depannya, bahkan teksnya berganti.

[ Pemberitahuan: Pengguna tidak gila. Sistem ini nyata dan terikat dengan jiwa Anda. ]

[ Misi Utama: Membantu Pengguna memenuhi keinginannya, yaitu mencapai Kebangkrutan Total dan menjadi Miskin Permanen. ]

[ Aturan Dasar Sesi 1: Setiap kerugian materi yang dialami Pengguna akibat salah kelola atau kesialan dagang, akan diganti oleh Sistem sebesar 100 kali lipat! ]

[ Catatan: Uang kompensasi akan dikirim dalam bentuk 'Saldo Terikat' yang hanya bisa digunakan untuk modal dan operasional Kedai Budiman. Pengguna dilarang keras sengaja membakar uang atau merusak barang tanpa jalur perdagangan. ]

Budiman terdiam sejenak. Sebagai anak yang sedari kecil hidup di warung, otak dagangnya otomatis mencerna aturan itu pelan-pelan. Detik berikutnya, mata Budiman melotot.

"Tunggu, tunggu, tunggu!" Budiman menunjuk layar itu dengan gemetar.

"Maksud kau ... kalau aku jualan terus aku rugi, kau malah ganti seratus kali lipat?!"

[ Benar. Sistem mendukung penuh niat Anda untuk bangkrut. Makin besar kerugian Anda, makin besar dukungan dana yang Sistem berikan. ]

Budiman langsung menepuk jidatnya sendiri sampai berbunyi

PLAK!

Ia mendadak emosi.

"Sistem bodoh! Di mana logikanya?!" amuk Budiman frustrasi di dalam warungnya yang sepi.

"Kalau setiap aku rugi kau kasih uang seratus kali lipat, itu namanya bukan bikin bangkrut, tapi bikin aku jadi kaya raya! Aku ini baru saja berdoa minta miskin! Minta tenang! Ndak mau jadi kaya!"

[ Sistem mendeteksi penolakan. Memulai pembagian Modal Awal untuk memicu kebangkrutan pertama … ]

[ Saldo Terikat sebesar Rp5.000.000 telah ditransfer ke rekening virtual Kedai Budiman. Silakan gunakan untuk berbelanja modal dan mulailah merugi! ]

TIINGG!

Seketika itu juga, HP jadul Budiman di atas meja bergetar hebat. Sebuah SMS masuk dari bank. Begitu dibuka di bawah temaram sinar lilin, mata Budiman hampir melompat keluar. Ada dana masuk sebesar lima juta rupiah dengan keterangan:

Sistem Kompensasi Finansial.

Budiman terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Angka lima juta itu terasa seperti ejekan instan dari alam gaib. Di saat dia sudah membulatkan tekad untuk menyerah dan menutup warung besok pagi, dia malah dimodali paksa oleh si layar biru yang tak diundang ini.

Sifat pantang menyerah khas urang awak-nya mendadak bangkit, tapi kali ini tujuannya berbalik arah seratus delapan puluh derajat.

Budiman menatap layar sistem dengan senyum licik yang mendadak terkembang di wajahnya.

"Oh, kau menantang aku buat rugi, ya? Oke! Kau ndak tahu saja seberapa berbakatnya aku kalau urusan bikin hancur usaha. Besok, akan aku perlihatkan kepadamu cara bangkrut dalam waktu satu hari!"

.

.

Malam itu, Budiman tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan lagi karena meratapi nasib atau karena perutnya yang keroncongan, melainkan karena otaknya sibuk menyusun strategi paling ampas dalam sejarah ekonomi umat manusia.

Sistem melarang dia membakar uang secara cuma-cuma atau membuang barang ke selokan. Artinya, dia harus tetap berdagang, tetapi dengan komoditas yang tingkat kelakuannya minus di pasar.

"Kuncinya adalah produk gagal," gumam Budiman dalam kegelapan sambil tersenyum puas.

Keesokan harinya, subuh-subuh sekali, Budiman sudah berdiri di depan ATM. Begitu kartu didebit, mesin mengeluarkan selembar uang seratus ribuan yang masih kaku. Rekeningnya benar-benar berisi lima juta rupiah tunai. Uang asli, bukan daun kering.

Dengan dompet tebal yang sudah lama tidak ia rasakan, Budiman langsung melesat menuju pasar grosir terbesar di kota. Target utamanya: Toko Grosir Jaya milik Koko Alung, tempat mendiang ayahnya dulu sering mengambil barang.

Begitu melangkah masuk ke gudang grosir yang luas itu, Budiman mengabaikan tumpukan karung beras premium, minyak goreng kemasan yang sedang naik daun, atau telur ayam segar. Pandangannya justru menyapu sudut-sudut gudang yang paling gelap, berdebu, dan dipenuhi jaring laba-laba, persis seperti warungnya sendiri.

Budiman menghampiri Koko Alung yang sedang sibuk mencatat nota.

"Ko Alung! Pagi, Ko!" sapa Budiman riang gembira, kontras dengan wajahnya yang kuyu semalam.

Koko Alung menoleh, agak terkejut melihat anak mendiang sahabatnya itu tampak begitu bersemangat.

"Eh, Budiman. Pagi. Mau ambil barang apa? Tapi maaf ya, Man, Koko ndak bisa kasih utang dulu sekarang. Setoran lagi macet."

