Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog : Ketika Seoul Berdenyut Kembali
SUASANA KELAS 3-B, PUKUL 10:00 PAGI
Kelas yang dulu berbau kertas basah dan mie instan, kini dipenuhi oleh bunga, balon, dan aroma makanan ringan. Meja-kursi ditata berkeliling, penuh dengan snack, minuman, dan kue-kue. Seragam sekolah yang rapi terlihat di mana-mana, tapi ada juga yang sudah memakai baju kasual mereka yang paling keren untuk acara farewell ini.
Suasana riuh rendah dan penuh tawa. Dunia mungkin pernah hampir berakhir, tetapi hari ini, yang penting adalah mereka bertahan, lulus, dan bersama-sama.
JAEMIN tersenyum ke minjeong "Aku udah nembak Kamu dua kali, Min. Yang pertama di kereta waktu Aku ngerasa dunia ini mau kiamat, yang kedua bulan lalu dengan bunga beneran"
Minjeong menepuk bahunya. "Iya ya,trus kamu mau gimana lagi, udah bilang 'mau jadi pacarku gak?' kayak anak SD. trus aku juga udah jawab 'iya' masa masih Harus di-setrika otaknya." Tapi senyum di wajah Minjeong manis. Mereka resmi pacaran.
Di sudut lain, CHENLE lagi sibuk menyuapi NINGNING potongan kue, padahal Ningning protes. "Le, gue bisa makan sendiri! Lo mau gue jadi bebek apa?"
"Diem, jadiin aja bebek cantik. Biar gue yang urus," Chenle sok gagah, bikin yang lain pada geleng-geleng.
NINGNING akhirnya menyerah, lalu dengan cepat mencolek krim dari kue dan diusapkan ke hidung Chenle. "Nih, bebek jelek." Chenle cuma ketawa, bahagia.
MARK dan YERI duduk berdekatan di atas meja, saling menggenggam tangan. Mereka tidak perlu banyak kata. Kehadiran satu sama lain setelah semua yang terjadi sudah lebih dari cukup.
JENO dan GISELLE sedang berdebat seru soal rute tercepat ke kampus mereka nanti. "Kalau naik kereta dari sini, turun di Stasiun Gangnam, lalu..." peta digital di tablet Giselle diperbesar. Jeno cuma mengamati dengan senyum, lebih senang melihat Giselle bersemangat daripada benar-benar mendengarkan rutenya.
JISUNG dan CARMEN lagi asyik foto-foto selfie dengan pose konyol. "Yang ini buat instagram! Captionnya: 'Selamat wisuda, kita selamat dari alien!'" usul Jisung.
"Jangan! Ntar dikira gila," timpal Carmen sambil ketawa. Tapi matanya berbinar setiap melihat Jisung.
Tiba-tiba, HAECHAN berjalan mendekati JIMIN yang sedang mengatur susunan kue di meja. Dengan gaya sok cool, Haechan menyandarkan tangan di meja dekat Jimin. "Nih lihat, sang pemimpin lagi mikirin snack. Butuh bantuan? Katanya orang yang tegas butuh pasangan yang bisa ngebawa suasana... Biar seimbang gitu." haechan menyeringai.
Jimin memutar badan, alisnya terangkat. "Haechan, lo dari tadi cari perhatian gue. Mau apa sih?"
"Gak ada. Cuma ngasih tau aja, di antara kita udah pada couple, tapi disini ada satu duo yang cocok banget. Satu tegas, satunya konyol. Saling melengkapi~" Haechan menyanyikan kata terakhir.
RENJUN yang dengar langsung nyaut. "Woi, bener tuh! Jimin sama Haechan! Dulu kan di rooftop aja udah kayak adegan film aja—"
"RENJUN, DIAM!" Jimin melempar bungkus chiki ke arah Renjun, tapi pipinya memerah. Haechan cuma tertawa lebar, tapi matanya berbinar melihat Jimin yang flustered.
haechan melangkah pelan, lalu dengan santai duduk di kursi kosong tepat di samping Jimin. Jarak mereka jadi sangat dekat, bahu nyaris bersentuhan.
