Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kehancuran yang Senyap
Keesokan paginya, langit Toronto diselimuti kabut tipis musim semi yang sejuk. Di ruang rapat utama lantai tiga puluh gedung Vance & Co. Holdings, suasana terasa sangat tegang. Jajaran dewan direksi keluarga Vance duduk dengan gelisah, saling berbisik sembari menatap satu kursi kosong di ujung meja yang seharusnya ditempati oleh CEO mereka.
Pintu jati besar ruang rapat tiba-tiba terbuka. Namun, yang melangkah masuk bukanlah tuan rumah, melainkan Cassian Noir.
Pria itu berjalan dengan keangkuhan yang mutlak, dibalut setelan jas hitam tiga potong yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Di belakangnya, Kevin menyusul dengan langkah tak kalah tegas, membawa sebuah koper kerja kulit yang sarat akan dokumen penting. Tanpa permisi, Cassian langsung menduduki kursi utama di ujung meja, menempatkan dirinya sebagai penguasa ruangan dalam sekejap.
"T-Tuan Noir?" Tuan Vance Senior, ayah Julian yang berambut keperakan, langsung berdiri dengan wajah pucat. "Suatu kehormatan... tapi, maaf, jadwal rapat umum kami hari ini tidak melibatkan Noir Enterprises."
Cassian menyandarkan punggungnya, menumpangkan satu kakinya dengan elegan. Sepasang mata elangnya memindai seisi ruangan dengan tatapan merendahkan.
"Mulai jam delapan pagi ini, jadwal rapat kalian adalah jadwalku," suara berat Cassian bergema dingin, memotong kalimat pria tua itu tanpa belas kasihan. Ia melirik Kevin sekilas.
Kevin maju satu langkah, membuka koper kulitnya, dan membagikan beberapa lembar dokumen tebal ke hadapan setiap direktur yang hadir.
"Dalam tiga puluh jam terakhir, Noir Enterprises telah membeli secara sah enam puluh persen saham beredar milik Vance & Co. Holdings melalui pasar sekunder dan beberapa pemegang saham minoritas kalian," Kevin menjelaskan dengan nada suara profesional yang tenang namun mematikan. "Dengan kata lain, Tuan Cassian Noir adalah pemilik saham mayoritas sekaligus pemegang kendali penuh atas perusahaan ini mulai detik ini."
Gempar seketika melanda ruang rapat. Wajah Tuan Vance Senior memucat pasi, tangannya bergetar hebat saat membaca lembaran akuisisi paksa tersebut. "Tuan Noir... ada apa ini? Kenapa Anda melakukan akuisisi agresif ini pada perusahaan kami secara mendadak?"
Tepat saat itu, pintu ruang rapat kembali terbuka dengan tergesa-gesa. Julian Vance melangkah masuk dengan napas memburu dan dasi yang sedikit longgar. Ia baru saja menerima kabar tentang kekacauan saham perusahaannya di bawah. Namun, begitu matanya menangkap sosok Cassian yang duduk di kursi takhta keluarganya, langkah Julian langsung terkunci. Ketakutan instan menjalar di sekujur tubuhnya.
Cassian menegakkan posisi duduknya. Tatapannya beralih sepenuhnya pada Julian yang berdiri mematung di dekat pintu. Senyum miring yang begitu mengerikan terukir di wajah tegas sang miliarder.
"Kau terlambat, Julian," ujar Cassian rendah, namun setiap suku katanya seperti palu godam yang menghantam harga diri Julian. "Aku datang ke sini untuk membereskan tikus kecil yang suka bermain kotor di belakang punggungku."
"Tuan Noir, saya—saya tidak melakukan apa pun pada perusahaan Anda!" bela Julian dengan suara bergetar, mencoba berpura-pura bodoh di hadapan dewan direksi dan ayahnya sendiri.
"Kau tidak menyentuh perusahaanku, tapi kau menyentuh wilayah kekuasaanku," potong Cassian mutlak, auranya begitu mengintimidasi hingga ruangan itu terasa kekurangan oksigen. Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya. "Menggusur lahan komersial di Scarborough secara paksa hanya demi membalas dendam pribadi pada seorang gadis mahasiswa asing? Kau benar-benar picik, Julian. Dan kebodohanmu itu harus dibayar mahal dengan kebangkrutan perusahaan keluargamu sendiri."
Tuan Vance Senior menoleh tajam ke arah putranya, menyadari insting fatal apa yang telah diperbuat Julian hingga memicu kemarahan pria paling berkuasa di Toronto ini. "Julian! Apa yang sudah kau lakukan?!"
