NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Pagi pertama di kediaman mewah Alessandro dimulai dengan keheningan yang anggun. Sinar matahari terbit menembus celah-celah gorden tipis kamar utama, menerangi siluet Cia yang sudah rapi sejak subuh. Mengesampingkan status barunya sebagai nyonya besar di rumah ini, Cia memilih untuk turun ke dapur utama, mengambil alih tugas pelayan untuk menyiapkan sesuatu yang khusus bagi suaminya.

Aroma pekat biji kopi hitam pilihan mengepul dari cangkir porselen putih yang baru saja diletakkan Cia di atas meja kerja sudut kamar.

Tepat saat itu, Dixon keluar dari walk-in closet dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang sempurna. Penampilannya sangat rapi, gagah, dan memancarkan wibawa mutlak seorang penguasa bisnis. Namun, wajah tampannya tetap sedingin es, tanpa ekspresi, seolah-olah pernikahan suci dua hari lalu tidak mengubah apa pun dalam garis hidupnya.

Cia melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang sangat sopan dan lemah lembut. Sebuah senyuman manis menghiasi bibir ranumnya.

"Kopinya, Mas Dixon. Hitam tanpa gula, persis seperti yang sering Mas pesan saat di kantor dulu," ucap Cia dengan nada suara yang teramat merdu, mengalir begitu alami tanpa kecanggangan.

Mendengar panggilan baru itu mengalir dari bibir Cia, langkah kaki Dixon sempat tertahan sedetik. Dada bidang pria berusia 39 tahun itu berdesir aneh. Ada rasa hangat yang samar ketika mendengar sebutan 'Mas Dixon' diucapkan oleh wanita yang kini resmi memiliki hak atas separuh hidupnya. Namun, ego purba dan sifat kaku Dixon dengan cepat menekan perasaan asing itu. Ia hanya mengangguk pendek, wajahnya tetap kaku bagai pahatan marmer.

"Terima kasih," jawab Dixon pendek dengan suara baritonnya yang berat dan datar. Pria itu berjalan melewati Cia, duduk di kursi kerjanya, dan langsung membuka laptop tanpa berniat menatap mata istrinya lebih lama. Sikap dinginnya benar-benar terasa seperti benteng tebal yang tak tertembus.

Cia tidak menyerah. Di dalam hatinya, ia justru tertawa melihat pertahanan kaku Dixon. Ini adalah bagian dari rencananya: menjadi air yang perlahan-lahan mengikis batu karang.

Cia melangkah perlahan mendekati meja kerja Dixon, menautkan kedua tangannya di depan tubuh dengan jemari yang meremas pelan, berakting seolah-olah ia sedang mencoba memberanikan diri untuk membuka obrolan yang penting.

"Mas Dixon... kalau boleh, saya ingin menanyakan sesuatu," cicit Cia dengan nada suara yang lembut dan penuh kehati-hatian.

Dixon tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, jemari kekarnya mulai mengetik dengan ritme yang konstan. "Katakan."

"Mulai hari ini, saya sudah tinggal di sini sebagai istri Mas. Saya... saya hanya ingin tahu, apa saja kebiasaan Mas Dixon di rumah? Makanan apa yang Mas sukai atau benci? Jam berapa Mas biasanya tidur, dan hal apa saja yang tidak boleh saya sentuh di rumah ini?" tanya Cia, menatap Dixon dengan sepasang mata cantiknya yang jernih, memancarkan binar perhatian seorang istri yang tulus. "Saya ingin mencatatnya agar tidak melakukan kesalahan yang membuat Mas terganggu."

Plak.

Suara ketikan jemari Dixon mendadak berhenti. Pria itu menegakkan punggung tegapnya, lalu perlahan memutar kepalanya, mengunci pandangan elangnya tepat ke dalam manik mata Cia. Tatapan itu begitu tajam, dingin, dan sarat akan intimidasi yang sanggup membuat orang biasa gemetar ketakutan.