Jimin menoleh, alisnya kembali terangkat dengan ekspresi "ini lagi apa?". "Haechan, ngapain sih?"
"Enggak ngapa-ngapain," jawab Haechan polos, sambil matanya menatap ke arah depan, pura-pura melihat Jisung dan Carmen yang lagi tertawa. Tapi tangannya yang di bawah, di sisi yang tersembunyi oleh meja dan tubuh mereka, bergerak perlahan.
Jimin merasa sesuatu. Sentuhan hangat di punggung tangan kanannya yang sedang bersandar di atas paha sendiri. Jarinya Haechan dengan sangat halus, penuh pertanyaan, menyentuh kulitnya. Jimin membeku, tidak menarik tangan. Lalu, sentuhan itu berubah menjadi genggaman. Haechan menggenggam tangannya dengan erat, namun tersembunyi di balik bayangan meja dan lipatan seragam.
Jimin menoleh tajam ke Haechan. Matanya bertanya, bingung, dan ada sedikit kepanikan. "Haechan..." bisiknya, peringatan.
Haechan tetap menatap ke depan, senyum kecil masih mengembang di bibirnya. Tapi jempolnya mengusap-usap punggung tangan Jimin dengan gerakan menenangkan. "Tenang aja," bisiknya balik, hampir tak terdengar. "Cuma mau pegang tangan pemimpin favorit gue."
Jimin tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tangannya terasa hangat dan aman dalam genggaman Haechan. Dia tidak menariknya.
Lalu, dengan gerakan yang tampak natural, Haechan menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk meraih buku pelajaran tebal yang tergeletak di meja depan mereka—buku kimia yang tidak ada yang pakai. Dengan santai, dia mengangkat buku itu, seolah-olah sedang melihat sampulnya, lalu...
haechan mengangkat buku itu lebih tinggi, memposisikannya di udara antara wajah mereka dan pandangan orang lain di kelas. Dari sudut pandang Stella, Yuha, atau Renjun yang ada di seberang, itu hanya terlihat seperti Haechan sedang menunjukkan buku ke Jimin, mungkin bercanda tentang soal di dalamnya.
Tapi di balik buku itu, terciptalah ruang privat kecil mereka berdua.
Di ruang tersembunyi itu, Haechan memalingkan wajahnya. Senyum main-main di wajahnya melunak menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih genting. Matanya yang biasanya penuh kelucuan, sekarang memancarkan ketulusan dan sedikit ketakutan. haechan memajukan wajahnya, mendekatkan dirinya ke Jimin yang masih terpaku.
Jimin membeku. Dia bisa melihat setiap detail bulu mata Haechan, setiap napas hangat yang menghangatkan udara di antara mereka.
Dan kemudian, Haechan menutup matanya, dan dengan sangat pelan, sangat hati-hati, menyentuhkan bibirnya pada bibir Jimin.
Jimin terdiam, shock. Matanya terbuka lebar, merasakan kelembutan dan kehangatan yang tak terduga itu di bibirnya. Otaknya blank. Segala suara di kelas—tawa Chenle, debat Jeno-Giselle, candaan Renjun—seperti meredam menjadi desisan putih. Yang ada hanyanya sentuhan itu, dan genggaman tangan Haechan yang semakin erat di bawah meja.
Haechan menarik diri perlahan, membuka matanya. Di matanya ada keraguan, harap, dan rasa malu.
haechan menarik buku itu turun, meletakkannya kembali di meja dengan nonchalance, seolah-olah baru saja memeriksa indeks.
Wajahnya kembali ke ekspresi jailnya, tapi ada warna merah muda di ujung telinganya "ehem..ehemm"
Jimin masih menatapnya, bibirnya sedikit terbuka. Tangan kanannya masih tergenggam erat oleh Haechan di bawah meja. Hatinya berdebar kencang, campur aduk antara kaget, bingung, dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat.
"Masih marah gak?" bisik Haechan, dengan nada main-main, tapi matanya menatap Jimin dengan serius, mencari jawaban.
