Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kebebasan
"Mbak, saya sarankan Mbak pulang saja. Pak Arkan tidak menerima tamu tanpa janji temu, apalagi yang... seperti ini."
Kanaya tidak bergeming. "Saya tidak akan pergi. Panggil dia. Katakan kalau dia tidak turun sekarang, saya akan berteriak di lobi ini agar semua media tahu bagaimana cara Arkan Internasional memperlakukan karyawannya yang jujur!"
Suasana lobi yang tadinya tenang mendadak tegang. Beberapa karyawan yang hendak pulang mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Kanaya.
"Mbak, tolong jangan buat keributan atau saya panggil keamanan," ancam resepsionis itu, tangannya sudah bersiap menekan tombol interkom.
"Panggil saja! Panggil polisi sekalian! Biar mereka lihat siapa yang sebenarnya pantas masuk penjara!" suara Kanaya melengking, menarik perhatian lebih banyak orang.
Tepat saat petugas keamanan mulai mendekat untuk menyeret Kanaya keluar, sebuah lift privat di ujung lobi berdenting. Pintu terbuka, dan suasana seketika senyap.
Seorang pria dengan setelan jas hitam custom-made melangkah keluar. Tubuhnya tinggi tegap, dengan aura dominasi yang begitu pekat hingga membuat siapa pun secara refleks menunduk. Itulah Arkan Dirgantara. Wajahnya pahatan sempurna, namun matanya sedingin es di kutub utara.
Arkan berhenti beberapa langkah dari Kanaya. Ia tidak tampak marah, tapi tatapannya yang merendahkan jauh lebih menyakitkan daripada makian.
"Jadi, kamu anak Baskara?" suara Arkan rendah, berat, dan penuh wibawa yang mengintimidasi.
Kanaya menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian yang sempat tercecer. "Lepaskan ayahku. Kamu tahu dia tidak bersalah. Kamu yang menjebaknya untuk menutupi borok perusahaanmu, kan?"
Arkan tidak menjawab. Ia hanya melirik jam tangan Rolex-nya sejenak, lalu menatap asistennya, Januar, yang berdiri setia di belakangnya. "Janu, bawa dia ke ruangan saya. Saya tidak suka menjadi tontonan gratis untuk karyawan saya yang tidak becus bekerja."
"Baik, Pak," jawab Januar sopan. Ia kemudian memberi isyarat pada Kanaya. "Silakan lewat sini, Mbak."
Kanaya mengikuti mereka masuk ke dalam lift privat. Begitu sampai di lantai teratas, Kanaya digiring masuk ke sebuah ruangan kantor yang sangat luas dengan pemandangan seluruh kota Jakarta dari balik kaca besar.
"Duduk," perintah Arkan tanpa menatapnya.
"Saya ke sini tidak untuk bertamu. Saya ingin ayah saya bebas malam ini juga!" Kanaya tetap berdiri, menantang pria itu.
"Baskara mencuri lima miliar. Itu faktanya. Bukti ada di meja penyidik, dan polisi sudah melakukan tugasnya. Kenapa kamu datang ke saya?"
"Kamu bohong!" Kanaya memukul meja kerja Arkan yang terbuat dari kayu jati mahal. "Ayah saya orang jujur. Kamu yang memanipulasi sistem itu! Kamu butuh kambing hitam untuk penggelapan dana yang dilakukan jajaran direksimu, kan?"
Arkan tertawa kecil. Tawa yang kering dan tanpa emosi. "Kamu punya bukti kalau saya yang melakukannya? Kalau tidak, itu namanya pencemaran nama baik. Saya bisa membuat kamu menyusul ayahmu ke penjara dalam waktu kurang dari satu jam."
Lutut Kanaya gemetar. Ia tahu Arkan tidak main-main. Pria ini punya kekuasaan untuk menghapus eksistensi seseorang hanya dengan satu jentikan jari.
"Apa yang kamu mau?" suara Kanaya melemah, bergetar karena putus asa. "Katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mencabut laporan itu dan membersihkan nama ayahku?"
Arkan menatap Kanaya. "Ayahmu merugikan perusahaan saya lima miliar rupiah. Menurutmu, apa yang bisa diberikan oleh seorang wanita yang bahkan tidak punya uang untuk membeli bedak yang layak?"
Kanaya menggigit bibir bawahnya. Ia teringat hinaan Vandiko tadi sore. Semua orang merendahkannya karena ia miskin. "Aku... aku akan bekerja apa saja. Aku akan mencicilnya seumur hidupku."
"Gajimu sebagai honorer tidak akan cukup bahkan untuk membayar bunga banknya sampai kamu mati," potong Arkan kejam. "Tapi, ada satu hal yang mungkin berharga dari kamu."
"Apa?" bisik Kanaya.
"Jadilah jaminan untuk perusahaan saya. Dan jaminan untuk saya pribadi."
Kanaya mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Menikahlah denganku. Jadilah istri jaminan," ucap Arkan santai, seolah ia baru saja menawarkan secangkir kopi. "Kamu akan menandatangani kontrak. Selama kamu menjadi istriku, ayahmu akan aman. Dia akan keluar dari penjara besok pagi, namanya bersih, dan semua hutangnya dianggap lunas."
