" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Candu di Balik Dinding
Jantung Valerian seakan berhenti berdetak membaca pesan singkat namun sarat akan ancaman dari Aksa. Ia melirik cepat ke arah sofa di sudut kamar. Beruntung, Damian masih tertidur lelap dengan posisi memunggungi ranjang, napasnya terdengar teratur akibat kelelahan yang luar biasa.
Dengan jemari yang gemetar karena panik, Valerian buru-buru mengetik balasan di bawah selimut tebalnya.
To: Aksa
Jangan nekat, Aksa! Aku mohon tenanglah. Dia tidak menyentuhku lebih jauh. Dania tadi mengetuk pintu karena mendengar keributan, jadi Damian memilih tidur di sofa. Jangan lakukan apa pun yang bisa menghancurkan kita malam ini.
Dibutuhkan waktu hampir dua menit yang terasa seperti siksaan bagi Valerian sampai ponselnya kembali bergetar pelan.
From: Aksa
Baguslah. Karena jika dia berani mengambil apa yang sudah menjadi milikku semalam, aku bersumpah tidak akan tinggal diam, Valerian. Tidurlah. Aku menjagamu dari balik dinding kamar sebelah.
Melihat kata "milikku", dada Valerian berdesir hebat. Rasa bersalah yang teramat besar kembali merayap di benaknya, namun di saat yang sama, ada rasa aman yang aneh yang diberikan oleh perhatian posesif Aksa. Sambil mendekap ponselnya di dada, Valerian akhirnya memejamkan mata, membiarkan kantuk membawanya pergi setelah malam yang menguras habis emosi dan tenaganya.
Keesokan paginya, sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama. Saat Valerian membuka mata, sofa di sudut ruangan sudah kosong bersih. Damian sudah bangun lebih awal, bersiap untuk hari penting penandatanganan kontrak bisnisnya.
Ketika Valerian turun ke lantai satu dengan setelan blus kasual yang anggun, suasana rumah sudah sepi. Tuan Bagian dan Nyonya Zen sudah pergi ke luar kota sejak subuh untuk urusan yayasan keluarga, sementara Dania sudah berangkat kuliah pagi.
Di ruang makan, hanya ada Damian yang sedang berdiri membelakangi meja, meneguk kopi hitamnya dengan tenang sembari menatap tablet.Valerian berjalan perlahan, berniat mengambil segelas air putih.
Damian menurunkan cangkir kopinya begitu menyadari kehadiran Valerian. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku akan pergi ke kantor sekarang. Kontraknya akan ditandatangani jam sepuluh nanti," ucap Damian, suaranya terdengar berat namun tidak sedingin biasanya. "Kau... tidak perlu keluar rumah hari ini jika masih lelah."
Valerian agak terkejut mendengar perhatian kecil yang sangat langka itu. "I-iya, Damian. Terima kasih."
Damian mengangguk sekilas, lalu melangkah keluar dari rumah mewah itu menuju mobil jemputannya. Valerian menghela napas panjang, bersandar pada konter dapur.
"Dia sudah pergi?"
Sebuah suara bariton yang hangat dan familier tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk dapur. Valerian tersentak dan berbalik cepat.
Aksa sedang berdiri di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Senyuman humorisnya kembali terpasang di wajah tampannya, seolah ketegangan mematikan tadi malam di koridor tidak pernah terjadi.
"Aksa... kau mengejutkanku," bisik Valerian, matanya melirik ke arah luar dapur, memastikan tidak ada pelayan rumah yang lewat.
"Rumah sedang sepi, Kak Vale. Pelayan sedang membersihkan halaman depan," ucap Aksa seolah bisa membaca ketakutan di wajah Valerian. Pria itu melangkah maju, mendekati Valerian dengan tatapan mata yang perlahan menggelap, memancarkan pesona maskulin yang adiktif.
Aksa berhenti tepat di depan Valerian, mengurung tubuh wanita itu di antara dirinya dan konter dapur—persis seperti posisi Damian semalam, namun kali ini Valerian tidak merasa ketakutan.
"Kau berbohong padaku lewat pesan semalam, kan?" bisik Aksa parau. Jemarinya yang hangat terangkat, dengan lembut menurunkan kerah blus Valerian sedikit ke bawah, mengekspos leher putih wanita itu.