Jimin akhirnya menghela napas pendek, memalingkan wajahnya ke arah meja jus lagi, seolah sedang memeriksa sesuatu. Tapi dia tidak menarik tangannya dari genggaman Haechan. "Lain kali jangan main diem-diem gitu," gumamnya, suaranya rendah dan agak serak. "Gak gentleman banget."
Haechan tersenyum lebar, senyum yang tulus dan penuh kemenangan kecil. "Noted. Next time gue gak bakal diem diem cium lo."
"HEH Jangan berani-berani ya," Jimin membalas, dan untuk pertama kalinya sejak buku itu diangkat, sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas. Sangat kecil, hampir tak terlihat. Tapi Haechan melihatnya. Dan genggaman mereka di bawah meja tidak terlepas, tetap erat, tersembunyi dari dunia, tetapi sangat nyata bagi mereka berdua.
Sebelum Jimin bisa bertanya apa maksudnya, Haechan berdiri, dan dengan genggaman tangan yang masih tak terpisahkan, haecahn menarik Jimin untuk ikut berdiri. Jimin terhuyung sedikit, wajahnya bingung. "Haechan, apa—"
Haechan tidak menjawab. Dia hanya menggandeng tangan Jimin dengan erat, dan dengan langkah mantap, menariknya ke depan kelas, ke area kosong di dekat papan tulis.
Semua mata di kelas mulai tertuju pada mereka. Suasana riuh mereda menjadi desis penasaran. Jimin merasa pipinya memanas. Dia mencoba menarik tangannya sedikit, tapi Haechan menggenggam lebih kuat.
Sampai di depan, Haechan berbalik menghadap teman-teman sekelasnya. Dia masih menggandeng tangan Jimin di sampingnya. Jimin berdiri dengan tubuh agak kaku, ekspresi campur aduk antara bingung, malu, dan sedikit panik.
"PERHATIAN!" Haechan bersuara, lebih lantang dari biasanya.
"Woi, Haechan, mau apa?" teriak Chenle dari belakang, penasaran.
"Ada pertunjukan apa nih?" Renjun nyeletuk.
haechan sedikit bergetar, Jimin membelalak ke arah Haechan.
Tapi Haechan sudah tidak bisa mundur. haechan menatap mata Jimin sebentar, lalu kembali ke arah teman-teman yang sudah penuh perhatian. "Barusan... di belakang... gue sama Jimin..." haechan menjeda, menelan ludah. "... baru aja ciuman."
DEEEEEM.
Sunyi yang paling pekat. Seluruh kelas 3-B membeku. Wajah-wajah yang penuh tawa tadi sekarang terpana. Chenle nyaris menjatuhkan kue. Minjeong melotot. Jaemin berhenti menyetrika kerah bajunya sendiri. Renjun tercekak minuman. Sungchan hanya mengangkat alis tinggi-tinggi. Yeri menutup mulutnya dengan tangan.
Jimin sendiri seperti tersambar petir. Matanya membulat, wajahnya memerah dari leher sampai ke ubun-ubun. "Lee Donghyuck!" raungnya, suaranya campur marah dan malu yang meledak. Dia mencoba menarik tangannya dengan kasar, tapi Haechan tidak melepaskan.
Haechan tidak melihat ke arah Jimin. Dia masih menatap kelas, dengan senyum gugup tapi berani. "Dan karena tadi Jimin bilang jangan diem-diem... jadi gue kasih liat langsung aja."
Dengan gerakan cepat, Haechan memutar tubuh Jimin sehingga mereka sekarang berhadapan, menyamping ke arah kelas. Tangannya yang satu masih menggenggam tangan Jimin, sementara tangan satunya ditaruh di pinggang Jimin, menariknya sedikit lebih dekat.
Jimin terhuyung ke depan, hampir menabrak dada Haechan. Matanya menatap Jimin, dan di dalamnya Jimin melihat sesuatu yang tulus, nekat, dan penuh permintaan maaf untuk kejutan ini. Kemudian, Haechan mengangkat tangan bebasnya—tangan yang tadinya memegang pinggang Jimin—dan menempatkannya di samping wajah mereka, membentuk penghalang dari pandangan kelas.
Dan sebelum Jimin bisa memprotes lebih lanjut, sebelum siapa pun bisa bereaksi, Haechan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Jimin untuk kedua kalinya.