"Valencia, dengar," desis Dixon dengan suara bariton yang teramat rendah dan menekan. "Pernikahan ini terjadi karena tanggung jawab dan untuk mengatasi situasi dengan Mamaku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk mengatur hidupku atau mencampuri urusan pribadiku di rumah ini. Jalani saja hidupmu sendiri, dan aku akan menjalani hidupku."

Kata-kata ketat itu keluar seperti garis pembatas yang tegas, menolak kehadiran Cia di dalam ruang privasinya.

Mendengar penolakan dingin itu, wajah Cia seketika berubah. Ia menurunkan pandangannya ke lantai, menggigit bibir bawahnya pelan dengan raut wajah yang dibuat teramat terluka, sedih, dan bersalah. Bahu rampingnya bergetar halus, menyempurnakan aktingnya sebagai istri yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh suaminya.

"M-Maafkan saya, Mas..." ucap Cia dengan suara yang bergetar lirih, hampir berupa bisikan yang sesak. Ia mendongak perlahan, menatap Dixon dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Demi Tuhan, saya sama sekali tidak ada niat untuk mengatur hidup Mas Dixon atau lancang mencampuri urusan pribadi Mas. Saya tahu diri siapa saya..."

Cia menarik napas dalam, menyeka sudut matanya dengan ujung jarinya. "Saya bertanya seperti itu hanya karena saya ingin menyesuaikan diri di rumah yang megah ini. Saya ingin menjadi istri yang baik dan tahu apa yang harus saya lakukan agar tidak merepotkan Mas Dixon. Hanya itu... tidak ada maksud lain."

Melihat air mata yang menggenang di mata jernih gadis itu, ketegangan di rahang tegas Dixon seketika mengendur. Dada bidangnya mendadak berdenyut nyeri oleh rasa bersalah yang asing. Ia menatap cangkir kopi hangat di mejanya, menyadari bahwa ucapan kasarnya tadi mungkin terlalu kejam untuk seorang gadis muda yang hanya ingin berbakti padanya. Dixon bungkam, tidak tahu harus merespons apa karena egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf.

Sementara itu, di balik wajah Cia yang tertunduk sedih dan penuh air mata pasrah, sepasang matanya berkilat memancarkan kegelapan yang teramat pekat. Sebuah seringai iblis yang sangat tipis tersembunyi di balik helaian rambutnya yang jatuh.

“Bagus, Mas Dixon... tetaplah bersikap dingin dan merasa bersalah seperti itu,” batin Cia bersorak penuh kemenangan yang kejam. “Semakin lo mendorong gue menjauh dengan kata-kata kasarmu, semakin besar rasa bersalah yang bakal mengikat lehermu saat rahasia ini terbongkar nanti. Melihat Dixon yang terdiam kaku dengan sisa-sisa rasa bersalah yang membayangi wajah esnya, Cia tahu ini adalah momen yang tepat untuk melangkah satu tapak lagi ke dalam wilayah pribadi sang singa. Ia harus mengubah dinamika di antara mereka, mengikis formalitas yang menjadi tameng Dixon selama ini.

Cia menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak perlahan. Air mata palsu yang tadi menggenang di sudut matanya kini sengaja ia biarkan mengering, menyisakan tatapan mata yang tampak begitu tulus, pasrah, dan penuh pengertian.

"Mas Dixon..." panggil Cia lembut. Ia menjeda kalimatnya sejenak, meremas jemarinya di depan dada dengan gestur yang sangat hati-hati. "Karena sekarang kita sudah menjadi suami istri... bolehkah aku meminta satu hal? Maksudku, agar hubungan kita di rumah ini tidak terasa begitu kaku dan menjepit."

Dixon menaikkan sebelah alisnya tajam, namun ia tidak memotong kalimat Cia. Sepasang mata elangnya tetap mengunci pergerakan gadis di depannya.

"Bisakah kita mengubah cara kita berbicara saat sedang berdua?" cicit Cia dengan nada suara yang dibuat sedikit malu-malu, pipinya merona merah muda buatan. "Aku merasa sangat canggung jika terus memanggil diriku sendiri dengan sebutan 'saya' di depan suamiku. Mulai sekarang... bolehkah aku menggunakan panggilan 'aku' dan 'kamu' saat kita berbicara?"

