NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.

Tapi plot twist-nya...

Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!

Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?

✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu

Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor⁠�

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sutradara menghela napas, lalu memberi isyarat kepada kru untuk mengatur adegan lain terlebih dahulu.

Matanya sempat melirik aktor pria itu dengan kesal, sebelum akhirnya berkata,

“Begini saja, kamu istirahat dulu sebentar sebelum kita lanjut.”

Aktor pria itu dikenal memiliki koneksi kuat di industri dan juga mendapat bagian peran yang tidak kecil di dalam drama ini. Sutradara enggan menegurnya secara langsung, sehingga ia hanya mengambil langkah aman dengan harapan Zoya tidak memperbesar masalah ini.

Zoya memahami niat sutradara… Tanpa banyak reaksi, ia berjalan menuju kursi paling ujung di area istirahat.

Di sana, seorang wanita berambut pendek sedang berdiri, namun Zoya tidak menyapanya. Ia hanya lewat, lalu duduk dengan tenang.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian memejamkan mata…

Zoya tahu bahwa hari ini ia telah menyinggung seseorang.

Tapi lalu kenapa?

Ia tidak takut. Ia tidak akan berkompromi seperti orang lain yang memilih diam demi aman. Jika konsekuensinya buruk, paling tidak… ia hanya tidak akan melanjutkan karir di industri ini.

Setelah beristirahat beberapa menit, giliran Zoya kembali ke set untuk melanjutkan syuting.

Aktor pria yang tadi sempat membuat masalah kini terlihat jauh lebih hati-hati. Setelah “peringatan” tak langsung yang terjadi sebelumnya, sikapnya berubah… jauh lebih terkontrol, bahkan cenderung menjaga jarak.

Seolah sepuluh keberanian pun tidak cukup untuk membuatnya mengulangi kesalahan yang sama.

Benar saja, proses syuting berjalan jauh lebih lancar. Tidak ada gangguan, tidak ada improvisasi yang tidak perlu. Adegan itu pun selesai lebih cepat.

Setelah syuting selesai, Zoya menerima notifikasi transfer dari pihak produksi… bayaran untuk peran minor yang ia mainkan di film tersebut.

Tanpa banyak reaksi, ia memasukkan ponselnya kembali, lalu menuju ruang ganti untuk berganti pakaian.

Di luar, asistennya sudah lebih dulu keluar untuk menyiapkan mobil yang akan menjemputnya pulang.

Karena perannya hanya muncul dalam satu adegan, ruang ganti itu dipakai bergantian oleh banyak orang.

Begitu Zoya selesai berganti pakaian dan belum sempat membersihkan riasan kuning kusam di wajahnya, ia melihat aktor pria yang tadi terlibat adegan dengannya berjalan mendekat dengan langkah cepat… raut wajahnya jelas dipenuhi amarah.

Zoya tetap berdiri di tempat, tidak bergeser sedikit pun. Matanya hanya menatap lurus ke arah aktor yang mendekat.

Aktor ini berperan sebagai antagonis, dan perannya cukup penting untuk alur cerita dalam film ini. Ia juga sudah memiliki nama yang lumayan di industri.

Namun kejadian sebelumnya membuat harga dirinya terasa terinjak. Dipaksa berlutut di depan kru dan dibongkar secara paksa oleh Zoya meninggalkan luka ego yang jelas belum reda. Di benaknya dia berpikir awas saja jika berada di tangannya akan ia buat zoya menjilat kakinya…

Kini, saat ia mendekat, tatapannya tajam dan penuh ketidaksenangan… tidak ada lagi sisa profesionalitas yang tersisa di wajahnya.

Melihat zoya hanya berdiri diam menatapnya, pria itu melangkah maju hingga jarak mereka nyaris tak bersisa.

Tangannya terangkat, lalu mendarat di bahu gadis itu.

Senyum terpasang di wajahnya… tipis, namun terasa dingin.

“Kejadian hari ini… benar-benar membuatku kehilangan muka,” ucapnya pelan. Suaranya rendah, tapi mengandung tekanan yang jelas.

Ia sedikit mencondongkan tubuh, menatap langsung ke mata Zoya.

“Tapi aku bisa melupakannya… kalau kamu mau makan malam denganku malam ini.”

Jeda singkat.

“Bagaimana?”

Zoya tentu mengerti makna di balik kata “makan malam itu.”

Di lingkaran hiburan, ajakan itu hampir seperti kode tak tertulis… sebuah ajakan yang terdengar biasa di permukaan, namun menyimpan maksud lain yang semua orang pahami.

Mengajak makan malam… lalu berlanjut ke sesuatu yang jauh dari sekadar makan.

Zoya bukan tipe orang yang mudah diintimidasi.

Aktor di depannya ini bernama Bimasya… memang ia cukup berpengaruh di dunia film. Kemampuan aktingnya diakui, dan reputasinya di mata penggemar pun hampir tanpa cela.

Itulah yang membuat Zoya sedikit terkejut.

Di balik citra sempurna yang ia tampilkan di depan publik, pria ini… ternyata sama saja. Senyumnya yang tadi terlihat sopan kini terasa berbeda… terasa lebih licin.

Zoya hanya mendongak, meliriknya sekilas, lalu berkata datar,

“Menurutmu… kenapa aku harus setuju?”