"Ndak usah khawatir, Ko! Hari ini Budiman bawa cash!" Budiman menepuk kantong celananya dengan sombong.

"Tapi, aku mau cari barang-barang khusus. Ko Alung ada simpan mi instan rasa cokelat mentol yang dulu gagal viral itu ndak?"

Koko Alung melongo, penanya hampir jatuh. "Hah? Mi rasa cokelat mentol? Itu kan produk gagal tiga tahun lalu, Man! Rasanya aneh, mirip odol campur kuah. Di gudang belakang masih ada tiga dus, sudah berdebu. Kamu mau buat apa?"

"Borong semua, Ko! Jangan disisakan!" jawab Budiman mantap.

"Terus, sabun mandi batangan merek jadul yang baunya mirip balsem otot ada? Sama kopi saset rasa cabai hijau yang pedasnya bikin mules?"

Koko Alung menatap Budiman dari atas sampai bawah dengan aneh. Kepalanya sampai meneleng karena saking herannya. Ia mengira anak muda di depannya ini sudah mengalami gangguan jiwa karena stres memikirkan warung yang sekarat.

"Diman ... kamu sehat, kan? Dagang itu cari barang yang cepat laku, bukan barang yang bikin pembeli muntah," kata Koko Alung mencoba menasihati secara logis.

"Saya sangat sehat, Ko! Jiwa dan raga saya sedang prima," ucap Budiman berbohong sambil nyengir.

"Oh ya, sekalian sarden kaleng yang penyok-penyok karena jatuh dari truk kemarin ada? Dan kecap manis merek antah-berantah yang kemasannya pudar itu, saya ambil semua!"

Karena Budiman benar-benar menyodorkan lembaran uang merah yang sah, Koko Alung akhirnya pasrah. Dengan bantuan kuli panggul, seluruh "pasukan barang terkutuk" yang sudah bertahun-tahun mengeram di gudang belakang itu dikeluarkan. Berhubung barang-barang itu berstatus produk gagal dan hampir kedaluwarsa, Koko Alung memberikan diskon gila-gilaan.

Uang lima juta milik Budiman sukses berpindah tangan, ditukar dengan satu mobil pikap penuh berisi barang-barang yang jika dijual ke manusia normal, kemungkinan besar akan dilempar balik ke muka penjualnya.

Siang harinya, Kedai Budiman yang tadinya kosong melompong kini kembali terisi penuh. Di rak-rak kayu yang baru saja dibersihkan dari sarang laba-laba, kini berjejer rapi mi instan rasa cokelat mentol, kopi cabai hijau yang kemasannya sudah mengeras seperti batu, dan sabun bau balsem yang aromanya bahkan radius lima meter sudah membuat hidung perih.

Budiman berdiri di depan warungnya sambil berkacak pinggang. Di tangannya ada sebuah papan tulis kapur baru yang sengaja ia beli. Dengan senyum penuh kemenangan, Budiman menuliskan strategi pamungkasnya untuk menghancurkan usaha ini dalam hitungan jam:

PROMO GILA-GILAAN AWAL BULAN!

BELI 1 GRATIS 3! HARGA DI BAWAH MODAL!

​"Modal per bungkusnya lima ribu, aku jual seribu, dapat bonus tiga lagi. Artinya setiap ada yang beli satu paket, aku otomatis rugi belasan ribu rupiah!" Budiman tertawa geli dalam hati, membayangkan layarnya akan langsung memproses kelipatannya.

​"Dengan begini, sebelum matahari terbenam, modal lima juta ini pasti ludes berubah jadi kerugian total. Sore ini juga aku akan bebas dari kutukan sistem ini, menggembok warung, dan tidur siang dengan tenang!"

Tepat saat Budiman selesai tertawa jahat, dari ujung jalan terlihat Uni Linda, Uda Zal, dan rombongan ibu-ibu komplek sedang berjalan kaki pulang dari wirid. Mata mereka yang setajam elang langsung terkunci pada papan pengumuman Kedai Budiman yang mencolok.

"Eh? Beli satu gratis tiga?! Murah sekali?!" teriak Uni Linda histeris, matanya langsung berbinar serakah melihat mangsa baru yang bisa diutang, atau kali ini, dijarah dengan harga miring.

Budiman menyeringai puas, menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka. 'Selamat datang, para penghancur usahaku! Ambil semua barang ini, bikin aku rugi besar, dan mari kita sambut kemiskinan yang hakiki!' batin Budiman luar biasa bahagia.

*bersambung*

1
Safira Aurora
gimana kelanjutannya?
Aku Rajin Membaca
padahal budiman mau menyerahkan diri 😂
MomyWa
weeeh, udah gak bisa disecrol lagi saking asik bacanya
MomyWa
pahlawan kehancuran ya man?
MomyWa
bagus syekali bukannya?
arielskys
lama2 baca cerita ini bikin otakku makin pinter prinsip2 retail 👍
arielskys
pokoknya kalian harus berjodoh lah
Aku Rajin Membaca: kita lihat gimana ide penulis
total 1 replies
arielskys
walaaaahh, ada2 aja idenya 🤭
Aku Rajin Membaca: wkwkwkw..bikin pouyeng
total 1 replies
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
MomyWa: gmn nasibnya ya
total 1 replies
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!