Dixon terdiam sesaat, mencerna permintaan sederhana yang keluar dari bibir ranum Cia. Panggilan 'kamu' dari seorang wanita di dalam kamar pribadinya terasa begitu intim sesuatu yang sudah belasan tahun tidak pernah mampir ke indra pendengarannya. Namun, melihat binar memohon yang begitu polos di mata jernih Cia, ego kaku Dixon perlahan melunak.

"Lakukan sesukamu," jawab Dixon pendek dengan suara baritonnya yang berat, berusaha menjaga agar nadanya tetap datar dan tidak terpengaruh.

Mendengar jawaban itu, Cia tersenyum sangat manis hingga matanya menyipit indah. "Terima kasih, Mas."

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, saatnya bagi sang penguasa Luca Group untuk berangkat ke medan perang bisnisnya. Dixon berdiri di depan cermin besar dekat pintu kamar, merapikan letak kerah jas abu-abu gelapnya. Aura dingin dan dominan kembali menguar pekat dari tubuh tegapnya, siap untuk menundukkan siapa saja yang beraninya menghalangi langkahnya di dunia luar.

Cia melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sengaja dibuat seringan bulu. Di tangannya, ia sudah memegang tas kerja kulit mewah milik Dixon dan sebuah bekal makan siang kecil yang sudah ia siapkan sendiri.

"Ini tasmu, Mas," ucap Cia lembut, menyodorkannya dengan kedua tangan.

Dixon membalikkan tubuh tegapnya, menerima tas tersebut dari tangan Cia dengan anggukan pendek yang kaku. "Aku berangkat," pamit Dixon singkat. Suaranya terdengar begitu formal dan berjarak, seolah ia hanya sedang berpamitan dengan sekretaris kantornya, bukan dengan seorang istri yang baru ia nikahi dua hari lalu.

Namun, tepat saat Dixon baru saja hendak membalikkan badannya menuju pintu keluar, Cia melakukan sebuah pergerakan nekat yang sama sekali tidak ada dalam kalkulasi pria berusia 39 tahun itu.

Cia maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara mereka hingga aroma wangi mawar dari tubuhnya langsung menyergap indra penciuman Dixon. Sebelum Dixon sempat bereaksi atau mundur, Cia dengan gerakan yang sangat anggun dan cepat berjinjit sedikit, mengulurkan kedua tangan lembutnya untuk bertumpu ringan di atas dada bidang Dixon yang kokoh.

Cup.

Bibir ranum dan hangat milik Cia mendarat dengan sempurna di atas permukaan kulit pipi tegas Dixon yang sedikit kasar karena helai cambang tipisnya. Sebuah kecupan salam yang lembut, melekat selama dua detik, sebelum akhirnya Cia menurunkan kembali kakinya dan mundur satu langkah dengan wajah yang merona merah karena malu.

Deg.

Tubuh raksasa Dixon seketika menegang kaku seperti batu karang yang dihantam ombak dahsyat. Sepasang mata elangnya membelalak sempurna, menatap Cia dengan kilat keterkejutan yang luar biasa. Detik berikutnya, lahar amarah dan rasa posesif yang liar langsung meletup di dalam dadanya.

Dixon merasa wilayah privasinya yang paling sakral telah dilanggar tanpa izin. Rahangnya mengeras sempurna hingga urat-urat di leher tegapnya menonjol tajam. Tangannya yang memegang tas kerja mengepal begitu kuat. Dixon sangat marah marah karena gadis ini berani bertindak lancang, dan lebih marah lagi karena menyadari jantungnya sendiri justru berdegup dua kali lebih cepat akibat kecupan singkat itu.

"Valencia! Apa yang kau—" kata-kata bentakan Dixon tertahan di tenggorokan.

Ia melihat bagaimana Cia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung gaun tidurnya dengan tubuh yang gemetar halus, seolah-olah ketakutan setengah mati setelah menyadari kelancangan yang baru saja ia perbuat.

