Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sementara Amira berdiri di depannya dengan mata memerah namun tetap tenang. Tidak berteriak. Tidak histeris. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menakutkan.
“A-Amira…” suara Erika melemah sekarang, “aku… aku enggak tahu kalau dampaknya bakal sebesar itu buat kamu.”
Amira tertawa kecil. “Karena setelah itu hidup kalian tetap baik-baik aja.”
Erika langsung terdiam.
Sementara Amira perlahan menggeleng sendiri. “Kalian lanjut sekolah.”
“Punya teman.”
“Punya keluarga.”
“Masih bisa ketawa.” Air matanya jatuh lagi. “Aku?” Ia tersenyum miris. “Aku takut sama laki-laki bertahun-tahun.”
Kalimat itu membuat Erika langsung mengangkat kepala cepat. Karena baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa dekatnya Amira waktu itu dengan kehancuran yang jauh lebih besar.
“Aku enggak berani keluar rumah sendirian.”
“Aku selalu mimpi buruk.”
“Sampai kalau ada orang teriak aja aku gemetar.” Suara Amira mulai pecah. “Dan kalian semua enggak pernah cari aku.”
Erika benar-benar tidak bisa menjawab sekarang. Karena semuanya benar. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah meminta maaf. Tidak ada yang mencari tahu keadaan Amira setelah keluarganya pindah. Mereka hanya melanjutkan hidup.
Sementara Amira hidup bersama trauma yang membusuk diam-diam.
Air mata Erika akhirnya jatuh. “Aku salah…” Suara itu sangat lirih. “Aku tahu…”
Namun Amira hanya memandangnya lama. Lalu pelan sekali berkata, “Permintaan maaf enggak selalu menyembuhkan luka, Erika.”
Perempuan itu langsung menangis. Sementara Amira perlahan memalingkan wajah. Karena jujur saja setelah bertahun-tahun memendam semuanya sendiri ia bahkan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia inginkan dari orang-orang ini. Balas dendam? Penyesalan? Atau sekadar pengakuan bahwa dulu dirinya benar-benar disakiti?
Dan sebelum Erika kembali bicara pintu rumah besar itu tiba-tiba terbuka. Beberapa orang mulai keluar karena acara kajian tampaknya akan segera dimulai.
Termasuk Usman. Tatapan lelaki itu langsung mencari Amira. Dan begitu melihat air mata di wajah perempuan itu rahangnya kembali mengeras.
Usman berjalan cepat mendekati mereka begitu melihat Amira dan Erika berdiri cukup lama di halaman. Tatapannya langsung menangkap mata Amira yang masih merah. Dan itu saja sudah cukup membuat rahangnya mengeras lagi.
Sementara Erika buru-buru menghapus air matanya sendiri. Wajahnya tampak panik sekarang. Jelas sekali ia takut Usman mengetahui semuanya.
“Ada apa?” Suara Usman rendah namun tegas. Tatapannya bergantian antara Erika dan Amira. Tidak ada yang menjawab.
Erika menunduk cepat.
Sedangkan Amira justru memalingkan wajah.
“Ais?” Panggilan itu terdengar jauh lebih hati-hati sekarang.
Namun Amira tetap diam. Karena ia tahu jika bicara sekarang, emosinya bisa meledak lagi. Dan jujur saja ia belum siap membuka semuanya di halaman rumah ini. Rumah tempat masa kecilnya dihancurkan.
“Ada yang bikin kamu enggak nyaman?” Tatapan Usman semakin tajam pada Erika. Membuat perempuan itu langsung gugup.
“Eng-enggak kok, Mas,” jawab Erika cepat sambil memaksakan senyum. “Kami cuma ngobrol lama aja.”
Usman tidak langsung percaya. Tatapannya kembali jatuh pada Amira. Dan lelaki itu mengenal satu hal dengan sangat jelas sekarang diamnya Amira bukan berarti baik-baik saja. Justru biasanya perempuan itu diam ketika sedang terlalu terluka.
“Ais.” Suara Usman melunak sedikit. “Kamu mau pulang?”
Amira akhirnya menoleh. Ada rasa hangat kecil di dadanya mendengar pertanyaan itu. Karena setelah semua yang terjadi hari ini akhirnya ada seseorang yang lebih memikirkan kondisinya daripada acara atau orang lain.
