Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Satu kalimat itu sukses membuat tubuh Hank menegang kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Ia tahu betul itu bukan sekadar sindiran biasa; itu adalah sinyal bahwa tuannya sedang sangat tidak senang.
“Baik, Tuan. Saya lakukan sekarang juga,” ujar Hank, tak ingin membuang waktu sedetik pun demi menyelamatkan posisinya.
Dengan gerakan taktis, Hank segera menyalakan iPad khusus miliknya. Jari-jemarinya bergerak cepat di atas layar, menembus sistem enkripsi pangkalan data pribadi yang biasa mereka gunakan untuk memata-matai atau menyelidiki seseorang.
Sembari membaca data awal, ia menekan satu tombol panggilan cepat di ponselnya. Begitu sambungan terhubung, Hank hanya menyebutkan satu nama dengan artikulasi yang sangat jelas.
“Aurora Eleanor Lynn.”
Tanpa menunggu balasan dari seberang, sambungan langsung diputus sepihak oleh Hank.
Efisiensi jaringan informasi milik Aragon memang tidak perlu diragukan. Tidak sampai satu menit, sebuah dokumen digital berlogo rahasia masuk, memuat seluruh riwayat hidup target. Hank segera menyaring informasi penting tersebut.
“Saya sudah mendapatkan semua datanya, Tuan, sekaligus rekaman cctv umum yang berada di sekitar gadis itu.”
“Hm.” Aragon hanya bergumam pendek. Ia tetap mempertahankan posisi duduk santainya, tampak acuh tak acuh menatap kaca jendela, namun Hank tahu sang tuan sedang merekam setiap kata yang akan diucapkannya.
Hank berdeham pelan sebelum membacakan ringkasan data tersebut.
“Aurora Eleanor Lynn. Usia dua puluh tahun. Status yatim piatu, dan dibesarkan di sebuah panti asuhan bernama Moon Haven House.”
Jari Hank menggeser layar ke bawah, menelusuri berkas legalitas tanah.
“Panti asuhan itu berdiri di atas lahan yang sedang bersengketa. Berpuluh-puluh tahun lalu, tanah tersebut dihibahkan oleh seorang hartawan lokal untuk pembangunan gereja dan panti. Namun, setelah pria itu wafat, anak-anak kandungnya terlibat perebutan harta warisan yang panjang, hingga akhirnya lahan tersebut dijual secara sepihak kepada pihak ketiga agar bisa di bagi rata.”
Hank membaca baris berikutnya, dan matanya sedikit membelalak saat menemukan satu nama familier.
“Tanah itu sekarang resmi dimiliki oleh Alexander Ridge.”
Nama “Alexander Ridge” yang disebut seketika mengubah suhu di dalam mobil menjadi lebih menekan. Rivalitas bisnis dan politik di balik nama itu bukanlah rahasia lagi bagi mereka.
“Menurut laporan intelijen terbaru yang saya terima, Alexander Ridge telah memerintahkan kaki tangannya, Bulldog Weiler, untuk melakukan eksekusi pengosongan lahan dan meratakan bangunan panti asuhan tersebut hari ini,” lanjut Hank dengan nada yang perlahan merendah. Ia menjeda sesaat, membaca catatan tambahan yang baru saja masuk.
“Namun, tampaknya Bulldog memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadinya.”
Aragon akhirnya mengalihkan pandangan sepenuhnya dari jendela. “Maksudmu?”
“Bulldog menjanjikan keselamatan panti asuhan itu dan berjanji akan membatalkan penggusuran,” lanjut Hank, suaranya terdengar agak tertahan akibat rasa ketidakpercayaan atas apa yang ia baca, “dengan syarat… Aurora harus bersedia menikah dengannya.”
Keheningan total kembali merayap, menguasai setiap sudut kabin mobil mewah itu. Hanya suara rintik gerimis sisa badai yang sesekali mengetuk pelan kaca kendaraan dari luar.
Sementara itu, di kursi belakang, sepasang mata gelap Aragon perlahan menyipit, berkilat oleh sesuatu yang sulit diartikan.
Nama Alexander Ridge, panti asuhan yang terancam hancur, dan seorang gadis miskin bernama Aurora yang kini sedang disudutkan oleh seekor anjing bernama Bulldog. Sebuah senyum tipis yang sarat akan intrik berbahaya perlahan tersungging di sudut bibir Aragon.