"MMMPH—?!" Jimin membeku lagi. Kali ini ciumannya lebih pasti, lebih berani, meski masih singkat. Tapi yang membuat adegan ini berbeda adalah tangan Haechan yang sengaja menutupi sisi bibir mereka dari pandangan kelas, memberikan ilusi seolah-olah mereka sedang berciuman penuh, padahal sentuhannya masih sama lembutnya.
Efeknya langsung mengguncang kelas.
"WAAAAAAAAAHHH!!!" teriak Chenle pertama kali, melompat dari kursinya.
"OH MY GOD! BENERAN?!" Yeri menjerit, memegangi pipinya.
"WOI! HAECHAN BERANI BANGET!" Jeno terengah-engah, tertawa terbahak-bahak.
Minjeong dan Jaemin saling pandang, lalu tersenyum lebar dan mulai bertepuk tangan.
Renjun nyaris tersedak lagi, tapi lalu ikut bersorak. "SALUT, HAECHAN!!"
Sungchan hanya menggeleng sambil tersenyum, lalu ikut tepuk tangan pelan.
Yuha dan Stella saling menggenggam tangan, mata mereka berkaca-kaca karena terharu
Hina melihat mungkin sedikit karena cemburu
Sunkyung menjerit girang, "AKU TAU! AKU TAU MEREKA COCOK!"
Sorakan, teriakan, dan tepuk tangan riuh memenuhi kelas. "WOW! WOW! WOW!" mereka bersorak kompak, beberapa seperti Jisung dan Carmen bahkan sudah mulai menghitung, "SATU... DUA... TIGA..."
Haechan akhirnya memutuskan ciuman itu, menarik wajahnya beberapa sentimeter. Tangan yang menutupi bibir mereka turun. Wajahnya merah padam, tapi matanya bersinar. Dia menatap Jimin yang wajahnya masih merah menyala, mata berair karena malu dan emosi yang campur aduk.
Jimin hanya bisa menatapnya, napasnya tersengal. Dunia di sekelilingnya—sorakan, teriakan, wajah-wajah teman yang bersorak—seperti kabur. Yang jelas hanya wajah Haechan di depannya. Dan perasaan... perasaan aneh di dadanya. Malu? Ya. Marah? Sedikit. Tapi ada juga kelegaan. Rahasia itu keluar. Dan tidak ada yang mengutuk. Malah... mereka bersorak.
Haechan, menyeringai, lalu mengangkat tangan mereka yang masih tergandengan erat ke atas, memperlihatkannya ke seluruh kelas.
Sorakan semakin menjadi-jadi.
Jimin menunduk, menyembunyikan senyum yang akhirnya tidak bisa lagi ditahan di balik kerutan keningnya. Dia tidak menarik tangannya. Dia malah menggenggam balik.
Setelah sorakan yang membahana, Jimin akhirnya melepas genggaman tangannya dari Haechan. Wajahnya masih merah membara seperti tomat matang, dan telinganya terasa panas. jimin malu banget, jimin berbalik dan berjalan cepat kembali ke tempat duduknya dengan menutupi wajahnya, Begitu duduk, dia langsung membungkukkan badannya, seolah ingin tenggelam ke dalam lantai. Bahunya sedikit naik turun.
Sementara itu, Haechan masih berdiri di depan kelas, disoraki oleh teman-temannya. Dia terlihat seperti pemenang yang baru saja memenangkan pertandingan paling berisiko dalam hidupnya. Dia mengepalkan tangan ke udara dan berseru "YES! YES!" sambil melompat kecil, senyumnya lebar dan polos, semua ketegangan sebelumnya telah berubah menjadi kemenangan yang manis.
"WOOOII, HAECHAN! LU KESAMBET APA SIH? BERANI BANGET!" teriak Jeno sambil tertawa terbahak.
"UDH OFFICIAL NIH! SELAMAT YA, HAECHAN!" Renjun ikut berseru, menyeringai.
"GUE DARI DULU UDAH TAU SI KALIAN BERDUA COCOK! PEMIMPIN SAMA BADUTNYA!" Chenle menambahkan sambil menyuapi Ningning lagi, yang sekarang tertawa melihat kejadian itu.
