NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 10: Siasat di Koridor Kampus

Pagi itu, ketenangan Arumi kembali diuji. Sesuai pembicaraan mereka semalam tentang tenggat waktu yudisium yang kian mencekam, Arumi harus segera pergi ke kampus untuk mengurus verifikasi akhir berkas skripsinya.

Pak Tarjo mengantarnya menggunakan salah satu sedan mewah koleksi Renard—sebuah sedan putih mutiara yang kilatannya langsung memantulkan kasta sosial pemiliknya. Seperti biasa, Arumi meminta diturunkan di halte luar gerbang agar tidak memancing perhatian.

Namun sialnya, radar kecurigaan seorang sahabat jauh lebih tajam dari yang Arumi duga. Baru saja ia menutup pintu mobil dan membenahi letak tas kainnya, sebuah suara cempreng yang sangat ia kenal memanggil namanya dari arah belakang.

"Arumi?!"

Arumi tersentak kaku. Ia membalikkan tubuhnya perlahan dan mendapati Citra, sahabat dekatnya sejak semester satu, sedang berdiri dengan mata membelalak sempurna.

Pandangan Citra bergerak ritmis; bergantian menatap Arumi yang tampil sangat modis dengan blus sutra pastel baru, beralih ke sedan mewah yang perlahan melaju pergi, dan terakhir mengunci pandangannya pada cincin berlian yang berkilau di jari manis Arumi.

"Lo... lo turun dari mobil siapa itu? Terus penampilan lo kok mendadak berubah drastis begini? Dan tunggu—itu cincin di jari lo apa maksudnya?!" rentetan pertanyaan Citra meluncur dengan ekspresi penuh selidik.

Jantung Arumi berdegup kencang. Ia merutuki kecerobohannya yang lupa melepas cincin pernikahan kontraknya pagi tadi. Otaknya langsung berputar cepat mencari alasan paling logis.

"Eh, Citra... Kebetulan banget ketemu di sini," Arumi tertawa kaku, berusaha bersikap sealami mungkin sambil diam-diam menyembunyikan tangan kanannya ke dalam saku celana. "Itu... t-tadi itu mobil om gue! Iya, om gue yang baru datang dari luar kota. Dia kebetulan lewat jalur sini, jadi sekalian nganterin gue. Soal baju... ini kan baju lungsuran dari sepupu gue yang kerja di kantoran!"

Citra menyipitkan matanya, tampak sangat sangsi dengan penjelasan Arumi yang terdengar megap-megap. Namun, sebelum Citra sempat menginterogasi lebih jauh, Arumi langsung merangkul pundak sahabatnya itu dan menariknya menuju gedung dekanat. "Udah ah, jangan bahas om gue terus. Sekarang yang paling penting kita urus berkas yudisium dulu, yuk. Gue nggak mau kelewatan gelombang ini."

Proses di ruang dekanat menguras sisa energi Arumi. Ia harus mengantre selama dua jam, memeriksa ulang lembar demi lembar kelengkapan berkas skripsinya tentang fenomena phubbing, hingga akhirnya stempel resmi pendaftaran yudisium mendarat di dokumennya.

Nama Arumi Andini kini sah terdaftar sebagai peserta yudisium untuk gelombang bulan ini. Target besar sebelum tanggal 14 Maret berhasil ia amankan dengan sempurna. Rasa syukur yang luar biasa membuncah di dalam dadanya.

Sore harinya, sebelum kembali ke mansion, Arumi meminta Pak Tarjo mampir ke sebuah toko perlengkapan hewan peliharaan. Mengingat anak kucing liar di rumah Renard masih sangat kecil, Arumi mengabaikan pakan dewasa pilihan asisten Renard yang salah sasaran kemarin.

Ia membeli beberapa saset wet food bertekstur bubur lembut khusus anak kucing serta susu formula rendah laktosa menggunakan kartu debit yang dititipkan Renard.

