Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Meja Makan dan Janji di Bawah Pohon Mangga
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah seolah-olah badai dahsyat semalam tidak pernah terjadi. Namun genangan air dan aroma bau tanah yang khas setelah hujan masih sedikit teecium.
Langit biru tanpa awan memantulkan cahaya ke jendela-jendela besar rumah keluarga itu, menciptakan suasana yang terang, hangat, dan penuh harapan baru. Namun, bagi Viona dan Zidan, dunia terasa berbeda secara fundamental. Ada ketegangan manis yang menggantung di udara setiap kali pandangan mereka bertemu secara tidak sengaja, sebuah rahasia bersama yang membuat setiap sentuhan kecil—bahkan yang tidak disengaja—terasa bermuatan listrik statis yang menggelitik.
Zidan sudah berpakaian rapi untuk kerja, mengenakan kemeja linen putih yang longgar dan celana kain santai, meskipun ia sebenarnya mengambil cuti hari ini dengan alasan "urusan keluarga mendesak" kepada asistennya. Faktanya, ia ingin menghabiskan hari pertamanya sebagai pria yang secara resmi (dalam hati dan jiwa) mencintai Viona, dengan memastikan ibunya benar-benar pulih dan menikmati waktu berkualitas bersama gadis itu tanpa gangguan dunia luar. Ia ingin membangun fondasi baru, batu bata demi batu bata, dalam hubungan mereka.
Viona turun ke dapur dengan rambut diikat kuda sederhana yang sedikit berantakan, mengenakan daster katun berwarna pastel yang nyaman. Ia menemukan Zidan sedang duduk di meja makan kayu jati, membaca laporan proyek di tablet sambil menyeruput kopi hitam pahit dari cangkir keramik favoritnya. Di depannya ada dua piring nasi goreng spesial—versi lebih ringan dari kemarin, dengan banyak sayuran cincang halus seperti wortel, buncis, dan jagung manis, serta potongan ayam dada tanpa kulit.
"Pagi," sapa Viona, suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur, namun terdengar bahagia dan ringan. Aroma kopi dan makanan membangkitkan semangat paginya.
Zidan menoleh, matanya yang tajam langsung melunak saat melihat Viona. Ia tersenyum tipis, senyum tulus yang kini menjadi milik eksklusif Viona, sebuah privilese yang tidak dibagi dengan siapa pun.
"Pagi. Tidur nyenyak? Tidak ada mimpi buruk?"
"Sangat nyenyak," jawab Viona sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya. Matanya berbinar. "Mimpi indah. Tentang masa depan yang tenang."
"Aku juga," sahut Zidan datar, tapi ada nada geli dan kehangatan di suaranya yang jarang terdengar. Ia mendorong salah satu piring ke arah Viona dengan gerakan elegan.
"Makan. Ibu masih tidur lelap, perawat bilang dia butuh istirahat ekstra pagi ini untuk regenerasi sel. Jadi kita punya waktu berdua sebelum beliau bangun dan rumah kembali ramai."
Viona mengambil sendok, mulai memakan nasi goreng itu. Rasanya sempurna, bumbu yang seimbang, tekstur nasi yang pulen. Tapi kali ini, setiap gigitan terasa lebih berarti, lebih dalam, karena ia tahu siapa yang memasaknya dengan penuh perhatian dan mengapa. Ini bukan sekadar makanan; ini adalah bahasa cinta Zidan.
"Kak," panggil Viona tiba-tiba, meletakkan sendoknya di tepi piring. Ekspresinya menjadi serius namun lembut.
"Aku menemukan sesuatu kemarin sore. Di ruang kerja Bapak, saat aku membereskan berkas-berkas lama."
Zidan mengangkat alis, ekspresinya berubah waspada seketika. Postur tubuhnya menegang, siap menghadapi berita buruk atau masalah legal.
"Apa? Dokumen penting? Surat warisan? Atau masalah hukum?"
"Bukan," Viona menggeleng pelan, mencoba menenangkan ketegangan Zidan. Ia ragu sejenak, memikirkan apakah harus menceritakan tentang surat Rani dan foto-foto masa kecil Zidan yang menyentuh itu. Melihat ketegangan di wajah Zidan, ia memutuskan untuk berhati-hati dan memilih kata-kata dengan bijak.
