Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Penyangkalan dan Tatapan yang Mengawasi
Aula batu yang tadinya riuh oleh gemuruh pertempuran kini berganti dengan suara erangan pelan. Anggota kelompok Wild Boar memanfaatkan waktu jeda ini untuk memulihkan diri. Beberapa orang yang masih memiliki sisa sihir pemulihan tingkat rendah mulai membalut luka bakar rekan-rekan mereka dengan pendaran cahaya hijau suam-suam kuku.
Di sudut ruangan, Jaka sedang bersandar pada pilar batu sambil meringis saat lukanya diobati. Namun, matanya tidak lepas dari sosok Askara yang sedang duduk tenang di lantai tanah sambil membersihkan sisa debu di pakaiannya. Rasa heran dan tidak percaya masih berkecamuk hebat di kepala Jaka.
Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Jaka menyeret kakinya yang masih agak pincang mendekati Askara.
"Hei, Bocah," panggil Jaka, suaranya ketus namun ada nada getir yang tertahan. "Jangan berlagak bodoh. Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi tadi? Bola api raksasa dari Inferno Kong... bagaimana bisa serangan mematikan itu lenyap begitu saja saat menyentuh tanganmu?"
Askara mendongak perlahan, menatap Jaka dengan ekspresi wajah yang datar dan polos. "Aku juga tidak tahu," jawab
Askara singkat, suaranya terdengar sangat meyakinkan.
"Saat itu situasinya sangat cepat. Aku hanya refleks pasrah dan mengangkat tangan untuk melindungi kita berdua. Begitu aku membuka mata, apinya sudah hilang."
Jaka mengerutkan kening, menatap Askara lekat-lekat untuk mencari kebohongan. Namun, wajah Askara yang tampak tenang tanpa riak sihir sedikit pun membuat Jaka kembali pada pemikiran awalnya. Pemuda di depannya ini adalah seorang Nirmala—manusia tanpa sihir. Mana mungkin seorang yang cacat sihir bisa memanipulasi serangan monster tingkat tinggi?
"Cih, jadi hanya keberuntungan?" Jaka mendengus kasar, membuang muka sambil melipat tangan di dada. "Kau benar-benar sialan beruntung, Bocah. Mungkin sisa hawa sihir penghancur di ruangan ini mendadak tidak stabil dan membuat bola api itu padam sendiri tepat sebelum meledak. Jangan harap keberuntungan konyol seperti itu akan menyelamatkan nyawamu lagi di depan nanti!"
Jaka membalikkan badan dan berjalan menjauh dengan sombong, kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa Askara tetaplah pemuda lemah yang tidak berguna. Askara hanya tersenyum tipis di dalam hati. Penyangkalan Jaka justru mempermudah dirinya untuk tetap menyembunyikan identitas aslinya.
Namun, tidak semua orang di tempat itu bisa dibohongi dengan mudah.
Di seberang ruangan, Guntur berdiri sambil menyandangkan kapak besarnya. Pria paruh baya yang sarat pengalaman bertarung itu sejak tadi memperhatikan interogasi kecil tersebut. Berbeda dengan Jaka yang dibutakan oleh arogansi, Guntur melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana aliran bola api itu tersedot secara teratur, bukan padam karena tidak stabil.
Dia tidak punya mana dasar, tapi serangan sihir murni lenyap di depannya, batin Guntur sambil menatap punggung Askara dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Mungkinkah... bocah ini memiliki kemampuan langka untuk meniadakan sihir?
Guntur menarik napas panjang. Fenomena manusia yang bisa menetralkan atau meniadakan sihir adalah mitos yang sangat langka di dunia ini. Jika itu benar, Askara bukanlah beban, melainkan aset yang luar biasa berbahaya. Namun, melihat
Askara yang memilih untuk berbohong dan menyembunyikannya, Guntur memutuskan untuk menghormati privasi pemuda itu. Ia tidak akan membicarakannya sekarang. Ia ingin terus mengawasi dan melihat sejauh mana
"keberuntungan" Askara akan membawanya di dalam dungeon ini.
"Waktu istirahat habis! Cepat berdiri dan rapikan barisan!" seru Guntur menggelegar, memutus keheningan. "Sihir pemulihan sudah selesai. Kita harus segera bergerak sebelum monster lain berdatangan. Pusat inti dungeon sudah dekat, dan item langka itu menunggu kita."
Para anggota kelompok segera bangkit, mengencangkan zirah dan menggenggam senjata mereka dengan sisa tenaga yang ada. Atmosfer di dalam tim kini terasa lebih berat dan waspada.
Mereka kembali melangkah, menembus lorong gelap yang semakin menyempit menuju jantung dungeon. Askara kembali mengambil posisi paling belakang, membiarkan kegelapan malam menelan bayangannya, sementara di dalam dadanya, pusaran energi api murni dari Inferno Kong bergejolak siap untuk dilepaskan kapan saja.