Haechan hanya nyengir lebar dan membalas dengan gaya sok santai, "Gimana, gue keren kan? " Dia melambai-lambaikan tangannya, menikmati momen perhatian penuh ini.
Dengan langkah yang sedikit menggoyang (lebih karena gugup dan lega daripada sok gaya), Haechan berjalan kembali ke tempat duduknya di samping Jimin. Sepanjang jalan, komentar dan teriakan kecil masih berdatangan.
"Ganteng, Chan! Akhirnya keluar juga!" seru Yeri, memberi jempol.
"Jangan sampe nangis ya, si Jimin!" Minjeong menambahkan dengan nada menggoda.
"Nanti traktiran, Haechan! Harus traktir kita semua!" teriak Jisung dari sudut.
Haechan cuma tertawa dan membalas dengan isyarat oke. Akhirnya, dia sampai di kursinya. Jimin masih duduk dengan wajah tertutup tangan, seolah tidak ingin menghadapi kenyataan.
Haechan duduk perlahan di sebelah Jimin. Suasana di sekitar mereka mulai kembali riuh dengan obrolan mereka sendiri, meski sesekali masih ada yang melirik dan tersenyum ke arah mereka.
Dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lembut, jauh berbeda dari persona "pemberani"nya di depan kelas tadi, Haechan membungkuk mendekati telinga Jimin. "Hey... maaf ya, pasti kaget banget."
Jimin tidak menjawab, tidak bergerak.
Haechan sedikit cemas. Perlahan, dia mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk punggung Jimin dengan lembut. "Jimin? Masih marah? Gue beneran minta maaf."
Lalu, dari balik tangan yang menutupi wajahnya, suara Jimin terdengar parau, "Gue mati malu, Haechan. Mati."
Tapi nadanya tidak lagi marah. Lebih seperti keluhan yang lelah dan malu.
Haechan tersenyum lega. "Tapi mereka pada senang, loh. Lihat?" bisiknya.
Jimin akhirnya mengangkat wajahnya dari tangan. Pipinya masih merah, matanya sedikit berair (lebih karena malu dan tertahan tawa), dan rambutnya sedikit berantakan. Dia menatap Haechan dengan ekspresi cemberut yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. " lo berani banget sih?."
"Kata lo jangan diem-diem tadi," Haechan menyeringai lagi, tapi kali ini dengan senyum yang lebih hangat. Dia mengambil sebotol air dari meja dan membukanya, lalu menyodorkannya ke Jimin. "Nih, minum. Biar dinginin muka yang kayak lagi demam itu."
Jimin menerima botol itu dengan enggan, tapi dia minum. Setelah meneguk, dia melihat ke arah teman-temannya yang sebagian sudah kembali asyik dengan aktivitas masing-masing, meski sesekali masih melirik mereka dengan senyum. Sorakan tadi telah mereda menjadi bisikan-bisikan manis dan pandangan penuh dukungan.
Adegan manis mereka berdua—Jimin yang masih malu tapi sudah mulai tersenyum, dan Haechan yang menggenggam tangannya dengan lembut—tidak luput dari pengamatan Minjeong dan Jaemin. Mereka saling pandang dan tersenyum.
"Akhirnya," bisik Minjeong.
"Yang sabar menunggu emang dapat giliran," Jaemin membalas, lalu menoleh ke arah Sungchan yang duduk tenang. "Sung, jangan sedih. Lo pasti dapet juga."
Sungchan cuma tersenyum kecil dan angkat bahu. "Gue fine kok. Seneng liat mereka."
Di tengah kelas yang kembali dipenuhi canda, tawa, dan obrolan tentang masa depan, dua tangan itu tetap tergenggam di bawah meja. Tidak lagi sembunyi-sembunyi. Semua orang tahu. Semua orang merestui. Dari puing-puing invasi dan kematian, tumbuhlah kisah-kisah baru: cinta, persahabatan, dan keberanian untuk jujur pada perasaan. Dan untuk Jimin dan Haechan, kisah mereka baru saja dimulai dengan sebuah ciuman nekat di depan seluruh kelas—awal yang kacau, memalukan, tetapi sungguh-sungguh milik mereka.
