Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
Angin dingin berhembus melintasi Alun-Alun Puncak Awan, membawa serta bau darah yang samar. Di atas pilar batu giok tertinggi, Lin Chen duduk dengan tenang. Matanya yang segelap malam tanpa bintang mengawasi kerumunan, menanti jika ada satu pun suara penolakan.
Namun, yang menjawabnya hanyalah keheningan absolut.
Di tribun VIP, Tetua Feng menghela napas panjang. Beban tanggung jawab tiba-tiba terasa sangat berat di pundaknya. Sebagai penanggung jawab Pelataran Luar, kehilangan seorang jenius sekelas Gu Tianying adalah sebuah kerugian besar bagi sekte, tetapi apa yang ditunjukkan Lin Chen hari ini adalah monster yang berada di dimensi yang sama sekali berbeda.
Dengan wajah kaku, Tetua Feng melayang turun ke tengah arena. Ia melirik sekilas ke arah Gu Tianying yang kini sedang ditandu pergi oleh para murid medis dengan kondisi menyedihkan, lalu menatap Lin Chen.
"Gu Tianying menggunakan Pil Esensi Pembakar Darah di luar aturan, dan kau membalasnya untuk mempertahankan nyawamu. Penegak Hukum Sekte membebaskanmu dari segala tuduhan," suara Tetua Feng bergema, secara resmi menutup tragedi berdarah tersebut.
Sang Tetua kemudian mengambil sebuah token giok berwarna ungu tua yang memancarkan pendar cahaya keperakan dari dalam lengan bajunya. "Lin Chen, selamat. Sesuai aturan sekte, dengan menduduki peringkat pertama di Ujian Pelataran Luar, kau secara resmi dipromosikan menjadi Murid Dalam. Turunlah dan terima tokenmu."
Lin Chen melompat ringan dari pilar, mendarat di hadapan Tetua Feng, dan menerima token giok ungu tersebut. Begitu tangannya menyentuh token itu, ia bisa merasakan seutas formasi susunan kecil di dalamnya yang akan membuka segel pelindung menuju area inti pegunungan sekte.
"Terima kasih, Tetua Feng," ucap Lin Chen dengan nada hormat yang proporsional.
Tetua Feng menatap pemuda di depannya dengan tatapan yang sangat rumit. "Jangan berpuas diri, Lin Chen. Di Pelataran Luar, kau mungkin seekor naga, tapi Pelataran Dalam adalah lautan yang dipenuhi hiu raksasa purba. Banyak jenius arogan sepertimu yang hancur hanya dalam beberapa bulan setelah masuk ke sana. Jaga sikapmu."
"Saya selalu membalas apa yang saya terima, Tetua. Jika mereka datang membawa anggur, saya akan menyambut mereka. Jika mereka datang membawa pedang... maka saya akan mematahkan tangan mereka," jawab Lin Chen dengan senyum tipis.
Tetua Feng hanya bisa menggelengkan kepala, menyadari bahwa menasihati pemuda ini sama saja dengan berbicara pada tebing batu. "Ikuti aku. Aku akan mengantarmu melewati Gerbang Dalam."
Lin Chen mengikuti Tetua Feng meninggalkan alun-alun yang masih diselimuti ketegangan. Mereka menyusuri jalan setapak berundak yang terbuat dari batu giok putih, mendaki semakin tinggi menembus lapisan awan tebal yang menyelimuti pertengahan Gunung Awan Surgawi.
Semakin tinggi mereka mendaki, Lin Chen bisa merasakan perubahan drastis di udara.
Jika di Pelataran Luar energi spiritual (Qi) terasa seperti kabut tipis, maka di sini, Qi terasa sepadat air. Setiap tarikan napas mengalirkan energi sejuk yang secara otomatis menyegarkan meridiannya.
