NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sinar matahari pagi di pesantren terasa lebih hangat dari biasanya. Celina keluar dari Ndalem dengan setelan yang jauh lebih tertutup—kaos lengan panjang dan celana panjang—tapi gaya jalannya tidak bisa menipu. Dia melangkah perlahan, sedikit mengangkang dengan sesekali meringis kecil sambil memegangi pinggangnya.

"Aduh, gila... pinggang gue kayak mau copot. Zuhair kalau udah ngegas ternyata tenaganya kayak banteng," gumamnya pelan sambil berjalan menuju area taman santri tempat Raka biasanya nongkrong.

Raka yang lagi asyik nyemil kuaci di bawah pohon beringin langsung nengok. Dia nyipitin mata liat cara jalan Celina. "Woy, Cel! Lo kenapa? Habis jatuh dari tangga atau habis latihan Taekwondo lawan satu batalyon?"

Celina duduk perlahan di atas rumput, narik napas panjang. "Berisik lo. Gue lagi pengen cari udara sejuk aja. Bosen di kamar terus."

"Dih, jalannya aja aneh gitu. Oh... gue paham," Raka nyengir nakal, mukanya langsung berubah jadi mode ngeledek. "Rekor pecah ya semalem? Akhirnya gol juga?"

"Diem lo, Rak! Jangan mancing-mancing!" Celina melempar segenggam rumput ke arah Raka, mukanya merah padam.

Lagi asyik-asyiknya mereka lesehan sambil bahas "kejadian semalam", tiba-tiba suasana di sekitar situ mendadak hening. Dari kejauhan, terlihat rombongan tamu istimewa yang baru saja turun dari mobil mewah di depan kantor yayasan.

Ada seorang Syekh bertubuh tinggi besar dengan jenggot rapi dan jubah putih yang sangat bersih, didampingi istrinya yang tertutup cadar sutra. Tapi yang bikin suasana berubah adalah dua anak perempuannya yang berjalan di belakang.

Dua-duanya memakai gamis pastel dengan pashmina yang dililit anggun tetapi tampak anak perempuan satunya belum memakai jilbab sepenuhnya. Wajah mereka khas Timur Tengah; mata bulat dengan bulu mata lentik yang tebal, hidung mancung, dan kulit yang putih bersih seperti porselen. Benar-benar definisi "bening" yang hakiki.

Raka yang tadi lagi asyik selonjoran, mendadak kayak ditarik paksa oleh gravitasi. Dia langsung berdiri tegak, membetulkan sarungnya yang agak miring, dan merapikan pecinya sampai bener-bener simetris.

"Allahu Akbar... Cel, itu bidadari turun dari surga apa gimana?" bisik Raka tanpa kedip. "Gue nggak salah liat kan? Itu yang di sebelah kanan... sumpah, bohay banget, beningnya... aduh, silau gue!"

Celina nengok, lalu mencibir. "Halah, mata lo langsung ijo ya liat yang bening dikit. Inget, Rak, Al-Baqarah! Hafalin dulu baru berani deket-deket!"

"Jangankan Al-Baqarah, Cel! Kalau calonnya modelan begitu, kitab kuning satu perpustakaan gue hafalin!" Raka sekarang udah pasang pose paling ganteng dan paling alim, tangannya disedekapkan di depan perut sambil sesekali nunduk-nunduk sok sopan pas rombongan itu lewat di dekat mereka.

Salah satu anak Syekh itu sempat melirik sekilas ke arah mereka, lalu menundukkan pandangan sambil tersenyum tipis di balik kerudungnya.

"Mampus... dia senyum ke gue, Cel! Gue fix tobat nasional kalau gini caranya!" seru Raka girang banget, sementara Celina cuma bisa geleng-geleng kepala liat kelakuan sohibnya yang satu ini.

Tiba-tiba dari arah belakang, suara bariton Zuhair terdengar. "Raka-Raka, jangan cuma dipandangin. Itu tamu Abi dari Yaman. Kalau lo mau serius, sana setor hafalan nanti sore."

Suasana di bawah pohon beringin itu mendadak jadi makin ramai pas Reno datang dengan langkah sedikit terburu-buru, menyampaikan pesan kalau Abi manggil mereka semua untuk mendekat ke rombongan Syekh dari Yaman itu.

Raka jalan paling depan,kakinya gemetar. Begitu sampai di depan Abi dan Syekh tersebut, Abi tersenyum lebar.

"Raka, Reno... perkenalkan, ini Syekh Abdullah. Beliau membawa kedua putrinya, Fatimah dan Khadijah," ucap Abi tenang. "Karena kalian berdua adalah pemuda yang sedang berjuang di jalan Allah, saya kasih kesempatan. Raka, kamu boleh milih duluan mau bertaaruf dengan siapa. Sisanya, nanti untuk Reno."

Raka melongo, matanya gantian menatap Athira dan Adiba yang berdiri menunduk. "S-saya duluan, Kyai? Serius?" Reno cuma senyum canggung di sampingnya.

Tapi suasana berubah haru saat Abi menepuk pundak Raka dan berkata, "Raka, saya sudah bicara panjang lebar di telepon dengan orang tuamu tadi malam. Saya dengar dari mereka... kamu sebenarnya ada keturunan Arab dari kakekmu, ya?"

