NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Topeng yang Terkelupas

Pintu Presidential Suite tertutup rapat di belakang mereka.

Suara kunci yang berputar terdengar seperti vonis.

Arjuna tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menyeret Citra menuju kamar mandi yang luas dan berlapis marmer putih—ruangan yang dingin, steril, dan terasa jauh lebih mengancam dari yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kamar mandi mewah.

Ia memutar keran pancuran dengan satu gerakan.

*Byur.*

Air dingin mengguyur deras, membasahi mereka berdua dari kepala hingga kaki dalam sekejap.

"Ah......!" Citra tersentak, tubuhnya bergidik hebat. Rambut hitam panjangnya langsung basah kuyup, menempel berantakan di pipi dan lehernya. Secara naluriah ia mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah—tapi pergelangan tangannya dicekal erat sebelum sempat bergerak.

Ia terjebak.

Air mengalir deras di wajahnya. Lapisan krim pemutih gelap dan BB cream yang tebal mulai luntur—meninggalkan jejak-jejak kusam di kulit aslinya, seperti cat yang larut di bawah hujan.

Arjuna mengamati proses itu dengan tatapan dingin. Ia mengambil botol pembersih wajah dari rak samping, menuangkannya ke telapak tangan, membiarkan busa putih terbentuk.

Citra memalingkan kepala.

Alis Arjuna mengerut tajam. "Jika kau terus menghindar, aku akan memanggil pengawal untuk menahanmu dan membersihkan wajahmu dengan cara yang jauh lebih kasar."

Tubuh Citra membeku.

Dengan patuh—meskipun jantungnya berdegup hingga nyeri—ia membiarkan pria itu mengoleskan busa ke wajahnya, lalu membilasnya dengan air.

Dan tatapan Arjuna tidak bergerak sedetik pun dari wajah kecil di hadapannya.

Perlahan, lapisan kepalsuan itu luruh.

Air jernih membasuh dahinya—memperlihatkan kulit selembut porselen di bawahnya, putih bersih dan bercahaya alami. Tetesan mengalir di pangkal hidung yang mancung, menyusuri pipi yang kini menampakkan kilau merah muda alami. Garis dagunya yang runcing, lehernya yang anggun—semuanya muncul satu per satu, seperti lukisan yang dibersihkan dari debu bertahun-tahun.

Wajah aslinya terungkap sepenuhnya.

Alis lentik seperti goresan tinta. Dan matanya—bahkan di tengah kepanikan, bahkan basah kuyup dan berlinang—mata almond nya itu sangat indah. Jernih seperti kristal gunung, sudut yang terangkat alami, memancarkan sesuatu yang polos dan mematikan sekaligus.

Napas Arjuna tercekat.

Rasa kantuk akibat alkohol sirna sepenuhnya seperti dicurahkan air dingin langsung ke kesadarannya. Wajah di hadapannya bukan hanya cantik. Wajah ini adalah sesuatu yang berbeda. Bersih dengan cara yang tidak dipoles, murni dengan cara yang tidak dibuat-buat.

Dan kemudian ia mengenalinya.

Toko bunga. Kemeja putih. Rambut yang menangkap cahaya pagi.

*Dialah orangnya.*

"Heh..." Tawa kecil keluar dari tenggorokannya,mengandung kekesalan karena ditipu, tapi lebih dari itu, ada kegembiraan gelap seorang predator yang baru menyadari ia sudah menemukan apa yang ia cari sejak awal.

Ia mematikan pancuran.

Hening menyelimuti ruangan. Hanya suara napas mereka yang berat, dan tetesan air yang jatuh dari ujung rambut Citra ke lantai marmer.

Arjuna meraih pinggang ramping Citra dan menekan punggungnya ke dinding keramik yang dingin.

"Mph—!"

Dinginnya ubin merambat ke tulang belakang Citra. Kemeja hitam Arjuna menempel basah pada dadanya yang bidang, setiap inci tubuhnya tegang dengan kekuatan yang terkendali dan justru karena itu lebih mengancam.

Ia menundukkan kepala. Tatapan gelap itu mengamati wajah kecil yang kini bersih dengan rasa lapar yang tidak disembunyikan.

"Pembohong kecil..." Suaranya rendah dan serak, hembusan napas panas menerpa wajah Citra yang masih dingin. "Kau menyembunyikan diri dengan sangat baik. Membuatku penasaran sampai gila."

"Tuan Muda Arjuna, tolong......"

Ia menutup kata-kata itu dengan bibirnya sendiri.

Pikiran Citra kosong.

Awalnya ciuman itu menuntut dan keras—seperti hukuman dan klaim sekaligus. Arjuna seolah ingin menghukum penipuan yang ia rasakan, mencicipi kemanisan yang disembunyikan terlalu lama.

Tapi semakin dalam, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Bibir Citra lebih lembut dari yang ia bayangkan. Seperti kelopak bunga yang tidak tahu betapa rapuhnya dirinya. Dan perlawanan lemah gadis itu ,tangan kecil yang mendorong dadanya dengan kekuatan yang tidak akan menggeser siapa pun Justru memperburuk keadaan, karena sesuatu dalam diri Arjuna menerjemahkan ketidakberdayaan itu sebagai izin untuk terus.

"Tidak..." Suara Citra tercekat, berlinang air mata. "Lepaskan aku. Tolong."

Arjuna mendongak sebentar, menatap mata Citra yang berkaca-kaca.

Ia tersenyum miring dingin, puas, salah membaca apa yang ada di mata itu.

Lalu kembali.

Tangan kecil Citra terus mendorong, sia-sia, seperti semut yang mencoba mengguncang pohon. Air mata mengalir bercampur sisa-sisa air pancuran di wajahnya. Di balik kepanikan dan kebingungan, satu bagian pikirannya yang dingin masih berfungsi....mengamati, mencatat, menyimpan.

Ini bukan rencananya. Ini tidak seharusnya terjadi seperti ini.

Tapi ia juga tahu satu hal dengan sangat jelas sekarang: Arjuna Pratama bukan hanya berbahaya dalam arti abstrak.

Ia berbahaya dengan cara yang bisa dilihat dan dirasakan langsung.

Dan jika ia ingin bertahan,jika ia ingin mengendalikan situasi ini alih-alih menjadi korbannya.ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa rencana lamanya masih cukup.

Di balik pintu Presidential Suite yang terkunci, topeng Citra Lestari telah terkelupas sepenuhnya.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana cara menyembunyikan diri.

Pertanyaannya adalah: wajah apa yang akan ia tunjukkan setelah ini.

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!