NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi

​Udara di Lembah Kematian seberat timah dan berbau seperti belerang busuk. Kabut hijau tipis—miasma beracun alami—terus-menerus merayap di atas tanah yang gersang.

​Kereta tahanan berhenti dengan sentakan keras. Lin Tian ditendang keluar oleh penjaga, tubuhnya menghantam tanah berbatu yang dingin. Luka di perutnya, yang baru saja mengering karena udara malam, kembali sobek dan mengeluarkan darah.

​"Bangun, babi malang!"

​Sebuah cambuk kulit berduri mencambuk punggung Lin Tian, merobek jubah abu-abunya dan meninggalkan bilur berdarah. Di hadapannya berdiri Mandor Tie, seorang pria bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka, seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 5 yang dibuang ke sini karena pelanggaran ringan bertahun-tahun lalu. Di tangannya, sepotong batu hitam pekat memancarkan aura suram.

​"Selamat datang di Tambang Batu Hitam. Di sini, status kalian sebagai murid sekte sudah mati. Kalian adalah budak penggali," geram Mandor Tie, matanya menyapu Lin Tian dan beberapa tahanan lain yang gemetar. "Kalian harus menyerahkan sepuluh bongkahan Batu Hitam setiap matahari terbenam. Kurang satu batu, jatah makan kalian dipotong. Kurang tiga batu, kalian tidur di luar barak untuk dihisap kabut beracun. Mengerti?!"

​Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mengertakkan gigi, dan perlahan bangkit berdiri. Tangannya yang gemetar menerima sebuah beliung tambang berkarat yang dilemparkan penjaga.

​Setiap tarikan napas di tempat ini terasa seperti menghirup pecahan kaca. Miasma itu perlahan meracuni paru-paru dan menyumbat sisa-sisa meridian di tubuh Lin Tian. Tanpa Dantian untuk menyaring dan memurnikan racun tersebut, kematian hanyalah masalah waktu. Sebulan? Mungkin dua minggu.

​Tanpa membuang tenaga untuk berbicara, Lin Tian menyeret kakinya memasuki terowongan tambang yang gelap gulita. Di dalam, suara dentingan beliung beradu dengan batu terdengar bersahut-sahutan seperti rintihan iblis di neraka. Para budak tambang yang tubuhnya kurus kering bagai tengkorak hidup menatapnya dengan mata kosong.

​Lin Tian tahu ia tidak bisa bersaing dengan budak lain di terowongan utama. Tubuhnya terlalu lemah. Jika ia mencoba menambang di sana, batu hasil jerih payahnya pasti akan dirampas oleh penambang yang lebih kuat. Ia harus masuk lebih dalam, ke area terowongan tua yang ditelantarkan karena rawan runtuh.

​Semakin dalam ia melangkah, udara semakin tipis dan dingin. Namun anehnya, kabut beracun di sini mulai menipis.

​Trak! Trak!

​Lin Tian mulai mengayunkan beliungnya ke dinding batu. Setiap ayunan mengirimkan gelombang rasa sakit yang menyengat ke perutnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Pandangannya berkunang-kunang.

​Satu ayunan untuk Lin Xue...

Dua ayunan untuk Zhao Feng...

Tiga ayunan untuk Sekte Awan Hijau yang munafik...

​Kebencian menjadi satu-satunya bahan bakar yang menggerakkan otot-ototnya yang mati rasa.

​Hingga pada ayunan ke seratus, beliung karatan itu menghantam sesuatu yang keras dengan suara Deng! yang nyaring. Bukan suara batu yang pecah, melainkan logam beradu logam.

​Tiba-tiba, retakan panjang menjalar di dinding gua. Sebelum Lin Tian sempat bereaksi, tanah di bawah kakinya runtuh. Ia terperosok ke dalam kegelapan, berguling menuruni lereng batu tajam, sebelum akhirnya terhempas keras di lantai berbatu yang rata.

​"Uhuk!" Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam. Seluruh tulangnya serasa remuk.

​Ia mencoba mengatur napasnya di tengah kegelapan pekat. Namun, ada yang aneh. Miasma beracun benar-benar lenyap di ruang bawah tanah ini. Sebagai gantinya, udara dipenuhi oleh tekanan energi yang sangat dingin, tajam, dan memotong, seolah-olah ribuan pedang tak kasat mata ditodongkan ke tenggorokannya. Ini adalah Niat Pedang (Sword Intent) yang murni!

​Lin Tian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan batu pendar kecil—perlengkapan standar para penambang—lalu mengangkatnya.