Tak lama berselang, ponsel di saku jas Hank kembali bergetar pendek, memecah keheningan kabin.
Sebuah notifikasi laporan terbaru berkedip di layar. Hank segera membuka enkripsi pesan tersebut, memindai untaian kalimat di dalamnya dengan kecepatan tinggi.
Raut wajahnya seketika berubah serius.
“Hari ini Bulldog Weiler akan merobohkan panti asuhan itu, Tuan,” lapor Hank, membalikkan sedikit tubuhnya ke belakang.
“Menurut informasi yang baru saja masuk, eksekusi sedang berlangsung sekarang, dan Aurora dipaksa untuk menentukan pilihannya detik ini juga.”
Suasana di dalam mobil kembali tersedot ke dalam keheningan yang pekat. Detik demi detik berlalu dalam ketegangan, hanya menyisakan deru halus mesin mobil yang melaju konstan.
Aragon tidak langsung merespons. Pria itu justru menyunggingkan sebuah senyum asimetris yang sarat akan intrik di sudut bibirnya.
“Menarik,” ucap Aragon pelan, suaranya terdengar seperti seringai yang tenang namun mematikan.
“Akan jauh lebih seru jika kita menambahkan total biaya kerusakan mobil tadi ke dalam daftar masalah yang harus gadis itu hadapi hari ini.”
Hank sedikit mengernyitkan alis, tidak sepenuhnya menangkap ke mana arah pembicaraan tuannya.
“Kita putar balik,” lanjut Aragon dengan nada suara terlampau tenang, seolah keputusan yang diambilnya bukanlah sesuatu yang besar. “Kirimkan rincian seluruh biaya perbaikan itu langsung ke hadapannya, dan pastikan dia menggantinya hari ini juga.”
Mendengar perintah yang tidak masuk akal itu, Hank refleks menoleh ke belakang dengan mata membelalak kaget. Isyarat profesionalismenya runtuh sesaat.
“Ya, Tuan…? Putar balik?”
Aragon perlahan mengalihkan manik mata gelapnya, menghunus tatapan dingin yang langsung mengunci pergerakan Hank. “Apa aku perlu mengulang kalimatku dua kali, Hank?” tanyanya, dingin dan mengintimidasi.
Tubuh Hank seketika menegang kaku di kursinya. Aura berbahaya yang menguar dari tubuh Aragon membuat sirkulasi darahnya seolah membeku.
“Tidak, Tuan. Saya mengerti. Perintah dijalankan,” jawab Hank cepat, memberi isyarat kepada pengemudi di sampingnya melalui kode tangan untuk segera mencari celah memutar balik arah iring-iringan mobil.
Namun, jauh di dalam lubuk pikirannya, isi kepala Hank benar-benar carut-marut oleh kebingungan. Ini adalah kali pertama ia melihat Aragon bertindak sejauh ini hanya karena urusan remeh-temeh dengan orang asing. Biasanya, jangankan wanita biasa seperti Aurora, bahkan para sosialita kelas atas atau putri dari rekan bisnis konglomerat yang mencoba menarik perhatian Aragon dengan berbagai trik pun tidak akan pernah dilirik sedikit pun.
Tetapi sore ini, semuanya aneh.
Tuannya tidak hanya memerintahkan penyelidikan latar belakang yang mendalam, meminta laporan detail dari menit ke menit, tetapi sekarang bahkan memerintahkan seluruh rombongan pengawal untuk memutar balik arah hanya demi menagih selembar kuitansi kerusakan mobil.
Semakin Hank menganalisisnya, semakin terasa ada sesuatu yang janggal. Sebuah spekulasi liar dan mencurigakan tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya.
“Jangan-jangan… Semua retorika tentang ganti rugi dan biaya kerusakan itu hanyalah alibi? Sebuah dalih elegan yang digunakan Aragon untuk menutupi rasa penasarannya yang mendalam terhadap gadis bernama Aurora itu?”
Namun, Hank segera menggelengkan kepalanya samar, buru-buru membuang jauh-jauh pikiran konyol tersebut. Ia tidak ingin memercayai intuisinya sendiri yang terdengar sangat mustahil. Aragon adalah pria berdarah dingin yang rasional; dia bukan tipe pria yang akan dengan mudah terpancing atau kehilangan fokus hanya karena pesona seorang wanita. Apalagi, wanita yang baru saja mereka temui adalah gadis miskin yang tidak memiliki pengaruh apa pun.
Bersambung