"Tidak heran para jenius rela membunuh demi masuk ke sini," gumam Mo Xuan di dalam benak Lin Chen. "Namun, kepadatan Qi ini membuatku menyadari satu hal. Bocah, kecepatan kultivasimu belakangan ini terlalu brutal. Melompat dari Bintang 1 ke Bintang 8 dalam hitungan hari. Kau harus berhenti menerobos ranah untuk sementara waktu."
Lin Chen sedikit mengerutkan kening dalam hati. Berhenti? Bukankah aku harus segera mencapai Ranah Inti Emas untuk menghadapi Tetua Bai?
"Dasar bodoh! Sebuah menara raksasa yang menyentuh langit membutuhkan pondasi yang tertanam berkilo-kilometer di dalam bumi!" Mo Xuan mengomel dengan nada yang mengingatkan pada seorang guru tua. "Jika kau memaksa menerobos ke Ranah Inti Emas sekarang, Inti Emasmu hanya akan sebesar kerikil dan rapuh. Di dunia fana ini, orang-orang terburu-buru mengejar tingkat kultivasi, padahal yang menentukan kekuatan sejati di Alam Atas nanti adalah seberapa padat fondasimu di setiap ranah dasar. Mulai sekarang, tugasmu adalah memampatkan dan memurnikan Qi Bintang 8-mu berulang-ulang, hingga Qi itu berubah bentuk dari gas menjadi cairan emas murni!"
Lin Chen merenungkan kata-kata Mo Xuan. Benar, perjalanan di depannya tidak hanya berhenti di sekte kecil ini. Dunia ini memiliki ribuan kerajaan, puluhan benua, dan Alam Atas yang tak terbatas. Jika ia membiarkan pondasinya rapuh karena terburu-buru membalas dendam pada Liu Meng'er, ia tidak akan pernah bisa mencapai puncak semesta.
Baiklah. Aku akan memperlambat laju peningkatanku dan memfokuskan diri pada pemadatan fondasi serta penguasaan teknik, putus Lin Chen dengan mantap.
Setelah setengah jam berjalan, mereka berdua tiba di depan sebuah gerbang perunggu raksasa setinggi seratus meter. Di atas gerbang itu, terukir kaligrafi pedang yang memancarkan tekanan spiritual mengerikan. Ini adalah batas absolut antara Pelataran Luar dan Dalam.
Tetua Feng menggunakan lencananya untuk membuka sebagian gerbang, membiarkan Lin Chen masuk.
Di balik gerbang, terbentang pemandangan yang membuat napas tertahan. Bukan lagi sekadar barisan asrama kumuh, melainkan 108 puncak gunung kecil yang melayang di atas lautan awan buatan, dihubungkan oleh jembatan pelangi yang terbuat dari cahaya spiritual. Bangunan-bangunan paviliun kuno berdiri megah di setiap puncaknya.
"Ini adalah Pelataran Dalam Sekte Pedang Awan Surgawi," jelas Tetua Feng, menunjuk ke arah barisan pegunungan terapung. "Setiap Murid Dalam berhak menempati sebuah Gua Istana (Dongfu) di salah satu dari 108 puncak ini. Puncak-puncak utama dengan kepadatan Qi tertinggi dikuasai oleh sepuluh Murid Inti dan para Tetua. Tentu saja, Puncak Teratai Es tempat Liu Meng'er berada adalah salah satunya."
"Lalu di mana saya harus tinggal?" tanya Lin Chen.
"Karena kau baru masuk, kau hanya berhak memilih puncak di barisan paling luar," Tetua Feng memberikan sebuah peta perkamen. "Lihat area yang ditandai warna hijau. Itu adalah puncak-puncak yang masih kosong. Pilihlah satu dan laporkan pada Diakon Pengurus."
Lin Chen membuka peta itu. Matanya menyusuri puncak-puncak yang tersedia. Banyak yang terlihat bagus dan dekat dengan area komersial sekte dalam, tetapi Lin Chen tahu ia menyimpan banyak rahasia—seperti Seni Pemakan Surga dan latihan kakinya yang merusak lingkungan. Ia membutuhkan tempat yang sepi dan dijauhi orang.
