Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 : Peringatan Anak Nakal
Di dalam ruangan, Nando dan Arkan dipaksa duduk dalam satu ruangan BK. Sementara si guru duduk di depan mereka sambil melipat kedua tangan dan menatap tajam.
"Kalian tahu kan? Apa yang kalian lakukan ini?" tegur guru BK tersebut.
Nando dan Arkan mengangguk. Mereka tidak berani membalas tatapan pak guru karena gengsi atau malu merasa bersalah. Melihat sikap mereka, pak guru menggelengkan kepala.
"Kalian tahu kan, kalau skor kalian nanti naik lebih dari 50%, kalian akan diteror oleh Naja," tegas guru itu berusaha memberi nasehat pada dua muridnya agar tidak berkelahi seperti tadi di kelas.
Nando yang awalnya merasa bersalah dan tegang, seketika tertawa saat sosok urban legend itu disebut. Dia menatap pak guru dengan sinis sambil tersenyum meremehkan.
"Pak, Naja itu hanya mitos. Zaman sudah maju, Pak. Masa di abad sekarang percaya sama yang begituan?" kekeh Nando, ditimpali oleh tawa Arkan.
Dua lelaki yang tadinya bertengkar hingga babak belur, seketika berubah menjadi teman yang saling sepakat dalam menyanggah nasehat guru soal urban legend. Bahkan, mereka juga melakukan tos saat merasa mereka benar.
"Kalian bisa senang-senang sekarang tapi jika nanti sosok itu sudah muncul, kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan bernapas saja akan terasa sulit," ucap pak guru pelan, suaranya terdengar tegas tapi juga dingin. Raut wajahnya tampak serius dengan apa yang dia bicarakan.
Arkan mengangkat bahu acuh tak acuh sambil tertawa. "Biarkan saja dia datang, aku tidak takut!" tegasnya.
Pak guru menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangan. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Sebelum dia kembali bersuara untuk menegur murid-muridnya, tiba-tiba saja angin berembus kencang dan lampu ruangan seakan meredup. Barang-barang yang ada di sana seketika juga ikut berjatuhan karena terdorong oleh udara yang kencang.
Arkan dan Nando berdiri, memundurkan langkah. Jantung mereka mulai berdebar melihat keadaan yang terasa mencekam. Di sudut ruangan, suara jendela dan gorden seakan gaduh terkena angin. Sementara, salah satu potret di ruangan ikut terjatuh ke lantai meninggalkan suara yang keras.
"Ada apa ini?" tanya Nando penasaran sambil mendongak melihat langit-langit ruangan yang mulai menggelap dan seperti terlihat ada noda merah di atas sana.
Dia tanpa sadar meraih tangan Arkan dan menggenggam untuk mendapatkan ketenangan. Sementara wajahnya terus memandang sekeliling dengan perasaan tidak nyaman.
"Kalian sudah membuat Naja tersinggung, jadi kalian harus terima akibatnya!" tegas pak guru. Dia tidak terlihat ketakutan bahkan terkesan tenang seolah tidak masalah dengan kegaduhan yang terjadi di ruangannya.
Di tengah rasa takut yang dirasakan, Nando masih menggelengkan kepala dengan gemetar. "Itu hanya badai sementara, bukan Naja. Kami tidak percaya dengan adanya sosok itu," balas mereka dengan suara tegas walau pelan.
Tiba-tiba saja ruangan itu mati lampu membuat semua orang kaget. Arkan dan Nando makin merinding. Mereka tidak banyak bergerak hanya berdiri di sudut ruangan. Sementara pak guru beranjak mengambil lilin untuk menerangi ruangan tersebut.
"Pak, cepat nyalakan lampunya. Kami tidak bisa melihat dalam keadaan gelap," pinta Arkan dengan sedikit ketakutan. Bulu kuduk lelaki itu terasa merinding saat salah satu jemari asing merayap di bahunya perlahan-lahan.
Arkan menatap ke Nando, dia mencoba memeriksa bahwa yang memberi sentuhan di bahu adalah temannya. "Nando, kamu bisa tidak, tidak usah usil?" tegurnya, membuat Nando yang sedari tadi diam seketika terperanjat.
Raut wajah Nando memerah. Dia mengerutkan kening dan menatap Arkan kesal.
"Usil bagaimana? Aku saja dari tadi diam," jawabnya tak kalah kasar.