"Sebagai pemilik saham mayoritas yang baru," Cassian berdiri, merapikan kancing jasnya dengan tenang tanpa memedulikan drama keluarga di depannya, "keputusan pertamaku adalah membubarkan proyek pembangunan di lahan Scarborough. Kembalikan hak sewa seluruh pedagang lokal di sana dengan harga awal, termasuk kafe milik Tuan Hamdan. Dan untukmu, Julian... angkat kakimu dari gedung ini. Kau dilarang masuk ke seluruh kawasan industri di kota ini selamanya."
Cassian melangkah pergi membelah ruangan, diikuti oleh Kevin. Saat melewati Julian yang berdiri lemas dengan tatapan kosong, Cassian berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuh apa yang sudah kulindungi lagi, Julian. Karena jika kau melakukannya, aku tidak akan hanya menghancurkan perusahaanmu, tapi juga nama belakangmu," bisik Cassian dingin sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan kehancuran yang senyap bagi keluarga Vance.
Satu minggu setelah badai kehidupan itu menghantam, Aisya harus menerima kenyataan pahit dengan lapang dada. Meskipun dana bantuan dari yayasan kota mendadak cair secara misterius, pihak rektorat Universitas Toronto menyatakan bahwa status Drop Out Aisya sudah telanjur final di sistem imigrasi untuk semester ini. Pintu kuliahnya telah tertutup, setidaknya untuk satu tahun ke depan.
Namun, Allah selalu membuka pintu lain saat satu pintu tertutup.
Aisya kini resmi bekerja sebagai Koordinator Administrasi dan Layanan Sosial tetap di Toronto Islamic Centre. Kontrak paruh waktu yang awalnya ditawarkan Sister Maryam diubah menjadi posisi staf profesional setelah pihak yayasan kota—yang digerakkan secara terselubung oleh Cassian—menyuntikkan dana hibah besar. Gaji dari pekerjaan baru ini sangat lebih dari cukup untuk membantu pengobatan rawat jalan Paman Hamdan. Lebih ajaibnya lagi, hak sewa kafe Paman Hamdan mendadak dikembalikan oleh pemilik lahan yang baru dengan harga yang jauh lebih murah. Keluarga Aisya perlahan kembali bangkit.
Meskipun sudah tidak lagi menyandang status mahasiswa, kecintaan Aisya pada dunia literatur tidak pernah pudar. Setiap sore setelah menyelesaikan giliran kerjanya di pusat komunitas, ia selalu menyempatkan diri datang ke perpustakaan umum kota yang megah untuk membaca buku-buku sejarah Mediterranean kegemarannya.
Sore itu, suasana di dalam perpustakaan sangat tenang. Hanya ada suara gesekan kertas dan ketikan laptop yang samar. Aisya duduk di salah satu sudut meja kayu yang agak tersembunyi di dekat rak buku-buku sejarah besar. Dengan niqab hitamnya yang terpasang rapi, ia tampak fokus mencatat beberapa poin penting dari sebuah buku tebal ke dalam buku catatan kecilnya.
Saat ia sedang berkonsentrasi, sebuah bayangan tubuh yang tinggi besar mendadak menghalangi pantulan cahaya lampu meja di atas bukunya.
Aisya mendongak perlahan. Jantungnya seketika berdesir hebat saat matanya menangkap sosok pria tegap yang berdiri tepat di sisi mejanya.
Cassian Noir.
Pria itu mengenakan kemeja rajut hitam lengan panjang yang santai namun tetap terlihat sangat mahal, kontras dengan setelan jas formal yang biasa ia kenakan di kantor. Di belakangnya, Kevin berdiri dengan jarak beberapa langkah, memegang sebuah buku referensi arsitektur kuno. Tampaknya Cassian sedang mencari referensi desain untuk proyek galeri seni barunya di perpustakaan ini.
Cassian menarik kursi kayu di hadapan Aisya tanpa suara, lalu mendudukinya dengan santai. Sepasang mata elangnya menatap lurus pada buku sejarah di depan Aisya, lalu beralih menatap binar mata gadis itu yang tampak terkejut di balik niqab.
"Kehilangan status mahasiswamu ternyata tidak membuatmu kehilangan minat pada tumpukan kertas membosankan ini, Aisya," bisik Cassian dengan suara berat yang sengaja diredam agar tidak mengganggu ketenangan perpustakaan. Senyum miring yang tipis dan khas terukir di wajah tegasnya.
Aisya buru-buru merapikan buku catatannya, mencoba menguasai rasa gugupnya. "Tuan Noir... sedang apa Anda di sini?"
"Pertanyaan yang salah," sahut Cassian tenang, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap lekat gadis di depannya. "Pertanyaannya adalah, bagaimana kabarmu setelah menolak bantuanku di pinggir jalan seminggu yang lalu?"