Kanaya terperangah. "Kamu gila? Menikah? Kenapa kamu ingin menikah denganku? Kamu bahkan tidak mengenalku!"
"Aku butuh istri untuk meyakinkan dewan komisaris bahwa aku sudah berubah menjadi pria berkeluarga yang stabil. Dan aku butuh seseorang yang bisa aku kendalikan sepenuhnya. Seseorang yang hidupnya ada di telapak tanganku. Kamu... memenuhi kriteria itu."
"Aku punya tunangan!" teriak Kanaya, teringat Vandiko meski hatinya perih.
"Maksudmu si pengecut Vandiko Alister yang baru saja mencampakkanmu di depan selingkuhannya?" Arkan menyeringai melihat ekspresi terkejut Kanaya. "Aku tahu segalanya, Kanaya. Aku tahu dia memutuskanmu karena takut reputasinya hancur. Jadi, jangan bawa-bawa nama pria itu di depanku."
Kanaya merasa harga dirinya diinjak-injak hingga hancur menjadi debu. Arkan tahu segalanya. Pria ini telah mengamatinya, mungkin sejak sebelum ayahnya ditangkap.
"Ini jebakan," bisik Kanaya menyadari sesuatu. "Kamu memang sengaja menjebak ayahku agar bisa memaksaku melakukan ini, kan?"
Arkan hanya mengangkat bahu, ekspresinya tidak terbaca. "Anggap saja ini peluang. Kamu mau ayahmu busuk di penjara karena kejahatan yang tidak dia lakukan, atau kamu mau tinggal di rumah mewah sebagai istriku dan melihat ayahmu kembali tersenyum?"
Pilihan itu bukan pilihan. Itu adalah pemerasan. Kanaya menatap mata Arkan. "Kenapa harus aku? Ada ribuan wanita di luar sana yang rela antri untuk menjadi istrimu."
"Mereka semua menginginkan uangku," jawab Arkan dingin. "Sedangkan kamu... kamu membenciku. Dan itu jauh lebih menarik. Aku ingin melihat bagaimana wanita sombong sepertimu berlutut di bawah kakiku setiap hari."
Kanaya ingin sekali meludahi wajah pria angkuh ini, tapi bayangan ayahnya yang menangis di balik jeruji besi menghentikannya. "Bagaimana aku tahu kamu akan menepati janjimu?"
Arkan mengambil sebuah map dari mejanya dan melemparkannya ke depan Kanaya. "Itu kontraknya. Baca baik-baik. Di sana tertulis, satu jam setelah tanda tangan dilakukan, ayahmu akan dipindahkan ke rumah sakit terbaik untuk cek kesehatan sebelum pulang ke rumah. Semua biaya ditanggung Arkan Group."
Kanaya mengambil map itu dengan tangan gemetar. Ia membaca baris demi baris. Kontrak pernikahan selama dua tahun. Tanpa cinta, tanpa kebebasan, dan ia harus patuh pada setiap keinginan Arkan. Jika ia melanggar, ayahnya akan kembali masuk penjara dengan tuduhan yang lebih berat.
Ini adalah surat kematian untuk jiwanya.
"Waktumu lima menit, Kanaya. Setelah itu, saya ada janji makan malam. Dan jika kamu keluar dari pintu itu tanpa tanda tangan, jangan pernah kembali lagi," ucap Arkan sambil kembali duduk dan memeriksa berkas lain, seolah nyawa ayah Kanaya tidak lebih penting dari laporan penjualannya.
Kanaya menatap pulpen emas yang tergeletak di atas meja. Pikirannya melayang pada ibunya yang sudah tiada, pada ayahnya yang selalu melindunginya, dan pada Vandiko yang baru saja meludahinya.
Ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Kanaya mengambil pulpen itu. Air mata jatuh setetes, membasahi kertas kontrak tersebut, namun ia segera mengusapnya. Ia tidak boleh terlihat lemah lagi.
Cret... cret...
Tanda tangan itu terukir di sana. Nasibnya resmi terjual.
Arkan menarik kembali map itu, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum tipis sebuah senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Kanaya meremang.
"Pilihan yang cerdas, Istriku," ucap Arkan dengan penekanan pada kata terakhir yang terdengar seperti kutukan di telinga Kanaya. "Janu, siapkan mobil. Bawa dia ke apartemen saya. Dan pastikan semua barang-barangnya sudah ada di sana malam ini juga."
"Tunggu, aku harus bertemu ayahku dulu!" protes Kanaya.
"Besok," jawab Arkan singkat tanpa menoleh. "Malam ini, kamu punya tugas lain. Sebagai istri jaminan, kamu harus mulai belajar bagaimana caranya melayani suamimu."
Saat Januar menuntunnya keluar, Kanaya menoleh sekilas ke arah Arkan. Pria itu masih sibuk dengan dunianya, seolah kehadiran Kanaya hanyalah sebuah transaksi bisnis kecil yang baru saja ia menangkan.
Aku akan membalasmu, Arkan, batin Kanaya tajam. Mungkin sekarang aku adalah jaminanmu, tapi suatu saat, aku akan menjadi kehancuranmu.