"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Gema di Ruang Sunyi
Gemuruh perang korporasi yang membakar Lantai 14 beberapa jam lalu mendadak surut dengan cepat, digantikan oleh keheningan yang tebal dan berat begitu pintu unit penthouse mereka kembali terkunci rapat dari dalam.
Dunia luar, dengan segala kompleksitas intrik, intaian sabotase, dan ancaman yang mengancam nyawa, seolah-olah teredam sepenuhnya oleh dinding beton kedap suara yang mengelilingi mereka.
Di dalam ruangan luas bergaya modern kontemporer yang kini hanya diterangi oleh pendaran lampu pijar kekuningan yang temaram, Alea Corisand berharap ketegangan taktis yang biasa menyelimuti mereka bisa sedikit mencair.
Namun, bagi Adrian Hutama, garis batas yang tertulis di atas lembar kertas kontrak kerja sama mereka adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh dilanggar oleh dinamika emosi apa pun.
Alea melangkah dengan pelan, ritme sepatunya yang tak lagi tergesa-gesa terdengar samar di atas lantai marmer hitam menuju ke arah balkon luar.
Dia membiarkan daun pintu kaca besar tergeser terbuka, menyambut angin malam kota Valerika yang berembus lembut, langsung menerpa permukaan wajahnya yang tampak begitu lelah.
Gaun terusan berwarna marun pekat yang dikenakannya bergerak halus mengikuti ketukan angin malam.
Di dalam genggaman kedua tangan pribadinya, segelas teh kamomil hangat yang baru saja ia seduh di dapur bersih masih terus mengepulkan uap tipis yang membawa aroma menenangkan.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir yang penuh dengan turbulensi, detak jantung Alea tidak dipacu oleh fluktuasi laporan grafik saham atau ancaman dari luar.
Detak itu kini dipacu oleh rasa sunyi yang mendalam dan sebuah dorongan emosional yang tak lagi bisa ia bendung terhadap pria yang kini berstatus sebagai suaminya di mata hukum dan publik.
Adrian berdiri diam di dalam ruangan, memperhatikan siluet tubuh wanita itu dari balik bayangan lampu yang temaram.
Pria itu telah menanggalkan jas abu-abu gelapnya, meletakkannya dengan rapi di atas sandaran kursi.
Namun, berbeda dengan kemejanya yang kini tampak sedikit lebih kasual dengan dua kancing teratas yang terbuka serta lengan yang digulung hingga siku, ekspresi wajah dan tatapan matanya tetap lurus, sedingin batu es, dan terjaga penuh.
Langkah kakinya bergerak tanpa suara saat berjalan mendekati area balkon, mengambil posisi tepat di samping Alea, menyandarkan kedua telapak tangannya yang besar pada pagar pembatas besi balkon.
"Kau masih memikirkan strategi untuk menghadapi rapat pleno pemegang saham luar biasa besok siang?" tanya Adrian dengan nada suara yang bariton, datar, dan tajam, langsung mengarahkan percakapan pada koridor bisnis tanpa basa-basi.
Alea menggelengkan kepalanya perlahan.
Dia menghirup dalam-dalam aroma uap teh kamomil di tangannya sebelum memalingkan wajah, menatap profil samping wajah Adrian dari jarak dekat.
"Tidak. Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, aku sama sekali tidak sedang memikirkan tentang dewan direksi, pengkhianatan Baskoro, atau pergerakan paman Arthur. Aku hanya... sedang memikirkan tentang kita."
Adrian menolehkan kepalanya sedikit, membiarkan sepasang matanya yang tajam menatap Alea tanpa ekspresi yang berarti.
"Kita? Jika yang kau maksud adalah aliansi kita, kontrak kerja sama di antara Hutama dan Corisand berjalan dengan sangat presisi sesuai rencana awal, Alea. Defisit tingkat kepercayaan publik di pasar saham sudah berhasil kita atasi sepenuhnya."
"Aku tahu hal itu," sela Alea, suaranya merendah, terselip nada kecewa yang kentara atas jawaban mekanis pria itu.