"Aku menemukan foto lama Kakak. Waktu Kakak masih sangat kecil, mungkin usia lima atau enam tahun. Kakak... terlihat sangat bahagia. Tertawa lepas bersama seorang wanita yang menurutku adalah ibu kandung Kakak."
Wajah Zidan mengeras sejenak, topeng dinginnya kembali muncul sesaat. Otot rahangnya menegang, tanda bahwa memori itu masih menyakitkan. Itu adalah masa sebelum kepergian ibunya, sebelum ia belajar bahwa kebahagiaan adalah hal yang fana, rapuh, dan bisa direnggut kapan saja oleh takdir yang kejam.
"Kenapa Kakak menutup-nutupi sisi itu?" tanya Viona lembut, menjangkau tangan Zidan yang tergenggam erat di atas meja. Sentuhannya hangat dan menenangkan.
"Kenapa Kakak merasa harus selalu serius, selalu kuat, selalu mandiri, dan selalu sendiri? Kenapa Kakak tidak membiarkan orang lain melihat sisi manusiawi Kakak?"
Zidan menatap tangan Viona yang memegang tangannya, lalu menatap mata gadis itu yang penuh pengertian. Pertahanan dirinya yang dibangun bertahun-tahun runtuh perlahan di hadapan kejujuran dan ketulusan Viona. Air mata menggenang di sudut matanya, namun ia menahannya.
"Karena aku takut, Vion," akui Zidan pelan, suaranya parau dan hampir tak terdengar, sebuah pengakuan yang keluar dari lubuk hati terdalam.
"Aku takut jika aku menunjukkan kelemahanku, jika aku menunjukkan bahwa aku butuh orang lain, bahwa aku rentan, mereka akan pergi. Meninggalkanku. Seperti ibu kandungku yang pergi tanpa pamit. Seperti semua orang sebelumnya yang menjanjikan kesetiaan tapi akhirnya menghilang. Aku belajar sejak dini bahwa menjadi dingin, kalkulatif, dan mandiri adalah cara terbaik untuk tidak terluka lagi. Tembok itu melindungiku."
Viona merasakan nyeri tajam di dadanya mendengar pengakuan menyedihkan itu. Ia memahami sekarang mengapa Zidan begitu tertutup, mengapa ia membangun tembok tinggi yang tak tertembus. Bukan karena ia jahat, sombong, atau arogan, tapi karena ia terluka parah dan takut dikecewakan lagi.
"Tapi Kakak tidak sendiri lagi," ucap Viona tegas, menggenggam tangan Zidan lebih erat, memberikan kekuatan melalui sentuhannya.
"Aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Dan Ibu... Ibu Rani juga tidak akan pergi. Dia mencintaimu, Kak, dengan caranya sendiri. Mungkin caranya berbeda, mungkin Kakak belum bisa menerimanya sepenuhnya karena luka lama, tapi cintanya nyata, tulus, dan konsisten. Dia berusaha, Kak. Lihat saja surat yang dia tulis untuk Bapak dulu."
Zidan menelan ludah, matanya berkaca-kaca untuk pertama kalinya di hadapan Viona, air mata akhirnya menetes pelan di pipinya. Ia membalas genggaman tangan Viona, jemarinya saling menjalin erat seolah takut Viona akan hilang jika dilepaskan.
"Aku sedang mencoba, Vion," bisik Zidan, suaranya getar. "Untuk percaya. Untuk membuka diri. Untuk menerima cinta tanpa syarat. Karena kamu... kamu membuatku ingin mencoba lagi. Kamu memberiku alasan untuk berharap."
Sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan yang mendalam dan emosional itu, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Rani muncul, didampingi oleh perawat yang ramah. Wajahnya segar, meski masih terlihat lemah dan pucat. Ia tersenyum lebar melihat anak-anaknya duduk bersama di meja makan, suasana yang harmonis.
"Wah, sarapan berdua ya? Romantis sekali," sapa Rani ceria, duduk di kursi rodanya yang didorong perawat ke dekat meja makan. Matanya berbinar bahagia.
"Wangi sekali makanannya. Zidan, kamu yang masak lagi? Ibu jadi terharu."