​Cahaya kebiruan dari batu pendar menerangi ruangan rahasia tersebut, mengungkap pemandangan yang membuat napas Lin Tian terhenti.

​Di tengah ruangan, duduk bersila sebuah kerangka manusia. Namun, tulang-tulang itu tidak berwarna putih, melainkan abu-abu gelap dengan kilau metalik, menyerupai baja yang ditempa ribuan kali. Di pangkuan kerangka itu, bertumpu sebilah pedang hitam legam yang ujungnya tertancap ke lantai batu. Tidak ada aura dewa atau makhluk mistis; yang ada hanyalah sisa-sisa dari seorang manusia purba yang kehendak bertarungnya menolak untuk memudar meski dagingnya telah membusuk ditelan zaman.

​Pandangan Lin Tian beralih ke dinding batu di belakang kerangka tersebut. Di sana, tertulis rentetan aksara kuno yang diukir dalam-dalam. Bukan menggunakan pahat, melainkan diukir langsung menggunakan jari-jari yang diselimuti Niat Pedang!

​"Dantian adalah kelemahan fana. Lautan Qi adalah sangkar yang membatasi."

​"Aku, Pedang Gila Gu Chen, menghabiskan tiga ratus tahun memutus meridianku dan menghancurkan Dantianku untuk membuktikan satu hal: Tubuh manusia adalah sarung pedang terbaik di bawah kolong langit!"

​"Kepada siapa pun yang menemukan makamku. Jika Dantianmu utuh, enyahlah, karena seni ini akan meledakkan tubuhmu berkeping-keping. Namun jika kau adalah manusia cacat yang telah kehilangan segalanya dan menyimpan dendam setinggi langit, maka pelajari Seni Pedang Sembilan Kematian ini."

​Mata Lin Tian membelalak. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang meledak-ledak. Jantungnya bergemuruh liar.

​"Dantian adalah sangkar... Tubuh adalah sarung pedang..." gumam Lin Tian, membaca baris-baris selanjutnya dengan rakus.

​Seni Pedang Sembilan Kematian bukanlah teknik untuk menyerap energi spiritual lembut (Qi) alam. Seni ini menuntut praktisinya untuk menyerap energi destruktif, racun, Niat Pedang yang mematikan, atau aura pembunuhan langsung ke dalam daging dan tulang. Memaksa tubuh hancur dan menyusun dirinya kembali menjadi senjata dewa.

​Sembilan Kematian. Sembilan siksaan yang melampaui batas kewarasan.

​Langkah pertama: Besi Penempa Daging. Menarik Niat Pedang dari lingkungan sekitar untuk menyayat otot dan urat saraf dari dalam, mengubah kelemahan menjadi ketahanan absolut. Jika kemauannya goyah walau sedetik, Niat Pedang itu akan mengiris jantungnya dari dalam.

​Bagi orang waras, ini adalah bunuh diri.

​Lin Tian menatap perutnya yang berbalut kain bernoda darah, lalu menatap kerangka Gu Chen. Ia membungkuk perlahan, bersujud tiga kali di hadapan sisa-sisa pendekar pedang kuno itu.

​"Senior Gu Chen," bisik Lin Tian, suaranya dingin dan stabil. "Junior Lin Tian hari ini mengambil warisanmu. Jika aku gagal dan mati, biarlah tulangku menemani tulangmu di gua tanpa cahaya ini."

​Lin Tian duduk bersila dalam posisi teratai. Ia menutup matanya dan mengikuti mantra pernapasan dari ukiran di dinding.

​Tidak butuh waktu lama bagi Niat Pedang purba yang memenuhi ruangan itu untuk merespons. Energi tak kasat mata yang setajam silet mulai mengalir perlahan melalui pori-porinya, langsung menuju otot dan meridiannya yang terluka.

​ZRAASH!

​Lin Tian membuka mulutnya, memekik tanpa suara. Rasanya seolah jutaan semut yang membawa belati kecil merayap di bawah kulitnya, mencincang dagingnya perlahan-lahan. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol, nyaris pecah. Darah mulai menetes dari hidung, mata, dan telinganya.

​Sakit! Sakit yang membuat kematian terasa seperti hadiah yang indah!

​Namun di tengah siksaan mengerikan itu, di bawah wajahnya yang berlumuran darah, bibir Lin Tian melengkung membentuk seringai buas.

​Biarkan sakit ini menempaku. Biarkan siksaan ini menjadi taringku.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!