Arkan mengerutkan kening. Dia masih fokus pada Nando, memastikan temannya benar-benar berkata jujur. Namun, sentuhan jemari itu kembali merayap di bahu kanannya. Rasa geli dan merinding bercampur menjadi satu.
Arkan menahan napas, udara di sekitar terasa menggantung tidak masuk ke paru-paru. Sentuhan di bahunya tetap ada rasa dingin, basah, dan juga tajam, seolah sentuhan itu bukan dari jari manusia biasa.
Pelan, pelan, lelaki itu menoleh ke samping kanan. Awalnya dia tidak menemukan apa-apa tapi hatinya masih berdegup ketakutan. Tidak ada apa-apa di sana selain kegelapan. Bahkan bayangannya saja tidak terlihat. Namun, saat dia menyipitkan mata perlahan satu sosok muncul dari balik asap yang entah datang dari mana.
Boom!
Tubuh Arkan terperanjat kaget, jantungnya terasa mau copot dan napasnya tersengal. Tiba-tiba saja, sosok tak kasat mata berwajah setengah cantik putih bersih, setengahnya retak, terbakar, dan dipenuhi noda. Di belakang sosok itu, terlihat dua sayap yang tidak simetris. Satu sisi putih bersih, satunya hitam menggambarkan kegelapan dosa manusia.
"Nando, apa kamu melihat apa yang aku lihat?" tanya Arkan dengan suara gemetar, tangannya meraih pundak teman lelaki yang masih berdiri di sampingnya.
Nando tidak langsung menjawab, dia masih mematung. Suasana itu membuat Arkan merasa merinding ketakutan. Baru pertama kali dia melihat sosok Naja Belial. Sosok setengah malaikat setengah iblis yang selama ini disebut-sebut oleh setiap guru di sekolah. Hatinya masih bergetar tak percaya.
"Karena kamu berani menertawakan aku, kamu akan merasakan akibatnya!" tegas sosok itu dengan suara serak dan tatapan melotot memandang Arkan dengan penuh amarah.
Arkan menelan ludah, dia gugup dengan penampakan sosok itu. Lelaki itu memundurkan langkah, berusaha menghindari kejaran sosok Naja yang memerah memandangnya.
Bug
Karena tidak sadar suasana sekitar masih gelap, Arkan tidak sengaja menabrak meja yang ada di ruangan. Bahkan dia tidak sengaja menjatuhkan barang itu. Mendengar suara vas yang pecah di lantai membuat Nando ikut terperanjat kaget. Dia mengerutkan kening menatap Arkan yang ketakutan.
"Kamu kenapa deh?" tanya Nando penasaran, dia hendak menegur temannya itu yang sudah merusak fasilitas guru di sini. Namun, sepertinya Arkan tidak lagi fokus dengan keadaan di sekitar. Lelaki itu tampak pucat dan gugup.
Arkan benar-benar ketakutan, dia tidak bisa bernapas dengan baik. Bahkan pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Sosok Naja di hadapannya tidak benar-benar menyingkir dan terus menyeringai membuat jantungnya seakan mau lepas.
"Tolong, ampuni aku!" pinta Arkan, suaranya serak dan matanya mulai berkaca-kaca.
Nando mengerutkan kening menatap temannya itu. "Kamu ngomong sama siapa?" tegur lelaki itu, tapi tidak ada sahutan.
Suasana hening dan kembali terasa mencekam. Pak guru seolah lama sekali mengambil lilin, membuat keduanya terjebak dalam kegelapan ini. Sementara sosok Naja terus berdiri di depan Arkan, mencoba menakut-nakuti lelaki itu.
"Maaf ya, anak-anak, tadi saya pikir lilinnya hilang. Jadi, saya beli dulu di koperasi hehe," jelas pak guru yang baru saja datang ke ruangan.
Belum sempat lilin dinyalakan, tiba-tiba saja lampu kembali menyala terang dan suasana sudah tidak lagi tegang seperti tadi. Langit kembali cerah tapi pandangan Arkan masih terasa buram. Tangan lelaki itu terasa perih dan dia berulang kali meringis kesakitan.
"Ada apa, Arkan?" tanya pak guru dan Nando sambil menoleh ke arahnya.
Tidak ada sahutan, Arkan sibuk dengan luka di pergelangan tangannya yang tergores oleh pisau atau alat tajam entah dari mana. Darah lelaki itu terus mengalir menimbulkan rasa perih yang menyayat jantung. Luka tersebut membuat pak guru dan Nando merasa bingung serta was-was penuh kekhawatiran.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"