"Tapi kau tahu persis bukan hal itu yang kumaksud, Adrian. Kau mungkin bisa membohongi algoritma komputer atau memanipulasi laporan keuangan, tapi kau sama sekali tidak bisa membohongi caramu menatapku di dalam restoran tua di dermaga semalam. Atau caramu menggenggam jemari tanganku di depan seluruh staf kantor tadi siang. Mengapa kau terus-menerus bersembunyi di balik lembar kontrak ini? Apakah tidak ada ruang sedikit pun untuk apa yang terjadi di antara kita secara nyata?"
Mendengar pertanyaan Alea yang frontal, berani, dan sarat akan kedekatan emosional, rahang Adrian tampak mengencang seketika.
Di dalam benaknya, sebuah kilasan ingatan yang sangat kuat mendadak muncul ke permukaan, sebuah potret wajah seorang wanita yang telah mengiringi setiap langkah ambisinya jauh sebelum pernikahan kontrak ini dirancang di atas meja hukum.
Kekasihnya yang sesungguhnya, wanita yang memegang janji setianya di lubuk hati terdalam dan sedang menantinya di ujung penyelesaian konflik ini, adalah satu-satunya alasan mengapa Adrian terus mematikan seluruh radar perasaannya untuk wanita lain.
Termasuk untuk Alea Corisand, sekalipun pesona dan kerapuhan wanita itu sesekali mengetuk pertahanannya.
Adrian menarik kembali kedua tangannya dari pagar balkon, menegakkan tubuhnya hingga postur tegapnya menjulang tinggi, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Jarak emosional yang ia ciptakan mendadak terasa jauh lebih lebar dan dingin daripada jarak fisik yang memisahkan mereka berdua saat ini.
"Kau salah membaca situasi dengan sangat fatal, Alea," jawab Adrian dingin, suaranya datar tanpa ada riak emosi sedikit pun di dalamnya.
"Caraku menatapmu di dermaga semalam adalah kalkulasi instan dari seorang kepala keamanan dan investor yang tidak ingin aset strategisnya hancur sebelum waktunya. Jika kau sampai mati membeku di dalam ruang isolasi nitrogen itu, skenario merger kita batal total, dan reputasi Hutama Industries akan jatuh bebas di lantai bursa. Apa yang kau lihat sebagai kecemasan murni malam itu adalah manajemen risiko korporasi."
Alea tertegun, matanya menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan rasa sakit yang mulai menusuk dadanya.
"Lalu... tindakanmu melepas blazer tebalmu dan menyampirkannya ke bahuku saat udara laut berembus kencang? Apakah itu juga bagian dari manajemen risikomu yang dingin?"
"Tentu saja," sahut Adrian cepat, menepis implikasi pertanyaan itu tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam suaranya.
"Menjaga kesehatan fisikmu tetap prima menjelang RUPSLB besok siang adalah prioritasku sebagai mitra. Aku tidak bisa membiarkan CEO Corisand Media Group tampil di hadapan publik dengan kondisi drop atau sakit. Dan mengenai genggaman tangan di depan para staf kantor tadi siang..."
Adrian menatap Alea dengan pandangan profesional yang sangat tajam, seolah-olah sedang memberikan presentasi bisnis di ruang rapat.
"...itu adalah taktik public relations yang paling mendasar. Kita perlu meyakinkan sisa-sisa mata-mata Arthur yang masih bersembunyi di dalam gedung bahwa pernikahan ini berjalan solid dan tak tergoyahkan. Skenario yang meyakinkan membutuhkan gestur publik yang meyakinkan. Aku hanya melakukan tugasku dengan sangat baik."
Kata-kata Adrian yang dingin, tak berrongga emosi, dan penuh dengan rasionalitas itu menghantam telak ego dan harga diri Alea.
Kehangatan yang sempat ia rasakan menyelimuti hatinya semalam seolah-olah menguap begitu saja ke udara malam, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa pria di hadapannya ini benar-benar sebuah robot korporasi yang kejam, yang jiwanya telah tertutup rapat untuk dirinya.