Tatapannya jatuh pada sebuah titik abu-abu di ujung paling selatan peta.
"Puncak Pedang Patah," Lin Chen membaca namanya. "Mengapa puncak ini ditandai abu-abu?"
Tetua Feng mengerutkan dahi. "Tempat itu... dulunya adalah tempat latihan Tetua Pedang Gila ratusan tahun yang lalu. Beliau gagal menahan Kesengsaraan Surgawi dan petir kosmik menghancurkan urat spiritual di puncak tersebut. Sekarang, tempat itu nyaris tandus, Qi-nya sangat kacau, dan dipenuhi retakan angin tajam. Tidak ada murid waras yang mau tinggal di sana."
"Sempurna. Saya pilih tempat itu," jawab Lin Chen tanpa ragu.
Tetua Feng menatapnya seolah Lin Chen baru saja gila, namun ia tidak membantah. "Terserah kau. Dengan ini tugasku selesai. Ingat, sebagai Murid Dalam, kau akan menerima jatah 1.000 Batu Spiritual Tingkat Rendah setiap bulan. Dan jangan lupakan... Pelataran Dalam memiliki faksi-faksi yang jauh lebih mengakar daripada Pelataran Luar. Berhati-hatilah."
Setelah Tetua Feng pergi, Lin Chen melesat menggunakan Langkah Bayangan Iblis, menyeberangi jembatan pelangi menuju wilayah selatannya.
Benar saja, ketika ia tiba di Puncak Pedang Patah, pemandangannya jauh dari kata indah. Berbeda dengan puncak lain yang ditumbuhi rumput spiritual dan pepohonan giok, tempat ini dipenuhi batu karang tajam berwarna kehitaman. Angin yang bertiup membawa sensasi sayatan pedang tipis di kulit. Di tengah puncak, terdapat sebuah gua raksasa yang mulutnya berbentuk seperti tebasan pedang.
Lin Chen melangkah masuk ke dalam gua. Tempat itu sangat luas, cukup untuk menampung sebuah mansion, namun tertutup debu tebal berabad-abad.
"Tempat ini cukup sunyi untuk latihan panjangku. Retakan angin tajam di luar sana juga bisa menjadi arena latihan alami untuk memperkuat kulitku," gumam Lin Chen penuh kepuasan.
Ia meletakkan token ungu miliknya di ceruk batu di dekat pintu masuk gua. Formasi pelindung seketika aktif, menciptakan kubah cahaya tipis yang menutupi seluruh Puncak Pedang Patah, menandakan bahwa wilayah ini kini memiliki tuan baru.
Malam mulai turun. Lin Chen membersihkan sebidang area batu di tengah gua untuk dijadikan tempat meditasi. Ia duduk bersila, mengeluarkan tumpukan Batu Spiritual yang ia dapatkan dari kemenangannya, dan memejamkan mata.
Alih-alih menyerap semuanya untuk menerobos Bintang 9, Lin Chen mulai menekan dan memampatkan energi emas di dalam Dantiannya. Seperti pandai besi yang memukul bongkahan logam berulang kali untuk menghilangkan kotorannya, Lin Chen menyiksa Qi-nya sendiri, memadatkannya hingga batas yang menyakitkan.
Jalan menuju puncak masih membentang sangat jauh dan panjang. Di Puncak Pedang Patah yang terabaikan ini, Lin Chen mulai meletakkan pondasi pertama untuk membangun sebuah legenda yang kelak akan melampaui rentang waktu semesta.
Namun, Lin Chen tidak tahu bahwa di puncak lain, berita tentang kedatangannya ke Pelataran Dalam telah memicu badai konspirasi baru yang perlahan merayap menuju ke arahnya. Tangan-tangan gelap di dalam sekte telah mulai bergerak.