Wajah Bimasya yang semula penuh percaya diri langsung mengeras. Keningnya berkerut.

“Kalau begitu, karirmu akan terancam…” katanya, suaranya menekan. Tangannya yang berada di bahu Zoya tanpa sadar mengeras.

Namun sebelum ia sempat berbuat lebih jauh, Zoya bergerak dengan cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan Bimasya… ia bukan sekadar menahan, melainkan menekan titik saraf tertentu. Meski tubuhnya terlihat ramping dan lembut, tapi ia paham dimana letak saraf yang membuat orang kesakitan.

Dalam sekejap, lengan Bimasya seperti kehilangan tenaga. Mati rasa menjalar, membuat lengannya terkulai lemah seperti tak bertulang.

Zoya melepaskan tangannya dengan satu kibasan ringan.

Bimasya tertegun. Rasa nyeri di lututnya dari kejadian sebelumnya masih tersisa, kini ditambah sensasi aneh di lengannya. Ia menatap Zoya dengan campuran marah dan tak percaya.

“Kau…”

Wajahnya memerah, dan ia melangkah mundur… ada sedikit ketakutan di matanya.

Di matanya, Zoya tampak begitu angkuh.

Hanya seorang food blogger biasa… beraninya dia?

Tatapannya berubah tajam, menyisakan ejekan yang dipendam.

“Hm… lihat saja nanti,” gumamnya sebelum berbalik pergi dengan amarah yang masih mendidih.

Ia sempat melirik sekeliling… beruntung, hanya sedikit orang di ruang itu. Beberapa MUA sibuk membereskan peralatan rias di atas meja panjang penuh lampu putih terang, sementara yang lain fokus menata gaun dan aksesori tanpa terlalu memedulikan suasana di sudut ruangan.

Terdengar samar suara hair dryer dan dentingan kecil botol kosmetik yang saling beradu, tetapi di balik kesibukan itu, udara tetap terasa tegang. Beberapa orang diam-diam melirik sekilas sebelum buru-buru mengalihkan pandangan, seolah enggan terseret ke dalam masalah.

Sementara itu, Zoya tetap tenang. Ia berjalan ke cermin, membersihkan sisa riasan kuning kusam di wajahnya hingga kembali pada tampilan aslinya. Kulitnya putih dan lembut.

Setelah itu, ia mengambil tas dan botol minumnya… lalu melangkah pergi.

Saat berada di dalam mobil, duduk di kursi penumpang, Zoya menendang dasbor dengan kesal.

“Berani-beraninya dia menyentuhku! Kini Image-ku sudah hancur…”

Ia menoleh ke samping, nada suaranya masih dipenuhi emosi.

“Nec… apa yang harus aku lakukan?”

Tangannya segera meraih tisu dari dasbor. Dengan ekspresi jijik, ia mengusap bagian pinggangnya berulang kali…

Necki meliriknya sekilas. Saat mobil berhenti di lampu merah, ia menoleh penuh arti.

“Daripada memikirkan hal ini, lebih baik kamu pikirkan kuliahmu besok. Dosen Matematika itu tidak setuju dengan sistemmu… datang hanya saat ujian. Kelasmu sudah dipindahkan.”

Zoya yang masih sibuk mengusap pinggangnya tiba-tiba terhenti. Ia menoleh cepat.

“Apa maksudmu…?” tanyanya bingung.

Necki memutar bola matanya. “Artinya kamu harus datang ke kelas lain…. Dan itu besok!”

1
Tamirah
Semangat Thor untuk selalu berkarya.Novel mu menarik untuk dibaca bila belummm ada komentar bukan karena gak suka tapi masih mengikuti alur cerita nya komplik belum terlalu panas. masih aman-aman saja Thor.
Tamirah
Menarik cerita ini,Arlo gak tahu Kalau Jaiden dan Zoya kakak beradik. Apa lagi Arlo tahu Jaiden seorang casanova.bayangan dia jangan sampai Jaiden jatuh cinta sama Zoya menakutkan.Apa reaksi Arlo Kalau tahu Zoya adik nya Jaiden.
Tamirah
Zoya sang artis yg terpikat pada dosen nya tapi ia tidak memperlihatkan ketertarikan biar tidak dianggap murahan.Karena banyak wanita yang mendekati dosen tampan itu dgn menggunakan cara yg sdh bisa ditebak oleh dosen tsb.Beda nya sang artis punya pertanyaan jitu yg bernuansa ilmiah dan juga tdk banyak omong gestur tubuh annggun,gerakan tubuh normal tidak ada unsur menggoda .Justru itu yg membuat dosen tampan penasaran.
fhallenopsis amabilis: Jadi, Gimana.. apakah metode mengejar Zoya ini ampuh? 😄
total 1 replies
Hizbi Hizbi
tentang dunia hiburan?
Ratna Sriistiani
bagus banget 🤗
Nuznul aini
kerennn
Nuznul aini
kerennn👍
EvhaLynn
Semangat Thor😉
fitriana dian85
Thor, tuan muda saksomo kakaknya zoya sangat ketat sama adiknya! kasian arlo
Rahil Ziazun
ih.. seru juga ternyata 😍🤣 semangat Thor 💪
Alia Chans: seru nih, semangat ✍️ nya

dan jangan lupa ya kalo ada waktu mampir juga😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!