SION yang lagi minum, tiba-tiba digerubuti YUHA dan STELLA. "Si Sion ini, dari tadi mata melotot ke arah Ian aja," goda Yuha.
"HAH? Gak ada! Gue cuma liat dia lagi baca buku!" Sion membela diri, tapi telinganya merah.
IAN yang disebut malah senyum-senyum sendiri di pojokan, tanpa menyangkal. ANTON cuma komentar, "Silent type emang cocok sama silent type. Gak rame. perfect"
SUNGCHAN yang duduk dekat jendela, tiba-tiba jadi target juga. "Nah, kalau Sungchan gimana nih? Udah move on belum?" tanya SOHEE dengan polos.
Sungchan tersenyum kecil, jauh lebih tenang dari dulu. "Move on ke mana? Hidup jalan terus bro. gue Mau Fokus latihan basket dulu buat test universitas."
"Bosan ah! Harusnya move on ke salah satu dari kita dong!" SUNKYUNG yang sudah jauh lebih ceria ikut nimbrung. "Masih ada aku, Stella, Yuha, Juun,---!"
JUUN yang disebut malah ikut protes. "Lah, kita barang dagangan apa? Disodorkin gitu aja!" Semua tertawa.
Suasana jadi semakin ricuh dan hangat.
A-NA dan SOHEE lalu digodai karena kabar baik mereka. "Denger-denger si calon dokter Sohee sama A-na udah keterima di SNU ya! Wah, ngeri nih, nanti kalau kita sakit disuntik pake jaruk ukuran yang bener ya!" goda RENJUN.
A-NA yang dulu perfeksionis dan suka mengeluh, kini tersenyum lebar. "Iya, jadi dokter. Biar gak ada lagi yang harus dijahit seadanya kayak Ningning dulu."
NINGNING dari jauh nyaut, "Hey! Jahitan Sohee sama A-na yang selamatin gue, oke? Jangan dihina!" Semua tertawa lagi.
Di tengah keriuhan itu, JIMIN berdiri dan mengangkat gelas plastik berisi jus. Suasana perlahan hening.
"Eh, gak usah hening-hening banget, serem," Giselle bercanda, lalu lanjut dengan suara yang lebih lembut. "Enam bulan yang lalu, kita di kelas ini, berantakan, ketakutan, gak tau besok masih hidup atau enggak. Kita kehilangan teman-teman yang sangat berharga. Jiwoo, Wonbin, Shotaro, Koeun, Yeon... Mereka selalu ada di sini," Giselle menepuk dadanya.
Suasana hening sejenak, penuh penghormatan.
"Tapi kita juga dapat sesuatu. Kita tau arti bertahan hidup, arti percaya sama orang lain, dan... arti jadi keluarga. Keluarga yang milih, bukan keluarga yang dikasih. Sekarang kita mau lulus, mau jalan ke arah masing-masing. Tapi gue yakin, apapun yang terjadi, kelas 3-B bakal tetap solid. Karena kita udah pernah lawan alien dimensi bareng. Apa sih yang lebih gila dari itu?" ucap jaemin
Tawa kecil bergema.
"Jadi, buat kita. Buat yang udah pergi. Dan buat masa depan yang... semoga lebih cerah dan gak ada Klepek-Klepek lagi. Cheers!" lanjut jaemin
"CHEERS!!!" Teriakan kompak membahana, gelas-gelas plastik ditumbukkan.
Mereka minum, tertawa, bercanda, dan menikmati hari ini. Luka-luka fisik mungkin sudah sembuh, bekas luka di hati mungkin akan selalu ada. Tapi di ruang kelas 3-B yang penuh cahaya matahari dan tawa itu, yang terlihat jelas adalah daya tahan manusia, ikatan persahabatan, dan harapan sederhana untuk masa depan. Mereka bukan lagi sekelompok problem child. Mereka adalah para penyintas. Dan cerita mereka, meski bab yang paling gelap telah berlalu, akan terus berlanjut dalam kehidupan baru mereka.
- TAMAT -