Begitu tiba di mansion, Arumi langsung menuju dapur bersih untuk memberi makan si Oyen. Anak kucing oranye itu melahap makanan barunya dengan sangat rakus, membuat Arumi tertawa kecil menyaksikannya.

"Senang melihatmu menyukai pilihan istriku."

Suara bariton yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk dapur membuat Arumi tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati Renard sudah berdiri di sana. Pria itu tampak baru saja kembali dari kantor; jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah sedikit dilonggarkan, dan beberapa helai rambut depannya jatuh berantakan di dahi—memberikan kesan maskulin yang kasual.

"Tuan Renard? Anda sudah pulang?" Arumi berdiri dari posisi berlututnya, merapikan blusnya yang sedikit kusut.

Renard berjalan mendekat, mengamati wadah makanan kucing tersebut. "Rapat sore ini selesai lebih cepat dari jadwal. Jadi, itu makanan yang kamu maksud tadi pagi? Setidaknya uangku tidak terbuang sia-sia untuk membeli barang yang salah," ucap Renard kaku, berusaha menutupi perhatiannya.

"Iya, Tuan Muda yang rasional," goda Arumi dengan senyuman tulus. "Oh ya, berkas pendaftaran yudisium saya juga sudah selesai dan resmi diterima oleh pihak kampus hari ini. Semuanya aman jauh sebelum tanggal empat belas Maret."

Renard menatap tepat ke dalam manik mata Arumi. Ekspresi wajahnya yang semula kaku perlahan melunak, meski ia tetap berusaha mempertahankan nada suaranya yang datar.

"Sudah semestinya begitu," ucap Renard dengan keangkuhan mutlaknya yang kembali muncul. "Jika dengan semua fasilitas dan pelunasan utang puluhan miliar dari pihakku kamu masih saja gagal lulus tepat waktu, itu artinya aku telah melakukan investasi yang sangat buruk pada seorang wanita. Kelulusanmu ini murni kewajiban kontrak."

Arumi tidak merasa sakit hati lagi. Ia justru memperhatikan bagaimana daun telinga Renard mulai merona kemerahan—sebuah tanda bahwa pria itu sebenarnya merasa bangga namun enggan memujinya secara langsung.

Tepat pada saat itu, sebuah suara gemerisik kecil terdengar dari bawah meja. Si Oyen yang sudah selesai makan tiba-tiba berjalan dengan langkah terhuyung-huyung, lalu dengan berani memanjat ujung celana kain mahal milik Renard menggunakan kuku-kuku kecilnya.

"Eh! Mau apa kamu?!" seru Renard panik, tubuhnya seketika menegang kaku bak patung es.

"Tuan, jangan digerakkan kakinya! Nanti dia terjatuh," pekik Arumi panik, namun ia tidak bisa menahan tawa melihat seorang CEO raksasa bisnis kini mati kutu hanya karena seekor anak kucing seukuran telapak tangan.

Renard terpaksa membungkuk, lalu dengan gerakan yang diusahakan terlihat kasar namun sebenarnya sangat protektif, ia menyisipkan jemari besarnya di bawah perut si Oyen dan mengangkatnya ke atas pangkuannya. Anak kucing itu justru mengeong manja, melingkarkan tubuhnya di atas paha Renard dan mulai mendengkur halus.

Wajah Renard seketika memerah sempurna hingga ke lehernya karena tertangkap basah sedang memangku hewan tersebut di depan Arumi.

"Lihat apa kamu, Arumi?!" bentak Renard, suaranya meninggi demi menutupi rasa malunya yang sudah berada di ambang batas. "Aku cuma memeganginya agar dia tidak mengencingi celanaku! Mulai besok, kamu harus pakai mobil SUV yang paling biasa di garasi belakang agar teman kampusmu tidak banyak bertanya, dan urus makhluk berisik ini dengan benar!"

Arumi hanya tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar begitu indah di tengah kesunyian rumah pualam yang dingin itu. Dinding es di antara mereka perlahan-lahan mulai terkikis oleh kehadiran makhluk kecil berbulu oranye dan sebuah rahasia kecil yang mereka bagi bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!