Zidan segera melepaskan tangan Viona dengan halus, kembali ke mode "anak tertua yang bertanggung jawab dan sopan". Ia berdiri, membantu merapikan posisi bantal di belakang punggung ibunya agar lebih nyaman. "Iya, Bu. Nasi goreng sayur rendah minyak. Sehat untuk pemulihan lambung Ibu dan mudah dicerna. Saya tambahkan jahe sedikit untuk menghangatkan tubuh."
Rani tersenyum hangat pada Zidan, tatapan penuh kasih sayang seorang ibu. "Terima kasih, Nak. Kamu semakin perhatian, semakin dewasa. Ibu bangga punya anak sepertimu. Sungguh."
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Zidan, itu seperti beban berat yang diangkat dari pundaknya, sebuah validasi yang ia rindukan sejak kecil. Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi haru dan air mata yang masih tersisa.
"Sama-sama, Bu. Itu tugas saya."
Viona memperhatikan interaksi itu dengan mata berkaca-kaca dan hati yang hangat. Ia melihat retakan kecil di tembok pertahanan Zidan mulai melebar, memungkinkan cahaya cinta ibunya masuk sedikit demi sedikit, menyembuhkan luka lama. Dan ia bersyukur menjadi bagian penting dari proses penyembuhan itu, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan Zidan.
Setelah sarapan selesai dan obat-obatan diminum, Pak Wahyu pulang dari kantornya lebih awal. Suasananya riuh rendah dengan candaan, rencana liburan kecil-kecilan ke pantai untuk merayakan kesembuhan Rani, dan diskusi tentang renovasi taman belakang. Zidan tampak jauh lebih rileks, bahkan sesekali tertawa lepas mendengar lelucon ayahnya yang konyol, tawa yang terdengar asing namun indah di telinganya.
Saat siang hari menjelang, ketika semua orang sibuk dengan aktivitas masing-masing—Pak Wahyu menelepon rekan bisnis, Rani istirahat di kamar, perawat menyiapkan makan siang—Zidan menarik Viona pelan ke taman belakang rumah. Di bawah pohon mangga tua yang rindang, dengan daun-daun hijau yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi, ia berhenti dan menatap Viona lekat-lekat.
"Vion," ucapnya serius, namun matanya lembut.
"Ya, Kak?" jawab Viona, jantungnya berdebar kencang menantikan apa yang akan dikatakan Zidan.
"Aku ingin kita pelan-pelan. Mengenal satu sama lain lebih dalam, bukan hanya sebagai kakak-adik tiri yang terjebak dalam satu atap, tapi sebagai pasangan yang memilih untuk bersama. Tanpa tekanan sosial, tanpa rahasia yang menyakitkan, tanpa rasa bersalah. Kita bangun ini dari nol, dengan kejujuran total. Apakah kamu mau menunggu dan berjalan bersamaku?"
Viona tersenyum lebar, air mata kebahagiaan menetes di pipinya. Hatinya berdebar kencang, dipenuhi rasa syukur dan cinta yang meluap.
"Aku mau, Kak. Lebih dari apapun di dunia ini. Aku akan menunggu, aku akan berjalan, dan aku akan mencintai Kakak dengan seluruh hatiku."
Zidan tersenyum lega, lalu mengecup kening Viona sekilas, ciuman janji yang suci.
"Bagus. Karena aku tidak berencana melepaskanmu lagi. Kamu adalah rumahku, Vion."
Di bawah naungan daun-daun hijau yang teduh, dengan angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka dan aroma tanah basah setelah hujan, Viona dan Zidan memulai babak baru dalam hidup mereka. Babak yang penuh tantangan eksternal, pertanyaan sosial, dan kompleksitas keluarga, namun juga dipenuhi janji cinta yang tulus, penyembuhan yang lambat namun pasti, dan harapan yang tak tergoyahkan. Mereka tahu, jalan ke depan tidak akan mulus, akan ada badai lagi, tapi selama mereka berjalan bersama, saling menggenggam tangan, tidak ada ombak yang terlalu besar untuk dihadapi.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zidan merasa damai sejati. Bukan karena ia mengendalikan segalanya dengan logika dingin, tapi karena ia akhirnya memiliki seseorang untuk berbagi kendali, berbagi beban, dan berbagi hidup.