Adrian bisa melihat dengan sangat jelas kilat terluka dan kekecewaan yang mendalam di sepasang mata marun milik Alea.
Namun, dengan kekerasan hati yang luar biasa, Adrian menekan kuat-kuat rasa tidak nyaman yang sempat melintas sekilas di dalam dadanya.
Dia tidak boleh membiarkan dirinya goyah, bahkan tidak untuk satu inci pun.
Di dalam hatinya, komitmen dan ruang emosionalnya telah terkunci rapat pada satu nama kekasihnya, dan Alea Corisand tidak akan pernah dan tidak boleh menggantikan posisi itu.
Pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang memiliki tanggal kedaluwarsa yang jelas, dan Adrian berniat menyelesaikannya secara bersih dan profesional.
"Jangan pernah mencampuradukkan tuntutan peran kita di lapangan dengan realitas perasaan yang sebenarnya, Alea," lanjut Adrian, suaranya kini terdengar seperti sebuah peringatan keras yang tegas dan tidak menerima bantahan.
"Aku sangat menghormatimu sebagai rekan bisnis yang cerdas, tangguh, dan penuh potensi. Aku juga akan memastikannya dengan seluruh sumber daya yang kumiliki agar kau memenangkan perang keluarga ini melawan pamanmu. Tapi, hubungan kita hanya akan berjalan sampai di situ. Itu adalah batas mutlak hakmu atas diriku."
Alea menarik napas dalam-dalam, menahan genangan air mata yang sempat mengancam akan runtuh di sudut matanya.
Dia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menolak perasaannya dengan begitu efisien.
Alea meletakkan gelas teh kamomilnya dengan ketukan keras yang disengaja di atas meja kecil balkon, lalu menatap Adrian dengan tatapan mata yang kembali mengeras, topeng ketangguhan seorang Corisand kini telah terpasang kembali dengan sempurna di wajahnya.
"Kau benar, Tuan Hutama," ucap Alea dengan nada suara yang tak kalah dingin dan berjarak, sengaja mengubah panggilannya kembali menjadi sangat formal untuk menegaskan batas di antara mereka.
"Aku yang tampaknya terlalu lelah dan mengalami kelelahan mental, hingga sempat salah menilai profesionalismu yang luar biasa itu. Terima kasih banyak karena telah mengingatkanku kembali pada pasal-pasal fundamental yang tertulis di dalam kontrak kita."
Adrian hanya mengangguk pelan, menerima kembalinya dinding pembatas yang tebal di antara mereka dengan perasaan lega yang terpaksa ia yakini di dalam hatinya.
"Bagus kalau kita sudah berada di halaman dan pemahaman yang sama. Sekarang, masuklah dan istirahatlah yang cukup. Besok pukul sebelas siang, mobil jemputan protokol dari Hutama akan membawamu langsung ke ruang rapat pleno. Kita harus tampil sempurna tanpa cela di depan para pemegang saham."
Adrian membalikkan tubuh tegapnya, melangkah meninggalkan area balkon tanpa menoleh ke belakang lagi untuk melihat wanita itu.
Pintu kaca besar bergeser menutup dengan suara sapuan halus di belakangnya, meninggalkan Alea sendirian di bawah siraman angin malam Valerika yang menusuk hingga ke tulang.
Di dalam ruang tengah penthouse yang sunyi dan luas, Adrian berjalan menuju meja bar, menuangkan segelas wiski ke dalam gelas kristal.
Dia menatap cairan berwarna keemasan itu dengan tatapan kosong, sementara hatinya dengan patuh kembali mengulang-ulang janji setia yang ia simpan rapi untuk kekasihnya yang sebenarnya.
Sebuah komitmen tersembunyi yang menjadi jangkar utama agar dirinya tidak pernah jatuh, tidak peduli seberapa besar pesona atau badai emosi yang dibawa oleh Alea Corisand ke dalam hidupnya.
Bagi Adrian, profesionalisme ini adalah tameng terakhirnya, dan dia tidak akan membiarkan tameng itu retak oleh apa pun.