Namun Amira perlahan menggeleng kecil. “Saya enggak apa-apa.” Meski jelas matanya masih basah. Usman tampak ingin bicara lagi. Tetapi Amira lebih dulu menarik napas panjang lalu berkata lirih, “Saya cuma… belum tenang.”
Dan jawaban itu langsung membuat Usman diam. Karena ia tahu ada luka lama yang baru saja terbuka lagi hari ini. Dan lelaki itu mulai sadar luka itu ternyata jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan sebelumnya.
"Nanti setelah acara, kita bicarakan semuanya." kata Usman, lalu masuk ke dalam setelah yakin Amira tidak apa-apa.
Sementara Erika mendadak gugup. Ia takut kalau semuanya terbongkar hari ini. Sesuatu hal yang telah mereka usahakan tertutup selamanya. Kini, Erika hanya bisa berharap pada seseorang yang bisa menutup mulut Amira.
***
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai memenuhi rumah besar itu. Para tamu duduk rapi mengikuti pengajian untuk mendoakan almarhumah Alya Syahida.
Di ruang depan, Umi Salma tampak khusyu mengikuti jalannya acara sambil sesekali menggendong Habibi yang mulai tertidur lagi.
Sementara Usman duduk tak jauh dari para tokoh kampung. Namun meski duduk tenang pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di acara itu.
Tatapannya beberapa kali mengarah ke luar rumah. Ke arah mobil tempat Amira menunggu.
Sementara di sisi lain rumah, Erika justru terlihat gelisah sendiri. Ia sama sekali tidak fokus mengikuti doa. Tangannya dingin sejak tadi. Jantungnya terus berdebar mengingat percakapannya dengan Amira beberapa menit lalu. Dan akhirnya ia tidak tahan lagi.
Perempuan itu buru-buru mencari kakak laki-lakinya. Erdo. Begitu menemukan lelaki itu di lorong samping rumah, Erika langsung menarik lengannya pelan. “Mas…”
Erdo menoleh bingung. “Ada apa?”
Erika tampak menelan ludah gugup sebelum berbisik cepat, “Gadis itu kembali.”
Erdo mengernyit. “Siapa?”
Napas Erika memburu. “Amira.”
Tubuh Erdo langsung menegang.
Dan Erika melanjutkan dengan suara makin kecil, “Aisyah Amira.”
Wajah Erdo berubah seketika. Tatapannya membeku beberapa detik. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?”
“Dia ada di depan.”
Jantung Erdo langsung berdebar keras. Aisyah Amira. Nama itu seperti membuka kembali ruang lama dalam hatinya yang selama ini terkunci rapat. Perempuan kecil yang dulu selalu ia lihat diam-diam dari kejauhan. Cucu Ustad Hasyim. Gadis pendiam bermata sendu yang berbeda dari anak-anak lain. Dan satu-satunya orang yang diam-diam selalu membuatnya merasa bersalah. Karena tidak seperti Erika dan Alya l, Erdo tahu Amira tidak pernah bersalah. Ia tahu adik-adiknya terlalu kejam pada gadis itu. Tetapi dulu ia pengecut. Ia diam. Dan diamnya itu membuat Amira akhirnya terusir dari kampung ini.
Namun ada hal lain yang tidak pernah diketahui siapa pun. Rasa rindu. Yang selama bertahun-tahun ia simpan sendiri. Karena setelah Amira pergi Erdo tidak pernah benar-benar bisa melupakan gadis itu. Dan sekarang perempuan itu kembali. Masih hidup. Masih ada.
Napas Erdo langsung terasa berat. Tanpa sadar ia melangkah cepat menuju depan rumah.
Sementara Erika buru-buru menahan lengannya panik. “Mas!”
Erdo menoleh.
Erika tampak ketakutan sekarang. “Jangan sampai Mas Usman tahu soal dulu…”
Namun Erdo justru menatap adiknya dengan wajah keras yang jarang sekali muncul. “Harusnya kalian takut sejak dulu.”
Erika langsung panik mendengar nada suara kakaknya berubah dingin seperti itu. Ia buru-buru menarik lengan Erdo lagi. “Mas, please…” Suaranya mulai bergetar. “Jangan sekarang.”