Raka tersentak, wajahnya yang tadi penuh semangat angsung berubah kaget sekaligus bingung. "Eh? Orang tua saya telepon Kyai? Kok bisa? Biasanya mereka nggak pernah peduli sama saya, Kyai... saya di Jakarta mau jungkir balik juga mereka masa bodoh."

Mendengar itu, Celina yang berdiri di samping Zuhair langsung terdiam. Dia tahu banget gimana Raka di Jakarta emang kayak "anak hilang" yang cuma dikasih uang tapi nggak dikasih kasih sayang. Zuhair pun menatap Raka dengan tatapan iba, dia baru sadar kalau di balik sifat pecicilan Raka, ada luka soal keluarga.

Ummi yang nggak tega melihat mata Raka mulai berkaca-kaca langsung melangkah maju. Beliau mengelus punggung Raka dengan lembut, layaknya ibu kandung sendiri. "Loh, jangan bilang begitu, Nak. Mereka seneng sekali pas Abi cerita kamu sekarang sudah di pesantren, sudah mau bertaubat. Mereka titip salam buat kamu," ucap Ummi.

Raka menunduk, mencoba menahan sesak di dadanya. Dia nggak nyangka jalur tobatnya bakal disambut hangat begini sama orang tuanya lewat perantara Abi.

"Makasih ya, Ummi... saya nggak nyangka aja," jawab Raka pelan, suaranya agak serak. "Oh iya, bener kok Kyai. Dari kakek saya emang asli orang Arab, tapi seingat saya ada keturunan Mesirnya juga sedikit. Makanya mungkin muka saya agak... ya begini deh, Kyai."

Syekh Abdullah yang sedari tadi menyimak langsung tersenyum lebar, beliau tampak makin tertarik. "Ah, Masya Allah! Ada darah Mesir juga? Pantas saja rahangmu tegas. Kalau begitu, silakan tentukan pilihanmu, anak muda. Di keluarga kami, kejujuran dan nasab yang baik adalah berkah."

Raka melirik ke arah Celina seolah minta dukungan mental. Celina cuma kasih jempol.

Zuhair ikut menimpali sambil tersenyum tipis, "Pilih dengan hati, Raka. Jangan cuma dengan mata."

Suasana di halaman Ndalem makin ramai. Ternyata kedua putri Syekh itu, Athira dan Adiba, punya gaya yang beda. Adiba sudah rapi dengan hijabnya, sementara si kakak, Athira, ternyata belum berkerudung—dia cuma pakai pashmina yang disampirkan asal-asalan ke bahu, memperlihatkan rambut hitamnya yang panjang dan sehat.

Raka yang melihat itu langsung ngelag otaknya. Dia makin bingung. Di satu sisi Adiba kelihatan adem, di sisi lain Athira yang belum berkerudung ini punya aura yang bikin ia merasa tertantang.

Raka malah panik. Dia langsung mendekat ke arah Zuhair, lalu berbisik dengan nada memohon yang sangat amat.

"Gus... Gus, please banget. Izinin gue bawa Celina menjauh bentar. Gue butuh konsultasi ini, otak gue nggak nyampe," bisik Raka.

Zuhair melirik Celina yang juga kelihatan kepo, lalu menghela napas. "Ya sudah, lima menit ya. Jangan lama-lama, nggak enak sama tamu."

Raka langsung narik tangan Celina. "Kyai, Syekh, Ummi... izin sebentar ya, ada urusan 'darurat' sama Celina."

Mereka berdua berjalan agak menjauh ke balik pohon mangga besar di sudut taman. Begitu merasa aman, Raka langsung pegang kepalanya sendiri.

"Gue bingung cok! Sumpah, kalau bisa dua-duanya ya gue embat dua-duanya! Yang satu adem bener, yang satu... aduh, rambutnya itu loh, Cel," cerocos Raka panik.

Celina yang emang dasar mulutnya suka asal bunyi cuma bisa ketawa ngakak liat sohibnya se-stres itu. Dia melipat tangan di dada sambil merhatiin kedua cewek itu dari jauh.

"Halah, dasar kadal lo!" Celina menyenggol bahu Raka. "Tapi jujur ya, lo kan biasanya suka yang depan-belakang 'mantep' tuh. Secara looks sih, Athira menang banyak. Rambutnya juga panjang banget, Rak... bisa lah lo... ekhem, jambak dikit pas lagi 'main' nanti. Yhhhheeee!"

Raka melongo denger celetukan Celina yang makin lama makin di luar nurul. "Orang gila lu, Cel! Di pesantren ini, otak lo masih aja mesum!"

Tapi nggak lama kemudian, Raka malah nyengir sendiri sambil ngebayangin omongan Celina. Dia ngelirik lagi ke arah Athira yang rambutnya tertiup angin sore.

"Tapi bener juga sih lo... sedep-sedep gimana gitu ya si Athira. Kayaknya gue fix pilih dia deh," gumam Raka dengan mata yang mulai berbinar penuh rencana.

"Yaudah buruan balik sana! Keburu Syekh-nya berubah pikiran liat muka mupeng lo!" Celina mendorong punggung Raka balik ke rombongan.

"Bismillah, Kyai... Syekh... setelah saya diskusi singkat, pilihan saya jatuh kepada Athira. Saya merasa... kami punya banyak hal yang harus 'dibenahi' bareng-bareng."

Zuhair yang denger itu cuma bisa geleng-geleng, dia tahu banget kalau itu pasti hasil bisikan maut dari istrinya yang sekarang lagi senyum-senyum nggak jelas di sampingnya.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!