Mata Aksa menyipit tajam saat melihat ada sedikit bekas kemerahan baru di sana akibat cengkeraman Damian semalam. Rahang Aksa mengeras seketika. "Dia mencengkerammu di sini? Berengsek, Damian benar-benar kasar padamu."
"Aksa, sudahlah... yang penting dia tidak tahu apa yang kita lakukan semalam," Valerian mencoba menahan tangan Aksa, namun tenaganya seolah menguap saat Aksa justru menundukkan kepalanya, mengecup bekas kemerahan itu dengan sangat lembut, seolah ingin menghapus rasa sakit yang ditinggalkan suaminya.
"Aku benci melihatnya menyentuhmu, Valerian. Meskipun dia kakakku, dan meskipun dia suamimu," bisik Aksa tepat di depan bibir Valerian, napasnya yang hangat membuat akal sehat Valerian kembali melayang. "Sentuhan Damian hanya memberikan luka, tapi sentuhanku... memberikan apa yang benar-benar kau butuhkan."
Valerian terengah, ciuman Aksa kembali turun memabukkan di bibirnya. Di dapur rumah suaminya sendiri, di bawah terang cahaya pagi, Valerian kembali jatuh ke dalam pelukan terlarang sang adik ipar. Adrenalin karena takut ketahuan berpadu sempurna dengan gairah panas yang menuntut kepasrahan total.
Namun, di saat mereka sedang tenggelam dalam pagutan yang kian intens di sudut dapur, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa masuk dari pintu depan rumah.
Tap! Tap! Tap!
"Valerian! Berkas dokumen kerjasamanya tertinggal di kamar!"
Suara Damian berteriak lantang dari arah ruang tamu, terdengar berjalan cepat menuju arah dapur karena tidak mendapati istrinya di lantai satu. Damian kembali ke rumah secara mendadak!
Valerian membelalakkan matanya di dalam pagutan Aksa. Ia panik setengah mati, mencoba mendorong dada Aksa, namun Aksa justru mempererat pelukannya di pinggang Valerian, seolah sengaja ingin membiarkan sang kakak melihat apa yang sedang terjadi di dapur pagi ini.
Langkah kaki Damian kini sudah berada tepat di depan lorong dapur.
Aksa menatap kilat panik di mata Valerian yang berair, mendengar langkah kaki Damian yang kian mendekat di lorong dapur. Tepat ketika bayangan tubuh tegap Damian mulai berbelok di ujung lorong, Aksa akhirnya melonggarkan kuncian tangannya. Dengan gerakan kilat yang teramat halus, ia menarik Valerian mundur ke balik pilar besar sekat dapur, sementara dirinya sendiri melangkah maju dengan santai ke arah konter, mengambil sebotol air mineral seolah-olah baru saja selesai berolahraga.
"Valerian! Di mana kau?" Suara Damian terdengar tepat saat ia melangkah masuk ke area dapur.
Langkah kaki pria itu terhenti. Netra elangnya langsung menangkap sosok Aksa yang sedang menenggak air mineral dengan tenang, sementara Valerian berdiri agak jauh di sudut konter, sibuk merapikan blusnya dengan napas yang masih sedikit memburu akibat kepanikan yang luar biasa.
Kenapa kalian berdua selalu ada di tempat yang sama?" tanya Damian, suaranya merendah, sarat akan tuntutan.
Aksa menurunkan botol minumnya, lalu terkekeh santai tanpa beban. "Kebetulan saja, Kak. Aku haus setelah workout, dan Kak Vale sedang mengambil air putih. Oh ya, kudengar tadi kau berteriak mencari berkas? Tadi aku melihatnya tertinggal di atas meja konsol dekat cermin ruang tamu saat aku lewat."
Damian tidak langsung bergerak. Tatapannya tertuju lurus pada Valerian yang sejak tadi menunduk, enggan menatap matanya. Perasaan tidak suka melihat kedekatan istrinya dengan sang adik membuat Damian melangkah mendekat, sengaja meraih pundak Valerian dan meremasnya pelan di depan Aksa.
"Lain kali, kalau aku bertanya, jawab Valerian. Jangan membuatku mencari ke seluruh rumah," ucap Damian, suaranya terdengar berat dan menuntut kepatuhan mutlak. "Aku pergi dulu. Jaga dirimu di rumah."
Setelah Damian berbalik dan benar-benar pergi membawa berkasnya, Valerian langsung terduduk lemas di kursi dapur.