"M-Maaf, Mas Dixon... maafkan aku," cicit Cia dengan suara yang bergetar hebat, hampir menangis karena panik yang dibuat-buat. "Aku... aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik seperti wanita-wanita lain yang mengantar suaminya bekerja. Tolong jangan marah, Mas... aku janji tidak akan mengulanginya lagi jika kamu tidak suka."

Melihat gurat ketakutan yang begitu nyata di wajah polos Cia, amukan badai di dalam dada Dixon mendadak tertahan di ujung tanduk. Pria berkuasa itu menarik napas dalam-dalam lewat hidungnya, mengembuskannya perlahan untuk meredam gemuruh amarahnya sendiri. Egona menolak untuk membentak seorang gadis muda yang hanya ingin berbakti padanya, terlebih setelah rasa bersalah yang ia tanam sejak subuh tadi.

Dixon memejamkan matanya sejenak, menahan diri sekuat tenaga agar topeng esnya tidak pecah berantakan di depan istrinya.

"Jangan ulangi lagi tanpa izinku, Valencia," desis Dixon dengan suara bariton yang teramat rendah, ketat, dan sarat akan peringatan berbahaya.

Tanpa menunggu jawaban dari Cia, Dixon langsung berbalik arah dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, membuka pintu kamar dan melangkah pergi meninggalkan kediaman dengan rahang yang masih mengeras menahan gejolak rasa yang campur aduk di dalam hatinya.

Begitu pintu kamar utama tertutup rapat dan suara langkah kaki tegap Dixon mulai menjauh, Cia yang tadinya menunduk ketakutan perlahan-lahan menegakkan kembali punggung rampingnya.

Kedua tangan yang tadinya bergetar kini bersedekap anggun di depan dada. Wajahnya yang semula penuh kepasrahan dan air mata ketakutan seketika sirna, digantikan oleh sebuah seringai iblis yang teramat dingin, licik, dan mengerikan. Cia mengusap bibirnya pelan dengan ujung jari, lalu menatap pintu kamar dengan kilat kemenangan yang menyala-nyala di sepasang matanya.

“Tahan amarahmu, Mas Dixon... teruslah menahannya,” batin Cia bersorak riang di dalam hati, tertawa tanpa suara hingga bahunya terguncang hebat. “Satu kecupan saja sudah cukup buat mengacaukan isi kepalamu sepanjang hari di kantor. Benteng es yang lo banggakan itu perlahan-lahan mulai retak karena ulah lo sendiri. Teruslah terbiasa dengan kehadiranku di hidupmu,

1
Hasti Asti
semangat terus kak berkata, cerita kamu bagus
sryharty
sebelum pembalasan kamu terendus Amora,,kamu harus bikin duda karatan bertekuk lutut sama kamu cia,,biar si duda ga bisa jauh2 dari kamu,,kalo jauh dari kamu langsung gila,,jadi nanti si Amora tidak bisa banyak tingkah
aku
kudukung pembalasanmu dg 🌹 go cia go!!
aku
aduh aq juga tercia cia nih 😁 gasss ciaaaa 😃
Hasti Asti
lanjut kak😍
sryharty
kenapa seh ka up nya irit banget
Shion Hin
hohoho mulai seru 🔥🔥🔥
Marsya
wah mw nambah bacanya lagi,klanjutannya pasti lbih seru🤭🤭🤭🤭
Shion Hin
ayo kak semangat... 🔥🔥🔥🙏
sryharty
kenapa up nya cuma satu2 yah
Yuyun Suprapti
crazy up dong kk thor🤭💪
Shion Hin
😍
Rahman Hayati
wow
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
sryharty
ka doubel up lah
sryharty
😁 pokonya kamu harus jual mahal cia,,jangan kejar2 duda karatan
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
Rahman Hayati
jgn terlalu tua lah Thor yg sedang sedang saja umurnya
sryharty
semoga sampai selesai alurnya masih bagus
sryharty
si duda karatan udah mulai Ter cia2 neh
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
Shion Hin
huaaaa.... gk sabar deh ... 🥺
sryharty
pasti nanti cia hamil,,bawa kabur nanti anaknya cia
biar si duda karatan kelabakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!